November 2007


Sebuah perbincangan kurang penting di Food Court Galleria Mal, Jumat siang seusai Sholat Jumat.

Mr. Bo : Tau ga sih lo, tadi sepanjang khotbah gue mikirin elo..
Saya : (tentu saja) HAH??!!
Mr. Bo : He eh. Mikir elo.
Saya : Jumatan tu mikir Tuhan! Mikirin dosa.. malah mikirin gue.. hehe..
Mr. Bo : Gak usah keGe-eRan deh!
Saya : Hih!! Ngapain!
Mr. Bo : Engga… loe pernah nggak sih pengen jadi Da’i?
Saya : (kaget luar biasa!) ANJROTT!! Da’i???
Mr. Bo : Ho oh. Penceramah.
Saya : Ya enggaklah!!
Mr. Bo : Kenapa enggak?
Saya : Ya enggak aja. Lha ngopo toh?
Mr. Bo : Loe tadi nggak tidur kan pas Khatibnya lagi ceramah?
Saya : Tidur sih enggak. Cuma bosen. Dan panas juga…

Mr. Bo : Itu dia yang gue maksud. Bukannya gimana-gimana ya. Tapi coba, udah berapa puluh kali kita seperti stuck ketemu dengan penceramah yang bikin boringnya setengah mati. Bikin bete pula! Bikin betenya juga beda2 lagi. Ada yang sok heboh sampe teriak2, ada yang sok2-an diserak2in suaranya biar kedengeran sedih, ada yang lempeng ajaa gitu.. Datar..

Saya : Emang sih. Yang boro2 bikin kita tertarik dengerin dia ngomong ya.. Denger suaranya yang tidak ada intonasi dan dinamika aja udah bikin males duluan.. hehehe. Belom lagi kaya yang tadi. Lamaaaaaa.. banget. Gue sih ga masalahin durasi ya, tapi gue cuman suka bingung aja. Intinya tuh apa?? Dan kalo inti itu bisa disampaikan dengan singkat, kenapa juga harus dibuat berpanjang? Gak efektif kata deh.. *sok2an berfalsafah pake istilah broadcast*

Mr. Bo : Yuk. Itu dia. Tapi ada satu lagi penyakit hampir banyak penceramah itu : Story telling mereka luar biasa buruk! Belom lagi bahasa yang dipake.. duuh, berbunga2 sekali! Cape deh…
Saya : HUAHAHAHHAHAHAA….
Mr. Bo : Loh??
Saya : Iya! Iya! Bener.. Ngaku penceramah kok ga bisa bercerita dengan baik ya?? Eh, tapi mungkin itulah namanya PENCERAMAH. Orang nyeramahin orang lain kan ga perlu punya skill story telling. Tinggal ngomel2 aja, selesai..

Mr. Bo : Ya whatever lah. Tapi bener lho, tadi gue jadi inget lo. Kenapa ya si Deka nggak nyoba jadi penceramah aja? Maksud gue, itu bukan yang nggak mungkin kan? Sekrang coba, modal loe udah ada. Basic loe siaran. Loe udah jadi MC, jadi Presenter. Nggak ada masalah dengan story telling. Cara loe bercerita, lancar nggak banyak muter2. Suara? Uje suka nyelipin nyanyi2 tiap dia khotbah, loe juga pinter nyanyi kan?? Muka, ya cukup enak diliat lah..Gak kalah imut sama Yusuf Mansyur! Kurang apa lagi?? Tinggal poles ilmu agama dikit, ngapalin beberapa ayat2, udah. Jadi deh loe Dai top!

Saya cuman bisa bengong.

Nggak ngerti. Dan agak nggak habis pikir juga sebenarnya. Nggak di acara gosip, nggak di acara berita serius, semua sama-sama sibuk memberitakan tertangkapnya Achmad Albar karena kasus Narkoba. Padahal baru aja 2 minggu sebelumnya ada nama Roy Marten yang muncul jadi headline dengan kasus yang sama. Terlepas dari terbukti bersalah atau tidaknya kedua bapak ini nantinya, ketidak-mengertian saya mungkin cuma pada sisi subyektif saya saja. Atau mungkin juga banyak orang? Entahlah. Tapi yang pasti, ketika melihat dan membaca kasus mereka ini, saya cuman berkomentar pendek,

“Ini orang tua pada ngapain sih… Udah tua bukannya ngasih contoh yang bener….”.

Standar ya. Dan mungkin sangat berbau penghakiman. Menghakimi, karena seolah-olah mereka menanggung beban untuk selalu berbuat benar. Dan tidak boleh berbuat salah. Padahal kalau mau jujur, everybody make mistakes. It’s normal. It’s human too. Tapi ketika itu sampai pada sosok bernama ‘orang tua’ atau ‘orang yang lebih tua’, sepertinya terjadi pembedaan atau pengecualian. Memang sih, ini juga terjadi pada anak kecil, sehingga sering kali ketika mereka melakukan suatu kebodohan atau kesalahan, komentar pembelaan yang muncul adalah, “Yaa..namanya juga anak kecil… “. Jadi, ketika orang tua melakukan sebuah kebodohan, tidakkah ada excuses buat mereka?? Buat saya : TIDAK. Mereka mungkin (dan pastinya) punya alasan mengapa mereka berbuat seperti itu, tapi buat saya tetap saja mereka ini harusnya bisa berbuat, berkata dan bertingkah laku yang baik, karena mereka ini adalah contoh bagi saya, bagi kami orang2 yang lebih muda dari mereka. Kalau tidak dari mereka, dari siapa lagi kita mencari figur contoh? (more…)


Bertahun-tahun lalu aku meminta kepada Tuhan seorang pasangan. Aku tidak hanya meminta seorang pasangan. Tetapi bahkan menjelaskan pula pasangan seperti apa yang aku inginkan. Aku ingin seorang yang :

Baik.
Lemah lembut.
Pemaaf.
Penuh cinta.
Jujur. Penuh damai.
Pengertian.
Menyenangkan.
Hangat.
Humoris.
Dapat dipercaya.
Aku bahkan menyebutkan ciri-ciri fisik yang aku idamkan.
Dan sejalan dengan waktu, aku semakin menambah daftar cirri-ciri pasangan yang aku inginkan.

Suatu malam dalam doa, aku terlibat perbincangan dengan Tuhan

Tuhan : “Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan…”
Aku : “Kenapa Tuhan??”
Tuhan : ” Karena Aku adalah Tuhan yang adil dan Tuhan kebenaran. Dan semua yang Aku lakukan adalah adil dan benar”.
Aku : “Tuhan.. aku tidak mengerti mengapa aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku minta dariMu..”

Tuhan : “Akan aku jelaskan. Adalah tidak adil dan benar bagiKu untuk mengabulkan permintaanmu, karena Aku tidak akan memberikan sesuatu yang bukan dirimu sendiri.

Adalah tidak adil bagiKu untuk memberikan seseorang yang penuh cinta kepadamu,

Apabila kadang-kadang engkau masih penuh kebencian….

Atau seseorang yang baik hati apabila kadang engkau bisa begitu kejam…

Atau seseorang yang pemaaf sementara engkau masih menyimpan dendam…

Seseorang yang sensitive, sedangkan kadang engkau bisa begitu tidak peduli….

Ia berkata untuk terakhir kalinya kepadaku, “Daripada menghabiskan waktu untuk mencoba mencari seseorang, atau berharap Aku akan memberikan seseorang dengan segala kualitas yang kau cari, lebih baik engkau mengijinkan Aku memanfaatkan waktu untuk membuatmu menjadi orang seperti apa yang kamu cari. Karena Aku tidak dapat memberikan kepadamu yang BUKAN dirimu…”

(Di posting tepat 1 hari menjelang ulang tahun saya yang ke 27 tahun lalu. Saya tulis kembali tepat seminggu setelah ulang tahun saya yang ke 28 ini. This has always been my favorite post.. EVER!)

100.
Inilah tulisan ke-100 saya.
Ya. 100.
Haruskah saya merayakannya??
Sepertinya saya memilih untuk tidak melakukannya.
Bukan apa2.
Karena menurut saya, pencapaian ini bukanlah sebuah prestasi.
Karena saya tidak mengejar sesuatu disini.
Tulisan ke-100!
Bukan prestasi??
Tentu bukan.
Karena saya kembalikan lagi pada diri saya lagi.
Saya menulis sebuah blog.
Saya menulis sesuatu yang saya ingin tulis.
Saya menceritakan sesuatu yang memang ingin saya ceritakan.
Untuk penghiburan.
Untung pemulihan.
Dan buat saya, saya memang terhibur.
Dan terpulihkan juga.
Dari bosan.
Dari sedih.
Dari marah.
Dari jengkel.

7 Maret 2007
Adalah pertama kali saya membuat postingan pertama saya.
29 November 2007
Adalah keseratus kali saya membuat postingan di blog ini.
Banyak yang sudah saya tulis.
Banyak yang sudah saya ceritakan.
Semua saya bagikan untuk siapa saja.
Karena saya merasa, apa yang kita bagikan dengan tulus dan dengan cinta,
Semua akan kembali kepada kita.
Ada yang memuji.
Ada yang merasa terinspirasi.
Ada yang mencaci-maki.
Semua saya terima dengan besar hati.
Karena sungguh sejak pertama kali memutuskan untuk menulis disini,
Saya hanya melakukan apa yang saya senangi.
Itu saja.
Sesuatu yang ternyata bagian dari hidup saya,
Yang belum pernah tersentuh sama sekali :
Menulis.

Jadi,
100 ini mungkin pencapaian.
Mungkin juga bukan.
Saya hanya ingin menulis.
Dan saya hanya akan menuliskannya.
Dan begitulah seterusnya.
Sampai kapanpun.

“Met ulang taun ya, Dek… blablablablabla…., kapan kawin?
“Happy Birthday, Kaka! blablablablabla… cepet dapet jodoh ya!
“Met ultah, Men! Buruan kawin!
“Happy 28th Birthday! Wish you.. blablablablabla.. semoga cepet nemu soulmate ya”
“Selamat Ulang Taun, Mas Deka… Kapan nyusul aku kawin? Hihihi..”

Mengapa mereka semua begitu kejaaaaammmm?????

Hahahaha. Ya ya ya, setelah melalui counting down yang cukup lama (21 hari, Men!), akhirnya resmi sudah saya berusia 28. Biasa aja sih harusnya ya, bukan angka yang cantik untuk disambut secara gegap gempita seperti misalnya angka 17 atau 40 tahun, misalnya. Tapi personally, justru ada perasaan deg2an luar biasa di diri ini ketika sadar bahwa saya akan memasuki angka 28 ini. Really dunno why. Tapi ada semacam keyakinan kalau di umur ini akan ada sesuatu yang ‘besar’ yang menanti saya. I’m not a psychic, for sure, tapi saya yakin intuisi saya cukup bagus untuk hal2 beginian. Hehehe. Mudah2an sesuatu yang ‘besar’ itu adalah sesuatu yang bagus. Bukan yang buruk. Dan kalaupun buruk, mudah2an saya diberi kekuatan untuk menghadapi dan menerimanya.

Kembali lagi ke kutipan2 greeting diatas, itu cuman 5 kutipan dari banyak ucapan selamat yang saya terima di ulang tahun kemarin. And I really thanked you all for that. Really appreciated it. Makasih ya buat semua ucapan dan doanya. Dan entah apa kalian semua bersekongkol atau gimana (heheheh), semua.. I mean, SEMUANYA selalu menyertakan doa tentang ‘cepat menemukan jodoh’ atau ‘cepat kawin’ untuk saya. Walaupun didepan2nya ada do’a2 lain, tetep rasanya seperti tidak afdol kalo nggak menyertakan bagian yang ‘itu’. Disatu sisi, saya sih sangat senang sekali banyak yang masih dan mulai dan selalu perhatian sama saya. Tapi disisi lain.. ada perasaan… aaaarrghhhhhhhhhh!!!! Iya, gitu dia…. Hehehe.

28 years old. Still single.
28 tahun. Ya, udah 28 tahun saya hidup di dunia ini. Belom juga ada yang ‘nyantol’ *halah* di hati buat jadi temen hidup. Yang ‘nyolek’ banyak. Berulang kali tentu. Tapi ya udah, just ‘nyolek’ aja. Buktinya sampe sekarang masih keukeuh aja sendirian. Ayo dong, colek gue!!!! Hehehe. And then one night, setelah di bombardir oleh pengharapan2 orang2 agar saya segera menyudahi kesendirian saya ini, saya mencoba mengingat2 kembali masa2 hidup saya selama ini. Buka-buka lagi album foto. Sejak saya kecil, remaja dan dewasa sekarang ini (edan euy! Mas Deka udah dewasa..). Siapa2 saja orang-orang yang pernah ‘mencolek’ saya itu. Mulai dari cinta2 monyet saya jamannya SD-SMP, cinta2 agak penting jamannya SMA, cinta2 ga jelas jamannya kuliah, dan cinta2 makin tidak jelas ketika jamannya kerja sekarang ini.Hahaha.

Dan ternyata… yooo bbuuuuaaaannyyakkkkkkkk…. ya jumlahnya! I mean, ya iyalah… udah 28 tahun! Ternyata orang yang pernah ‘masuk’ dalam hidup saya ini jumlahnya tidak cukup dalam hitungan jari tangan. Sableng emang. Ngapain coba, bikin data orang2 yang pernah dekat di hati kita?? Tapi cobalah, pernahkah sekali aja (just for fun), kita inget2 lagi orang2 itu?? Lucu lho.. bikin senyum2 sendiri. Bahkan untuk kisah2 cinta yang berakhir tragis pun, amazingly sekarang ini bisa kita ingat dengan ekspresi tersenyum atau tertawa, dan bilang ke diri kita, “Goblok banget ya.. Dulu kok bisa2nya gue nangis meraung2 gara2 ni orang..”

Dan, tanpa bermaksud mengobral cerita pribadi apalagi mempermalukan yang bersangkutan (saya sih yakin, mereka2 ini nggak malu pernah ‘dekat’ dengan seoarng Ryu Deka.. Hwahahha), ini beberapa nama yang sempat singgah di hati saya selama 28 tahun ini. Dan kalau nama kamu ada disini…, heyy.. apa kabar?? Masih inget jaman dulu kita itu?? Hehehe.. (more…)

Saya percaya kalau …

People will forget what we said,
People will forget what we did,
But people will NOT forget how we made them feel …


Saya juga selalu percaya kalau…


… Ada orang yang memasuki hidup kita dan berlalu dengan cepat..
Ada yang tinggal beberapa lama dan meninggalkan jejak dalam hati kita,
dan diri kitapun tidak akan pernah sama lagi….

Suatu hari beberapa minggu yang lalu saya sempat kaget menerima kiriman SMS dari teman saya. Namanya Nona Bo’el. Dia ini dulu satu band dengan saya, tapi kemudian dia keluar karena berhasil memenangkan ajang mencari vokalis untuk sebuah band baru berhuruf depan E dan berhuruf akhir O. Terdiri dari 3 huruf. Yak, EVO. Hihihi… nggak niat bikin samaran ya. Ya sudahlah. Sudah lama sebenernya kami tidak berkontak-kontakan. Saya sih sempat bilang kalau dia sekarang sombong dan agak sadistik dengan menuduhnya kena “Baru Jadi Artis Sindrom”. Tapi ternyata saya salah, karena sampai sekarang kayanya dia dan bandnya tuh nggak artis2 amat kok… Nggak ngetop, maksudnya. Huahahahah… Piss, El! Loe sendiri bukan, yang bilang… hehehehe…

Lama tak berkirim kabar, saya hanya bengong sebentar ketika membaca isi SMSnya :

“Gambarkan aku dengan 1 kata. Hanya 1 kata!
Kirim jawabannya pdku lalu kirim pesan ini ke semua teman2mu & lihat jawaban2 aneh dan mengagumkan ttg kmu.
Bls ya!”

Saya sih yakin udah banyak yang pernah dapet SMS seperti ini. Dan ajaibnya, ternyata memang seru juga SMS berantai model gini. Karena harus diakuin, ini seperti sebuah ujian buat kita, sejauh mana kita mengenal orang tersebut. At least, kalau nggak kenal2 amat, yaa.. seperti apa sih kita melihat mereka selama ini. (more…)

High achievers excel at making a living,
but
often fail at making a life.

Salah! Salah moment bener!!
Bayangkan, pagi2 jam setengah 7an, saya udah dengan penuh semangat menggelora sedang berlarian di ruang Cardio tempat fitness saya. Lagi semangat buat olahraga, ceritanya. Dan berhubung jam2 segitu yang rajin dateng adalah bapak2 dan ibu2, jadinya ya giant screen di ruangan itu pasti yang diputar adalah infotainment! Puas banget lho, kaya ngeliat acara gosip di 21! Hahaha.

Biasanya sih saya nggak peduli2 amat sama apa yang ditayangkan di giant screen itu. Karena di kuping kanan-kiri udah pasti terpasang headphone Ipod. Walau yaa.. kadang kalo ada gosip yang cukup menarik perhatian, ya tetep Ipod-nya di PAUSE dulu,dan konsen ke gosip di layar. Seperti pagi ini, di TV ditayangkan acara penyambutan Pasukan Garuda XXIII-A yang sudah setahun bertugas menjaga keamanan di daerah Lebanon. Dimana salah satu anggotanya adalah anak dari Presiden SBY, Agus Harimurti Yudhoyono, suami dari presenter cantik Annisa Pohan (seee.. kalimat saya pun udah luar biasa gosipnya!). Bersama dengan istri2 dan keluarga yang suami/ayahnya pergi selama setahun itu, mereka dengan sabar menunggu pesawat yang membawa pasukan itu mendarat di Bandara Halim Perdanakusumah. Sekitar jam 03.20 pagi, akhirnya pesawat itu mendarat, dan satu persatu prajurit itu turun dari pesawat.

Di layar terlihat Annisa menunggu didampingin sama mertuanya, sambil memegang sebuah karangan bunga (yang tidak begitu indah, sebenernya.. hehehe.. kayanya buru2 deh belinya si mbak). Disitu keliatan banget raut muka Annisa agak2 tegang dan gelisah. Entah kenapa. Tapi keadaan itu berubah drastis, ketika sosok suaminya terlihat menuruni tangga pesawat, dan berjalan menghampirinya. Dan terjadilah aksi cium tangan, cium pipi dan pelukan antara suami-istri tersebut. Disertai oleh derai airmata, tentunya. Begitu juga ketika Ibu Ani Yudhoyono menyambut kepulangan anaknya itu. Siapa yang nggak bahagia melihat anak dan suami yang selama setahun harus berjuang menjaga perdamaian? (more…)

Next Page »