2 hari terakhir ini ini saya sedang mati-matian menghafalkan lagu Lost Without You-nya Robin Thicke. Dan 2 harian mencoba menghafal, baru bagian reff-nya yang nyantol di kepala. Sisanya, nggak tau nyantol dimana. Padahal, personally, saya cinta sekali dengan lagu seksi ini. Tapi entah kenapa kok ya susah sekali menghafalkan liriknya. Mungkin karena udah lebih dari 3 tahun saya nggak pernah menghafalkan lagu seperti dulu jamannya masih nge-band, jadinya otaknya jadi lamban banget. “Software-nya agak2 lelet” kalau menirukan Julia Perez menganalogikan otaknya dengan istilah komputer. Hehehe.
One of my good friend, Reva is getting married. And she asked me to sing this Robin Thicke’s in her wedding reception. Buat saya, diminta secara personal untukbernyanyi di pernikahan adalah sebuah kehormatan. Apalagi kalau lagu yang di-request adalah lagu yang (mungkin) memiliki arti yang dalam untuk sang mempelai. Jadi, mati-matianlah saya mencoba untuk belajar lagu yang lumayan susah dinyanyikan ini. But I’m so excited. Excited karena udah lama nggak tampil di depan umum (ampun! Akut sekali kadar banci tampil saya ini..), dan excited karena dengan bernyanyi di pesta pernikahannya, secara sepihak saya anggap saya sudah memberikan hadiah yang spesial bagi teman saya itu, sehingga saya terbebas dari keharusan memberikan hadiah berupa barang atau sumbangan uang buat dia! Hahahaha.. Pelit!
Ketika suatu malam, Nona Reva ini mengantarkan undangan dan me-request lagu itu, kami sempat berbincang-bincang tentang banyak hal. Termasuk ‘keterkejutan’ saya akan pernikahannya ini yang serba terkesan tiba-tiba.
“Kok tau-tau married……?”,
(more…)
PLEASE DON’]T ASK ME – John Farnham (click here)
Please don’t ask me what am I thinking,
It’s about you..
And please don’t ask me, I never can see you
What can I do?
My first impulse is to run to your side,
My heart’s not free, and so I must hide
Please don’t ask me what I’m gonna say to you..
I toss and turn, can’t sleep at night,
It’s worrying me..
I go to bed, turn out the light,
But your face I see..
It only hurts the more I pretend
That we could ever be more than friends
Please don’t ask me why I’m so in love with you..
You could easily make me happy
That I know..
But I try my best to never tell you so
I will sing to you my love songs, and pretend
But I’ll keep my secrets right down to the end..
Please don’t ask me
Why I’m not talking, I just can’t explain
And please don’t ask me
Why I go walking out in the rain
I could not live the lie
It would take
To have you near would be a mistake
Please don’t ask me
Why I’m still in love with you
No please don’t ask me….
Someone gave this song for me 9 years ago. Now I give it to someone else…
Tadi malam saya dapat SMS dari seorang teman. Singkat. Dia tanya,
“Kok nggak nulis tentang Pak Harto?”
Bukannya enggak. Belum aja. Saya belum bisa nemuin ‘hasrat’ (euleuh2…) buat nulis tentang hal ini. Karena jujur, saya sama sekali nggak suka menulis sesuatu yang bertemakan ‘kematian’ atau kehilangan. Well, semua orang juga males pastinya. Karena memang bukan sebuah moment yang indah untuk ditulis. Alhamdulillah selama hampir setahun ini nulis blog-seingat saya, saya belum pernah menulis tentang ‘kehilangan’ ini. Paling-paling yang pernah ditulis adalah tentang kehilangan handphone atau kehilangan tambatan hati… Auuuuuuuuuuu…..
Hingga akhirnya berita kepergian Eyang Soeharto ini datang hari Minggu 27 Januari kemarin. Panik. Lumayan panik mendengar berita ini. “Kok panik sih, Dek?? Sedih dong.. Kok malah panik…”. Ya gimana enggak. Beliau pergi sekitar jam 13.10, sedangkan saya baru taunya setelah jam 2 siang. Itupun karena dikasih tau teman saya Mr.G. Kebetulan saat itu kami sedang bernyanyi-nyanyi di Karaoke Happy Puppy. Ya ya ya.. kurang kerjaan sekali memang kami ini, siang2 buolongnya kaya gitu kok ya kepikiran buat berkaraoke. Jadi ya secara di ruangan itu cuman ada satu TV dan digunakan sebagai sarana bernyanyi dan bukan buat nonton siaran berita (tentu saja!), jadi kami benar-benar tidak update tentang berita apapun. Jadilah kami mungkin termasuk yang terlambat mengetahui kabar itu. (more…)
In case Anda termasuk yang masih ‘keukeuh’ mengoleksi DVD bajakan (seperti saya), ini saya tampilkan kembali (hehehe…. “Kita tampilkannnn…..!) sebuah tips yang cukup berbobot dari rekan saya yang bernama Nona Ririen tentang seluk-beluk DVD bajakan. Dari detailnya tips yang dia berikan, saya yakin kalau dia termasuk seorang pembeli DVD bajakan yang sudah lebih senior dibandingkan saya, dan termasuk tipe pembeli rewel yang disebelin sama mbak2 penjualnya…
Selamat mencoba!
Beberapa fakta soal DVD bajakan *terutama yang di jalan mataram*
1. dulu mereka mengijinkan dicoba, tapi setelah menerima banyak pembeli yang ribet macam saya, tv mereka sempet ngilang secara gaib dan tidak pernah ada lagi sesi ‘fitting’ dvd.
2. walopun tidak ada lagi feature boleh fitting, anda bisa bertanya sama penjualnya *semua yang jaga tau*. tanyalah apakah dvd ini udah bagus atau masih ngerekam dari bioskop. biasanya dvd bajakan yang release nya udah anda baca di amazon atau udah nongol di iklan myspace, dvd bajakan yang dijual SUDAH bergambar dan bersuara bagus. istilah kerennya KW1 laaa…
3. pinjem di rental pun sebenarnya haram. karena percaya atau tidak mereka pun meminjamkan dvd atau vcd bajakan. istilah yang digunakan adalah copy ori. istilahnya sangar, tapi artinya busuk. mereka tetep aja cari dvd KW1 di glodog atau tempat yang lebih jauh, pokoknya harus lebih cepat dari mataram, terus mengkopi banyak dan menyewakannya. sama saja haramnya, bukan?
4. kenapa subtitle sering kecampur bahasa inggris dan malesai? karena transtool yang di pake di Malesia juga sofwer palsu, jadi kemampuan mentranslate pun agak diragukan. jangan terlalu mikir mereka rajin melakukan transkrip dan translet. sama aja. palsu.
5. tumben kamu nonton cillian murphy? biasanya anda tidak suka siapa pun yang saya suka hohohoho.
6. kapan saya dipinjemi dvd-nya?
*ini lebih parah daripada meminjam dvd bajakan dari rental, ataupun membelinya.*
eh ya…
salah siapa kalo siaran bilang no piracy. cuek aja… jangan komen apa pun, jadi kalo ketemu orang *yang tau kau adalah seorang yang bekerja di radio* kamu tdk akan punya beban menjawab kenapa beli bajakan. wong yang ketemu situ juga beli bajakan, padahal udah banyak dibilangin mtv: stop piracy…!
Yakk!!!
Salah satu kebodohan abad ini yang terjadi di jagad industri hiburan di Indonesia adalah : Dewi Persik dan Saipul Jamil. Saiful apa Saipul, ya? Atau Saeful?? Ah, ya pokoknya itu lah. Berita pernikahan, ribut-ribut, pisah, rujuk, ribut-ribut lagi, sampai akhirnya pisah lagi. Dan hebatnya, dalam hampir setiap kesempatan wawancara, di akhir wawancara mereka selalu memiliki lagu2 yang berbeda-beda untuk dinyanyikan, yang (menurut mereka) bisa mewakili perasaan mereka, dan (masih menurut mereka lagi) orang-orang akan sangat menikmati alunan suara mereka itu. Bodoh sekali…. Dan bodohnya, kok ya saya tetep mau2nya mengikuti kisah mereka ini…
“Ok.. what’s next?”
Itu yang selalu saya ucapin setiap kali ada berita tentang Mas Ipul dan Mbak Dewi ini. Kebodohan apalagi yang akan mereka berikan pada kita kali ini. Seperti ketika kemarin, tanpa persiapan sama sekali, saya harus ternganga (yak.. itu istilah yang sangat tepat! Dimana kening saya berkerut, mata agak2 melotot, dan mulut terbuka amat lebar) ketika menyaksikan sebuah infotainment yang meliput kegiatan Mas Ipul ini di sebuah pantai, dimana dia melakukan aksi membuang celana dalamnya ke laut untuk membuang sial! (more…)
Jadi ceritanya,
kemaren sore sepulang kantor saya sempatkan diri buat beli DVD di daerah Jalan Mataram. Ya ya.. ini memang pusatnya CD dan DVD bajakan terlengkap di Jogja. Jadi next time kalau ada temen yang liburan ke Jogja, jangan lupa sertakan Jalan Mataram sebagai the next destination setelah Prambanan dan Museum Ullen Sentalu, ya! Hehehe. Ya ya ya, saya tahu sekali dan sadar sesadar-sadarnya kalau membeli barang bajakan bukanlah sebuah perbuatan yang terpuji. Tapi gimana ya. Dimana lagi saya bisa mendapatkan film-film bagus yang tidak dirilis di Indonesia? Seperti The Waitress-nya Keri Russell atau The Wind That Shakes The Barley-nya Cillian Murphy, misalnya. Emang sih, kalo mau usaha, saya bisa aja beli lewat internet. Tapi kok kayanya males juga, lha wong di deket kantor aja ada yang jual, ngapain mesti jauh2 ke Amerika?? Hehehe..
Akhirnya, kemarin saya membeli DVD Atonement. Penasaran aja sih, kaya apa film yang disebut2 punya peluang besar jadi film terbaik di ajang Oscar besok. Biasanya walau setiap pembeli diperbolehkan untuk mencoba DVD-DVD yang dibelinya terlebih dahulu sebelum membeli, saya lebih memilih untuk langsung membayarnya. Jarang sekali saya mencobanya terlebih dulu disana. Pertama, karena saya males ribet harus mengantri nunggu giliran dengan pembeli2 lain. Kedua, karena saya nggak betah berlama2 ditempat itu. Takutnya ada yang ngenalin.
“Loh.. bukannya orang2 radio tuh yang paling kenceng bilang SAY NO TO PIRACY, ya? Kok kamu malah belanja disini…”. Hehehe.
(more…)
Senyuman Misteri Monalisa Terkuak!
Senyuman misteri yang ditunjukkan Monalisa dalam lukisan potret terkenal karya Leonardo da Vinci akhirnya terungkap. Para akademisi Jerman merasa yakin mereka telah berhasil memecahkan misteri yang telah berlangsung beberapa abad di balik identitas gadis cantik yang menjadi obyek lukisan terkenal itu.
Lisa Gherardini, istri seorang pengusaha kaya Florence, Francesco del Giocondo, telah lama dipandang sebagai model yang paling mungkin bagi lukisan abad 16 tersebut.
Kini para pakar di perpustakaan Universitas Heidelberg menyatakan berdasarkan catatan yang ditulis pemiliknya dalam sebuah buku pada Oktober 1503 diperoleh kepastian untuk selamanya bahwa Lisa del Giocondo-lah model yang sesungguhnya dalam lukisan itu, yang merupakan salah satu lukisan potret terkenal di dunia.
(www.kapanlagi.com)
Yeah, so?
Saya emang agak2 gagap kalo diajak ngomongin art. Sama gagapnya kalo ditanyain tentang tekhnologi terkini. Tapi sumpah, dari jaman dulu sampe sekarang, saya masih nggak ngerti dimana cantiknya wajah seorang perempuan yang diberi julukan Monalisa ini. Makanya kalo orang2 ‘pakar seni’ itu sibuk memperdebatkan siapa sebenernya sosok objek lukisan Monalisa sesungguhnya, kalo saya lain. Saya malah lebih mempertanyakan, “Emangnya ga ada objek lain yang lebih cantik ya??”
Saya pernah mencoba untuk pelan2 memperhatikan dengan seksama wajah perempuan ini dari berbagai sudut pandang. Karena ketika saya lihat dari sudut pandang normal (yaitu dari depan), saya tidak melihat dimana letak ‘cantiknya’ si mbak Mona ini. “Oh, mungkin kalau diliat dari sudut pandang lain, dia akan terlihat ‘agak’ cantik”, gitu pikir saya. Ini berdasarkan pengalaman, banyak orang (termasuk saya) yang kalo difoto, biasanya punya angle atau posisi favorit yang bisa membuat kita terlihat jadi (agak) lebih oke dibandingkan dari angle2 normal. Makanya nggak heran, kalo kita melihat album foto teman2 kita, kita akan menjumpai hampir semua foto mereka posisinya dan posenya seragam semua! Ada yang memegang dagu (auch..!!), miring kekiri, melihat keatas, atau-ini yang sampe sekarang saya ga habis pikir : dengan lidah menjulur! Apa2an sih?? Oh iya, ada satu lagi : mengangkat tangan sambil jarinya membentuk huruf V! Yaikssss!! Penting ya? (more…)
Di postingan sebelum2nya, saya pernah nulis tentang bagaimana sebaiknya kita harus memperlakukan orang lain, sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh mereka. It really is a ‘take and give’ kind of situation. Sesimpel itu. Tapi juga ternyata nggak semua orang mau melakukannya. Seringnya sih kita masih pengen banget diperhatikan dan didengarkan, tanpa mau memperhatikan atau mendengarkan lebih dulu. Teman saya pernah bilang, di dunia ini udah terlalu banyak orang yang pintar bicara, tapi masih sedikit sekali orang yang pintar mendengarkan. Saya sempet mikir, “Masa, sih? Bukannya mendengarkan itu suatu hal yang enteng? Tinggal ngedengerin aja toh?”. Tapi toh ternyata mendengarkan (dan memperhatikan) itu memang bukan hal yang mudah juga.
Tanggal 30 Desember lalu saya terbang ke Jakarta untuk sebuah kerjaan Tahun Baru. Pesawat saya take off sekitar jam 6 pagi. Saya juga bingung sebenernya, kenapa si panitia di Jakarta bisa se-sinting itu mencarikan saya jadwal terbang sepagi itu! Tapi ya sudahlah. Beberapa saat setelah pesawat take off, sudah pasti kemudian para penumpang pesawat akan disuguhi sebuah pertunjukan gratis berupa demo keselamatan penerbangan dkk yang diperlihatkan oleh mbak2 Pramugari pesawat yang kita tumpangi itu. Well, untuk beberapa jenis maskapai penerbangan ungkin sudah tidak berlaku lagi, karena mereka sudah menampilkannya melalui video. Bisa jadi, mungkin karena udah diprotes sama para Pramugari2nya kali, ya.. Yang udah bete setengah mati gara2 setiap kali mereka melakukan demo itu, para penumpang sama sekali tidak menaruh perhatian dan tidak menggubris apa yang mereka peragakan itu!
I mean it!
Ketika seorang Parmugari mulai mempraktekkan cara mengaitkan sabuk pengaman yang benar, cara mengenakan pelampung keselamatan dll itu, saya perhatikan dari barisan depan2 saya, para penumpang itu sama sekail nggak ada yang memperhatikan si mbak Pramugari itu! Not one! Ada yang mulai sibuk baca koran, masang Ipod, ngobrol, sampai ada yang kepalanya udah miring kekanan. Tidur! Ealah…. baru juga berapa menit terbang, kok ya bisa2nya udah merem. Ketika saya coba liat kearah penumpang di belakang saya, ternyata sama saja. Kebanyakan tetap sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Nggak heran kemudian yang ada di pikiran saya saat itu cuman satu,
“Wah… kasian banget sih si mbaknya. Dicuekin….
Baik banget ya saya, sampe bersimpati sedemikian rupa sama dia. Hahahaha. (more…)

I can’t believe we met like this
Is it just coincidence?
I had a feeling I’d be seeing you again
Your every bit as beautiful as the last time we met
When you told me, you were leaving, and going back to him
How I wish that I could tell you, it’s all in the past
But I was never good at lying, and baby since you asked
I can’t begin to tell you, just how sorry I am
That the man you built your dreams around, just broke your heart again
I think I know the feeling
Cause I once loved you so much
That I swore I’d rather die than live a day without your touch
If I held you in my arms you know, I’d never let you go
But this ain’t the time or place to get emotional
I was crying when you kissed me
Then you walked out that door,
Ohhh
You were always such a mystery
I still dream we’re making love
Then I stop myself because
I don’t want to hear that song again, from the night we first met
I don’t want to hear you whispering, things I’d rather forget
I don’t want to look into your eyes cause you know what happens next
We’ll be making love and then
I’d fall all over again…
(Fall All Over Again – Dan Hill)
Orang bilang, kalau kita jatuh ke suatu lubang untuk pertama kali, itu adalah hal yang wajar. Karena dari situ kita bisa belajar supaya kedepannya, kita bisa lebih berhati2 lagi kalau melangkah. Makanya kalau kita jatuh ke lubang yang sama untuk yang kedua kalinya, patut diptertanyakan. Haven’t we learned something from our failure before? Apa kita nggak belajar dari kesalahan kita sebelumnya? Itu kalau jatuh untuk yang kedua kalinya. Bagaimana kalau kita jatuh lagi di lubang yang sama untuk KETIGA kalinya? Jangan2 kita memang dengan sadar ingin ‘menjatuhkan diri’ ke tempat yang sama…
Hari ini saya menjalani hari dengan pandangan yang lurus kedepan. Bukan berarti saya sedang optimis2nya akan hidup saya hari ini. Bukan. Tapi murni karena satu hal : Salah Tidur! Ya, salah tidur. Saya nggak tau bagaimana sebenernya posisi saya tidur tadi malem (ya iyalah!). Apakah kepala miring ke kanan-badan miring ke kiri, atau sebaliknya. Atau malah kepala tengkurap-badan terlentang atau sebaliknya (kok serem ya.. hehehe). Entahlah. Namanya juga tidur, jadi ya ga sadara. Bangun2 tau2 udah sakit banget lehernya. Kebangetan ya.. Bahkan untuk sebuah kegiatan yang paling ringan dan paling menyenangkan pun kok ya masih bisa2nya SALAH! Heran…
Jadi ya beginilah… Dari pagi pandangan saya benar-benar lurus kedepan terus. Karena kalau dipakai untuk menengok ke arah kiri, leher rasanya sakitnya ajrut2an sekali. Pernah merasakan hal seperti ini? Menyebalkan, ya? Jadi agak serba salah. Nengok dikit, sakit. Nengok banyak, apalagi. Yang ada jadinya ya cuman bisa ngelirik2 doang. Kepala juga nggak bisa bergerak bebas seperti biasanya (kesannya kepala saya ini elastis sekali ya, bisa gerak kesana kesini.. hehehe). Seorang rekan di kantor ternyata begitu perhatian sekali sama saya, sehingga tidak butuh waktu lama baginya untuk kemudian mengeluarkan pertanyaan,
“Kenapa, mas? Kayanya ada yang salah sama kamu hari ini… “.
Iya! Salah tidur! (more…)