March 2008


Okay..
Singkat saja. Seperti biasa, setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, saya selalu mampir di gym tempat saya jadi member disana. Mungkin dari kalimat barusan, Anda membayangkan saya sebagai sosok yang cukup sporty. Mungkin anda juga membayangkan saya memilki perut yang berkotak2 karena tiap hari nge-gym. Well, saya berani menjamin kalau perkiraan Anda salah besar! Karena disana seringnya saya malah cuman numpang mandi doang dibandingkan working out. Namanya juga masih ngekos, jadi doyan bener mandi pake shower dan air hangat. Hehehe. Dan biasanya, jam2 pagi seperti itu, member yang dateng sudah bisa ditebak. Kalo nggak bapak2, ibu2 atau mas2 dan mbak2. Itulah mengapa saya doyan dateng pagi. Soalnya, berasa jadi yang paling muda dan paling imut. Hehehe. Selain itu, biasanya jam segitu kan jamnya acara gosip tuh. Jadi rasanya nikmat banget, angkat2 beban (kalo lagi niat) atau lari di treadmill (apalagi ini.. bener2 kalo niat banget!) sambil nonton acara gosip di layar segede kasur!

Tapi entah kenapa, pagi itu acara gosip kurang menarik perhatian saya. Makanya saya kemudian memutuskan untuk memindah channel Trans TV yang memutar INSERT PAGI, dan menggantinya dengan channel RCTI yang sedang memutar GO SPOT… (hehehe.. sama aja acar gosip ya??). Tapi setelah tuts remote control TV nya saya pencet2 (dengan maksud untuk memindah channel, tentu saja), ternyata channel TVnya tetap tidak berubah. Sepertinya remote TV itu bermasalah. Langsung saja saya memanggil seorang Trainer bernama Mbak Isti untuk membantu saya. Ternyata kemampuan si mbak ini dalam hal per-remote control-an juga nggak lebih baik dari saya. Bahkan malah lebih gawat. Karena setelah dipencet2 pun tidak memberikan efek apa2 di layar TV, maka yang kemduian yang dilakukannya adalah : memukul2 remote control itu dengan tangannya! Salah saya sih. Harusnya saya nggak memanggil trainer fitness ya, tapi teknisi! (more…)

Selama ini kalau ada yang bilang saya banci tampil, saya setuju2 aja. Karena memang saya doyan bener jadi pusat perhatian. Hehehe. Dan kalau ada yang bilang saya orang yang teramat narsis, saya juga mengiyakannya. Karena emang iya! Hehehe. Tapi kalau ada yang bilang saya sombong atau besar kepala karena menuliskan pujian dibawah ini nanti, saya akan sangat-sangat menolaknya. Sumpah, nggak ada niatan sama sekali buat menyombongkan diri atau pamer atau apapun itu. Bukan itu niatan saya membuat posting ini. Terus terang, saya hanya kagum saja. Bukan kagum sama diri saya. Tapi kagum sama kekuatan suatu hal yang bernama : Terima Kasih. Ya. Rasa terima kasih.

Ketika kita melakukan sesuatu, mungkin kita nggak akan pernah sadar kalau apa yang kita lakukan itu akan membawa dampak bagi orang lain. Karena memang kita sama sekali nggak ada niatan untuk itu. We just do what we have to do. It’s nothing special, perhaps. Nulis di blog yang niatan awalnya cuman buat iseng2 doang sambil ngisi waktu luang di tengah2 bejibunnya kerjaan kantor (hehehe), misalnya. Nulis ya nulis aja. Just like that. Wong yang ditulis juga kadang2 (eh, seringnya, deng..) nggak penting sama sekali. Sampai tiba-tiba kok ya ada yang kirim pesan seperti ini, misalnya.

On YM, Selasa 25 Maret, 10:35:41 AM

Seorang Sahabat: ooohhhhh..
ryu deka: angop (menguap, red), mbak?
Seorang Sahabat: akhirnya aku sungguh-sungguh mengikuti petunjukmu
Seorang Sahabat: tadi pagi aku datang2 membuka blog mu
Seorang Sahabat: and i wanna to thank you
Seorang Sahabat: *smile*
Seorang Sahabat: the “Some of the best things come naturally” part…..
Seorang Sahabat: sungguh menggugahku..
Seorang Sahabat: *kiss*
ryu deka: oh… maap lho kalo aku sudah “menggugahmu….”(membangunkanmu, red). Wis, tidur lagi sana….
ryu deka: hehehe
Seorang Sahabat: heheheheheheh
Seorang Sahabat: bosok kamu, mas
Seorang Sahabat: tapi bener lho…
Seorang Sahabat: makasih
ryu deka: bener kalo aku bosok?
Seorang Sahabat: *kamu bosok memang bener!
Seorang Sahabat: tapi makasihnya juga beneran
Seorang Sahabat: saya sedang down under knees person lately…heheheheheh
Seorang Sahabat: semacam butuh membaca hal2 spt itu jadinya
Seorang Sahabat: and thanks to you..
Seorang Sahabat: *smiling*
ryu deka: aduh… sama2 kalau begitu… *bersemu merah*

(more…)

Lullaby (Goodnight My Angel) – Billy Joel

Good night my angel time to close you eyes
And save these questions for another day
I think I know what you’ve been asking me
I think you know what I’ve been trying to say

I promised I would never leave you
And you should always know
Where ever you may go
No matter where you are
I never will be far away

Good night my angel now it’s time to sleep
And still so many things I want to say
Remember all the songs you sang for me
When we went sailing on an emerald bay

And like a boat out on the ocean
I’m rocking you to sleep
The water’s dark and deep
Inside this ancient heart
You’ll always be a part of me

Goodnight my angel now it’s time to dream
And dream how wondeful your life will be
Someday your child will cry and if you sing this lullaby
Then in your heart there will always be a part of me

Someday we’ll all be gone
But lullabies go on and on
They never die that’s how you and I will be..

(you can see the video here )
This is my Lullaby. Do you have yours?

“… Nina bobo.. Ooh Nina bobo.. kalau tidak bobo, digigit nyamuk….
Tidurlah sayang adikku manis.. kalau tidak bobo, digigit nyamuk….”

Bisa jadi, mungkin selain lagu Indonesia Raya, lagu diatas termasuk lagu yang paling dikenal oleh seluruh warga negara Indonesia. Hehehe, berlebihankah saya? Yaa, paling tidak, itu membuktikan kalau lagu berjudul Nina Bobo yang entah diciptakan oleh siapa itu, amat sangat populer. Bahkan mungkin malah lebih populer dibandingkan lagu Indonesia Raya! Secara ya, Indonesia Raya cuman dinyanyikan untuk moment2 tertentu saja. Sedangkan lagu Nina Bobo, walaupun juga sama2 dinyanyikan untuk moment2 tertentu (yaitu waktu menjelang tidur), tapi frekeunsi dinyanyikannya lebih sering dibandingkan dengan lagu Indonesia Raya. Paling engga, bisa tiap malam orang menyanyikan lagu Nina Bobo untuk menidurkan anaknya. Karena sampai tulisan ini saya buat, saya kok masih agak ragu ya kalo ada bapak2 atau ibu2 yang menidurkan anaknya dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya….. hehehe.

Ok, cukup sudah memandingkan lagu Nina Bobo dengan Indonesia Raya. Karena memang bukan itu sebenarnya inti dari tulisan yang akan saya tulis ini. (more…)


Reach. Strive. And you will succeed.

Try..

but don’t try too hard.

Some of the best things come naturally.

Give…

but don’t give beyond your means.

Save some strength and some quiet time for yourself.

Question…

but don’t question everything.

Some problems have no answers.

Attempt…

but don’t try to conquer everything at once.

Go slowly, discovering and growing along the way.

Trust in doing the right thing, even if it may seem wrong at the time.

Believe in your inner strength,

even if you don’t feel very strong all the time.

Live your life and give your best.

And try each and every day to keep in mind..

That to truly enjoy this moment it time,

all you really need to do is..

to reach out for your dreams..

and let them reach out to you.

Mari saya perlihatkan sebuah cuplikan artikel di harian Kompas hari Minggu 23 Maret yang lalu :

… Mau tahu bahasa Inggrisnya “Sundel Bolong:? Dalam dunia perfilman Indonesia, spesies hantu yang konon punggungnya berlubang itu diterjemahkan menjadi : “Ghost With Hole”. Paling tidak itulah yang terlihat di stan Indonesian Cinema dalam pasar film dan program televisi Hongkong International Film & TV Market (FILMART) yang digelar di Hongkong Convention & Exhibition Center, Hongkong 17-20 Maret. Salah satu poster film untuk menarik pengunjung hajatan yang diikuti 480 peserta dari 30 negara itu adalah poster Sundel Bolong produksi Rapi Films tahun 2007. Mungkin karena dikhawatirkan publik internasional tak tahu arti sundel bolong, poster itu ditempeli stiker tepat bagian judulnya, yang berisi judul film tersebut dalam bahasa Inggris, “Ghost With Hole”. Terjemahan yang tepat sesuai kamus, tetapi terlalu polos dan agak menggelikan untuk sebuah judul film…”

Ho oh, gitu.. Gimana perasaanmu??
Perasaanku tentu saja bercampur2 antara geli dan prihatin. Hahaha. Dan bukan Mas Ganteng namanya kalo berdiam diri saja melihat kenyataan seprti ini *edann*. Sebagai orang yang cukup punya concern di dunia film *halah*, hati ini semakin tersiksa ketika di artikel itu kemudian ditulis juga kalau film kita yang berjudul “Maaf, Saya Menghamili Istri Anda” kemudian di translate menjadi “Sorry, I Made Your Wife Pregnant”. Ck..ck.. ck…. again, benar sih sesuai kamus, tapi tetap terlalu polos dan sangat menggelikan untk sebuah judul film. Membaca judul filmnya dalam bahasa Indonesia aja udah cukup bikin gatel. Apalagi kemudian diubah ke dalam bahasa Inggris. Makin ajaib saja.

Untuk kasus “Sundel Bolong” diatas, mungkin emang si produser bingung juga, mesti di translate jadi apa ya?? Secara ya, spesies hantu yang satu ini bener-bener lokal banget. Cuman orang sini yang tau, atau paling engga ya negara-negara tetangga kita lah yang juga tahu. Entahlah, mungkin si Sundel Bolong ini agak2 bosan menakut2i orang2 Indonesia, makanya dia plesiran sampe negara sebelah. Makanya ketika filmnya di jual di pasar Internasional, dicarilah sebuah juduul yang bisa ‘menarik’ minat sekaligus bisa menjelaskan isi dari filmnya secara keseluruhan. At least, menjelaskan siapakah hantu yang jadi banci tampil di film itu. Makanya, dengan cerdasnya si produser (atau siapalah) memutuskan,

“Oh, aku tau! Aku tau! Kita ganti saja dengan : Ghost With Hole!! Cerdas kan saya???”.

Plakk!! (more…)

“Kapan kita Ngayat-ngayat Cinta??”

Pertanyaan singkat di SMS yang saya kirimkan ke teman saya Nduts inilah yang akhirnya membawa kami masuk ke Studio I Ambarrukmo Plasa tadi malam. Ya, akhirnya kesampaian juga nonton film ini. Bukannya gimana2, tapi memang kami agak ‘menahan diri’ tidak segera menonton film ini karena menunggu ‘kehebohan’ Ayat-Ayat Cinta agak mereda dulu. Apalagi mendengar kabar dimana-mana yang bilang kalau tiket film ini selalu sold-out, harus memakai antri yang panjangya amit2, hingga pengaruh orang lain yang bilang,

“Halah, film Indonesia loh! Rugi bener nonton di Bioskop. Tunggu aja VCDnya keluar!”.

Masih ditambah lagi beberapa waktu lalu anak2 di kantor juga nonton versi bajakan internetnya. Lengkap toh hambatannya?

(more…)

Siang ini saya senyum-senyum sendiri begitu membaca sebuah artikel di salah satu situs gosip lokal. Judulnya cukup singkat : “Ke Jakarta, Diana Ross minta Limousine”. Dari judulnya aja, saya udah bisa menebak kira2 apa isi dari artikel tersebut. Pasti berisi kerepotan pihak promotor kita meladeni permintaan2 artis yang dikontraknya tersebut. Dan saya nggak salah. Disitu ditulis kalau Om Peter Basuki sebagai promotor yang mendatangkan Tante Diana Ross, mengaku kerepotan karena si tante minta banyak banget untuk konsernya di Jakarta yang rencananya akan diadakan tanggal 23 Maret ini :

  1. Minta dijemput pakai Limousine yang panjang. Yang ada tutup khusus sekat antar supir dan penumpangnya. Jadi kalau dia ngomong, supirnya nggak boleh dengar. Mungkin dia mau ngegosipin si supirnya ini kali ya. Atau mungkin kalau si Tante ini kalo tidur ngorok?? jadi malu sama si supir.Entahlah.
  2. Untuk panggungnya, harus ada tangga. Dia ingin berjalan di tangga itu seperti malaikat turun dari langit (?!). Ya elah, Malaikat tuh bukannya turun dari langit2 ya? Kok pake tangga. Agak nggak pas deh kayanya…
  3. Kamar tidur yang dipesan haruslah President Suite. Nggak mau yang Vice President Suite (hehehe. Nuansanya putih. Harus ada kembang putih, taplak putih, Dressing roomnya juga. Semuanya dia gambar sampai detail.

(more…)

Pernah kebayang nggak kalau tiba-tiba foto kita dalam keadaan (sori) telanjang beredar di internet? Hehehe. Tentu aja bukan foto telanjang pas kita masih bayi. Tapi foto kita di umur2 segini yang udah akil balik, kalo kata orang tua bilang. Pertanyaan ini muncul di otak saya, gara2 liat infotainment yang menayangkan berita tentang aktris cantik Sandra Dewi yang lagi sedih (owhh…) gara2 ‘foto’nya yang gak pake baju sama sekali itu beredar di internet. Ya, memang foto itu bukan foto asli, tapi hasil perbuatan iseng orang yang kok ya niat2nya berkreasi seperti itu. Makanya, saya coba ber-empati pada mbak Sandra. Gimana kalau saya yang menjadi dia. Gimana kalo foto2 saya dalam keadaan tanpa busana berdedar di internet?

Jangan ketawa!
Beberapa saat setelah keluar pikiran itu, saya juga sadar betapa kurang kerjaannya saya ini. Ya elahhh.. siapa juga yang mau liat foto saya lagi telanjang?? Hiii.. saya aja ogah. Makanya kalo next time Anda sedang sial2nya ngeliat foto saya dalam keadaan seperti itu, saya tekankan kalau foto itu pasti rekayasa komputer! Sok artis banget ya pernyataan saya ini. Hahaha. Karena sampai kiamat, saya nggak akan mau ditawari difoto dengan pose seperti itu. Karena sampai kiamat juga, saya yakin nggak bakal ada yang cukup waras mau menawari saya! Hehehe. Percayalah, masih banyak hal di dunia ini yang lebih indah untuk dilihat. (more…)

Setiap orang selalu, pada suatu waktu, pasti akan dihadapkan pada sebuah pilihan. Dan sayangnya, tidak semua orang bisa memutuskan sesuatu secara cepat dan tepat. Ya, tidak hanya cepat dan tepat, tapi juga bisa memutuskan segala sesuatu itu dengan cara yang cerdas dan cermat. Cepat-Tepat, Cerdas-Cermat. Ah, jadi ingat acara lomba pintar2an di TV jamannya SD itu. Apa kabar ya, tu acara??

Mari saya ajak Anda untuk membayangkan sebuah situasi. Kita berada disebuah restoran. Setelah kita duduk, seorang pelayan memberikan sebuah Daftar Menu kepada kita. Beraneka macam menu ada disana, mulai dari jenis makanan hingga jenis minuman. Makanan pun masih dibagi lagi menjadi makanan pembuka (appetizer), makanan utama (main course) hingga makanan penutup (desert). Setelah itu, masih harus dihadapkan pada pilihan menu minuman yang jumlahnya juga gak kalah banyaknya. Mulai dari minuman ringan sampai minuman yang berat banget (harganya… hehehe). Sebagai orang yang akan ‘mengkonsumsinya’, tentu saja kita nggak harus memesan semuanya. Makanana pembuka, terus makanan utama, terus dilanjutkan dengan makanan penutup. Karena memang nggak ada yang mengharuskan seperti itu. Pilihan ada di kita . Sepenuhnya. Masalahnya ya itu tadi, nggak semua orang ditakdirkan bisa memutuskan sesuatu dengan cepat dan tepat. Dan dengan cerdas dan cermat pula. Cuman memilih makanan aja, padahal.

Paling nggak, begitulah yang namanya hidup. Hidup itu seperti kita datang di restoran. Dunia tempat kita tinggal ini adalah restoran itu. Dan kita selalu dihadapkan pada bermacam pilihan2, dan itu adalan DAFTAR MENU yang harus kita pilih. Semua pilihan2 itu ada di tangan kita. Haruskah kita memilih itu? Atau haruskah kita memilih yang lain? Dasarnya apa? Apakah kita harus memilih sebuah jenis makanan cukup berdasarkan gambar yang tertera di daftar menu itu? Ataukah kita cukup peduli dan cukup punya waktu untuk menanyakan detail bahan2 hingga cara penyajian makanan tersebut kepada si pelayan? (more…)

Next Page »