May 2008


Norak ya judulnya? Emang..
Hehehe. But let me ask you this : hal apa yang paling pas menjadi perumpaan, ketika kita sedang berbicara tentang kesabaran? Ya Laut. Samudera. Karena luasnya, karena seolah tidak terbatasnya. Begitulah paling tidak yang namanya kesabaran should be. Orang hidup itu kalo bisa sih sabarnya luaaaaaaassss… seluas2nya. Karena dengan sabar, buat ngelakuin apapun, buat menerima apapun akan ringan sekali. Bukankah itu yang dibutuhkan semua orang untuk menjalani hidup yang sudah semakin gila ini?


Ada sebuah cerita…

(more…)

Nggak kerasa tahun ini genap 10 tahun saya meninggalkan seragam sekolah putih abu-abu saya. Ya, waktu ternyata bener-bener cepat berlalunya. Siapa yang nyangka, tau2 kemarin ada ajakan reuni SMA, untuk memperingati 1 dasawarsa lulus SMA. Wah! 10 tahun kok kayanya baru kemaren. Kayanya belom ngapa2in, belom jadi apa-apa dan belom punya siapa2 pula! Tau2 udah 10 taun lewat! Hmm.. SMA.

Too many memories!

Kayanya saking berkesannya masa 3 tahun itu, jadi bingung kalau ditanya pengalaman yang paling berkesan. Tapi diantara yang banyak itu, there is one thing that I miss the most : kekompakannya. Bukan hanya kompak ketika diadakan pertandingan classmeeting atau ketika ada acara Pentas Seni aja, tapi juga kekompakan dalam hal melakukan kejahatan! Bukan dalam hal memberantas kejahatan ya, tapi melakukan kejahatan! We’re partners in crime. Bukan perbuatan yang kriminal2 sih, tapi yang dilakukan adalah sebuah kenakalan2 kecil standar yaitu mencontek.

Saking kompaknya, perbuatan mencontek yang dulu dilakukan secara perseorangan (hehehe), waktu itu kami lakukan secara massal! Kami sadar, pepatah ini benar sekali : Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh! Saya ingat sekali, waktu uduk di kelas II SMA, ada 2 mata pelajaran dimana mencontek massal itu kami lakukan. Yang pertama adalah pelajaran Sejarah. Jadi setiap diadkan ulangan, kami harus menjawab sekitar 20 pertanyaan pilihan ganda (Multiple Choice). Jadi ya kami harus memilih antara a-b-c-d atau e. Nah ketika ulangan selesai, maka yang selalu dilakukan kemudian adalah pengkoreksian langsung oleh murid-murid sendiri. Nggak tau apa tu guru emang termasuk yang males kalo ngoreksi sendiri atau gimana, tapi setiap ulangan memang ini selalu dilkakukan. Jadi, kertas ulangan dikumpulkan sesuai dengan baris tempat duduk, dan kemudian ditukarkan. Hasil ulangan baris pertama ditukar dengan baris ketiga, hasil ulangan baris kedua ditukar kan dengan baris keempat. Setelah itu, Ibu guru Sejarah kita itu kemudian membacakan jawaban yang benar, dan DIHARAPKAN anak2 membantunya untuk mengoreksi hasil kerjaan teman2 mereka. Dan disinilah kejahatan massal itu terjadi. Hehehe.

(more…)

  1. Katakan lebih dulu tiap pagi bahwa Anda mencintai diri Anda sendiri sebelum “I Love You” pada suami
  2. Pastikan di rumah tidak pernah kehabisan nasi
  3. Merespons setiap komentarnya, baik yang lucu maupun yang sedikit basi
  4. Selalu pamit ketika pergi, seakan Anda belum tentu diperkenankanNya kembali
  5. Letakkan bunga sedap malam di pintu masuk kamar dan biarkan wanginya mewakili Anda jika tidak sedang tidur berdua
  6. Jadilah pembuat Mie Instant terlezat baginya, 24 jam!!
  7. Cuci cangkir yang kotor, jangan terbersit untuk menggantinya dengan gelas
  8. Usahakan menelpon ibunya setiap hari
  9. Mnta maaf itu baik jika dari dalam hati. Jika tidak, lebih baik jangan katakan apa-apa sama sekali (more…)

Main-mainlah ke studio radio saya. Dan ketika sampai di meja receptionist, cobalah cari sebuah selebaran yang berjudul “Mekanisme Penerbitan STNK”. Ya, memang sepertiny aneh ya, ngapain juga selebaran ini bisa nangkring di meja resepsionis. Nggak ada hubungannya sama radio sama sekali, memang. Well, selebaran itu (dan juga beberapa lainnya yang ada hubungannya dengan lalu lintas!) sebenernya diberikan secara cuma-cuman oleh ibu2 Polwan yang pernah kami undang untuk siaran. Yaa, sekalian sosialisasi lah. Mungkin beliau2 memutuskan ‘menitipkan’ selebaran informatif itu, karena agak2 sebel begitu tau saya nyantai2 aja meskipun udah 2 taun nggak bayar Pajak Kenadaraan Bermotor. Hehehe.

Balik lagi ke selebaran itu, disitu selain berisi mekanisme tentang penerbitan STNK seperti judulnya, juga ada tulisan tentang persayaratan perpanjangan STNK, daftar Undang-Undang Kepolisian yang nggak begitu penting untuk diketahui orang awam (hehehe), dan juga di bagian terakhir ada Tips Berkendaraan. Begini isinya :

1. Tidak lupa membawa surat-surat kendaraan bermotor
2. Tidak lupa memeriksa kendaraan sebelum berangkat
3. Tidak lupa memakai sabuk pengaman
4. Tidak memotong atau berhenti di tikungan
5. Tidak membawa kendaraan ugal-ugalan
6. Tidak melanggar rambut lalu-lintas
7. Tidak mengendarai kendaraan dalam keadaan lelah/ ngntuk
8. Jangan lupa berdoa sebelum dan sesudah mengendarai kendaraan.

Tips standar yang mungkin memang harus terus di reminding, kalo ngeliat tingkah pengendara kendaraan di jalan sekarang ini yang makin ajaib2. Tapi setelah saya baca2 lagi, kok ada yang kurang begitu pas ya dengan tips diatas. Dan ini juga sempat menjad pertanyaan teman saya Nona Iyan yang kadang naluri nyacatnya 11-12 sama saya.

“Bo’, kok berdoa ada di urutan terakhir ya? Bukannya dimana2, berdoa itu jadi hal yang pertama kita lakukan kalau mau melakukan sesuatu??”.

Iya ya. Hehehe. Harusnya tips nomer 8 itu, dipindah di nomer 1. Berdoa itu yang utama. Paling enggak, itu kan yang diajari oleh orang tua kita dan guru2 kita tercinta sejak kita dulu di TK. Mau makan, berdoa. Mau tidur, berdoa. Bahkan mau ke toilet aja, harus berdoa. Lah ini mau pergi berkendara lho. Taruhannya nyawa. Kok malah surat2 duluan yang dipentingin? Emang sih, kalo ada operasi di jalan, si bapak2 polisi itu pasti akan nanya,

“Selamat Siang! Bisa lihat surat-suratnya?”.

Nggak mungkin dia tanya,

“Selamat siang? Tadi berangkat sudah berdoa?”.

Huahahahaha. Jadi, make sense kan ‘masukan’ kita ini? Berdoa harus ada di urutan pertama! Walau kalau saya yang bikin tips itu, di nomer 1 akan saya bikin : Jangan lupa berdoa sebelum mengendarai kendaraan, mudah2an tidak ada operasi lalu lintas yang menyebalkan itu hari ini!

Free to creating the drama. Ini adalah satu hal kenapa saya suka sekali siaran radio. Di dunia nyata saja saya termasuk orang yang suka sekali mendramatisasi suatu hal. Hehehe. Apalagi ada di dunia tidak nyata? Karena dunia radio adalah dunia ‘kasat mata’ , dimana yang dinikmati adalah audio, suara. Bukan video, apalagi audio visual. Jadi yang murni dijual adalah sebuah image drama. Penyiar ngomong apa, pendengar bisa bebas membuat interpretasi dan bayangan sendiri2. Itulah kekuatan sebuah audio yang menurut saya luar biasa, yang tidak dimiliki oleh media lain seperti TV atau Majalah.

Minggu siang ini saya siaran, saya semakin yakin kalau saya emang termasuk tukang mendramatisir yang piawai. Hehehe. Jadi waktu itu saya bercerita tentang Patrick Swayze yang melakukan renewal wedding vows bersama istrinya Lisa Niemi. Jadi mas Swayz yang dulu jadi setan di film Ghost ini kan didiagnosa menderita penyakit Kanker Pankreas. Dan kata dokter, hidupnya cuman bisa bertahan 2 minggu kalau kankernya itu menyebar dengan cepat. Satu hal yang dilakukan Swayze kemudian, mungkin cukup menyentuh, buat saya. Instead of menangisi diri sendiri atau down yang luar biasa (ya gimana ya boss.. di diagnosa hidupnya tinggal bentar gitu), dia mememutuskan untuk tidak menyerah sama keadaan. Di hadapan teman-teman terdekatnya dan juga keluarganya, dia malah mengajak istrinya yang sudah mendampinginya selama 33 tahun untuk kembali mengulangi janji pernikahan mereka. Janji yang dulu pernah ucapkan. 33 tahun yang lalu.

Isn’t that sweet? For me, it really is. Why?

(more…)

Pernah denger istilah : Diatas langit masih ada langit? Kurang lebih artinya adalah : jangan pernah merasa hebat. Karena diatas kita, pasti ada yang lebih hebat lagi dari kita. Saya sih nggak pernah merasa hebat. Cuman orang2 aja yang sering bilang begitu ke saya (huahahaha…). Makanya ketika ada yang bilang kalo saya ini orangnya usilnya luar biasa dengan seringnya saya berkomentar yang pada akhirnya berkecenderungan mencela, saya nggak pernah tersinggung. Karena ya itu tadi : pasti ada di dunia ini yang jiwa mencelanya jauh lebih hebat daripada saya!

Dan hari ini, semua itu terbukti. Jadi ada sebuah artikel di sebuah situs yang menceritakan tentang perjuangan dramatis seseorang yang diserang seekor ikan Hiu. Perjuangan hidup dan mati! Berikut ini cuplikan beritanya :

“Seorang perenang berkebangsaan Australia selamat dari serangan hiu putih kerena mencolok mata hewan itu. Saat itu hiu menyeret tubuhnya melalui perairan setelah membuat kaki kirinya luka parah.
Jason Cull sedang berenang di pantai di wilayah Australia barat-daya, Minggu, ketika hiu sepanjang empat meter menyerangnya. “Mulanya saya kira itu adalah ikan lumba-lumba,” kata Cull kepada harian The Australian, Senin (12/5). “Saya hanya ingat diseret ke belakang. Saya berusaha menemukan insangnya tapi saya mendapatkan matanya dan saya mencolokkan jari saya ke dalamnya dan saat itulah hewan tersebut meninggalkan saya,” katanya.
Hiu itu mengoyak dua bongkahan daging dari kaki kiri Cull, mengoyak separuh betisnya dan membuat kakinya robek di lutut dan paha. Seorang petugas penjaga pantai mendengar teriakan Cull (37) dan bergegas menembus ombak untuk menyelamatkan dia.”

Dan berikut ini beberapa orang yang begitu kurang sopannya memberikan komentarnya di situs tersebut terhadap peristiwa yang memilukan itu :

  • yudha @ 10:28 WIB : waduh….ngak sekalian aja…di jewer telinganya…..,hiu nakal…memang…

  • faizal @ 10:25 WIB : makanya kalo berenang pake celana, jangan…

  • vie @ 10:21 WIB : aduhh….kacian hiunya masih laper dunk!!!! he2…

  • tee @ 10:18 WIB : hueee… hebat, kaki udah ancur masih punya kekuatan untuk cucuk mata si hiu bandel. emang hebat hormon adrenalin… ckckck…

  • balakaciprit @ 01:33 WIB : hiunya mata keranjang sih, jadi pantes dicolok.

  • hiu @ 13:03 WIB : katanya Buaya juga begitu….colok matanya juga kalau di gigit (eh di makan, di gigit emang kucing).

Tuh…
Sejahat2nya saya, saya nggak pernah lho ngasih komentar yang kejam seperti mereka itu… Huahahahaha..



“Matikan semua HP malam ini.
Menurut METRO TV pk.23.00 ini ada gelombang radiasi besar yang berbahaya u/ manusia yang akan tertangkap semua HP.
Beritahu keluarga & tmn2. GBU”

Saya nerima SMS itu hari Senin 10 Mei yang lalu. Ada yang nerima juga, nggak? Itu pertanyaan pertama. Pertanyaan berikutnya : pada bereaksi panik, nggak? Maksudnya dengan serta-merta mengirimkan SMS itu (mem-forward) ke keluarga dan teman-teman seperti ‘perintah’ yang tertulis di SMS itu? Saya sendiri waktu membaca SMS tersebut, reaksi pertama adalah senyum2 saja. “Ok.. here we go.. another unimportant message…”. Karena entah udah berapa kali saya dapet SMS berantai model begini. Dengan berbagai model. Biasanya sih by the end of the text, tertulis kalau kita harus memforward ke sejumlah orang, disertai dengan ancaman yang bilang kalau kita tidak melakukannya, kita akan berdosa! Ya, APA-APAAN INI???

Makanya membaca SMS tadi itu cuma senyum2 aja. Tapi senyum2 saya itu cuma sebentar doang, karena yang ada kemudian malah justru perasaan (agak) panik! Duh, kok kayanya serius ya ini isi SMSnya?? Should I ignore this? Haruskah saya menghapusnya saja? Tapi kok disini mencantumkan nama Metro TV sebagai sumbernya? Ni stasiun TV kan cukup kredibel kan untuk urusan berita. Masa mereka bercanda? Lagian, saya kan ga pernah nonton Metro TV tuh, karena mereka tidak ada acara infotainmentnya (hehehehe). Jadi ya nggak tau apa stasiun TV ini benar2 memberitakan kabar ini atau enggak. Gimana kalau ‘kabar’ itu beneran. Dan gelombang radiasi berbahaya itu benar-benar ‘ditangkap’ oleh orang2 yang saya cintai, karena saya nggak mengirimkan SMS ini pada mereka? Oh my God, it’s all my fault!! Tidaaaakkkkkk!!! *over acting mode : ON* (more…)

Malam Minggu yang lalu saya menghadiri resepsi pernikahan teman saya di Grha Sabha UGM. Kebetulan yang menikah adalah 2 orang teman baik saya, Lutfi dan Emma. Jadi kebahagiaan saya boleh dibilang berlipat ganda. Senengnya dobel. Tapi tentu saja, saya tidak akan menulis tentang jalannya resepsi malam itu di blog ini. Karena ini kan blog saya, jadi ngapain saya repot2 menceritakan tentang oran lain, bukan? Saya tetaplah harus jadi bintang di blog saya sendiri. Biarlah mereka menjadi bintang di blog mereka sendiri2. Hahahaha.

Tapi yang pasti, malam itu saya sangat bahagia. Pertama, jelas senang dan bahagia karena kedua teman dekat saya itu jadi juga ke pelaminan. Itu mah nggak usah dijelaskan lagi gimana bahagianya. Walau agak kecewa juga sih, karena di resepsi itu nggak ada live band-nya. Yang ada cuman live Karawitan & Gamelan doang. Jadi hobi saya yang suka sok tampil menyumbangkan suara di kawinan2, jadi tidak tersalurkan deh. Mosok mau dipaksakan nyanyi diiringin gamelan?? Hehehe. Kedua, saya senang sekali karena kebetulan di resepsi itu saya bertemu dengan salah satu MC kondang Jogja yang manis *halah* bernama Ninda Kariza. Bukan (hanya) karena senang melihat wajahnya yang senantiasa sumringah itu saja, tapi juga ketika kami selesai bersalaman dan cium pipi kiri-kanan (hehe), si mbak ini tau2 mengeluarkan komentar yang buat saya amat mengejutkan :

(more…)

Bangga juga kayaknya ya, kalau kita dikenal dan dikenang oleh orang banyak, karena prestasi yang kita buat. Dibicarakan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Bahkan nggak cuma dibicarakan aja, nama kita juga tercantum alias tertulis di buku rekor. Ada bukti tertulisnya. Bukti otentik, istilah kerennya. Mungkin unsur ‘bangga’ ini juga yang menyebabkan adaaaaa.. aja orang atau instansi yang punya ide bikin rekor, apapun bentuknya dan bagaimanapun caranya. Karena sekali rekor itu tercipta (mau rekor nasional kek, atau bahkan rekor dunia!), nggak cuma penghargaan yang diraih, tapi juga kepopuleran. Ya paling enggak, masuk koran, lah!

Saya sendiri termasuk orang yang suka memperhatikan hal2 yang aneh. Suka mengomentari, tepatnya. Karena menurut saya, orang kita kok kayanya hobi banget ya bikin rekor yang aneh2. Yang kayanya nggak penting2 amat, gitu loh. Hanya demi cari perhatian, demi bisa masuk Museum Rekor Indonesia (MURI), sukur2 Guiness Book of World Record. Walau setelah saya perhatikan lagi, rekor2 yang diciptakan itu lama2 kebanyakan sih lebih banyak unsur komersilnya daripada substansi prestasi itu sendiri (waduh bahasanya..). Misalnya, sebuah perusahaan A mau launching. Biar heboh, dibuatlah sebuah pemecahan rekor. Dan itu bukan sesuatu yang salah sih. Namanya juga jualan. Gimana caranya toh, biar dagangan kita dibeli orang. Paling enggak, dilirik dulu lah!

Hari ini (Rabu 7 Mei) saya agak surpise ketika melewati sebuah jalan di kawasan Kota Baru, dan melihat sebuah spanduk bertuliskan : PEMECAHAN REKOR SENAM MASAL DENGAN 25 INSTRUKTUR. (more…)

Kenapa ya, kalau kita melihat pose pada foto-foto pre-wedding pasangan yang mau menikah itu selalu standar : Menunjuk! Sering liat kan, dimanapun lokasinya (biasanya di alam2 terbuka seperti pantai, taman atau bahkan hutan!), kedua calon mempelai itu (masih calon ya, karena namanya kan foto pre-wedding! hehehe) jalan atau duduk berdampingan, dan dengan wajah yang dibuat sebahagia mungkin, salah seorang dari mereka menunjuk ke suatu arah di depan mereka. Lengkapnya, jari telunjuknya menunjuk kearah depan dan agak keatas. Sounds familiar?? Maksud saya, what’s up with that?? Padahal saya yakin, para calon mempelai itu punya fotografer yang berbeda-beda. Masa satu Indonesia Raya, fotografernya sama? Makanya saya heran, kok ya bisa2nya posenya sama semua? Masa bisa seragam gitu sih? Dan kenapa menunjuk?

gambar diperagakan oleh model..hehehe

Ok, here’s some thoughts.

  • Menunjuk kedepan, karena ini seolah mengisyaratkan bahwa mereka ini akan segera memasuki lembar kehidupan yang baru (auuuu..), dimana mereka akan segera menyongsong masa depan yang baru juga. Dan namanya juga masa depan, pastinya ya nunjukknya ke depan dong ya. Kalo tangannya nunjuk ke belakang, itu namanya masa lalu.Kalo tangannya nunjuk kebawah, kesannya kok becanda. Seolah2 bilang, “Eh apaan tu di tanah? Kok gerak-gerak?”. Kan jadi nggak romantis kan?? Dan kalo nunjuknya ke samping, mmm.. itu nunjuk siapa ya???
  • Kenapa tangannya dalam posisi menunjuk? Karena kalau tangannya dalam pososi menggenggam, kesannya kok kaya mengacungkan bogem mentah ke orang didepannya, bukan?? Apalagi kalau kedua calon mempelai sama2 saling mengacungkan tangan dengan posisi jari tergenggam. Ada masalah pribadi yang belum terselesaikan diantara mereka, nampaknya….
  • Kenapa yang tangannya dalam posisi menunjuk itu hanya salah satu dari mereka? Jawabannya mudah. Kalau dua-duanya menunjuk, kesan yang timbul adalah keduanya seperti tidak mau kalah satu sama lain. Apalagi kalau yang satu nunjuk ke kanan-depan, yang satunya nunjuk ke kiri-depan. Katanya mau kawin, kok nggak kompak ya?? Lebih parah lagi kalau keduanya tunjuk2an! Hahahaha.

Kalau udah gini, ya bersiaplah untuk melihat lebih banyak lagi foto2 di kawinan dalam pose menunjuk!

Next Page »