October 2008


“Halo Mas Deka.. Ini Maida Swaragama. Gini mas, kita lagi ngomongin tentang blog. Mas Deka bisa nggak kita ajak ngobrol tentang blog. Yaa.. tentang asal mulanya dulu tau bisa nulis gimana, terus dulu giman pertama kalinya mulai ngeblog, yaa pokoknya gitu lah mas.. Nanti abis Maghrib kita telpon ya Mas..”

Kurang lebih begitulah salah seorang produser acara sore di Radio Swaragama Jogja meminta ijin (duh, bahasanya) untuk mengajak saya mengobrol tentang ‘blog’ melalui telepon dan di on-airkan di acara sore mereka. Kaget? Pasti. Seumur-umur, kayanya belom pernah deh diinterview sama radio. Karena biasanya, ya saya yang menginterview, bukan diinterview. Lebih kaget lagi, topiknya adalah tentang blog. Bukan sesuatu yang aneh sebenarnya, karena saya udah nyemplung di dunia blog ini udah hampir 2 tahunan. But when it comes to giving an advice how to write a good post (or even how to start one), duh bener-bener bingung deh.

Saya sih cuman ‘iya-iya’ aja ketika diajak ngobrol, tanpa tau bisa-bisanya mereka tau saya hobi ngeblog. Tapi kayanya sih ada yang ngebilangin kalau selain ganteng, saya juga hobi ngeblog. Hahahaha. Maap, suka keterlaluan emang narsisnya. Agak2 ga tau malu. Well eniewei, akhirnya saya ditelpon oleh mereka sekitar jam 5.45 sore. Tepat setelah terputarnya lagu Recto Verso-nya Dewi Lestari, dan dengan pengantar dari si penyiar yang kalau tidak salah bernama Taufik :

…. bla bla blaaaa, ini Recto Verso dari Dewi Lestari, yang juga seorang blogger ya. Nah, kalo ngomongin soal blog, ada temen saya nih yang juga sering nulis blog, selamat sore Pak Deka……”

Tuh, gimana gak grogi coba! Disandingin sama Dewi Lestari.. Hehehe, salah ya? Ya, harusnya sih mereka langsung menelpon Dewi Lestari ya. Kan lebih cocok. Kok malah sama saya ngobrolnya. Tapi ya sudahlah, anggap saja saya sekelas dengan mbak Dee ini. Amin. Lha wong sama-sama bloggernya kok. Hehehe. Blogger tidak mengenal kelas! *halah*

Akhirnya selama kurang lebih 7 menitan, saya diajak ngobrol tentang blog. Mulai dari kapan memulainya, tentang isi tulisan, tentang masa depan blog dll. Agak lupa2 ingat apa aja pertanyaannya, saking terlalu bersemangatnya nyerocos. Kayanya malahan cerewetan saya dibanding penyiarnya. Hihihi. Tapi setelah itu, saya seperti diajak buat flashback lagi, hanya dimulai dengan satu pertanyaan standar saja : Kapan mulai sadar kalau saya bisa dan suka nulis? Dan jawabannya simpel : NGGAK TAU. (more…)

Baru saja saya selesai menonton serial FRIENDS episode The One Withe Phoebe’s First Bike’, yang entah udah ke berapa ratus kalinya saya tonton. Ya tetep ketawa aja tuh ngeliatnya! Hehehe. Pertama, jelas ngetawain filmnya. Ngeliat Phoebe yang seumur hidupnya belum pernah punya sepeda, dan kemudian Ross membelikannya sebuah sepeda kumbang dengan keranjang cantik didepannya, yang akhirnya cuman di pajang dan di lap-lap doang, karena ternyata Phoebe ini nggak bisa naik sepeda! Hehehe. Dan ketawa berikutnya, adalah sebuah ketawa haru, karena mengacu pada ucapan Ross yang bilang, semua orang seharusnya pernah merasakan pengalaman punya sepeda pertamanya.

Inget ga sih, kapan pertama kali dibeliin sepeda sama Mama-Papa (dooooo… Mama papaaaa…!). Walau bukan sebuah keharusan, tapi sepertinya semua anak punya saat-saat pertama belajar sepeda, lengkap dengan jatuh bangunnya. Mulai dari roda tiga, mulai dari dipegangin, hingga baru benar-benar bisa mengendarai sepeda roda dua itu sendirian. Bahagianya minta ampun, berasa udah jadi yang paling hebat sedunia. Dilanjutkan dengan bersepeda keliling kompleks perumahan di sore hari setelah mandi sore dan makan sore disuapin sama Mama. Hehehe. Menyenangkan sekali rasanya bersepeda.

Mau nggak kalau sekarang disuruh kembali bersepeda? (more…)

Mari kita menyambut datangnya musim hujan. Paling tidak, walau datangnya diiringi dengan kekhawatiran munculnya banjir atau angin puting beliung, paling enggak musim penghujan yang datang ini akan sedikit mengilangkan keluh kesah hampir semua orang akan ‘menghangatnya’ suhu udara yang kita rasakan akhir-akhir ini. Walau bisa jadi, ketika hujan datangpun, keluh kesah tentang hawa panas itu akan diganti dengan keluh kesah yang lain, mulai dari atap bocor, listrik yang tiba-tiba padam ditengah kejaran deadline, dan masih banyak lainnya. Namanya juga manusia ya. Dikasih panas, ribut. Dikasih ujan, ga bikin diem juga. Hehehe.

Selain menyambut datangnya musim penghujan dengan menyiapkan Jas Hujan dan Payung Lipat yang bisa masuk ke tas laptop (hihi), saya baru-baru ini juga sedang menyiapkan lagu-lagu bertema hujan yang bisa saya senandungkan ketika kelak saya kehujanan. Agak gak penting mungkin kedengarannya. Tapi jangan salah! Saat-saat dimana kita kehujanan, adalah saat-saat dimana keadaan jiwa dan raga ini *edannn* sungguh tersiksa. Sehingga salah satu cara mengatasinya adalah dengan membangkitkan semangat diri sendiri, membuat nyaman diri sendiri, ya salah satu caranya adalah dengan bernyanyi. Ini kalau saya, karena emang hobinya nyanyi. Kalau saya hobi puisi, mungkin saya juga akan mengarang sebuah puisi. Tapi kok terlalu dramatis ya, ditengah hujan kok malah baca puisi?? Mending nyanyi deh kayanya. Asal ga pake joget2 aja. Hehehe.

Tentu saja saya juga nggak akan menyanyikan November Rain-nya Guns’n Roses karena suara saya nggak semelengking Axl Rose. Apalagi menyanyikan lagu Through The Rain-nya Mariah Carey, karena saya nggak mau orang2 disebelah saya memandang sebal karena suara saya yang dimirip-miripin suaranya mbak Mimi yang meliuk2nya suka over itu. Atau menyanyikan lagu Singing In The Rain-nya Jamie Cullum, karena saya cuman hafal bagian

I’m singing in the rain.. I’m, singing in the rain..

doang.

Pilihan saya akhirnya jatuh pada Rhythm of The Rain-nya Dan Fogelberg atau Raindrops Keep Falling On My Head-nya BJ Thomas. Sama jadulnya, memang. Ya, usia emang tidak bisa menipu. Tapi karena saya butuh lagu dengan lirik yang membangkitkan semangat dikala hujan, saya lebih memilih lagu yang terakhir, karena lagu yang pertama ternyata bercerita tentangn patah hati! Walah! Udah kehujanan, nyanyinya lagu tentang patah hati? Sedih bener hidup..

Raindrops are falling on my head
and just like the guy who’s feet are too big for his bed,
nothing seems to fit
those,raindrops are falling on my head,they keep falling

so I just did me some talking to the sun,
and I said I didn’t like the way he got things done,
sleeping on the job
those, raindrops are falling on my head they keep falling

But there’s one thing, I know
the blues they sent to greet me won’t defeat me.
It won’t be long ’till happiness steps up to greet me

Raindrops keep falling on my head
but that doesn’t mean my eyes will soon be turning red.
Crying’s not for me, cause
I’m never gonna stop the rain by complaining
because I’m free.. nothing’s worrying me ..

Becaus it is true. Burt Bacharach bikin lagu ini sepertinya tidak murni menceritakan tentang Hujan. Tapi tentang hidup secara keseluruhan. Hujan biarlah hujan. Dengan menggerutu, memaki-maki ataupun marah-marah, nggak akan bisa membuat hujan berhenti. Yang bisa kita lakukan adalah berhenti berjalan dan kemudian menghindarinya dengan cara berteduh dengan resiko telat sampai tujuan misalnya, atau berjalan terus dan menikmati ‘karunia’ ini walau dengan resiko akan terkena penyakit, misalnya. Sama seperti hidup kok. Banyak pilihan-pilihan. Tinggal dipilih aja. Tapi setelah memilih, jangan komplain. Semua pilihan pasti ada konsekuensinya.

So, next time situ ngeliat sini sedang kehujanan, situ tau lah sini sedang bersenandung lagu apa.. Hihihi.

Waktu. Terasa berjalan cepat atau lambat, memang tergantung dari kita yang menjalaninya. Bisa terasa cepat, bisa juga terasa lambat jalannya, bahkan bisa juga ada suatu titik dimana malah kita merasa bahwa waktu terasa berhenti berjalan. Mandeg. Stand still. Nggak kemana-mana. Tentu saja balik lagi ke yang namanya perasaan kita. Mau bagaimanapun, selama belum kiamat, ya waktu itu pasti berjalan terus, nggak akan berhenti. Dan sudah pasti. Mulai dari malam ke pagi, pagi ke siang, siang berganti sore, sore kembali lagi ke malam. Begitu seterusnya. Nggak akan ada yang namanya pagi mendahului malam atau siang berganti malam. Semua sudah berjalan sebagaimana mestinya.

Wah, sebuah alinea pembuka yang cukup berat untuk sebuah tulisan blog ya. Hehehe. Padahal intinya sih saya cuma pengen cerita, kalau kita mau sekali-kali melihat ke belakang lagi, kita akan ngerasa kalau waktu itu seperti berjalan begitu cepat. SEPERTI. Mungkin karena kita selama ini begitu sibuknya menjalani hari dengan apapun, mostly mungkin pekerjaan, sehingga kita jarang sekali melihat lagi apa saja yang sudah kita lakukan dan kita dapatkan hingga saat ini. Dengan kerjaan yang seabreg2, dengan padatnya kegiatan yang segudang, yang ada kita menjalani waktu dengan yaaa, begitulah.. sekedar menjalani saja. The next thing we know, tau2 kita udah ada di sini. Di tempat kita sekarang ini. Di tempat Anda membaca tulisan ini. Di usia Anda tahun ini. Detik ini. Udah kemana aja kita sebelum ini? Udah ngapain aja kita hingga akhirnya ‘terdampar’ disini? (more…)

Entahlah, pertanda apa ini. Tapi diantara puluhan SMS yang mengucapkan Selamat Idul Fitri dan meminta maaf lahir dan batin yang saya terima, terseliplah satu SMS yang datang pada hari Jumat jam 3 sore lebih 45 menit berbunyi seperti ini :

Pengelola & Pelaksana Prog KB mengucapkan Selamat Idul Fitri 1429H. Mohon maaf lahir batin. Terimakasih atas dukungan utk Prog KB. Kepala BKKBN Dr Sugiri Syarief MPA”

Sungguh saya terheran-heran karenanya. Sejak kapan saya ikut menyatakan dukungan saya terhadap Program Keluarga Berencana?? Kenal sama orang BKKBN aja engga. Ngemsi acara mereka juga belom pernah. Bukannya saya nggak mendukung program KB ya, tapi .. duh, berkeluarga aja belom! Tapi mungkin ini semacam pertanda ya, kalau saya sudah saatnya MERENCANAKAN KELUARGA dan baru kemudian mendukung program KELUARGA BERENCANA!

Hehehehe…

Kira-kira, ungkapan apa ya yang sering sekali muncul ketika kita ber-silaturahmi, saling mengunjungi di hari Lebaran selain “Selamat Idul Fitri” atau “Mohon Maaf Lahir Batin”? Kalau dari pengalaman saya sih, kalimat yang menempati posisi dibawah kedua ungkapan tersebut *edaann.. kaya apaan aja* adalah :

Aduh, kok repot-repot..?”

Atau

“Wah, nggak usah repot-repot!”

Bayangin, hampir semua orang yang datang berkujnung ke rumah kita (at least, rumah saya, lah!) selalu berbasa-basi dengan bilang “Aduh, udah nggak usah repot-repot…” ini setiap kali kita sebagai tuan rumah memberikan suguhan makanan atau minuman kepada mereka. Begitu juga sebaliknya. Ketika kita berkunjung ke suatu tempat. Kita kok ya juga ikut-ikutan latah berbasa-basi berkata demikian. Kayanya jadi ekspresi atau ungkapan yang standar banget ya?

Ya iya sih, reaksi orang yang masih waras memang wajarnya emang gitu. Kalo ada orang yang memberikan suguhan kepada kita ketika kita bertamu, selain pilihan bilang, “Terima Kasih..”, ya bilang “Udah lho.. nggak usah repot-repot”. Dan sang Tuan rumah yang (sepertinya) tidak merasa direpotkan itupun akan menjawab dengan,

“Ah enggak apa-apa. Setahun sekali….”

Agak membingungkan juga sebenarnya. (more…)