November 2008


Seru juga mengikuti perkembangan kasus iklan kampanye salah satu partai politik yang memajang nama dan wajah mantan presiden Soeharto sebagai salah satu ‘pahlawan‘ di negeri ini. Seru, karena seperti yang sudah dipersiapkan oleh si partai itu sendiri, berbagai pro dan kontra muncul. Good. Iklan yang berani tampil beda diantara iklan-iklan parpol lain yang standar itu. Terus terang, saya sih nggak mau ikutan komentar tentang ‘pantas/tidaknya’ Soeharto dimasukkan dalam daftar Pahlawan di negeri ini. Kenapa? Ya nggak mau aja. Hehehe. Panjang pasti nanti bahasannya. Tapi kalau misalnya saya diminta memilih satu nama yang menurut saya bisa menjadikannya seorang ‘pahlawan’, maka dengan senang hati dan tanpa pikir panjang, saya akan menyebutkan nama : Kak Seto!

seto_mulyadi_1

Kenapa? Ya kenapa enggak?? Sama seperti model rambutnya yang konsisten dan tidak pernah berubah hehehe, dari dulu hingga sekarang Kakak kita yang satu ini tidak pernah berubah juga menunjukkan totalitasnya, kepeduliannya kepada nasib anak-anak di negara kita ini. Mungkin saya tidak terlalu detail mengetahui sepak terjangnya *edann bahasanya!* di dunia anak-anak ini. Saya tahu beliau pun ketika masih di SD ketika waktu itu sebuah boneka komodo bernama KOMO punya single hits yang jadi jargon dimana dengan “..macet lagi, macet lagi.. gara-gara si Komo lewat….” itu. Sejak itu saya baru tahu, ada seorang sosok pemerhati dunia anak (dan dunia lalu lintas hehehhee) bernama Seto Mulyadi.

Hingga kemudian seiring waktu, ketika TV Swasta sudah semakin banyak, dan tayangan infotainment atau berita makin gila-gilaan jumlahnya, saya semakin sering melihat kiprah Kak Seto dalam ‘mengurusi’ nasib anak-anak Indonesia. Terutama tahun-tahun belakangan ini. Gimana enggak, hampir di setiap ada berita perceraian artis yang kemudian diikuti dengan kasus perebutan hak perwalian anak, pasti ada Kak Seto sebagai mediator ditengah-tengahnya. Hebat kan? Satu yang masih saya ingat adalah kasus rebutan hak asuh dari Tamara Blezynski-Teuku Rafly atau Ahmad Dhani – Maia. Oh, iya! Kasus rebutan hak asuh anak antara Zarima dan Ferry siapaa, gitu. Hahaha. Gila ya, inget aja kalo urusan gosip. Edan, lah. (more…)

Ya ya .. Mari kita bicara mengenai kemenangan Obama menjadi presiden Amerika serikat. Why? Nggak tau juga. Mungkin karena semua orang seperti membicarakannya, so kenapa saya tidak? Hehehe. Apalagi barusan di sebuah acara gosip di SCTV, ada liputan Syaiful Jamil yang datang mengunjungi SD Menteng, tempat Obama dulu pernah bersekolah. Iya, saya tahu Anda juga pasti gatel pengen bilang,

NGAPAIN, COBA????!!!!!!

Saya udah duluan teriak, soalnya. Sama pengen teriak ketika ada komentar dari dik Belski yang dengan santunnya berkomentar singkat,

… iya, dia kan udah jadi Presiden Amerika Serikat. Jadi ya Insya Allah bisa bikin dollar turun…

Lugu sekali adik kita yang satu ini. Tapi sudahlah. Liputan itu makin diperparah dengan narasi dari si mbak2 Narator yang bilang,

... hal ini sudah menjadi bukti, bahwa pendidikan Indonesia bisa membawa seorang anak didiknya menjadi seorang Presiden negara sebesar Amerika Serikat..

Aduh, semakin stress saya. Stress memikirkan kenapa saya bisa stress hanya karena acara tidak penting ini. Cukup sudah. Semakin berlebihan sekali orang-orang negeri ini ‘merayakan’kemenangan seorang Barry ini . Gimana ya, duh please dong.. Dia sekolah di Indonesia juga cuman 2 taun doang, dari tahun 1969-1971. Berlebihan banget kalau kita menganggap kalau kesuksesan dia karena dia pernah mengenyam pendidikan Indonesia. Bukannya merendahkan pendidikan di negeri sendiri, karena saya bisa sesukses sekarang inipun karena belajar disini juga *PLAKK!*.

obama2

(more…)