
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang,
Untuk aku anakmu…
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki
Penuh darah, penuh nanah…
Seperti udara
Kasih yang engaku berikan
Tak mampu ku membalas
Ibu..
Ibu….
Ingin kudekap
Dan menangis di pangkuanmu..
Sampai aku tertidur,
bagai masa kecil dulu..
Lalu doa-doa
Baluri sekujur tubuhku..
Dengan apa membalas
Ibu..
Ibu….
Terus terang saya nggak gitu ngerti apa yang terjadi pada teman saya Ndut.

Bukan.. Bukan hanya karena hobinya yang suka berpose usil ketika difoto seperti ini (saja), tapi 15 tahun berteman, manusia satu ini sepertinya hobi sekali usil merusak sebuah lagu. Bukan merusak dengan suaranya (saja), tapi lebih pada kebiasaannya merubah lirik dari yang seharusnya, menjadi lirik lain yang tidak sewajarnya! Menjadi tidak wajar, karena mengakibatkan lagu tersebut berbeda makna hingga 360 derajat. Memang sih hampir semua tragedi itu terjadi akibat ’salah dengar’ semata. Biasanya, manusia satu ini suka ‘mengejutkan’saya ketika tiba-tiba dia datang dengan motor butut kesayangannya, sambil menyenandungkan sebuah lagu yang kalau didengarkan dengan seksama, pasti akan membuat saya bilang,
Hehhh?????
Pernah suatu ketika, lagi santai-santainya di kamar, tau-tau si Ndut ini datang sambil langsung melengking (iya, bukan berteriak!)
…. Aaaku bukan PSK! PSK! Aaa…ku bukan Pe Es Kaaaaa…!!!!
Kagetlah saya. Apa-apaan ni orang?? (more…)
Mengherankan sekali. Bagaimana sebuah percakapan singkat di pagi hari yang seharusnya hanya menjadi sebuah basa-basi biasa antara saya dengan bapak Kos, bisa menjadikan mood riang bangun tidur saya berubah menjadi muram, dan serasa ingin kembali tidur lagi dan nggak masuk kerja! *emang dasarnya males, kayanya* Setiap pagi sebenarnya saya cukup sering terlibat pembicaraan tidak bermutu dengan beliau ini, secara ya kami termasuk yang selalu bersua di pagi hari karena penghuni lain biasanya masih belum bangun. Dan topik yang kami perbincangkan pun hanya sekedar greeting sekedarnya, karena beliau sedang dalam keadaan akan memanaskan mobil (mesinnya, tentu saja.. hehehe), dan saya juga sudah siap2 mau berangkat ke kantor. Jadi mana sempat ngobrol panjang?
Tapi lain halnya ketika tadi pagi kami ‘cukup’ punya waktu agak lama berduaan *oouchh*. Kebetulan sama-sama agak siangan berangkat ke kantornya. Dan perbincangan dimulai pagi itu dimulai tanpa basa-basi dengan,
Mas.. kayanya bulan ini habis ya? Ngingetin aja. O ya, per bulannya naik 25 ribu ya..
Bukan ini sebenarnya yang bikin saya kemudian jadi bermuram-durja. Bukan masalah kenaikan uang kos. Karena kalau dipikir-pikir, 5 tahun tinggal disini, memang sudah saatnya dan sewajarnya uang sewa kos di tempat saya ini naik. (more…)