March 2009


Pada suatu hari, saya menerima message dari teman saya melalui Yahoo! Messenger.

donnydonat: tumben, ga berstatus…
ryu deka: oh…
ryu deka: kan hari Sabtu… itungannnya ga kerja, jadi ngapain berstatus?
ryu deka: Hahaha..
donnydonat: :)
ryu deka: ah, kamu suka memperhatikan status ku ya ternyata…
ryu deka: jadi malu..
donnydonat: aku dan Inud sih
ryu deka: oh…
donnydonat: klo aku pasti membandingkan punyamu dan punya ‘X’ *salah satu teman kita*
donnydonat: pasti bertolak belakang
ryu deka: HUAHAHAHAHHAHAHAHAHHAH
ryu deka: Apa iya?
donnydonat: iye…
donnydonat: satunya hawanya positip,
donnydonat: satunya pasti negatip
ryu deka: hahaha….
ryu deka: bisa aja…

Maksudnya, Mas Donny ini menanyakan kenapa hari itu saya tidak menuliskan status di YM saya. Karena sejak beberapa bulan ini, saya memang selalu menuliskan bermacam-macam quotes sebagai status saya. Seperti,

- If you’re too busy to enjoy life, you’re too busy
- Do not take life too seriously. You will never get out of it alive
- How we spend our days is, of course, how we spend our lives (more…)

Lagi, sebuah tulisan tentang pernikahan. Yapp.. pernikahan. P-E-R-N-I-K-A-H-A-N. Mudah-mudahan belum pada bosen ya.

Hari Minggu tanggal 29 Maret kemarin, saya menghadiri undangan resepsi pernikahan mantan sekretaris saya dulu (hahaha.. gaya betulll…) yang bernama Neng Uut. Datang (sendirian) dengan berpakaian batik, potongan rambut model masa kini, saya tampil dengan cukup percaya diri. Hehehe. Mulai dari menginjakkan kaki di meja penerima tamu (maksudnya, melewati meja penerima tamu. bukan menginjak-injak mejanya, tentu), bersalaman dengan kedua mempelai, mencomot aneka hidangan yang disediakan hingga haha-hihi dengan teman-teman lama.

Tapi kesempurnaan penampilan saya siang itu *edann* tiba-tiba saja perlahan-lahan sirna, ketika satu persatu memberikan pertanyaan basa basi yang standar sekali pada saya,

Kapan nyusul?

Standar kan? Pertanyaan yang amat standar ditujukan pada para lajang, yang hadir di pesta-pesta pernikahan. Namanya juga pertanyaan standar, jawabannya pun dibuat standar pula, kan? Cukup tampilkan senyum manis standar saja. Udah lewat lah nyari-nyari jawaban manis yang seolah berusaha memberikan pembelaan diri akan status lajang kita. Tapi ketika hampir semua orang yang kita kenal kemudian menanyakan pertanyaan yang sama, mau nggak mau pertanyaan itu tiba-tiba seperti berputar-putar di kepala saya, hingga akhirnya membuat saya mempertanyakan keabsahannya! Edan ya.. dasar blogger!

Kenapa sih harus pakai kalimat “Kapan Nyusul?”

Kenapa???

(more…)

Ternyata setiap tanggal 30 Maret itu diperingati sebagai Hari Film Nasional, ya? Saya baru tahu. Ya wajar sih, lha wong saya bukan orang yang bekerja di dunia film. Walau saya juga ragu, apa teman-teman saya yang kebetulan bekerja di dunia perfilman juga tahu kalau ada satu hari spesial untuk bidang kerja yang digelutinya itu.

Sedikit mengulik sejarah supaya isi blog ini rada-rada seikit bermutut (hahaha), Hari Film Nasional ini ditentukan terhitung sejak tanggal 30 Maret 1950. Yaitu hari pertama syuting film berjudul “Doa dan Darah” yang disutradarai oleh Bapak Perfilman Nasional, Usmar Ismail. Bukan Ismail Marzuki ya. Saya juga sering kebalik-balik membedakan kedua orang ini. Dan ini katanya sih merupakan film perdana yang dibuat sendiri oleh anak bangsa, dibawah nama perusahaan negara bernama PERFINI. Berarti tahun ini, perfilman Indonesia sudah masuk ke usia ke 59 ya. Semakin bertambah tua sebenarnya. But then again, usia itu memang tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas ya.

Kamu sendiri, sejak kapan mengikuti perkembangan film Indonesia? Saya sendiri mulai mengikutinya sejak saya masih berumur 5 tahunan?Sekitar tahun 1985, ketika masih tinggal di Medan, saya diajak ibu saya nonton sebuah film yang dimainkan sama Mbak Meriam Bellina dan Mas Ikang Fawzi!

kulihatcintadimatanya

Tuh, keren banggett kan?? (more…)

…. jadi ternyata percakapan tentang Poppy -Poppy-an di postingan bagian pertama itu, masih berlanjut lagi, teman-teman. Tapi kali ini fokus agak bergeser dari Poppy Bunga ke Poppy Mercury(more…)

Minggu sore, sekitar jam 5 sore saya terbangun dari tidur siang yang nyenyak sekali. Tidur di kasur yang empuk, selimut tebal, di luar kamar pun sedang hujan deras sekali. Nyaman sekali lah, pokoknya. Seperti kebiasaan, setiap kali bangun tidur, hal pertama yang saya lakukan adalah meraih handphone saya, untuk melihat-lihat jika saja ada panggilan atau pesan singkat yang masuk ketika saya masih tidur. Setelah itu, biasanya saya langsung meraih remote TV dan menyalakan TV yang ada tepat dihadapan tempat tidur saya itu.

Saya nggak pernah mengira, kalau kegiatan bangun tidur saya sore itu akan berubah menjadi saat yang sangat emosional. (more…)

Hari ini, pagi ini, pikiran saya terusik (edann.. bahasanya infotainment sekali) dengan sebuah tayangan biografi Winston Churchill yang saya tonton semalam di stasiun televisi BBC. Beuh..!! BBC loh! Tumben-tumbenan. Biasanya kalo gak Star World ya Star Movies atau HBO. Ya kadang-kadang E! juga,  kalo tayangannya lagi seru semacam, “Top 10 Perkawinan Selebriti Termahal Versi Majalah Forbes” atau sebaliknya, “Top 10 Perceraian Selebriti Termahal”. Hehe. Mungkin karena sepanjang malam tadi banyak channel yang tiba-tiba teracak2 gambarnya bak nonton VCD bajakan, jadi ya saya terpaksa nonton saluran yang rada layak ditonton sajalah.

Jangan minta saya untuk menerangkan apa sisi tayangan yang saya liat semalam itu. Karena saya juga nggak begitu paham dengan jalan ceritanya. Pokoknya intinya adalah itu cerita tentang Winston Churchill. Titik. Maklum, ngeliatnya juga sambil mata setengah terpejam karena mengantuk, jadinya ya yang diliat cuman gambar-gambarnya doang! Tapi ada satu hal yang bikin mata saya tiba-tiba terbelalak, ketika di tayangan itu ditampilkan sebuah quote dari Om Churchill yang (kalo saya nggak salah baca, karena munculnya sebentar sekali!) berbunyi :

You have enemies? Good. That means you’ve stood up for something, sometime in your life

churchiill

Asli, setelah baca quote singkat ini, ngantuk saya sempat hilang beberapa saat. Karena mau nggak mau, bikin saya berpikir, “Bener juga ya?” (more…)

Sebuah percakapan melalui telepon, sebelum Jumatan.

Ndut : Eh, Poppy Bunga tuh siapa sih?
Saya : Heh?
Ndut : Poppy Bunga itu siapa, Mandala itu siapa??
Saya : Mandala itu kan yang bawain acara “Termehek-Mehek”, bukan?
Ndut: Oh.. Terus Poppy Bunga itu siapa?
Saya : Artis, toh? Kayaknya… Itu kayanya bekas pacarnya Mandala itu
Ndut : Oo.. ini aku liat di Insert! kok dia marah-marah..
Saya : Marah-marah?
Ndut : Ho oh.. Entahlah, kayanya dia berseteru dengan Mandala itu..
Saya : Ooooh.. Itu kalo ga salah mereka kan dulu pacaran, terus putus, tapi putusnya kayanya ga baik-baik
*oh, luar biasa sekali saya ini… detail kalau memahami gosip*
Ndut : Ooo..  Masa tadi dia bilang gini, “Saya sih nggak sakit hati ya…. Tapi yang bikin saya sakit hati, Mandala itu sudah Haji tapi kok tingkahnya kaya gitu…  Haji Munafik!
Saya : Hah? HUAHAHHAHAHA……..
Ndut : Emangnya diapain sih sama Mandala?
Saya : Huahahahhaha… ya nggak tau, lah!
Ndut : Waktu putus pake dijambak apa rambutnya, kok sampe segitu marahnya…
Saya : Huahahhahaha…,
Ndut : Ora penting banget tho….

Ya, sengaja pernyataan teman saya yang terakhir itu saya bold, karena sudah berapa kali sih kita melihat berita-berita tidak penting di infotainment? Tentang si ini dan si itu yang katanya artis tapi kok kita nggak kenal yang saling jatuh cinta, atau tentang liputan ’sehari bersama si Itu’ yang isinya cuma kegiatan dia bangun, makan, nyalon, beli hadiah buat pacarnya, terus udah, bahkan untuk artis sekelas Afgan aja sempat masuk infotainment cuman karena naik berat badannya, dan Dewi Perssik sempat diliput karena kakinya kena luka bakar! Oh my…

Kita yang nonton sih paling sering ya cuman bisa bilang, “Ya elah… ga penting amat sih ini…”. Padahal percayalah,  para production house yang memproduksi tayangan infotainment itupun sebenarnya juga tau, kalau tayangan yang mereka buat itu memang nggak penting sama sekali.  Mau bukti? (more…)

Walau sudah telat 10 hari, tapi dari lubuk hati saya yang pualing dalam, saya ingin mengucapkan “Selamat Hari Perempuan Sedunia” buat semuat perempuan-perempuan yang ada di dunia ini, terutama ya buat perempuan-perempuan yang membaca blog ini. Hehehe. Saya berusaha menyampingkan ego kelaki-lakian saya (atau seperti yang pernah diucapkan Phoebe di salah satu adegan film FRIENDS, “Stop being so testosterone-y!”) dengan mengucapkan :

Saya Salut Pada Anda!

Dari jamannya dulu bekerja di radio perempuan, saya sudah dicekoki dengan berbagai fakta dan pemahaman, betapa perempuan itu mahluk yang tidak biasa. Bisa berfungsi ganda. Bukan berfungsi ganda sebagai laki-laki juga -serem amat, tapi dasi sisi kemampuan diri. Bayangkan, ada :

  • Perempuan single
  • Perempuan single yang sedang bersekolah/ kuliah
  • Perempuan single bekerja
  • Perempuan single bekerja dan bersekolah
  • Ibu Rumah Tangga
  • Ibu Rumah Tangga bekerja dan bersekolah
  • Single Mother

untuk memberikan sedikit contoh, dari status seorang perempuan. Bisa kebayang, buat mereka yang punya status merangkap, ya sebagai ibu rumah tangga yang bekerja, contohnya. Seperti apa ya ribetnya? Mulai dari pagi bangun tidur hingga malam mau tidur lagi, apa nggak mau gila ya rasanya? Saya aja yang masih single aja suka kewalahan ngurusin diri sendiri. Dan suka menganggap biasa kerepotan teman-teman saya yang sudah jadi ibu, perihal masalah membagi waktu bekerja dengan waktu untuk keluarga mereka.

Makanya, saya ngerasa berdosa sekali ketika pada suatu hari saya terlibat perbincangan dengan salah satu teman saya tentang Sophie Navita. Loh, kok ada orang ini segala? Jadi beginilah perbincangan itu.. (more…)

Entah sudah berapa belas e-mail yang saya terima dalam 2 minggu terakhir ini, yang isinya sama semua : mengajak saya untuk ikut mensukseskan program Earth Hour 2009. Jadi , Earth Hour adalah sebuah acara internasional tahunan yang diadakan oleh WWF (World Wide Fund for Nature/World Wildlife Fund), diselenggarakan setiap Sabtu terakhir bulan Maret, yang meminta rumah dan perkantoran untuk mematikan lampu yang tidak diperlukan dan peralatan listrik selama satu jam untuk memunculkan kesadaran atas butuhnya tindakan menghadapi perubahan iklim.

180px-earth-hour-logo

Masih menurut Wikipedia lagi, Earth Hour 2008 sukses besar, dirayakan di ketujuh benua. Beberapa tempat terkenal di dunia ikut berpartisipasi untuk acara baik ini, Empire State Building (New York City), Sears Tower (Chicago), Golden Gate Bridge (San Francisco), Sydney Opera House (Sydney, Australia), Wat Arun Buddhist Temple (Bangkok, Thailand), Colosseum (Rome, Italia), Royal Castle (Stockholm, Swedia), London’s City Hall (Inggris, Britania Raya), Space Needle (Seattle), dan CN Tower (Toronto, Kanada). Nggak tau di Indonesia ya, apa malam itu Monumen Nasional (Monas) juga ikut berpartisipasi juga. Hehehe.

Earth Hour tahun ini akan diadakan lagi pada Sabtu 28 Maret 2009 besok, mulai jam 20.30. Pertanyaan terbesarnya sekarang adalah,

“Seberapa banyak orang sih yang cukup peduli ikut berpartisipasi mengikuti acara ini?”.

Dan dalam skala kecil, apakah saya juga mau ikutan ber-gelap-gelapan ria selama sejam, atas nama menyelamatkan perubahan iklim dunia yang semakin parah ini?

Sebelum saya jawab (dan mungkin Anda menjawabnya juga), saya teruskan cerita lain tentang usaha menyelamatkan bumi ini ternyata tidak hanya berhenti di Earth Hour diatas tadi. (more…)

Saya pengen cerita tentang satu benda berbentuk kecil yang kita kenal dengan nama : Gunting Kuku.

gunting-kuku

Ya, gunting kuku. Semua orang pasti sudah kenal dengan benda yang satu ini. Dikenalkan sejak kita masih kecil, ketika kita bahkan masih belum bisa memakainya sendiri. Ketika orang tua atau guru masih rajinnya memotongkan kuku kita setiap seminggu sekali, sampai akhirnya kita bisa memakainya sendiri, bahkan sampai ketika kemudian sampai bisa menyuruh (atau lebih tepatnya : membayar! hehe) orang lain untuk memotongkan kuku kita di salon-salon itu, lengkap dengan serangkaian treatment lainnya yang dikenal dengan nama Manicure-Pedicure (bener kan ya gini tulisannya?).

Segitu pentingnya kah si gunting kuku ini, sampai-sampai jadi bahan cerita saya? Jawabannya jelas : IYA. Pertama, tentu saja kalau melihat fungsinya. Demi alasan kesehatan, memotong kuku memang dianjurkan. Dalam agama Islam, memotong/menggunting kuku itu malah hukumnya Sunnah dan sebaiknya dilakukan setiap hari Jumat ketika akan melaksanakan kewajiban Sholat Jumat. Jadi tentu saja, si gunting kuku ini jadi benda yang penting sekali keberadaannya. Karena, mau pakai apa lagi, coba? Gunting rambut? Bisa aja sih, tapi kok seperti agak ribet ya. Atau digigit-in? Hehehe.. Tidak anggun…

Alasan kenapa si gunting kuku ini begitu pentingnya buat saya, karena ternyata berkat benda yang satu inilah, saya sempat dibikin terkaget-kaget ketika mendapati fakta baha : I’m an unforgettable person! Huahahhaha… lebai! Jadi gini ceritanya.. (more…)