May 2009


Posting kali ini hanya singkat saja.. Karena cerita yang saya alami ini memang sangat singkat durasi waktunya, tapi buat saya, efek malunya malah tidak singkat sama sekali… Tapi sungguh, walaupun nantinya tulisan ini sangat pendek, hikmah yang bisa Anda ambil amat sangatlah besar!

Pagi ini, seperti biasa saya datang sekitar jam 8.45 WIB, 15 menit lebih awal dari jam masuk kantor. Biasanya keadaan kantor masih sepi, hanya 1-2 orang saja yang cukup rajin datang sepagi itu. Selain office boy, ada Alya dari bagian news yang biasanya sudah duluan datang. Ada sih beberapa orang yang juga sudah stay di kantor, tapi biasanya mereka itu bukannya karena rajin datang awal, tapi memang nginep di kantor. Bisa ditebak, ini adalah anak-anak divisi off air. Hehehe.

Makanya, wajar dong saya heran ketika saya datang pagi itu, mobil big boss sudah duluan mangkal di parkiran. Tumben. Bukannya si boss nggak pernah datang pagi, tapi emang biasanya jam kantor si big boss ini emang lebih fleksibel. Jadi bisa datang agak siang. Tanpa ba bi bu, begitu masuk ke dalam kantor dan melewati meja receptionist, saya dengan cueknya bilang,

.. tumben tuh.. jam segini udah dateng…

Sang receptionist dengan muka heran bertanya balik,

… siapa, Mas?

saya menjawab singkat dengan nada menyinyir yang luar biasa,

itu, mobilnya si Mas Boss…

sambil menunjuk mobil diluar.

Sang receptionist tiba-tiba menempelkan jari telunjuk ke mulutnya, sambil kemudian dengan muka agak-agak kahawatir, menunjuk kearah sofa di sebelahnya yang dibatasi sebuah papan tripleks tipis…

Oooooooooowwwhhhhh… si Boss lagi asyik membaca koran disana! Selamat ya, Dek! Mulutmuuuu…. Duh, dia tadi tau gak ya kalo dia yang aku maksud? Hihihi. Du Du Du Du… selidik punya selidik, si boss ternyata emang belum sempat pulang karena semalam tidur di kantor setelah nonton final Liga Champions! Njreetttt… langsung dengan muka tanpa dosa walau malu luar biasa, saya melarikan diri ke lantai 1 untuk segera cuci muka.. karena muka ini panass banget rasanya! (more…)

…. nggak ada tawaran yang lebih normal-an dikit, ya??

Ini adalah reaksi yang saya terima ketika saya mengajak teman saya Nchy untuk melakukan movie marathon di Studio 21 Ambarukmo Plasa, hari Minggu kemarin. Saya pikir, menonton 2 atau lebih film secara berturut-turut dalam satu hari, bukanlah sebuah hal yang aneh, bukan? Selesai menonton di satu studio, langsung berlanjut menonton film yang lain di studio yang berbeda. Tak ada yang salah dengan itu. Normal-normal saja. Makanya saya bingung, ketika teman saya ini terlihat begitu shock-nya mendengar tawaran saya itu.

Oh, ternyata saya salah. Bukan masalah ‘movie marathon’nya itu yang dipermasalahkan dan dianggap tidak wajar oleh Nchy. Tapi lebih pada penjelasan saya berikutnya, perihal film-film apa saja yang akan di’marathon-kan. Saya dengan entengnynya menyebutkan 3 judul film Indonesia yang memang sedang main di Studio 21.

... semua film-film bagus di dunia ini emangnya udah lo tonton semua, apa???

Hahaha. I knew it. I kneewwwww ittttt…!! Nggak akan ada orang yang cukup waras yang mau menemani saya melakukan perbuatan ini. Ketika semua orang sibuk menulis status Facebook mereka dengan kalimat-kalimat yang memamerkan bahwa mereka sedang atau akan menonton film-film seperti Abdel & Temon eh, Angel & Demons, atau Watchmen atau The Curse of Benjamin Button, sepertinya saya sendiri yang dengan percaya diri menuliskan bahwa saya akan melakukakn movie marathon menonton film-film buatan negeri sendiri. Sepertinya kok pada anti ya membeli tiket untuk menonton film-film lokal. Ya sudah, dengan penuh keyakinan diri yang agak berlebih, saya pun melenggang memasuki Studio 21 untuk segera memulai petualangan saya menghabiskan hari Minggu seorang diri itu…

Studio 2. Jam 10:45

janda kembang

adalah film pertama yang saya tonton. Terus terang, saya menonton film ini bukan karena tertarik melihat penampilan Luna Maya yang berdangdut-ria. Saya datang untuk Sarah Sechan! Yeah!! Membaca sinopsis film yang mengisahkan bahwa Sarah berperan sebagai seorang penyanyi dangdut bernama Yuli Nada yang tersaingi oleh kedatangan Luna Maya yang menjadi penyanyi di orkes melayu pimpinan suaminya, sudah menjadi harga mati buat saya, untuk menonton film ini, apapun yang terjadi! Lebai, kan? Emang. (more…)

Sudah beberapa minggu ini saya mengikuti serial ‘The Biggest Loser’ di TV. Sebuah reality show yang berbeda dengan reality show di TV lokal kita yang isinya cuman orang berantem, teriak-teriak, nangis-nangis dan ngaget-ngagetin orang gak jelas. Hehehe. “The Biggegst Loser” sesuai dengan judulnya, menantang orang-orang yang dikaruniai berat badan diatas normal, untuk  bisa menurunkan berat badan mereka itu  menjadi dalam angka yang normal atau ideal. Terus terang, ada perasaan takjub juga menyaksikan pengorbanan orang-orang ini. Dengan bantuan 2 orang personal trainer yang mendampingi mereka, saya jadi tahu bahwa menurunkan berat badan itu bukanlah sebuah pekerjaan yang gampang apalagi menyenangkan. Perlu perjuangan dan pengorbanan luar biasa.

Berat badan ideal memang keinginan semua orang. Dari faktor kesehatan, sudah bukan rahasia lagi kalau orang yang terlalu berlebih berat badannya, rawan dengan berbagai gangguan kesehatan. Demikian pula dari faktor estetika. Terlepas dari yang namanya cantik/ganteng tidaknya seseorang itu ukurannya katanya adalah relatif, tapi semua orang tentu sangat ingin melihat ukuran badan mereka proporsional. Itulah kenapa produk dan program diet makin bertambah saja jenisnya (dan banyak peminatnya) , bukan?

COMP_02_blclogo

Tapi melihat program The Biggest Losers ini saya kok jadi makin percaya, segala sesuatu itu ada proses dan perjuangannya. Tidak bisa instant. Tidak bisa langsung kita dapatkan hasilnya dalam waktu sekejap seperti menjentikkan jempol dengan jari tengah. Makanya di tayangn itu diperlihatkan, para peserta harus mau menjaga asupan makanan yang mereka makan, menjaga pola makan dan – ini yang pasti, harus mau sampai jungkir balik berolahraga keras untuk membakar kalori, mengubah lemak menjadi otot, dengan didampingi oleh para trainer yang galaknya minta ampun itu. Tidak heran kalau hampir semua perserta menangis, bahkan ada yang menyerah ditengah jalan. Kalau begini kan pertanyaannya tinggal satu : Seberapa kuat tekad kita kita dalam melakukannya?

Kebanyakan sih sama : tidak terlalu sabar. Hehehe. Saya contohnya. Dulu saya pernah merasa bahwa saya sudah cukup berlebih berat badannya. Bisa dilihat dan dirasakan ketika celana mulai sesak di bagian pinggangnya, seragam kantor juga terlihat jadi semakin ketat, ngalah-ngalahin baju-bajunya Safiul Jamil, hingga yang paling jelas : pipi yang samakin tembem! Ditambah dengan tinggi badan yang sudah tidak mungkin bertambah lagi *hehehe* , akhirnya saya memutuskan untuk segera melakukan hal yang tidak pernah terpikir sama sekali sebelumnya : DIET!

Setelah berkonsultasi dengan trainer di gym tempat saya biasa berlatih, akhirnya saya diberikan sebuah program Fat Loss yang terdiri dari 2 bagian. Yang pertama adalah latihan untuk membakar lemak seperti treadmill dan step race plus latihan beban untuk mengencangkan otot, dan yang kedua adalah deretan menu diet yang harus saya makan. Setengah tak percaya, saya membaca daftar menu diet yang tertulis rapi di kertas itu… (more…)

Jam 8 malam.

Sesampainya di kamar sepulangnya dari  kantor, saya langsung meletakkan tas kerja, dan langsung terkapar tak berdaya di karpet bulu yang sudah tidak jelas bentuknya itu. Meletakkan beberapa bantal untuk sandaran kepala, sambil kemudian menyalakan TV, dan langsung memencet tuts bertuliskan angka 8 dan 9. Yak, 89. Channel MNC News.

Dan kemudian, muncullah tayangan itu….. Silet! Hahaha.

silet

Terserah deh mau dibilang saya cowok yang terlalu emak-emak karena doyan ngikutin gossip. Tapi dalam keadaan capek begitu, bukankah sebaiknya kita mencari hiburan yang bisa menghilangkan kepenatan? Dan saya yakin, dengan melihat tayangan infotainment yang luar biasa ringan dan menghibur seperti itu, pasti cukup bisa membantu menghilangkan segala letih yang saya rasakan sejak dari pagi.

Dan benar saya, begitu mengikuti tayangan Silet yang saat itu sedang membahas kasus dugaan penculikan model Manohara oleh Pangeran dari negeri seberang itu *ohhh*, saya bisa melupakan segala penat dengan berulang kali tertawa terbahak-bahak ketika menyaksikannya. Bukannya saya nggak bersimpati dengan kasus ini. Bukannya saya tidak merasa kasihan melihat si Ibunya Manohara yang jumpalitan meminta bantuan supaya bisa dipertemukan dengan anaknya itu. Bukan. Tapi siapa coba, yang nggak akan kegelian ketika ditengah-tengah liputan yang dibuat dramatis dan memilukan itu, ditambah dengan suara si mbak-mbak narator yang sama juga dibikin super duper dramatis itu, tiba-tiba muncul lagu…

… Diiiiiiiiiiiaaaaaaaaaaaaaaaa… Isabellllaaaa…. lambang cintaaaa yang laraaaaa…. Terpiiiiiii….sah keerranaaa… aadat yaaannngg beeeerrrrbeeezzzaaaaaaaaaaaaaa….

Ugh! LEBAY!

Apa-apaan sih ini editornya? Mentang-mentang kasusnya tentang kisah pilu dua negara, mentang-mentang tayangan yang dibahas adalah tentang sosok seorang perempuan yang menderita karena perbedaan kultur bangsa, maka kemudian dipilihlah lagu legendaris Isabella dari kelompok Search yang ngetop di awal tahun 90-an ini. Jelas saya ngakak dong. Kok nggak begitu nyambung yah?? Sukanya gitu deh, ni infotainment. Sukanya menambah-nambah kesan dramatis sebuah liputan dengan memasangkannya dengan sebuah lagu yang (dianggap mereka) cocok. Kalau cocok sih nggak apa-apa. Makin dapat, lah nilai kedramatisannya. Lah, kalo maksa?

Belum selesai kegelian saya dengan lagu Isabella itu, tiba-tiba saya sudah dibuat terperanjat lagi dengan lagu berikutnya. (more…)

Sejak dulu, orang sering bilang bahwa kecantikan atau ketampanan asli seseorang bisa dilihat ketika mereka baru saja bangun tidur di pagi hari. Alasannya? Ya kurang lebih, karena ketika mereka bangun dari tidur itu, mereka bangun dengan wajah yang masih alami, polos, apa adanya, tanpa tambahan-tambahan ‘dempul’ make up yang bisa menyamarkan kekurangan dari wajah mereka. Normalnya, normalnya lho ini ya…. hehehe… orang kalau pergi tidur kan memang biasanya nggak memakai make up di wajahnya, toh? Kecuali di sinetron-sinetron itu, tentu saja. Mereka itu mungkin termasuk abnormal, karena walaupun sudah siap tidur dengan daster atau baju tidurnyapun, masih ngotot ingin terlihat cantik dengan ber-make up tebal seperti mau kondangan itu.

Saya juga  heran, kenapa kecantikan atau ketampanan seseorang itu harus dinilai dari saat dia bangun tidur. Bukankah justru ketika itu, muka lagi jelek-jeleknya ya? Mata masih lebam dan belum terbuka dengan sempurna, pipi masih terlihat membengkak, belum lagi kalau ada sisa-sisa ngiler yang terpampang samar-samar di sekitar bibir hahaha.. masih ditambah dengan rambut yang, masya Allah… awut-awutan nggak karuan. Cantiknya dimana? Gantengya dimana??

Mungkin ya seperti yang saya tulis di paragraf awal tadi : cantik dilihat dari sisi alaminya, kepolosannya. Wajah yang masih bersih tanpa sentuhan dan polesan apa-apa. That’s where the beauty is. Karena kalau kita melihat sosok perempuan yang cantik setelah wajahnya di’dempul dengan make up 7 lapis,misalnya, ya nggak usah tanya. Bukankah itu gunanya make up diciptakan di dunia ini? Malah jika si perempuan itu tetap tidak terlihat cantik bahkan setelah dimake up hingga 7 lapis, itu yang harus dipertanyakan! Hahaha.

Saya sih maklum sekali, kalau perempuan dan make up itu mungkin sudah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Ibarat kentut dengan baunya. Ibarat hidung dengan upilnya.  Perumpamaan yang tidak cantik sama sekali ya? Hehehe. Perempuan kalau tidak memakai riasan, atau bahkan tidak tahu bagaimana caranya ber-make up, malah sering dibilang bukan perempuan. Sehingga kemanapun kalian pergi, mereka  selalu terlebih dahulu menyempatkan diri berdandan, yang buat kami para lelaki, sering menganggapnya sebagai pemborosan waktu saja. Walaupun kalau dipikir-pikir, selain untuk diri sendiri, kalian berlama-lama memonyong-monyongkan bibir didepan cermin itupun untuk kepentingan kami juga. Karena kami juga akan bangga punya pasangan yang pintar mempercantik dirinya.

Tapi dalam skala 1-10, seberapa pentingkah memakai make up bagi kalian? Sebegitu pentingnya kah? Berani nggak sih kalian hidup tanpa make up? Oke deh, pertanyaan terakhir barusan terdengar terlalu berlebihan. Kita kurangi saja kadar ke-lebai-annnya : Pernah nggak, sehari saja, sekali-sekali pergi ke kantor, atau pergi ke Mal, tampil polos tanpa riasan make up sama sekali? Kalau pernah, apa sih yang kalian rasakan? Nggak nyaman? Nggak percaya diri? Malu? (more…)

Note : Spoiler Alert!

Kamis sore, saya menulis status di Facebook dengan kecentilannya:

“Biar telat asat nomat! Knowing-ing @Amplas”

Maksudnya, saat itu saya memang sedang dalam rangka menontn film KNOWING-ya Nicholas Cage di Studio 21 Ambarukmo Plasa. “Biar telat” diawal tulisan status itu, maksudnya ingin menjelaskan kalau saya dan 2 teman saya Dian dan Rani termasuk yang telat menonton film ini. Yaa, setelah 2 mingguan film ini nampang di bioskop, kami baru kemarin ini memutuskan untuk menontonnya.

phmgvnquuhrdrn_t

Baru saja mendaratkan pantat di kursi nomor B-10 Studio 1, tiba-tiba sudah ada yang mengirimkan pesan kepada saya..

… terakhirnya agak mengecewakan… eh, keceplosan….”

Ih. Apaan sih ni orang. Kok bisa-bisanya dia memberitahukan ending film ini ke saya, walau secara tersamar. Sayapun hanya membalas singkat,

Oh.. baiklah. Sebelum sampai endingya, aku akan keluar lebih dulu saja….”

Selesai. Sayapun siap-siap melanjutkan menonton film itu. Belum ada 1 menit setelah pesan pertama itu datang, tiba-tiba datang pesan kedua, dari orang yang berbeda.Kali ini dari seorang teman saya yang berasal dari Padang tapi karena lama tinggal di Bandung, bahasanya jadi meni Sunda pisan..

Iyaa! Ntar Nicolas Cagenya mati, siah.. gak seru kannnn? Hahahahha…

WAKSS!! Tak sopan ‘kali ni orang. Sambil menahan geli tapi campur sebel, sayapun dengan sok cueknya membalas,

Aku optimis.. Kalo aku yang nonton, Nic Cage pasti bisa diselamatkan. Bismillah…

Hahaha.. Lebay. (more…)