…. nggak ada tawaran yang lebih normal-an dikit, ya??

Ini adalah reaksi yang saya terima ketika saya mengajak teman saya Nchy untuk melakukan movie marathon di Studio 21 Ambarukmo Plasa, hari Minggu kemarin. Saya pikir, menonton 2 atau lebih film secara berturut-turut dalam satu hari, bukanlah sebuah hal yang aneh, bukan? Selesai menonton di satu studio, langsung berlanjut menonton film yang lain di studio yang berbeda. Tak ada yang salah dengan itu. Normal-normal saja. Makanya saya bingung, ketika teman saya ini terlihat begitu shock-nya mendengar tawaran saya itu.

Oh, ternyata saya salah. Bukan masalah ‘movie marathon’nya itu yang dipermasalahkan dan dianggap tidak wajar oleh Nchy. Tapi lebih pada penjelasan saya berikutnya, perihal film-film apa saja yang akan di’marathon-kan. Saya dengan entengnynya menyebutkan 3 judul film Indonesia yang memang sedang main di Studio 21.

... semua film-film bagus di dunia ini emangnya udah lo tonton semua, apa???

Hahaha. I knew it. I kneewwwww ittttt…!! Nggak akan ada orang yang cukup waras yang mau menemani saya melakukan perbuatan ini. Ketika semua orang sibuk menulis status Facebook mereka dengan kalimat-kalimat yang memamerkan bahwa mereka sedang atau akan menonton film-film seperti Abdel & Temon eh, Angel & Demons, atau Watchmen atau The Curse of Benjamin Button, sepertinya saya sendiri yang dengan percaya diri menuliskan bahwa saya akan melakukakn movie marathon menonton film-film buatan negeri sendiri. Sepertinya kok pada anti ya membeli tiket untuk menonton film-film lokal. Ya sudah, dengan penuh keyakinan diri yang agak berlebih, saya pun melenggang memasuki Studio 21 untuk segera memulai petualangan saya menghabiskan hari Minggu seorang diri itu…

Studio 2. Jam 10:45

janda kembang

adalah film pertama yang saya tonton. Terus terang, saya menonton film ini bukan karena tertarik melihat penampilan Luna Maya yang berdangdut-ria. Saya datang untuk Sarah Sechan! Yeah!! Membaca sinopsis film yang mengisahkan bahwa Sarah berperan sebagai seorang penyanyi dangdut bernama Yuli Nada yang tersaingi oleh kedatangan Luna Maya yang menjadi penyanyi di orkes melayu pimpinan suaminya, sudah menjadi harga mati buat saya, untuk menonton film ini, apapun yang terjadi! Lebai, kan? Emang.

Dan terbukti, sepanjang film yang ceritanya amat sangat menjiplak terinspirasi film Malena-nya Monica Belucci ini, hanya Sarah-lah yang bisa menyelamatkan film ini dari efek sinetron yang membosankan sekali. Disaat sepanjang film Luna Maya tak mengucapkan sepatah kata-pun di film ini, Sarah Sechan justru sebaliknya. Ngoooomoonnnnggg…. terus. Hahaha. She’s good. Really good! Lupakan cerita standarnya, lupakan soundtrack suara dangdut-nya Luna, lupakan poster filmnya yang seperti iklan sabun (minus gambar si Ringgo Agus Rachman itu tentu saja). Datanglah untuk mbak Sarah! Maka anda akan sangat terhibur.

Studio 3. Jam 12:40

Selesai terkagum-kagum oleh akting Sarah Sechan, saya melanjutkan aksi marathon saya ke studio disebelahnya. Sempat ditanya-tanya oleh mbak-mbak penjaga tiketnya,

.. wah, lanjut mas??”

Hehehe. Sempat GR, karena saya kira si mbaknya ini begitu terpesonanya oleh saya, sehingga begitu kuatnya dia mengingat saya. Tapi sepertinya saya salah. Tentu saja si mbak ini ingat siapa saya, karena memang studio 21 itu sepi sekali dari pengunjung. Hahaha. Eniewei, film pilihan berikutnya yang sangat beruntung saya tonton adalah

Rasa

Ya, Rasa. Jujur, saya (agak ) tertarik untuk menonton film yang disutradarai oleh Charles Gozali ini karena melihat trailernya. Berkisah tentang seorang cewek yang tersiksa karena ‘dianugerahi’ kemampuan melihat apa yang akan terjadi. Semacam paranormal gitu, lah. Berbagai peristiwa yang akan terjadi itu, bisa dilihatnya melalui lukisan yang yang digambarnya. Seperti cerita serial Heroes, bukaan? Bukan!! Karena si cewek itu ahirnya terpaksa terlibat dalam drama penculikan anak dari seorang profesor asal Inggris, dimana nantinya kejadian itu ada hubungannya dengan perebutan sebuah Keris pusaka bernama Keris Candra Wulan! Ooohhh… Para penulis skenario Heroes pun pasti tidak akan sekreatif itu dalam memilih alur cerita!

Seperti beberapa teman saya yang juga sama pesimisnya dengan premis film ini, saya memasuki ruangan studio dengan tanpa harapan apa-apa. Tapi mungkin itulah kuncinya. Disaat saya tidak berharap apaun dari film ini (lah, kok ya ditonton ya?), justru yang terjadi malah sebaliknya. Film ini ternyata sangat enak dinikmati. Alurnya dan editingnya berjalan mulus. Akting para pemainnya pun terlihat wajar, sewajar saya memaklumi Christian Sugiono yang tampil dengan akting bak menghafal dialognya itu. Walau mengambil tema agak-agak supranatural, tapi film ini tidak terjebak menampilkan penampakan-penampakan hantu yang tidak penting, tapi cukup membuat saya tersentak kaget. Begitu juga dengan akting meyakinkan pemeran utamanya, Pevita Pearce yang sepintas mengingatkan saya dengan Cinta Laura, namun dalam versi lebih cerdas!

Yang agak mengganggu mungkin adalah masalah bahasa. Karena film ini menceritakan 2 budaya, sehingga melibatkan pemain asing pula, makanya diperlukan terjemahan selama dialog berlangsung. Ketika aktor dan aktris Bule yang berdialog, muncul-lah terjemahan bahasa Indonesianya di layar. Ketika aktor dan aktris Indonesia yang berdialog, maka muncul-lah terjemahannya dalam bahasa Inggris. Lah? Seperti sedang menonton acara Pelajaran Bahasa Inggris Untuk Anda saja. Cukup mengganggu sebenarnya. Saya jadi agak-agak dejavu dengan film-film lama yang dibintangi tante Cynthia Rothrock yang jago nendang, salto sambil terbang secara bersamaan jaman dulu itu (hebat sekali orang ini!).

Overall, saya cukup terhibur dengan film ini. Alur ceritanya yang sebenarnya sederhana, bisa ditampilkan denganĀ  lebih dari sekedar ’sederhana’. Penampilan para cameo yang hanya sekelebatan itu cukup membuat bibir tersenyum-senyum sendiri. Dan terlihat sekali, film ini tidak termasuk film-film asal buat-yang penting laku seperti yang selama ini kita lihat. Adegan laga-nya juga tidak kacangan dan terasa sekali digarap dengan serius. Tone film yang kebiru-biruan dan gelap juga menguatkan aksen film ini, yang seolah ingin menegaskan bahwa Rasa adalah film mencekam tapi romantis! Ohhhh.. Dasar kritikus film amatiran. Suka nggak pas deh ngasih penilaian. Hahaha.

Keluar dari Studio 3 dengan perasaan surprise (karena film yang saya tonton ternyata lebih bagus daripada yang saya perkirakan sebelumnya), saya keluar untuk mencari makan siang sebentar, memulihkan tenaga dan pikiran, karena perjalanan saya belum usai! Akhirnya, sebagai aksi penutup movie marathon hari itu, saya memilh sebuah film yang (sepertinya) sudah dinanti-nanti oleh para ABG (hohohoo..), karena lagu soundtracknya yang mampu membuai banyak orang itu..

bukan cinta biasa

Dan ternyata memang benar.. penonton film ini ternyata lebih banyak daripada 2 film yang saya lihat sebelumnya. Dan hampir semua penonton yang ada di studio 5 adalah para A-Be-Ge! Dengan langkah malu-malu mau, saya memasuki studio. Pasti para cewek-cewek ABG itu memandangi saya dengan hina..

… ih, ada Oom-Oom mau nonton Afgan…

Film dibuka dengan seorang anak cewek belasan tahun yang mengetuk pintu rumah seorang rocker setengah baya, dan langsung bilang kalau dia adalah anak dari si rocker itu. Ya ya.. dari adegan pembuka cupu ini saja, saya seperti sudah bisa menebak isi keseluruhan film ini. Pasti isinya seputar konflik antara bapak-anak yang berusaha menyesuaikan diri itu. Dan saya benar! Dan dari pertama saya sudah benar, film ini pasti malah akan berubah dari (pengennya) drama menjadi (pengennya) komedi. Duh, selama satu jam lebih, saya tersiksa sekali melihat akting bapak-anak yang sama sekali miskin chemistry ini. Susah sekali percaya bahwa mereka ini adalah anak dan bapak. Nggak tau kenapa, saya justru melihat keakraban mereka ini malah seperti anak ABG yang lagi sayang-sayangan dengan Om-Om! Duh..

Lebai. Sungguh lebai. Susah memperkirakan, mau kemana sebenarnya arah film ini. Serba tanggung. Terus terang, saya merasa ditipu mentah-mentah. Karena seperti yang saya tulis tadi, yang membuat saya penasaran dan akhirnya memutuskan untuk menonton film ini adalah lagu soundtracknya yang dinyanyikan oleh dik Afgan itu. Pertama kali mendengar lagu yang mengharu-biru itu, saya membayangkan filmnya pasti nggak akan jauh beda lah dengan lagu soundtracknya. Drama-dramaan gimanaaa, gitu. Cinta-cintaan yang tragis atau apalah. Hehehe. Makanya ketika lagu inipun akhirnya muncul di dalam salah satu adegan film bertema anak sok tau -bapak nggak jelas gini, jadinya nggak nyambung banget dan terkesan dipaksakan sekali. Uh! Untunglah, ada penampilan Julia Perez yang cukup menonjol, walau hanya muncul dalam 3 scene saja. Menonjol dalam arti sesungguhnya. Menonjol sekali…. :P

Jadi ya begitulah. Movie marathon saya diakhiri sebuah film yang sepertinya lebih cocok langsung dijadikan VCD saja itu. Tapi toh walaupun dikecewakan, saya tetap berbangga hati karena saya bisa kuat menaklukan tantangan diri saya sendiri untuk melakukan movie marathon film-film Indonesia! YEAHH!! Nggak ada yang berani melakukannya selain gue! YEAHH!!!! Nggak ada orang waras yang mau mengeluarkan duit 75 ribu perak hanya untuk melakukan hal ini!! YEAHHH!!!! Hahahaha…

MOVIE MARATHON9

So, siapa tau.. siapa tau lho ya, nantinya kalian ada yang sama clueless-nya seperti saya, dan ingin mencoba melakukan Movie Marathon film Indonesia (ingat! film Indonesia!) di bioskop, mungkin beberapa tips ini bisa membantu :

  1. Selektiflah dalam memilh film. Perhatikan siapa saja pemain-pemain filmnya. Jangan sampai tiba-tiba merasa disorientasi didalam bioskop karena melihat pemain yang itu-itu lagi. Contohnya saya. Melihat penampilan Wulan Guritno di film Rasa, kemudian muncul lagi di film Bukan Cinta Biasa. Begitu juga Joe Project Pop dan Ustad AA Jimmy yang bisa-bisanya nongol di film Janda Kembang kemudian berlanjut di film Bukan Cinta Biasa. Duh! Saya sempat bingung,“Perasaan gue udah ganti film deh…”
  2. Bawalah baju ganti. Lebih banyak lebih baik. Hal ini untuk menghindari tatapan heran para pegawai bioskop yang melihat muka kita lagi-muka kita lagi. Paling tidak, kalau setiap ganti studio, kita hadir dengan dengan penampilan yang berbeda juga, hal ini bisa menghilangkan tatapan heran mereka. Mungkin berganti dengan tatapan kagum. “…Niat bener yaaa ni orang…..”
  3. Yakinkan diri anda, bahwa Anda memang sedang kurang kerjaan! Hal ini akan membuat anda yakin untuk menyelesaikan movie marathon itu sampai dengan selesai. Karena kadang, ketika selesai menonton film kedua, bahkan saat baru selesai menonton fim pertama, Anda sudah merasakan dehidrasi yang luar biasa. Apalagi ingat, yang anda tonton ini adalah FILM INDONESIA! Dan ingat, selalu ada pilihan untuk melakukan movie marathon film Indonesia di rumah dengan cara menyewa di rental. Tapi orang yang melakukan ini, adalah orang-orang pecundang. Huahahahhaha…
  4. Lakukanlah sendiri. Tidak usah mengajak teman. Karena selera belum tentu sama. Bisa jadi, ditengah perjalanan, teman Anda menyerah, dan Anda harus menghabiskan sisa putaran marathon itu sendirian. Tidak asyik sekali. Jangan sampai pertemanan Anda rusak hanya karena masalah tidak penting seperti itu *nggak mungkin juga sih, Dek*. Mendingan dari pertama sendirian saja. Anggap dan nikmati saja seharian itu sebagai ‘ me time’ alias waktu Anda untuk memanjakan diri. Jadi, gila-gilaan lah saja sendiri. Jangan menyusahkan orang lain.Hehehe.
  5. Ingat, dalam hidup ini masih ada opsi lainnnya untuk menghabiskan waktu : tidur!

Jadi, selamat menonton!