… kapan lagi kau puji diriku, seperti saat engkau mengejarku/kapan lagi kau bilang I Love You/”I Love You” yang seperti dulu… Yang dari hatimu..

Lagi sering nyanyiin  reffrain lagunya Dewi Sandra ini nih. Reffrain lagu yang sebenarnya hanya  terdiri dari 4  baris, tapi diulang-ulang sampai 4 kali total dari keseluruhan durasi lagu aslinya. Diulang-ulang, karena sepertinya esensi *edann, ‘esensiii…’* lagu dan cerita yang ingin disampaikan si penulis lagunya memang disitu. Menceritakan penderitaan seorang perempuan yang sudah lama kehilangan kasih sayang pasangannya, yang kini berubah dan tidak pernah lagi memberikan pujian padanya. Gila pujian banget kayaknya si mbaknya  ini…

Tapi siapa yang enggak, sih?

Siapa sih yang tidak menikmati yang namanya dipuji? Semua orang kalau boleh memilih, pastinya lebih memilih untuk dipuji daripada dimaki, toh? Lebih memilih untuk disanjung daripada di kritisi, kan? Ibaratnya kalau suatu hari kita menerima sebuah surat di kantor, kita tentu lebih memilih menerima surat berisi ucapan terima kasih atau ucapan selamat daripada menerima surat teguran atau tagihan, kan? Nggak begitu nyambung ya analoginya? Hehehe. Tapi intinya sih, kita pasti akan lebih menyukai dan menerima apa yang bisa membuat hati kita senang, daripada menerima sesuatu yang membuat hati kita tidak nyaman.  Nenek-nenek juga tau kalo ini, mah…

Sebegitu pentingnya kah arti sebuah pujian?

I think it is. Saya sih bukannya jago menganalisis tentang sisi psikologis seseorang, tapi saya yakin semua orang juga pernah merasakan,betapa bahagianya perasaan kita ketika dipuji oleh orang lain. Seperti ada suntikan energi yang luar biasa besar,yang mungkin bahkan tidak kita prediksi sebelumnya akan kita dapatkan. Makanya saya kok agak kurang setuju adanya anggapan, kita tidak boleh melakukan sesuatu karena ingin mendapatkan pujian dari orang lain. Duh, hari gini… Kita juga butuh yang namanya pengakuan, toh? Yang salah adalah kalau kita melakukan sesuatu HANYA karena ingin mendapatkan pujian orang lain. Itu baru namanya orang gila pujian. Hehehe.

Pujian yang tulus itu membawa energi positif yang bagus. Karena dari pujian itulah yang membuat seseorang merasa dirinya (memang) pintar, cantik, ganteng, berharga. Intinya, merasa dimanusiakan oleh yang lain. Dan sebuah pujian tulus yang diterima seseorang, disadari atau tidak, pasti akan memberikan efek yang baik di diri mereka dalam jangka waktu yang panjang. Mungkin seumur hidup mereka.

Dalam salah satu interview dengan sebuah majalah, first lady Amerika Serikat, Michelle Obama pernah bilang, sampai saat ini dia memiliki kepercayaan diri, merasa bahwa dirinya cantik bukan karena dia secara fisik cantik. Tapi karena orang-orang di sekelilingnya yang sering membuatnya merasakan hal itu.

44990163

I had a father and a brother who thought I was beautiful, and they made me feel that way every single day.

I grew up with very strong male role model who thought I was smart and funny, so I heard that a lot.

I know that there are many young girls who don’t hear it. But I was fortunate. I was very fortunate.

Sedahsyat itu memang efek sebuah pujian. Ternyata…

Saya juga percaya, dalam sebuah hubungan, apapun itu, memberikan pujian adalah salah satu obat yang bisa makin merekatkan kedekatan. Karena kembali lagi ke sifat dasar kita ya, manusia itu suka sekali diberikan pujian. Membuat kita merasa ’special’.

Jadi pertanyaannya adalah : kapan terakhir kali kamu mendapatkan pujian atau ungkapan sayang kamu dari orang yang kamu sayangi? Kalau kamu bahkan sudah nggak ingat lagi kapan terakhir kali pujian itu kamu dapatkan, bisa jadi itu juga karena sudah sedemikian lamanya pula kamu tidak melakukan hal yang sama pada mereka.