Bagaimana perasaanmu ketika membaca judul sebuah artikel berbunyi seperti ini :

Ramadhan, “CINTA FITRI” Bebas Tamparan

Bohong besar kalau kalian pada nggak punya keinginan untuk membaca lebih jauh lagi isi dari artikel yang saya baca di www.kapanlagi.com ini! Hehehe. Biar nggak usah repot-repot nge-klik alamat situs ini, sini deh, biar saya tuliskan cuplikan beritanya.

Dalam CINTA FITRI SEASON 3, tokoh antagonis Faiz dan Miska digambarkan hampir setiap hari mendapat tamparan dari Oma. Namun, untuk season Ramadhan, adegan kekerasan fisik ditiadakan. Lalu, masihkah sinetron yang dibintangi Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar ini menarik?

Siapa Faiz? Siapa pula itu Miska? Who the hell is Oma? Saya nggak tau. Dan nggak mau cari tahu juga. Saya bukan seorang penikmat sinetron, tapi saya cukup tahu kalau diantara puluhan sinetron yang pernah tayang selama setahun-dua tahun belakangan ini, sinetron Cinta Fitri ini katanya termasuk yang paling sukses. Kabarnya mantan presiden BJ Habibie termasuk yang ngefans sekali dengan sinetron ini. Ya bisa dimaklumi, mungkin si bapak sudah terlalu ribet ya hidupnya mengurusi masalah tehnik, riset dan teknologi sehingga menonton Cinta Fitri adalah sebuah hiburan yang menyenangkan. Karena menontonnya tidak membutuhkan pemikiran.

cinta fitri

Sebegitu baguskah sinetron ini sehingga seorang mantan presiden pun mau mengundang para pemainnya ke kediamannya? Sebegitu suksesnyakah sinetron ini sehingga bisa dibikin sekuelnya hingga (hampir) ke 3 kalinya ini? Ih, dibilangin saya nggak pernah nonton. Ya jadinya saya ya nggak tau! Hehehe. Pernah sih beberapa kali teman provokator saya yang bernama Ndut memprovokasi saya untuk mencoba menonton sebentar sinetron ini (‘menonton’ ya.. bukan ‘mengikuti’). Dengan niatan, ya apalagi kalau tidak untuk mencelanya habis-habisan. Ketika saya menolak dengan alasan tidak mengetahui jalan ceritanya dari pertama, teman saya ini mencoba memberikan penghiburan,

Wis tho.. ga usah diikutin ceritanya. Standar dan nggak penting, kok. Kamu nggak nonton beberapa episode pun masih bakal bisa ngerti sampai mana ceritanya..

Setelah saya coba melihatnya dengan mata kepala sendiri, ya memang benar juga ternyata. Mau sedahsyat apapun kepopuleran Cinta Fitri, buat saya Cinta Fitri tetaplah sebuah sinetron. Dan sinetron tetaplah sebuah sinetron. Dimana kita akan selalu mendapati

  • Cerita cinta yang (dibuat maunya) memilukan.
  • Nama tokoh utamanya menjadi judul sinetronnya sendiri. Itulah makanya selalu dipilih nama-nama yang sedang terkenal untuk dijadikan pemain dan tokoh utamanya. Sehingga ketika sinetron itu berjudul “Alysa” atau “Air Mata Cinta”, orang bisa dengan mudah menebak kalau tokoh utamanya pasti dimainkan oleh Alysa Subandono dan Cinta Laura (dikira penonton kita udah pada segitu begonya apa, ya?). O iya, jangan lewatkan ya.. yang akan muncul sebentar lagi adalah sinetron berjudul “Manohara”. Semoga para pemirsa cukup ngeh, kalau pemeran utama sinetron inin adalah si Manohara Odelia itu, dan bukannya Nunung Srimulat!
  • Karakter pemeran antagonisnya bisa jahat sekali. Sejahat-jahatnya orang hidup yang ada di dunia ini. Ibu tirinya Cinderella, lewat. Begitu juga ibu tirinya Arie Hanggara apalagi Faradila Shandy!
  • Karakter tokoh protagonisnya bisa baik hati sekali. Bahkan saking baiknya sampai-sampai terlalu baik hingga jatuhnya malah  jadi terlihat tolol!
  • Betapa setiap tokoh utamanya akan dipertemukan secara tidak sengaja lewat sebuah aksi tertabrak atau ditabrak terlebih dahulu, yang kemudian diikuti dengan adegan slow motion keduanya saling berhadapan dan berpandangan mata, tapi pura-pura sok cuek dan sok nggak butuh. Apa Tuhan sudah sedemikian tidak kreatifnya ya, sampai-sampai mau mempertemukan dua orang manusia saja sampai harus ditabrak-tabrakin dulu?
  • Para pemerannya seperti kesulitan jika harus berakting berbicara dalam hati. Ketika dia akan melakukan sesuatu, maka dia akan selalu terlihat sibuk berbicara sendiri, daripada berbicara dalam hati. Semacam, “Oh.. aku harus menelpon Fitri! Dia dalam bahaya…”. Setelah ngomong sendiri itu, baru kemudian dia memencet-mencet tuts telepon. Halooo….. mbak, nggak bisa dibatin aja ya ngomongnya?
  • Scene (yang maunya) mengerikan dan menegangkan, dengan diperlihatkannya ekspresi melotot si jahat secara berlebihan. Berlebihan melototnya dan berlebihan si kameramen  meng-close up-nya! Tidak ketinggalan, bunyi-bunyian musik atau sound efek drum dan petir yang menyambar-nyambar untuk menguatkan aksen tegang. Oohh…
  • Ini yang seru, aksi tampar menampar yang sangat ciamik. Kalau perlu, setiap episode minimal ada 3 kali adegan tampar, walau tidak jelas apa alasannya. Pokoknya tampar aja dulu! Bukan sinetron kalau tidak ada adegan tampar nya..

Nah, makanya…

Apa jadinya kalau sinetron Cinta Fitri yang notabene (pasti!) juga  memiliki unsur-unsur diatas itu tadi, harus kehilangan adegan tampar-menamparnya? Lha wong si wartawannya Kapanlagi.com itu tadi aja sampai khawatir, dan mengajukan pertanyaan : Lalu, masihkah sinetron yang dibintangi Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar ini menarik? Itu kan sama saja si wartawan ini  bilang kalau aksi tampar-menampar inilah yang membuat sinetron ini menarik, kan?

Kata sutradaranya, adegan kekerasan fisik memang dihilangkan dari sinetron ini, karena nantinya sinetron ini akan tayang di bulan Ramadhan (catet ya, “kekerasan fisik” yang ditiadakan. “Kekerasan psikis” pasti tetep ada dong, pak sutradara??). Mungkin demi menghormati bulan puasa kali, ya. Padahal senbenarnya nggak harus gitu juga, menurut saya. Bisa saja aksi tampar-menampar itu tetap dipertahankan (karena itu yang ditunggu-tunggu penonton, bukan??). Tapi karena ditayangkan di bulan Ramadhan, jadi sebaiknya ketika salah seorang tokoh akan menampar tokoh lainnya, jangan lupa sebutkanlah dulu,

“Masya Allah… Kamu, iniii!!!”

lalu,

PLAKKKK!!!

Tetap bernuansa religi kan? :D

Hhhhhhhhhh…..

Jadi ya mas-mas, mbak-mbak, ibu-ibu sekalian, selamat menantikan Cinta Fitri Season Ramadhan besok ya. Saya sih sudah pasti tidak akan mencoba menontonnya. Bukannya apa-apa. Malu aja, udah mencaci-maki kaya gini, kok ternyata ngikutin juga. Dan alasan kedua adalah takut ketagihan dan jadinya malah ngikutin sampai selesai. Hehehe. Takut kecewa juga, kalau-kalau endingnya nanti mengambang. Karena seperti yang ditulis di artikel yang sama juga, ketika ditanya tentang berapa episode yang akan dikerjakan untuk season Ramadhan ini, si sutradar mengaku belum tahu. Pasalnya naskah yang diterima juga belum sepenuhnya selesai…

DHOEEENGGGGGG……