Katanya, dalam diri setiap manusia itu ada 2 sisi yang saling berlawanan. Baik dan buruk. Angels and Demon. Putih dan Hitam. Walaupun dalam kehidupan sebenarnya, kadang ada sebuah area yang terletak diantara baik dan buruk itu, yang menyebabkannya menjadi tidak jelas, apakah itu berwarna putih (baik) atau hitam (buruk). Hanya warna abu-abu yang terlihat. Seperti lagunya Teach Me How To Dream-nya Robin McAuley, saya sebenarnya juga percaya that I only see things black and white, never shades of grey. Kalaupun ada warna abu-abu, berarti saat itu warna hitam dan putih sedang berpadu. Dan bisa jadi, saat itu sebuah kebaikan sedang berbadu dengan sebuah keburukan. Benarkah itu bisa terjadi?
Dua hari lalu, saya dikunjungi oleh seorang perempuan tua di kantor. Edan, agak horor ya kesannya. Hehe. Perempuan berusia 63 tahun itu bernama Ibu Viendri. Beliau ini adalah salah satu pendengar setia radio tempat saya bekerja sekarang. Setiap kali saya siaran, Ibu ini selalu menyempatkan diri untuk menelepon, sekedar ingin mendengarkan lagu favoritnya atau sekedar berkirim-kirim salam kepada teman-temannya. Bahkan tidak hanya di program yang saya bawakan saja. Tapi hampir semua program, nama Ibu ini cukup sering eksis berkumandang.
Hingga akhirnya, kemarin itu beliau mengunjungi saya di studio, dengan membawakan masakan yang dibuatnya sendiri. Gila, ya? Dibela-belain dari rumah. Padahal untuk berjalan saja, si Ibu ini sebenarnya sudah agak kesulitan karena kaki kirinya sedikit terganggu akibat penyakit asam urat. Tapi dengan niatnya, dia bisa sampai ke studio sendirian, dengan diantar oleh taksi yang dimintanya untuk menunggu di depan kantor, sampai selesai kunjungannya. Mengharukan sekali. Dengan diiringi pandangan keheranan teman-teman sekantor lainnya yang memang termasuk jarang menyaksikan kantor kedatangan tamu berumur diatas 60-an *hehehe*, saya menemani Ibu ini mengobrol ngalor-ngidul di sofa ruang depan.
Ketika akhirnya pertemuan kami harus selesai karena saya harus siaran, saya kemudian pamit kepada beliau. Dan si Ibu ditinggal sendirian di bawah? Tentu saja tidak. Gantian Sita, penyiar sebelum saya yang menemani beliau, karena si Ibu ini nampaknya betah betul berada di kantor kami. Sebelum naik, saya terlebih dulu menyempatkan diri untuk keluar menuju kantor, mendekati taksi berwarna biru yang sedang menunggu si Ibu diluar. Dengan cepat, saya mengeluarkan uang 50 ribu rupiah dari dalam dompet dan memberikannya kepada si supir, sambil berkata
Pak.. ini buat bayar ongkos taksi Ibu ini pulang ya. Nanti kalau Ibu itu mau bayar, biar bayar kurangnya aja…
yang langsung dibalas dengan anggukan si bapak supir itu.
Baik banget ya, saya? Bentar… jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan dulu. Hehehe.
Jujur, seperti yang saya bilang dan tulis diatas barusan, saya terharu sekali mendapat kunjungan Ibu ini. Dengan kondisi yang tidak terlalu sehat, masih sempat-sempatnya beliau datang ke kantor hanya untuk bertemu dengan saya dan penyiar-penyiar lainnya, masih dibawakam makanan yang dibuatnya sendiri pula. Makanya, timbul niat saya untuk mengucapkan rasa terima kasih itu dengan cara ‘mengganti’ biaya taksi yang akan dikeluarkannya, tanpa sepengetahuannya. Tidak banyak, tapi paling tidak bisa ‘meringankan’ bebannya, lah. That’s why, akhirnya saya memberikan uang itu kepada si bapak supir taksi itu. Karena kalau mau memberikan uangnya kepada si Ibu, duuuh.. agak-agak wagu, ya… hehehe…
Tapi dibalik niat yang menurut saya cukup mulia itu *uedannn*, tersimpan juga sebuah keinginan terselubung, yang sebenarnya malah tidak bisa dikategorikan dalam perbuatan yang mulia sama sekali. Ketika niat ‘membantu’ itu muncul, pada saat yang bersamaan muncul pula niat saya yang lain. Saya membayangkan, sesampainya beliau di rumah, dia pasti akan terkejut ketika si supir itu bilang,
.. Bu, nggak usah bayar penuh… Tadi mas-mas yang ganteng di kantor itu sudah ngebayarin…
dan Ibu itu pasti akan terharu, kemudian akan semakin mengagumi saya! Luar biasa anak muda itu. Sudah ganteng, suaranya bagus, ramah, baik lagi! SEMPURNA! Huahahahhaa.. Busuk sekali ya niat saya itu? Sampai akhirnya si Ibu pulang, dan menelpon saya dari rumahnya.
Nak Deka.. Ibu sudah sampai di rumah… jangan lupa diicipi ya masakan Ibu…
Selesai.
Lah? Kok? Nggak ada ucapan terima kasih sudah dibayarin ongkos taksinya? Nggak ada pujian dan sanjungan buat saya? Nggak ada sama sekali????? Kebangetan banget sih si Ibu ini? Huhh.. Dengan agak sedikit bete walau dengan nada ucapan yang diusahakan seolah tidak terjadi apa-apa, saya mengucapkan terima kasih atas kunjungan beliau. Sambil kemudian turun kebawah untuk mengambil minum. Entah mengapa saya tiba-tiba merasakan haus saking bete-nya. Hehehe.
Dalam perjalan kebawah, tanpa sengaja saya mendengarkan percakapan antara Indah yang menjaga meja front office dengan Sita, penyiar yang menemani ibu Vien setelah saya pamit untuk siaran tadi. Kepada Sita, Ibu ini bercerita bahwa ketika dalam perjalanan dari rumahnya menuju ke studio kami, dia merasa ‘diputar-putari‘ oleh supir taksi yang dipanggilnya itu. Maksudnya, taksi sengaja mencari jarak yang lebih jauh dari jarak yang semestinya, supaya argometernya menjadi lebih banyak. Kasus seperti ini memang sudah sering terjadi, bukan?
Mendengar cerita ini, secara sepihak saya langsung menyimpulkan bahwa uang 50 ribu yang saya berikan untuk meringankan ongkos taksi si Ibu tadi, pasti diembat sendiri olehnya!
UGH! Pantas saja si Ibu tidak bilang terima kasih!
Setelah itu, seharian saya sibuk mengumpat, mencaci-maki si sopir taksi itu. Kok bisa ya dia berbuat jahat seperti itu? Kepada seorang perempuan berusia senja. Dia pasti melihat sasarn empuk yang tidak berdaya untuk dikerjain. Keterlaluan! Tapi beberapa saat kemudian, saya tiba-tiba juga tersadarkan, kok bisa-bisanya saya mencaci-maki perbuatan tidak terpuji si supir itu, ya? Sementara apa yang saya lakukan sebelumnya juga bukanlah sebuah perbuatan yang jauh lebih baik??? Gila ya loe, Dek! Berbuat sesuatu karena ingin dipuji setinggi langit?? What the hell was that?????
Sumpah, saya juga heran kok ya bisa-bisanya saya se-shallow itu. Dan akhirnya saya malah jadi malu sendiri. Tuhan sepertinya tanpa permisi langsung menampar saya saat itu juga, memperlihatkan kepada saya bahwa apa yang saya lakukan itu sangatlah memalukan. Dan dengan caranya itu juga, mungkin saya sudah sepantasnya malah berterima kasih kepada supir taksi itu, atas apa yang (mungkin) dilakukannya. Karena dengan perbuatannya itu, saya bisa terhindar dari kebodohan-kebodohan selanjutnya yang mungkin saya lakukan.
Bayangkan, seandainya ternyata uang saya itu digunakan sebagaimana mestinya untuk membantu si Ibu membayar ongkos taksi, kemudian si Ibu merasa terharu dan kemudian menelepon saya untuk mengucapkan terima kasih dan memuji saya setinggi langit seperti yang saya idam-idamkan dari awal itu *owhhh…*, bisa dibayangkan bagaimana saya bisa menjadi besar kepala setinggi langit, dan menjadi sombong karenanya. Bisa saja, kan? Tapi untung saja itu belum tidak sempat terjadi. Gila, ya? Tuhan memang bisa mengingatkan hambanya dengan berbagai cara.
Mungkin ini yang selama ini dimaksudkan oleh pepatah, “Ketika kita memberi dengan tangan kanan, jangan sampai tangan kiri mengetahuinya”. Berbuat baik itu memang tidak memerlukan sebuah alasan. Kalau mau berbuat baik, berbuatlah. Tidak usah disertai dengan embel-embel macam-macam. Apalagi berbuat baik karena menginginkan sesuatu dibaliknya. Walau jujur, dari dalam hati yang paling dalam saya masih saja mencoba membela diri,
Lho.. niat awal gue beneran ingin membantu, kok…
Tapi tetap saja, pembelaan diri itu terdengar bodoh sekali. Malaikat pasti tidak akan keliru dalam membedakan kok, mana niat yang baik, mana niat yang buruk, dan mana yang niat baik dan buruk sekaligus
August 6, 2009 at 5:24 am
ahaha,,intinya, jangan itung-itungan lah ya.. toh juga Tuhan ga pernah tidur..
August 7, 2009 at 2:08 am
‘Tul!
Berbuat baiklah, atau tidak sama sekali. Enggak juga, ya?
August 6, 2009 at 7:44 am
Waduh
Hey mas. somehow aku tuh kagum banget sama dirimu. I mean, dirimu gak malu mengakui kesalahan yang kamu lakukan. Kamu bisa membungkus cerita ini dengan manis dan tidak menggurui orang lain, melainkan mengisahkan cerita nyata yang dirimu alami sendiri, dengan nuansa yang bikin orang lain merasa nyaman dan ikut tersadar dengan apa yang kamu lakukan.
Aku kagum mas
Selalu…:)
Nahhhhhhhhh..aku udah muji-muji dirimu setinggi langit tuh, minta ongkos taksi buat pulang don!!!
August 7, 2009 at 2:10 am
Lho.. ini kasusnya sama, berarti. Berbuat baik (dengan cara memuji) tapi karena mempunya niat lain (meminta ongkos)!
Bukannya situ hobinya nebeng, ya? Kok minta ongkos taksi? Pasti mau buat beli pinsil alis….wakakakakaka…
August 7, 2009 at 2:57 am
Pensil Alis?? Hwahaha….!!!
August 7, 2009 at 3:02 am
Pensil alis?!?! SALAHHHHHHHHH!!!..Eyeliner sama mascara yang bener tuhhhh! *berlalu*
August 7, 2009 at 2:56 am
Untung segera disadarkan oleh Yang Maha Kuasa ya, Mas… Kalau gak, kamu mungkin saat ini sudah melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya
August 7, 2009 at 6:42 am
Good one…
sampai tidak bisa berkata-kata…
lagi ‘bercermin’ dulu, selama ini gw berbuat baik untuk minta imbalan gak yah ?
August 7, 2009 at 12:06 pm
Klo saya memuji kamu narsis mania, tu termasuk berbuat baik g’ mas?
August 7, 2009 at 2:43 pm
narsis? Kamu panggil saya? *kekekekekeke*
August 8, 2009 at 5:12 am
@yessy:iya, saya manggil situ. Mau minjem duit neh? *wkwkwkwkwk*-
August 9, 2009 at 12:57 am
yang jahat itu sopir taksinya kan dika?
August 10, 2009 at 2:02 am
Iya. Kalo saya kan jahatnya masih terselubung. Hwhahahaha…
August 15, 2009 at 4:14 am
hihihi.. jahat terselubung.. >:)
*btw, mampir doms ke tempatku
August 9, 2009 at 2:41 pm
nulis inipun perlu dipertanyakan niatnya lho, karena saya jd mengagumimu, sudah (mungkin) ganteng, baik, trus sadar kalo salah pula, jarang2 kan orang menyadari kesalahannya……….
August 10, 2009 at 2:04 am
Mm.. kalau masalah apa niat saya menuliskan cerita ini, biarlah saya yang tahu sendiri saja hehehe…
August 10, 2009 at 9:09 am
Mas, mas, kok aku merasakan hawa yang berbeda dari tulisan2 dikau terdahulu ya.. Mmmm terakhir aku baca ituuu akhir2 2008 (Okt-Nov). Kenapa ya? Apa perasaan aku aja ya? Seperti bukan membaca tulisan seorang Deka. Kenapa ya.. (lagi)
August 10, 2009 at 10:19 am
Nah loo…
Beda gimana? Aku masih seperti yang dulu.. Menunggumu sampai akhir hidupkuu..
August 14, 2009 at 3:50 am
wakakakaka…
makanya gak usah punya maksud lain
dermawan di sisi lain tapi jatuhnya jadi riya kan?
but i believe you’re a nice guy mas
keep it that way ya…hehehehe
August 18, 2009 at 8:29 am
Oh..
I Know…
Hahahhahaa….
September 1, 2009 at 8:52 pm
what a GREAT STORY..
tulisan2 mas deka emang keren smua..gag heran deh aku selalu pingin buka blog’mu ini tiap kali aku log in ke internet ^_^