Selama 2 tahun eksis menulis di blog Sanggar Cerita ini (eksis dalam arti setiap bulan paling tidak ada yang di update, ya hehehe), jujur saya tidak pernah menyangka kalau blog saya ini akan dibaca oleh sekian ratus orang setiap harinya. Itu kalau dilihat dari grafik stats di dashboard blog. Belum mencapai ribuan seperti para selebriti blog lainnya, memang. Tapi terus terang, melihat angka ratusan itu saja sudah membuat saya amazed dan langsung membayangkan kira-kira siapa saja ratusan orang yang membaca blog saya setiap harinya itu. Hehehe.
Saya termasuk yang jarang blogwalking. Hampir tidak pernah, malah. Dan ini mungkin salah satu kelemahan saya sebagai seseorang yang mengaku dirinya sebagai blogger. Dan saya juga hampir tidak pernah mempromosikan blog saya ini kemana-mana (kecuali beberapa kali saya promosikan di status Yahoo Messenger! Itupun bisa dihitung dengan jari). Saya cukup beruntung memiliki teman-teman blogger yang baik sekali, yang dengan sukarela mencantumkan nama blog saya di beberapa tulisan mereka (makasih yaa.. you know who you are
). Saya agak enggan jumpalitan promosi sana-sini karena sampai sekarang pun saya masih sering merasa,
..ya elah, apaan sih pake di pamer-pamerin segala? Lha wong blog isinya cuman curhat dan ngomentarin orang tidak jelas beginian doang….
That’s the truth.
Karena ketika pertama kali memulai menulis blog, saya sama sekali tidak pernah membayangkan efek apa yang akan saya hadapi di kemudian hari ketika blog saya ini bisa dibaca oleh orang banyak. Sounds stupid, karena sekali kita publish sesuatu di dunia maya, maka kita berarti sudah dengan sadar memajangnya ke seluruh dunia. But I never realized that, sampai beberapa bulan belakangan ini. Ketika keberanian saya menulis (dan mengomentari sesuatu) semakin besar, ternyata tidak belum dibarengi dengan keberanian dan kebesaran hati saya dalam menerima berbagai macam kritikan dan komentar yang masuk mengenai apa yang saya tulis.
Komentar.

Lucu, ya? Saya suka berkomentar, tapi saya tidak suka dikomentari. Dikomentari yang tidak enak, tentu saja.
Beberapa hari yang lalu, ada sebuah komentar dari -entah siapa saya bahkan sudah tidak ingat lagi. Dia mengomentari saya tentang tulisan saya di post “Hidup Malaysia!”. Salah satu tulisan saya yang saya sadar pasti akan banyak yang tidak menyukainya. Komentar itu demikian kasarnya, sehingga saya sendiri bahkan tidak menyangka ada orang yang bisa mengeluarkan kata-kata hinaan sekasar itu. Tidak hanya mempertanyakan rasa nasionalisme saya, tapi si pengirim komentar itu bahkan membawa-bawa dan menjelek-jelekkan ibu saya. Entah apa hubungannya. Tidak perlu lah saya tuliskan disini detail komentarnya. Karena isinya memang sangat tidak sopan dan kalau saya approve dan tampilkan disini, nantinya saya malah merasa kasihan kepada yang bersangkutan. Kasihan, karena saya yakin, kalian yang setia membaca blog ini pasti akan membela saya dan balik mencemooh dia . Saya yakin itu
(more…)
