September 2009


Selama 2 tahun eksis menulis di blog Sanggar Cerita ini (eksis dalam arti setiap bulan paling tidak ada yang di update, ya hehehe), jujur saya tidak pernah menyangka kalau blog saya ini akan dibaca oleh sekian ratus orang setiap harinya. Itu kalau dilihat dari grafik stats di dashboard blog. Belum mencapai ribuan seperti para selebriti blog lainnya, memang. Tapi terus terang, melihat angka ratusan itu saja sudah membuat saya amazed dan langsung membayangkan kira-kira siapa saja ratusan orang yang membaca blog saya setiap harinya itu. Hehehe.

Saya termasuk yang jarang blogwalking. Hampir tidak pernah, malah. Dan ini mungkin salah satu kelemahan saya sebagai seseorang yang mengaku dirinya sebagai blogger. Dan saya juga hampir tidak pernah mempromosikan blog saya ini kemana-mana (kecuali beberapa kali saya promosikan di status Yahoo Messenger! Itupun bisa dihitung dengan jari). Saya cukup beruntung memiliki teman-teman blogger yang baik sekali, yang dengan sukarela mencantumkan nama blog saya di beberapa tulisan mereka (makasih yaa.. you know who you are :) ). Saya agak enggan jumpalitan promosi sana-sini karena sampai sekarang pun saya masih sering merasa,

..ya elah, apaan sih pake di pamer-pamerin segala? Lha wong blog isinya cuman curhat dan ngomentarin orang tidak jelas beginian doang….

That’s the truth.

Karena ketika pertama kali memulai menulis blog, saya sama sekali tidak pernah membayangkan efek apa yang akan saya hadapi di kemudian hari ketika blog saya ini bisa dibaca oleh orang banyak. Sounds stupid, karena sekali kita publish sesuatu di dunia maya, maka kita berarti sudah dengan sadar memajangnya ke seluruh dunia. But I never realized that, sampai beberapa bulan belakangan ini. Ketika keberanian saya menulis (dan mengomentari sesuatu) semakin besar, ternyata tidak belum dibarengi dengan keberanian dan kebesaran hati saya dalam menerima berbagai macam kritikan dan komentar yang masuk mengenai apa yang saya tulis.

Komentar.

238447-12-shout

Lucu, ya? Saya suka berkomentar, tapi saya tidak suka dikomentari. Dikomentari yang tidak enak, tentu saja.

Beberapa hari yang lalu, ada sebuah komentar dari -entah siapa saya bahkan sudah tidak ingat lagi. Dia mengomentari saya tentang tulisan saya di post “Hidup Malaysia!”. Salah satu tulisan saya yang saya sadar pasti akan banyak yang tidak menyukainya. Komentar itu demikian kasarnya, sehingga saya sendiri bahkan tidak menyangka ada orang yang bisa mengeluarkan kata-kata hinaan sekasar itu. Tidak hanya mempertanyakan rasa nasionalisme saya, tapi si pengirim komentar itu bahkan membawa-bawa dan menjelek-jelekkan ibu saya. Entah apa hubungannya. Tidak perlu lah saya tuliskan disini detail komentarnya. Karena isinya memang sangat tidak sopan dan kalau saya approve dan tampilkan disini, nantinya saya malah merasa kasihan kepada yang bersangkutan. Kasihan, karena saya yakin, kalian yang setia membaca blog ini pasti akan membela saya dan balik mencemooh dia . Saya yakin itu :) (more…)

Dalam sebuah perjalanan pulang  mudik di hari Sabtu tanggal 19 yang lalu, saya dan teman saya sekampung dan seperjuangan (ck..ck..ck..) Ndut sempat terlibat sebuah percakapan yang, seperti biasa, tidak pernah penting tapi seringnya membuat kami terlibat dalam gelak tawa yang amat serius. Sore itu, topik yang mbleber kemana-mana itu tiba-tiba saja mampir ke sebuah tema ringan seputar masalah kirim-mengirim ucapan Selamat Idul Fitri.

Bukan tentang agak malasnya kita membaca deretan kalimat-kalimat puitis nan panjang yang pada intinya tetap saja bermuara di 2 kalimat terakhir : SELAMAT IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR BATIN. Bukan pula tentang kebiasaan banyak orang yang saking malasnya membuat ucapan sendiri, sehingga lebih memilih untuk langsung mem-forward SMS yang dia terima begitu saja, tanpa meng-editnya terlebih dahulu. Sehingga yang terjadi adalah, nama si pengirim asli tidak sempat terhapus. Jadinya, yang mengirimkan SMS ke saya adalah si Dimas Firdaus, tapi di SMS nya tertera nama “Yayuk Suseno & keluarga”, misalnya :D

“…dan Keluarga”… Ya, ini juga yang malah menjadi bahan pembicaraan kami. Bahan pembicaraan Ndut, tepatnya. Saya hanya menimpali sekenanya. Jadi,

Kenapa sih orang-orang selalu mengirimkan SMS ucapan itu dengan membawa-bawa nama  keluarga. Gue kan gak kenal dengan keluarganya. Dan kalau mau minta maaf, ya dia miinta maaf sendiri aja dong, gak usah bawa-bawa nama keluarga. Yang kalau ada salah, ya dia yang salah toh? Bukan keluarganya kan yang salah? Masa keluarganya ikut-ikutan disuruh minta maaf…

Saya hanya tertawa dan kemudian mingkem terdiam. Dan kemudian berpikir keras*edan ya, kesannya sibuk banget*.

Saya tahu, topik ini tidak terlalu penting untuk dibahas. Karena ya memang itu sudah menjadi hak asasi-nya yang mengirimkan SMS tho? Terserah dia mau meminta maaf sambil membawa nama keluarganya, nama hewan peliharannya, nama perusahaannya atau mungkin nama kompleks perumahannya. Bebas. Nggak ada yang melarang. Walau agak aneh ya ketika kita menerima SMS greeting lebaran, isinya kok :

“Dian Purnomo & Seluruh Warga Perumahan Griya Asri Menari

mengucapkan ‘Selamat Idul Fitri 1430 Hijriah. Mohon Maaf Lahir dan Batin”

Hahahaha.  (more…)

Semua orang pernah berbuat salah. Dan betapapun menyebalkan dan susah untuk dilakukan, tapi meminta maaf adalah sebuah hal yang mulia untuk dilakukan. Apalagi katanya di bulan puasa seperti sekarang ini, katanya pintu maaf itu sedang dibuka lebar-lebar sama yang Diatas.

Mengucapkan kata “Maaf” sebenarnya sih bukan hal yang paling susah dilakukan di dunia ini. Gampang kok. Tinggal buka mulut, bilang “.. Maaf….”, terus mulutnya ditutup lagi, selesai. Gampang toh? Yang justru paling susah sebenarnya adalam bagaimana menunjukkan rasa penyesalan yang tulus atas kesalahan yang kita lakukan. Menyesal dan berjanji tidak mengulanginya lagi.

Saya mau membagikan sebuah pengalaman yang membuat saya agak-agak merinding setiap kali mengingatnya.

Beberapa minggu yang lalu saya pergi sebuah tempat di Magelang. Bukan, bukannya pergi untuk pulang kampung. Tapi saya pergi dalam rangka mengunjungi sebuah rumah di daerah Terminal Soekarno-Hatta Magelang, menemui salah satu legenda musik Indonesia yang masih hidup, Nomo Koeswoyo. Salah satu personel grup legendaris Koes Plus yang tersisa, yang ternyata tinggalnya satu kota dengan saya, dan saya baru tahu kemarin itu!

Saya pergi kesana dalam rangka sowan atau dalam bahasa Indonesianya ya (kurang lebihnya) berkunjung untuk beramah-tamah, sekalian untuk memperkenalkan diri kepada beliau tentang radio tempat saya bekerja sekarang. Karena salah satu program baru yang saya create di radio ini adalah program pemutaran lagu-lagu dari keluarga Koeswowoyo, mulai dari Koes Bersaudara, No Koes, Koes Plus hingga Chicha Koeswoyo dan Helen Koeswoyo. Jadi ya intinya adalah semacam minta ijin, mohon doa restu, kulonuwun atau apapun lah itu namanya. Sebenarnya tidak ada yang mengharuskan saya melakukan hal itu. Tapi tidak ada salahnya, bukan?

Segitu mendalamnya kah saya memahami dan mencintai lagu-lagu maha jadul milik mereka ini? Sama sekali enggak! Sumpah, saya sama sekali buta dengan lagu-lagu mereka, sama halnya saya teramat asing dengan lagu-lagu jadul lainnya yang jumlahnya ribuan itu. Umur segini, harusnya saya masih sibuk update lagu-lagu dari Jason Mraz, Jordin Sparks atau bahkan Lady Ga Ga (kaya nama Sarden ya!). Tapi karena tuntutan pekerjaan yang  membuat saya harus mengupdate lagi pengetahuan saya tentang lagu-lagu lama (maklumlah, segmen radio saya sekarang ini adalah keluarga) makanya saya pun harus sesegera mungkin mencoba mengenal lagu-lagu dari Ade Manuhutu, Alfian, Anna Mathovani, Tetty Kadi, Lilis Suryani, The Mercy’s, Grace Simon, Ida Royani , Eddy Silitonga hingga ya Koes Plus itu tadi.

Serasa tua sebelum waktunya, memang….. :) (more…)

Selama ini saya mengira “JAGALAH KEBERSIHAN” adalah kalimat perintah atau himbauan yang paling sahih dipakai di tempat-tempat umum yang butuh perawatan ekstra seperti toilet umum, misalnya. Ternyata saya salah, teman-teman. Ini buktinya.

Foto007

Kalau agak kurang jelas tulisannya, mari saya tuliskan lagi disini. Jadi, tulisan peringatan yang tertera di sebuah kertas yang terpasang di dinding sebuah toilet di Terminal Jombor Jogjakarta itu adalah sebagai berikut :

JAGALAH KEBERSIHAN DEMI KENYAMANAN ANDA.

Standar, ya? Tidak demikian dengan tulisan yang dibawahnya :

MANDI DIMOHON GOSOK LANTAI DAN DINDING.

MANDI AJA PENGEN BERSIH, MASAK DINDING DAN LANTAI KOTOR DIEM SAJA

Dhooeenggggg…….

Luar biasa, ya?

Tega sekali si empunya toilet ini. Sudah ‘pengunjungnya’ disuruh membayar, masih disuruh menggosok lantai dan membersihkan dinding tempat ia mandi pula! Repot sekali rasanya. Saya nggak tahu, apakah dengan adanya peringatan itu, toilet itu menjadi berkurang peminatnya atau tidak…. :)