Ada ungkapan bijak yang bilang : “Menjadi orang penting itu memang baik. Tetapi menjadi orang baik itu jauh lebih penting”. Sebuah nasihat yang gampang untuk diucapkan, tapi susah untuk diwujudkan. Apalagi kalau menjadi orang penting yang baik. Wedeeewwwww… tambah makin susah. Percaya deh. Menurut saya, menjadi orang penting itu bukannya sesuatu yang baik, tapi : sesuatu yang enak. Lha bagaimana tidak enak? Kemana-mana bisa dapat fasilitas yang nomor satu. Bisa dapat perlakuan dan servis yang berbeda dibandingkan dengan orang-orang ‘biasa’ or ‘less important‘. Sehingga kadang-kadang, gara-gara “peng-istimewaan” perlakuan itu jugalah, mereka juga bisa mendapat kebebasan untuk berlaku seenak udel-nya sendiri.

Beberapa waktu lalu saya dan teman saya Gat pergi menonton konser megah berjudul “World Peace Orchestra with Dwiki Dharmawan” di Graha Sabha Pramana UGM Jogjakarta. Konser ini memang berbeda dengan konser-konser musik lain yang sering di adakan oleh atau di UGM, karena konser kali ini diadakan untuk memperingati ulang tahun UGM yang ke 60, sekaligus juga dalam rangka mempromosikan Pulau Komodo kepada masyarakat luas, supaya mereka ikut memilih Pulau ini menjadi the next 7 wonders alias 7 keajaiban dunia berikutnya. Sehingga dipilihlah konser musik lintas generasi-budaya dan negara ini.

Tapi sayang, kemegahan dan kesyahduan konser yang juga menampilkan Kris Dayanti itu (ketahuan kan, saya datang untuk siapa?) sangat-sangat terganggu oleh sikap orang-orang atau tamu undangan yang datang dengan label VVIP alias Very Very Important Person. Orang-orang yang masuk dalam kategori ini adalah para tamu undangan dari pihak pejabat pemerintahan, wakil-wakil dari para sponsor dan entah siapa lagi yang menurut pihak panitia adalah orang yang sangat penting bagi mereka. Jadi ya wajar kalau posisi dan letak tempat duduk mereka berada tepat di depan panggung, sehingga mereka bisa face to face dengan para artis yang tampil didepan mereka.

k0633497

Setelah barisan VVIP itulah, baru kemudian ruangan dibagi-bagi menjadi beberapa kelas, yaitu VIP, Festival dan Tribun. Yang cukup menggelikan adalah, meskipun namanya kelas VIP, tapi para penonton di kelas ini tetap harus mengantri dan berbaur dengan penonton dari kelas lain, karena tempat duduk kelas VIP itu ternyata tidak bernomor alias calon penonton harus saling berlomba siapa yang paling cepat mendapatkan tempat duduk yang diinginkannya. Entah dimana privilege ke ‘important person’annya. Walhasil,ratusan penonton (termasuk sayapun) harus berlomba-lomba datang lebih awal supaya bisa lebih cepat masuk ke dalam ruangan konser.

Dan disinilah letak ‘ke-seenak-udel-an’ orang-orang penting itu dimulai. Disaat ribuan massa harus rela bersusah-payah menahan pegalnya kaki dan menahan hawa gerah karena mengantri menunggu giliran masuk melewati pintu utama yang hanya dibuka se-upil doang, kami harus berulangkali melebarkan rasa sabar ketika antrian itu dengan semena-menanya dipotong atau dihentikan sejenak, hanya karena ada bapak-bapak berbaju Batik yang datang sambil ditemani oleh sorang panitia yang berteriak-teriak kepada penjaga pintunya,

…VIP! VIP!

Dan si VIP inipun melenggang dengan anggunnya memasuki ruang konser dengan tanpa hambatan satu apapun, dalam kondisi yang sehat wal afiat dan dengan dandanan yang tetap prima. Tanpa baju yang kusut karena berdesak-desakan dengan pengantri lainnya. Dengan wangi parfum yang tetap sama tanpa harus bercampur baur dengan wangi parfum (dan bau keringat) pengantri lainnya. Dan itu bukan sekali-dua kali terjadi. Berulangkali! Tentu saja tidak ada yang bisa kami lakukan, bukan? Karena itulah takdir *edann*. Mereka adalah orang-orang yang penting, dan yang lainnya adalah rakyat biasa yang harus rela berjuang demi bisa mendapatkan sebuah hiburan.

Bukan hanya itu. Ketika konser akan dimulai, saya sudah menduga kalau kelakuan ajaib para VVIP ini tidak akan berhenti begitu saja. Kenapa saya bisa tahu? Pertama, karena ini bukan kali pertama saya datang ke konser yang ‘melibatkan’ tamu-tamu undangan atau VVIP. Dan kedua, karena saya melihat, bangku-bangku di deretan tamu-tamu VIP belum sepenuhnya terisi. Dan benar saja, ketika konser sudah dimulai, satu persatu orang-orang penting ini mulai berdatangan dan berlalu-lalang didepan kami yang duduk di bangku VIP dan Festival, tanpa rasa bersalah. Sudah datangnya telat, seharusnya mereka sadar ya kalau bangku mereka itu adanya di deretan depan, sehingga mau tak mau mereka akan melewati deretan penonton-penonton yang duduknya dibelakang mereka. Kok ya masih pada sempat saling bertegur sapa, haha-hihi sesama tamu VVIP, sambil berdiri pula! Alamak…..

Saya marah sekali, karena kenikmatan saya menonton mbak KD menyanyikan lagu ‘Assalamualaikumharus berulangkali terhalang oleh kepala bapak-bapak yang separuh botak, dan kepala ibu-ibu berpakaian pesta dengan rambut yang disasak tinggi! Buruan kek jalannya biar nggak nutupin pandangan penonton dibelakangnya! Belum lagi tingkah panitia yang jadi pada over acting ketika tamu agung mereka itu datang. Waduh, semua orang jadi sibuk ingin mengantarkan si tamu itu sampai di singgasananya. Tuh, makin banyak saja yang menutupi pandangan kami, para penonton di deretan tengah dan belakang.

Mungkin saya iri. Mungkin juga. Saya iri karena saya bukan orang penting seperti mereka, sehingga saya harus bersedia rela berdesak-desakan mengantri setengah jam sebelum acara demi bisa mendapatkan spot tempat duduk yang enak. Mungkin juga saya hanya sirik saja, karena saya tidak bisa datang telat , nyantai dan sesuka mereka, yang walaupun datangnya seperempat jam sebelum konser berakhir pun, mereka masih tetap bisa dapat tempat duduk yang enak di depan panggung karena memang SUDAH DISEDIAKAN OLEH PANITIA!

Iya mungkin saya hanya sekedar iri saja. Tapi rasa iri tadi kemudian berubah menjadi prihatin. Kenapa ya, orang-orang yang dilabeli dengan sebutan ‘orang penting’ itu sama sekali tidak bisa memperlihatkan attitude yang sesuai dengan label ‘penting’ mereka? Apa susahnya sih datang tepat waktu, misalnya? Dan lebih gilanya lagi, diantara para penonton yang memenuhi ruangan konser waktu itu, justru tamu-tamu penting inilah yang paling duluan pulangnya. Bahkan ketika konser baru berjalan setengahnya. Ck ck ck… hebat sekali! Sudah datangnya belakangan, tidak perlu antri dan berdesak-desakan, pulangnya paling duluan pula, seolah tidak menghargai para artis yang sedang sepenuh hati bermain untuk mereka itu.

Dari situ saya merasa betapa dunia ini sepertinya tidak adil sekali. Edan, ya? Nonton konser bukannya terhibur, malah sibuk mikir. Realita kecil di konser itu seperti memperlihatkan, betapa orang yang punya kuasa itu bisa berbuat sedemikian masa bodohnya dengan sekitarnya. Dan betapa orang-orang kecil (selain mereka yang orang-orang penting itu) harus berjuang mati-matian hanya demi memperebutkan sebuah tempat duduk di bangku tribun yang letaknya begitu jauhnya dari panggung. Dan biasanya, justru orang-orang yang membeli tiket termurah inilah yang benar-benar mengapresiasi pertunjukkan dengan baik. Biasanya lho ya. Karena memang mereka inilah yang betul-betul punya niat untuk menonton, tidak seperti para tamu udangan nan penting itu, yang mungkin datang hanya sekedar karena diundang. Aneh rasanya melihat deretan bangku VVIP itu ditinggalkan satu persatu ‘penduduknya’ sementara di kelas yang ‘terbawah’ penontonnya masih berdesakan.

Ironis, memang. Teman saya Gat malah sempat berandai-andai,

…. bisa nggak ya,suatu saat di Indonesia dibuat peraturan : kalau konser sudah dimulai, maka pintu masuk akan ditutup. Siapapun yang datangnya telat, mau sepenting apapun statusnya, tidak diperbolehkan masuk karena bisa mengganggu kenikmatan penonton lainnya dalam menikmati jalannya konser?

Bisa nggak, ya??