What’s so special about me being 30?
Very.
Saya sendiri setengah tidak percaya, kalau akhirnya pada 21 November lalu, sampai juga di usia kepala 3 ini. Alhamdulillahi rabbil alamin. Tuhan masih mempercayai saya untuk bisa sampai di usia yang kata banyak orang adalah usia kemapanan. Dengan segala arti atau pemahamannya. Karena beberapa minggu sebelum ulang tahun, sempat terpikir juga dalam pikiran saya : akan seperti apakah saya (dan kehidupan saya) ketika umur sudah memasuki angka 30 dan (jika Tuhan mengijinkan) melanjutkan ke bilangan 31, 32, 33 dan seterusnya itu nanti.
Yang pasti, saya bukan lagi anak usia duapuluhan yang katanya identik dengan pencarian jati diri, yang masih mencoba memastikan sepenuh hati jalan manakah yang akan dipilih untuk masa seumur hidupnya nanti. Sekarang saya sudah harus masuk ke usia dimana pencarian itu harus sudah menemukan ujungnya, dan saya harus mencoba untuk mensyukurinya dengan melakukan dan memberikan apapun yang terbaik dari diri saya. 30 adalah masa memulai proses kematangan.
Dan ternyata Tuhan sepertinya tidak sabar memberikan hadiah ‘proses kematangan’ itu untuk saya. Sang pencipta saya itu sepertinya ingin menyegerakan saya untuk memulai proses kedewasaan itu, bahkan sebelum saya benar-benar genap berusia 30. Proses itu dimulai tepat 2 hari sebelum ulangtahun saya, dengan cara memanggil kembali Ibu saya ke pangkuannya. Dua hari sebelum ulangtahun saya yang ke 30.
Tepat di usia ke-30, saya harus kehilangan salah satu sumber kekuatan dan doa terbesar saya. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya bahkan tidak meminta hadiah apapun untuk ulangtahun saya, selain kesembuhan beliau. Tidak pernah sekalipun saya membayangkan ini akan terjadi, walau saya juga sudah bersiap dengan segala yang terburuk pun. Saya tahu, memasuki usia 30 adalah suatu pemberian Tuhan yang ‘besar’ buat saya. Tapi kenapa Tuhan juga mengambil sesuatu yang ‘besar’ juga artinya buat saya. It’s kind of weird. It’s kind of unfair also. But it happened. And it was real. Dan tidak ada pilihan lain bagi saya, selain belajar menerimanya.
Ada perasaan yang tidak nyaman sekali merasakan ulangtahun dalam keadaan duka yang mendalam. Ada perasaan gamang juga melihat 143 pesan Facebook di home screen Blackberry saya, menanti saya buka satu persatu. Tapi tidak saya lakukan. Saya biarkan saja. Bukan karena malas membacanya satu persatu. Tapi lebih pada perasaan belum siap membaca ucapan penuh kegembiraan dan syukur atas bertambahnya usia, sementara pesan dibawahnya menuliskan ucapan-ucapan turut berbela sungkawa. Allahu Akbar… Should I be happy or should I be sad? Akhirnya saya hanya mendiamkan saja pesan-pesan itu terus bertambah. Jujur dalam hati yang paling dalam, saya juga bisa merasakan bagaimana teman-teman saya itu juga setengah mati kebingungan memilih kalimat yang ‘aman’ untuk menjaga perasaan saya. (more…)

