Dari hari ke hari, saya kok semakin ‘kagum’ ya dengan kemampuan berbahasa anak-anak jaman sekarang. Karena semakin hari, mereka semakin kreatif sekali dalam berkomunikasi satu sama lain. Semakin ekspresif, semakin tidak terduga dan semakin membingungkan! Sehingga untuk kita yang tidak terbiasa mendengar atau berbicara dengan mereka, pasti dijamin akan terbengong-bengong sendiri sambil mencoba menelaah apa yang sebenarnya mereka bicarakan.
Contoh kecil, saya masih ingat betul bagaimana saya sempat kebingungan karena- entah darimana asalnya, kata ‘karena’ bisa digantikan dengan kata ’secara’ dalam percakapan sehari-hari. Misalnya saja untuk kalimat,
Ya jelas saja Krisdayanti memilih bercerai dari Anang, karena sejak dulu kan Anang-nya memang tipe suami yang mengekang istri..
Ya ya.. mari tidak usah mempertanyakan kenapa saya memilih kedua tokoh itu sebagai contoh
. Fokuskan pada kalimatnya saja. Ketika kalimat itu diterapkan dalam percakapan sehari hari di jaman sekarang ini, maka kalimat itu pasti akan ‘disesuaikan sedemikian rupa sehingga’ menjadi
Ya jelas saja Krisdayanti memilih bercerah dari Anang, SECARA sejak dulu kan Anangnya memang tipe suami yang mengekang istri…
Terdengar beda, kan? Lebih terdengar gauul. Makin pengucapan ’secara’ nya dibuat lebai, semakin terdengar gaul. Hehehe. Itulah kenapa, dulu saya juga sempat kebingungan setengah mati ketika seorang teman saya yang usianya belasan tahun diatas saya meminta untuk diajarkan, bagaimana cara penggunaan kata ’secara’ ini dengan benar, supaya dia bisa terdengar up to date (?).
Itu baru satu contoh. Masih banyak contoh lainnya. Bagaimana semakin hari, tata bahasa Indonesia kita semakin acakadut, terutama karena dipakainya istilah-istilah tertentu yang agak-agak tidak ‘lazim’ dipakai untuk menjelaskan suatu hal atau keadaan.
Misalnya, ketika saya sedang satu mobil dengan teman saya Gat, kami melewati sebuah lubang di jalan raya yang ‘menganga’ cukup panjang. Sepertinya lubang itu memang sengaja dibuat oleh dinas pekerjaan umum karena akan dilakukan pemasangan instalasi tertentu yang kami tidak tahu apa itu (karena kebetulan tidak ada keterangan tertulis apapun di sekitar lubang itu). Tiba-tiba saja si Gat ini berkomentar,
Tuh liat deh.. Dibiarin bolong gitu aja coba itu lobangnya… Sakit jiwa, kan?
Heh? Sakit jiwa?
Saya yakin, maksud teman saya itu adalah, dia ingin mengatakan bahwa para pelaku ‘pembolongan’ jalan itu sangat keterlaluan dengan membiarkan lubang itu terbuka begitu saja. Tidak ditimbun dengan tanah, pasir atau apa, lah. Instead of menggunakan kalimat panjang seperti,“Keterlaluan sekali sih yang melakukan pekerjaan seperti ini“, maka dipilihlah bentuk istilah yang lebih singkat. Ya ’sakit jiwa’ itu tadi.
Pernah juga saya terpingkal-pingkal sendiri ketika mendengar sebuah percakapan dua orang teman saya. Satu pria dan satu lagi seorang wanita. Saya tidak terlalu ingat detail isi pembicaraan mereka, tapi ada suatu saat dimana si pria itu menyebutkan istilah-istilah perawatan kecantikan seperti manicure, pedicure dan lain-lainnya itu. Dan si wanita lawan bicaranya itu dengan cepat berkomentar,
… gila yaaa Bo… fasih banget sih kalo ngomongin masalah kecantikan…..
Edannnn. “Fasih”! Saya kira kata ini hanya ‘boleh’ dipakai untuk hal-hal yang berbau kemampuan bahasa saja, seperti “Fasih membaca Al-Quran” atau “Fasih berbahasa Perancis”, misalnya.
Contoh paling baru, adalah ketika siang ini saya melihat status seorang teman di Facebook. Dia mencoba menggambarkan gerahnya hawa Jogja dengan tulisan singkat :
Gila.. Jogja panasnya berjamaah!
Waduhhhhh..
Mungkin memang sudah saatnya saya memperbarui lagi koleksi perbendaharaan saya.
November 6, 2009 at 9:39 am
HUAHAHAHAHA…..
jangan lupa belakangan ini kata “paripurna” juga dipake sebagai pengganti kata “lengkap” atau “total”.
Contoh : “Buseettt, dandanannya paripurna banget sih!”
Dan tulisan kali bener-bener gak penting. Hihihihihii………..bener-bener penutup akhir minggu yang klop deh!
November 6, 2009 at 9:48 am
See..
Terakhir kalau masalah ‘dandan’ itu, istilah yang dipakai masih “Stamina”..
Contoh : “Liat si X, kan? Nggak mungkin enggak, pasti dia datang dengan dandanan full stamina-nya…”
Sekarang sudah ganti ‘paripurna’ toh?? Ck ck ckkkkk……
November 6, 2009 at 11:32 am
Karena lebih sering denger diganti secara-gitu-lho…
November 10, 2009 at 9:57 am
Kalao ’secara gitu lho’ biasanya dipakai untuk orang yang udah males menjelaskan ya Om hehe…
November 7, 2009 at 10:59 pm
hahaha… yg berjamaah itu baru mau gw mention ,eh udah ditulis duluan,hahaha. emang kocak tuh,tapi waktu itu temen gw makenya begini “yuk kita ke mal berjamaah”
ada satu lagi nih ,kata “sadis” bisa diganti dengan “afgan”
seperti dalam kalimat berikut ini : “boleh nawar asal jangan afgan”
pertamanya gw bingung juga sih bacanya,tapi lama2 jadi biasa,hehehe
November 9, 2009 at 5:27 am
kalo konteksnya gini: afgan marah sama pacarnya, trus pacarnya disayat-sayat pake silet… abis itu lukanya dikasi irisan jeruk nipis.
trus kita mo komentar: “afgan sadis bgt deh…”
jadinya: “afgan afgan bgt deh…”
November 10, 2009 at 2:34 am
wkwkwkwk…. ketawa aja dah, nanti bisa ditulis afgan kuadrat lagi alias afgan pangkat 2,hehehe
November 9, 2009 at 4:16 am
Wah, gak ikutan deh… Yang satu ini terlalu cepat perkembangannya. Wong aku baru aja lulus ujian untuk cara menyapa bencong, waria dan transgender sesuai kaidah mereka. Aku belum siap utk yang satu ini…
November 10, 2009 at 9:58 am
emang bagaimana cara menyapa bencong/waria sesuai dengan kaidah yang benar?? *membayangkan*
November 10, 2009 at 6:13 am
klo aku pernah denger gini mas..
“buset tuh sepatu! heels-nya ALAIHIM!”
aku cuma bisa istighfar setelahnya.
*ciyeeeeh, sok2 istighfar*
November 10, 2009 at 10:00 am
‘Alaihim’ apa? ‘Alaihim gambreng’?? Wkakakakk….
Mungkin itu sepatu mereknya memang ALAIHIM, kali? Made in Kairo…
November 11, 2009 at 3:54 am
Mas Ganteng, agak sedikit berbeda dr topik bahasa gaul ini, tapi mungkin artikel ini (http://www.thejakartapost.com/news/2009/10/28/messing-with-letters.html) yg ditulis temanku ini menarik juga untuk memberi gambaran SEJAUH apa trend bahasa lisan dan tulisan sekarang
November 13, 2009 at 4:19 am
Oh mas, yang aku tau…gaya bahasamu juga cukup okeh..di banding mereka…
Dari kata-kata mendidih…Edan….itu dari mana coba aku dapet kalo bukan dari blogmu…wekekekekek.
November 16, 2009 at 9:01 am
bahasa itu masih mending mas…
daripada bahasa ABG yg gaul pake huruf besar kecil dan disingkat-singkat…
Aku memilih bahasa gaul yg ini…lebih keren
November 19, 2009 at 7:36 am
bahasa gaul abege yang kaya gini ya mbak :
HaY Mas d3k4 saLaM KeNaL aQuh Eulik.. SuK4 d3h liy4t bl09 nya..
AquH adD blo9nya mas Jadi daFtar Baca4nQuH..
*wew aku ngetik 3 baris aja cape gimana dengan abege-abege itu ya?
hihihih..