Setiap orangtua, pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dan setiap orang tua, pasti rela untuk melakukan apapun untuk membahagiakan anaknya, untuk memenuhi keinginan buah hati mereka ini. Bagaimanapun keadaannya.
Dick Hoyt. Mungkin teman-teman belum pernah mendengar nama ini. Tapi mungkin juga ada yang sudah pernah mendengar. Tidak masalah, karena begitu menuliskan namanya di search engine, pasti teman-teman akan langsung menemukan ratusan ribu tulisan di internet yang mencantumkan nama beliau.
Dick adalah seorang marinir dari kesatuan Air National Guard. Semua kisah hidupnya yang luar biasa berawal ketika pada suatu hari di tahun 1962, dokter memberitahukan kepadanya bahwa bayi yang sedang dikandung oleh istrinya mengidap cerebral palsy. Ini adalah sebuah kondisi dimana otak tidak bisa mendapatkan asupan oksigen selama proses persalinan. Ini berarti, otak si jabang bayi tidak bisa mengirimkan pesan kepada otot-otot di tubuhnya, sehingga mengakibatkan putranya ini kelak akan mengalami kelumpuhan. Saya tidak bisa menjelaskan secara tepat karena saya sendiri agak kerepotan menterjemahkan artikel medis tentang cerebral palsy ini dari artikel aslinya di Wikipedia
.
Melihat begitu kompleksnya penyakit yang diderita si bayi, dokter sempat menyarankan suami istri ini untuk ‘merelakan’ saja calon bayi dalam kandungan ini tidak dilahirkan, karena nantinyapun jika bayi itu bisa dilahirkan ke dunia dengan selamat, dia pasti tetap tidak akan tumbuh dengan sempurna. Mendengar ‘saran’ dari dokter itu, sang istri, Judy, dengan tegas menolaknya.
“Tidak akan mungkin kita akan menggugurkan bayi dalam kandungan ini. Kami mencintainya. Dia milik kami berdua. Kami akan membesarkannya dan membawanya kemanapun dia bisa mewujudkan kemampuan terbaiknya kelak. Kami tidak akan, TIDAK AKAN PERNAH menyia-nyiakannya hanya karena dia BERBEDA”
Sebuah janji yang mungkin mudah diucapkan. Tapi kita tahu, janji diatas pasti tidak akan mudah keluar dari mulut yang tidak disertai dengan keyakinan hati yang kuat. Dan kedua orangtua bayi yang diberi nama Rick ini memang membuktikan janjinya, untuk tidak memperlakukan anaknya yang lumpuh itu secara berbeda. Kedua orang tuanya setiap minggunya membawa bayinya ini ke Children’s Hospital di Boston dimana mereka bertemu dengan Dokter Fitzgerld, yang selalu menyemangati pasangan suami istri itu untuk berani mengambil ‘resiko’ untuk mengajak Rick kecil untuk bermain dan bergulingan di halaman atau bahkan diajak untuk berenang. Dengan kata lain, mereka memperlakukan Rick seperti anak-anak lainnya yang tumbuh tanpa keterbatasan fisik.

Hingga suatu hari di tahun 1977, Rick yang saat itu duduk di bangku sekolah menengah pertama Westfield School berkata kepaa ayahnya, bahwa dia ingin sekali merasakan bagaimana rasanya mengikuti perlombaan lari. Sebuah keinginan yang ’sangat berani’ dan mungkin teramat ‘tidak tahu diri’ untuk seorang anak yang kesehariannya harus duduk di kursi roda. Tapi mendengar keinginan putranya itu, Dick yang saat itu sudah berusia 40 tahun merasa tergerak, untuk ikut membantu mewujudkan keinginan anaknya itu.
Silakan dibayangkan bagaimana usaha yang harus dilakukan oleh Dick. (more…)


