Dalam sebuah perjalanan pulang  mudik di hari Sabtu tanggal 19 yang lalu, saya dan teman saya sekampung dan seperjuangan (ck..ck..ck..) Ndut sempat terlibat sebuah percakapan yang, seperti biasa, tidak pernah penting tapi seringnya membuat kami terlibat dalam gelak tawa yang amat serius. Sore itu, topik yang mbleber kemana-mana itu tiba-tiba saja mampir ke sebuah tema ringan seputar masalah kirim-mengirim ucapan Selamat Idul Fitri.

Bukan tentang agak malasnya kita membaca deretan kalimat-kalimat puitis nan panjang yang pada intinya tetap saja bermuara di 2 kalimat terakhir : SELAMAT IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR BATIN. Bukan pula tentang kebiasaan banyak orang yang saking malasnya membuat ucapan sendiri, sehingga lebih memilih untuk langsung mem-forward SMS yang dia terima begitu saja, tanpa meng-editnya terlebih dahulu. Sehingga yang terjadi adalah, nama si pengirim asli tidak sempat terhapus. Jadinya, yang mengirimkan SMS ke saya adalah si Dimas Firdaus, tapi di SMS nya tertera nama “Yayuk Suseno & keluarga”, misalnya :D

“…dan Keluarga”… Ya, ini juga yang malah menjadi bahan pembicaraan kami. Bahan pembicaraan Ndut, tepatnya. Saya hanya menimpali sekenanya. Jadi,

Kenapa sih orang-orang selalu mengirimkan SMS ucapan itu dengan membawa-bawa nama  keluarga. Gue kan gak kenal dengan keluarganya. Dan kalau mau minta maaf, ya dia miinta maaf sendiri aja dong, gak usah bawa-bawa nama keluarga. Yang kalau ada salah, ya dia yang salah toh? Bukan keluarganya kan yang salah? Masa keluarganya ikut-ikutan disuruh minta maaf…

Saya hanya tertawa dan kemudian mingkem terdiam. Dan kemudian berpikir keras*edan ya, kesannya sibuk banget*.

Saya tahu, topik ini tidak terlalu penting untuk dibahas. Karena ya memang itu sudah menjadi hak asasi-nya yang mengirimkan SMS tho? Terserah dia mau meminta maaf sambil membawa nama keluarganya, nama hewan peliharannya, nama perusahaannya atau mungkin nama kompleks perumahannya. Bebas. Nggak ada yang melarang. Walau agak aneh ya ketika kita menerima SMS greeting lebaran, isinya kok :

“Dian Purnomo & Seluruh Warga Perumahan Griya Asri Menari

mengucapkan ‘Selamat Idul Fitri 1430 Hijriah. Mohon Maaf Lahir dan Batin”

Hahahaha.  (more…)

Semua orang pernah berbuat salah. Dan betapapun menyebalkan dan susah untuk dilakukan, tapi meminta maaf adalah sebuah hal yang mulia untuk dilakukan. Apalagi katanya di bulan puasa seperti sekarang ini, katanya pintu maaf itu sedang dibuka lebar-lebar sama yang Diatas.

Mengucapkan kata “Maaf” sebenarnya sih bukan hal yang paling susah dilakukan di dunia ini. Gampang kok. Tinggal buka mulut, bilang “.. Maaf….”, terus mulutnya ditutup lagi, selesai. Gampang toh? Yang justru paling susah sebenarnya adalam bagaimana menunjukkan rasa penyesalan yang tulus atas kesalahan yang kita lakukan. Menyesal dan berjanji tidak mengulanginya lagi.

Saya mau membagikan sebuah pengalaman yang membuat saya agak-agak merinding setiap kali mengingatnya.

Beberapa minggu yang lalu saya pergi sebuah tempat di Magelang. Bukan, bukannya pergi untuk pulang kampung. Tapi saya pergi dalam rangka mengunjungi sebuah rumah di daerah Terminal Soekarno-Hatta Magelang, menemui salah satu legenda musik Indonesia yang masih hidup, Nomo Koeswoyo. Salah satu personel grup legendaris Koes Plus yang tersisa, yang ternyata tinggalnya satu kota dengan saya, dan saya baru tahu kemarin itu!

Saya pergi kesana dalam rangka sowan atau dalam bahasa Indonesianya ya (kurang lebihnya) berkunjung untuk beramah-tamah, sekalian untuk memperkenalkan diri kepada beliau tentang radio tempat saya bekerja sekarang. Karena salah satu program baru yang saya create di radio ini adalah program pemutaran lagu-lagu dari keluarga Koeswowoyo, mulai dari Koes Bersaudara, No Koes, Koes Plus hingga Chicha Koeswoyo dan Helen Koeswoyo. Jadi ya intinya adalah semacam minta ijin, mohon doa restu, kulonuwun atau apapun lah itu namanya. Sebenarnya tidak ada yang mengharuskan saya melakukan hal itu. Tapi tidak ada salahnya, bukan?

Segitu mendalamnya kah saya memahami dan mencintai lagu-lagu maha jadul milik mereka ini? Sama sekali enggak! Sumpah, saya sama sekali buta dengan lagu-lagu mereka, sama halnya saya teramat asing dengan lagu-lagu jadul lainnya yang jumlahnya ribuan itu. Umur segini, harusnya saya masih sibuk update lagu-lagu dari Jason Mraz, Jordin Sparks atau bahkan Lady Ga Ga (kaya nama Sarden ya!). Tapi karena tuntutan pekerjaan yang  membuat saya harus mengupdate lagi pengetahuan saya tentang lagu-lagu lama (maklumlah, segmen radio saya sekarang ini adalah keluarga) makanya saya pun harus sesegera mungkin mencoba mengenal lagu-lagu dari Ade Manuhutu, Alfian, Anna Mathovani, Tetty Kadi, Lilis Suryani, The Mercy’s, Grace Simon, Ida Royani , Eddy Silitonga hingga ya Koes Plus itu tadi.

Serasa tua sebelum waktunya, memang….. :) (more…)

Selama ini saya mengira “JAGALAH KEBERSIHAN” adalah kalimat perintah atau himbauan yang paling sahih dipakai di tempat-tempat umum yang butuh perawatan ekstra seperti toilet umum, misalnya. Ternyata saya salah, teman-teman. Ini buktinya.

Foto007

Kalau agak kurang jelas tulisannya, mari saya tuliskan lagi disini. Jadi, tulisan peringatan yang tertera di sebuah kertas yang terpasang di dinding sebuah toilet di Terminal Jombor Jogjakarta itu adalah sebagai berikut :

JAGALAH KEBERSIHAN DEMI KENYAMANAN ANDA.

Standar, ya? Tidak demikian dengan tulisan yang dibawahnya :

MANDI DIMOHON GOSOK LANTAI DAN DINDING.

MANDI AJA PENGEN BERSIH, MASAK DINDING DAN LANTAI KOTOR DIEM SAJA

Dhooeenggggg…….

Luar biasa, ya?

Tega sekali si empunya toilet ini. Sudah ‘pengunjungnya’ disuruh membayar, masih disuruh menggosok lantai dan membersihkan dinding tempat ia mandi pula! Repot sekali rasanya. Saya nggak tahu, apakah dengan adanya peringatan itu, toilet itu menjadi berkurang peminatnya atau tidak…. :)

…………………….. dan berita itupun datang.

anang_nop_01

Berita tentang perceraian Anang dan Kris Dayanti. Dimulai dengan pesan singkat di Facebook dari salah satu teman saya yang bernama Listiya, dilanjutkan dengan teman-teman kantor yang satu persatu mengkonfirmasi kebenaran kabar itu ke saya. UEDANN!! Saya nggak tauuuuuuuuu…!!!! Kenapa semua bertanya kepada saya??? Heran deh!! Apa muka saya muka infotainment?? *semua berseru : “IYAAAAAA….!”*

Seketika itu juga saya langsung membuka situs-situs gosip terkemuka di internet *edann* mencari informasi yang tepat, karena update terakhir yang saya baca, semua isu perceraian itu hanya isapan jempol belaka. Entah jempol siapa yang dihisap, dan siapa yang segitu kurang kerjaannya menghisap-hisap jempol itu. Sehingga ketika menonton pengakuan langsung dari Anang di Kabar-Kabari (sempet ya searching sampai ke TV segala), langsung badan ini lemas rasanya. Lemas dan speechless. Lebay ya? Iya, saya juga heran. Amat sangat heran. Mungkin begini rasanya ketika seorang fans mendengar kabar buruk tentang idola mereka. Pantas saja seorang fans Michael Jackson terlihat guling-gulingan di jalanan sambil menangis ketika mendengar kabar Jacko meninggal dunia. Untung saja saya masih punya (sedikit) harga diri dengan tidak melakukan hal yang sama.

Padahal tadi ketika siaran jam 10 pagi, saya sempat-sempatnya memutar lagu mereka yang diciptakan oleh Pongky, ‘Tak Pernah Menyesal’.

… tak pernah menyesal, mengenal dirimu
jalan yang kutempuh tak tertuju padamu
ku takkan sesali pengalaman cinta ini
Wanita terindah pernah jadi milikku….

Jadi lagu itu adala pertanda buat saya? *uh, makin lebay*. Tapi ini terlalu aneh untuk dijadikan sebuah kebetulan, kan? Hhhh…

So, this is it? Beneran nih 13 tahun selesai begitu aja?

*sigh*

Ya sudah. Mau diapain lagi.

*bingung mau nulis apa lagi*

HUUUUUUUUUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA……..!!!

Ya. Hidup Malaysia!

Saya memang selalu ingin terlihat beda sendiri. Disaat yang lain sibuk mengeluarkan komentar-komentar yang beraroma permusuhan dengan Malaysia karena pemakaian Tari Pendet di iklan promosi pariwisata mereka di Discovery Channel, saya malah ingin mengomentari yang berbeda sama sekali. Ya, itu tadi : Hidup Malaysia!

Bukannya saya tidak punya rasa nasionalis. Karena saya yakin, jiwa nasionalisme itu tidak diukur dari pernyataan caci-maki berlebihan di Twitter atau di status Facebook. Karena toh saya juga yakin sekali, yang mengeluarkan hinaan kepada Malaysia itu juga pasti cuma bisa melongo doang kalau disodori pertanyaan tentang seberapa dalam mereka mengetahui tentang Tari Pendet! Tidak hanya daerah asal tari itu saja, tapi lebih dari itu. Sejarahnya, arti gerakan-gerakannya. Kalau saya kok malu ya sampai harus berkoar-koar merasa memiliki sesuatu, tapi saya sendiri tidak tahu dengan detail apa yang sedang saya perjuangkan itu.

Dengan kelakuannya yang kesekian kalinya ini, terus terang saya juga sebal dengan Malaysia. Benci sih tidak, hanya sebatas sebal saja. Karena saya yakin, mereka tidak punya niat jahat ingin meng-claim sebuah budaya negara lain secara sengaja. Maksudnya, bisa jadi toh ini semua terjadi karena ketidak-sengajaan. Karena mereka (mungkin) mengira Reog Ponorogo, Batik atau lagu Rasa Sayange itu sepertinya tidak terlalu di’anggap di Indonesia, maka ya mereka kemudian berbaik hati ingin ‘mengurus’ atau melestarikannya dan memperkenalkannnya ke seluruh dunia. Ehh, ternyata setelah di promosikan, yang punya barang itu baru ‘ngeh’ dan mulailah mencak-mencak! Salah siapa kalau begini?

Mumpung bulan puasa, ada baiknya kita mencoba menahan diri. Nggak ada salahnya toh kita mencoba mencari segi positif dari permasalahan ini? Buat saya, justru dengan adanya aksi claim budaya dari Malaysia ini, justru ada hikmah buat Bangsa Indonesia. Ngapain kita terlalu emosional menghina Malaysia sebagai pencuri kebudayaan orang, sementara kita sendiri masih ada di urutan atas negara yang hobinya mencuri hasil karya cipta orang lain alias pembajak? Duh, malu lah… (more…)

You’ll never know until you’ve tried.

Selama ini saya selalu merasa usia saya (yang walau belum menginjak kepala 3)ini sudah termasuk dalam tahap yang ‘terlalu tua’ untuk pergi ke tempat-tempat clubbing, dan menikmati segala euphoria suasana disana. Itulah kenapa saya selalu menolak setiap kali ada ajakan anak-anak kantor untuk beramai-ramai pergi dugem (eh, masih itu kan ya istilahnya? hehehe). Padahal kalau mau jujur, sebenarnya selain faktor ‘ketuaan’ , banyak alasan lain yang membuat saya menolak ikut. Tapi tetap alasan itulah yang saya anggap paling mujarab untuk menolak, karena kalau saya beralasan

Duh.. aku jam 10 kan udah tidurr…

kok terdengar agak-agak sok imut banget, ya? Walau beneran, saya kalau tidur memang jam-jam segituan. Hehehe. jadi kalaupun ada janji ataupun ada acara di malam hari, sebisa mungkin pasti harus bisa selesai before midnight. Makanya ketika kemarin malam saja saya berkumpul di kantor untuk kemudian datang ke sebuah tempat clubbing di Plasa Ambarukmo jam 22.30 saja, saya serta merta disorakin oleh anak-anak off air kantor,

HUAHAHHAHAHAA… DUGEM SEHAAAAATTTTTTT….!

Lho? Saya dugem? Hehehe. Iya, saya juga heran kok akhirnya saya menyerah juga pada ajakan anak-anak kantor untuk ikut datang di acara Closing Party alias malam terakhir tempat-tempat clubbing beroperasi, karena mereka akan tutup selama bulan Ramadhan. Jadi dugem ini diadakan dalam rangka menyambut bulan puasa, ceritanya. Edan ya. Mulia sekali. Hahaha. Tidak hanya saya yang heran, seluruh kantor juga akhirnya merasakan hal yang sama karena selama hampir satu tahun bekerja dikantor ini, tidak pernah sekalipun saya mau diajak dugem. Not once. Sehingga akhirnya, justru nama saya yang dijadikan sebagai sarana promosi untuk mengajak anggota kantor lainnya ikut.

Ayo Daan.. Mas Deka aja ikut!

Ih.. Entahlah, mungkin sayanya aja yang ke-GR-an. Karena tanpa ada keikutsertaan saya pun, pasti anak-anak juga tetap berangkat. Hahaha. To be honest, dugem malam itu terasa agak spesial buat saya, karena ini merupakan dugem pertama saya setelah 3 tahun lebih tidak pernah menginjak tempat-tempat hingar-bingar itu. Seingat saya, terakhir kali saya dugem adalah tahun 2006, ketika itu saya sedang menjadi peserta training Program Director di Jakarta, dan radio Prambors Jakarta saat itu merayakan hari ulangtahunnya di sebuah club di Djakarta Theatre (ada kan, ya?? Hehehe) yang saya sendiri bahkan sudah tidak ingat lagi apa namanya. Tapi ya itu, datang hanya karena rasa sungkan doang. Sesampainya disana ya cuma bengong doang. Bengong dan budeg. Secara saya termasuk orang yang sangat menyukai musik-musik easy listening, bisa dibayangkan bagaimana perasaan saya berada di tempat itu??

Dugem kemarin itu pun makin terasa mengharukan *uedann!* karena sepertinya banyak sekali yang memberikan dukungan moril kepada saya lewat aneka pesan di Facebook! Mulai dari,

Hhahahahha.. Kaka akhirnya menyerah jugaa… Have fun my little bro, take care dear hehehe..

Wah, asyik tuh buat olahraga malam!

Judulnya : Deka is back hehehhe….welcome to the party…gitu ya ihihi

AKHIRNYA! AKHIRNYA! Deka mau dugem hahaha *pesan buat temen2nya Deka, buatlah Deka merasa “terbang” hahaha..

sampai yang paling to the point seperti

Harus Mabok!!

Uedann! Tapi ada juga komentar-komentar bertolak belakang seperti,

Minum jus kunir asem ajah ya!

Halah Dek, paling dirimu di tempat dugem malah ngantuk… Jangan lupa ya…. nek glegeken ucapkan alhamdulillah… :D

ati2 y om? inget, kalo mau masuk ucapin Assalamu’alaikum trus melangkah masuk pake kaki kanan dulu om..biar barokah..amin..

HUAHAHHAHAHA…

Perhatian sekali teman-teman saya itu… (more…)

Ohh.. kamu harus lewat daerah Monjali, Om! Wuihh.. kamu liat tho, trus harus kamu masukin ke blog mu!

kata Ndut teman saya pada suatu tengah malam, ketika kami sedang menunggu taksi setelah menemani teman kami dari Jakarta yang ingin  menikmati Gudeg Pawon yang tempatnya diujung pelosok kota Jogja itu.

Tanpa perlu penjelasan darinya  lebih lanjut, dengan cepat saya memotong pembicaraan itu,

OOOOO Aku tauuuu! Pasti tokonya Michael Jackson itu!

Dia pun mengiyakan, dan kami pun serempak tertawa terbahak-bahak, meninggalkan tamu kami yang terlihat kebingungan dengan apa yang sedang kami bicarakan itu. Saya yakin Anda yang sedang membaca tulisan inipun agak-agak tidak begitu paham. Tokonya Michael Jackson? Michael Jakcson punya toko? Toko apaan? Kok di Indonesia? Kok bisa di Jogja buka tokonya? Jualan apa?

Sebelum semuanya semakin sibuk mengajukan pertanyaan, lebih baik saya jelaskan saja ya. Jadi pada suatu hari, saya sempat terperengah dan hampir tidak percaya ketika melewati sebuah toko yang memakai nama “Michael Jackson “ di seputaran jalan Palagan Jogja. Bukan hanya namanya saja yang ‘nendang‘, tapi juga di papan baliho-nya pun terpampang sketsa wajah Michael Jackson yang bertopi Fedora. Kalau namanya saja sudah cukup ‘nendang’, maka kalimat dibawah tulisan itu malah tidak hanya ‘nendang’, tapi ‘nonjok’ banget! Coba dibaca saja : (more…)

“Meeting hari ini dilaksanakan jam 13.00. Be there, ato gak dapet pisang goreng”

Ini adalah kalimat penutup dari sebuah email yang saya terima hari Selasa sore yang lalu. Email ini dikirimkan oleh Mbak Dita, salah satu rekan sekantor saya yang baru 2 bulan ini menjabat sebagai corporate secretary, menggantikan corporate secretary sebelumnya yang sepertinya sudah terlalu menikmati kehidupan pengantin barunya sehingga lebih memilih menyerahkan tugas maha berat yang dibebankan padanya. Hehehe.

IMG00102-20090812-1309

Memangnya apa sih tugas seorang corporate secretary? Saya sendiri juga tidak tahu. Hihihi. Tapi yang pasti, salah satu tugasnya, adalah menjadi panitia tunggal untuk agenda kegiatan meeting/rapat. Segala rapat. Mulai dari rapat mingguan, rapat bulanan, rapat tiga bulanan, rapat tengah semester, rapat tahunan hingga general meeting atau meeting komisaris. Belum lagi meeting-meeting dadakan lainnya, yang otomatis juga menjadikan corporate secretary sebagai manusia paling ribet di kantor. Rempong jaya, kalau kata anak gaul sekarang bilang.

Ribet, karena ibu satu anak ini harus rela jungkir balik mengingatkan teman-temannya untuk tidak terlambat mengumpulkan laporan mingguannya (karena kalau terlambat atau mepet waktu pengumpulan, maka dia juga yang akan kerepotan dalam meng-compile-nya). Itu baru keribetan pertama. Keribetan kedua, tentu saja setelah laporan-laporan itu terkumpul, maka perempuan yang sekilas mirip dengan artis top Fitri Tropika ini *eewww* harus berjumpalitan di udara (agak susah mencari perumpaan yang pas untuk menggambarkan usahanya, apalagi “jungkir balik” tadi sudah dipakai terlebih dahulu hehehe) mengajak para peserta meeting untuk segera berkumpul di ruang meeting. Believe me, usaha ini memerlukan sebuah kemampuan khusus yang tidak semua orang memilikinya!

Se-tidak disiplin itukah orang-orang dikantor saya sehingga mengharuskannya berjibaku setiap minggunya? (more…)

Katanya, dalam diri setiap manusia itu ada 2 sisi yang saling berlawanan. Baik dan buruk. Angels and Demon. Putih dan Hitam. Walaupun dalam kehidupan sebenarnya, kadang ada sebuah area yang terletak diantara baik dan buruk itu, yang menyebabkannya menjadi tidak jelas, apakah itu berwarna putih (baik) atau hitam (buruk). Hanya warna abu-abu yang terlihat. Seperti lagunya Teach Me How To Dream-nya Robin McAuley, saya sebenarnya juga percaya that I only see things black and white, never shades of grey. Kalaupun ada warna abu-abu, berarti saat itu warna hitam dan putih sedang berpadu. Dan bisa jadi, saat itu sebuah kebaikan sedang berbadu dengan sebuah keburukan. Benarkah itu bisa terjadi?

Dua hari lalu, saya dikunjungi oleh seorang perempuan tua di kantor. Edan, agak horor ya kesannya. Hehe. Perempuan berusia 63 tahun itu bernama Ibu Viendri. Beliau ini adalah salah satu pendengar setia radio tempat saya bekerja sekarang. Setiap kali saya siaran, Ibu ini selalu menyempatkan diri untuk menelepon, sekedar ingin mendengarkan lagu favoritnya atau sekedar berkirim-kirim salam kepada teman-temannya. Bahkan tidak hanya di program yang saya bawakan saja. Tapi hampir semua program, nama Ibu ini cukup sering eksis berkumandang.

Hingga akhirnya, kemarin itu beliau mengunjungi saya di studio, dengan membawakan masakan yang dibuatnya sendiri. Gila, ya? Dibela-belain dari rumah. Padahal untuk berjalan saja, si Ibu ini sebenarnya sudah agak kesulitan karena kaki kirinya sedikit terganggu akibat penyakit asam urat. Tapi dengan niatnya, dia bisa sampai ke studio sendirian, dengan diantar oleh taksi yang dimintanya untuk menunggu di depan kantor, sampai selesai kunjungannya. Mengharukan sekali. Dengan diiringi pandangan keheranan teman-teman sekantor lainnya yang memang termasuk jarang menyaksikan kantor kedatangan tamu berumur diatas 60-an *hehehe*, saya menemani Ibu ini mengobrol ngalor-ngidul di sofa ruang depan.

Ketika akhirnya pertemuan kami harus selesai karena saya harus siaran, saya kemudian pamit kepada beliau. Dan si Ibu ditinggal sendirian di bawah? Tentu saja tidak. Gantian Sita, penyiar sebelum saya yang menemani beliau, karena si Ibu ini nampaknya betah betul berada di kantor kami. Sebelum naik, saya terlebih dulu menyempatkan diri untuk  keluar menuju kantor, mendekati taksi berwarna biru yang sedang menunggu si Ibu diluar. Dengan cepat, saya mengeluarkan uang 50 ribu rupiah dari dalam dompet dan memberikannya kepada si supir, sambil berkata

Pak.. ini buat bayar ongkos taksi Ibu ini pulang ya. Nanti kalau Ibu itu mau bayar, biar bayar kurangnya aja…

yang langsung dibalas dengan anggukan si bapak supir itu.

Baik banget ya, saya? Bentar… jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan dulu. Hehehe. (more…)

Sebagai orang yang setiap pagi sering menyempatkan diri meng-update informasi selebritas di pagi hari, seharusnya saya tidak perlu kaget lagi kala menyaksikan sebuah berita yang berisi tentang perseteruan sepasang suami istri, atau bahkan mantan suami istri, seputar hubungan rumah tangga mereka. Seharusnya, ya?

Tapi minggu lalu, saya sempat kaget yang amat sangat ketika menyaksikan berita tentang aksi pelaporan dari mantan istri seorang vokalis band yang menyatakan dia baru saja mendapat perlakuan tidak menyenangkan dan mengarah pada aksi Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dari manta suaminya. Biasalah, sambil menangis-nangis dia memberikan keterangan kepada para wartawan yang sepertinya kemudian memblow-up berita itu menjadi berita utamanya.

Bukan aksi tuduhan KDRT itu sebenarnya yang membuat saya kaget. Karena –sekali lagi, itu sudah sering terjadi dan selalu ditampilkan dalam infotainment, bukan? Tapi yang jelas-jelas membuat saya kaget adalah pernyataan dari ayah si mantan suaminya yang dengan santai-nya berkomentar singkat tentang perkara yang menyeret nama anaknya itu :

…. KDRT itu kan baaaaa…nyaakk macamnya… kalau cuma sebatas tampar-tampar saja sih, itu mah masih wajarr… Toh tidak sampai menyebabkan berdarah.. atau patah tulang, lah…”

WHATTTT????

Sumpah, walaupun saya biasanya suka mendramatisir sesuatu, tapi pernyataan si bapak itu tadi asli sesuai dengan apa adanya. Tidak lebih, tidak kurang. Saya sendiri sempat tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Karena reaksi dan ekspresi si bapak ketika mengatakan hal itu amatlah sangat datar dan tanpa rasa berdosa sama sekali. Memprihatinkan sekali.

Saya prihatin, karena ternyata konsep ‘kekerasan’, terutama sebuah tindak kekerasan yang dilakukan dalam rumah tangga, bisa berbeda-beda artinya untuk setiap orang. Kok bisa ya? Apa bapak ini tidak tahu, bahkan sebuah ucapan bernada hinaan kepada seorang istri itu juga bisa dikategorikan sebagai KDRT? Apa dia juga tidak pernah diberi tahu, bahwa seorang suami yang melarang istrinya untuk bersosialisasi atau berkumpul dengan keluarga atau saudara-saudaranya, juga bisa dikategorikan sebagai KDRT? Pastinya bapak ini tidak tahu. Lha wong MENAMPAR aja menurut dia adalah sebuah perbuatan yang bisa dimaklumi kok….. (more…)

« Previous PageNext Page »