Bukan Bintang Biasa


Sebelumnya, saya pengen minta maaf yang sebesar-besarnya pada semua pihak. Termasuk pada diri saya sendiri, sebenernya. Bukan minta maaf terhadap apa yang akan saya tulis disini nantinya, tapi karena saya pernah melakukan suatu kekhilafan yang…. sebenernya ga saya sesal-sesalin amat. Tapi memang cukup membuat saya tersenyum malu mengingat2nya kembali…

Jadi sodara2, pada suatu hari saya dapet kiriman CD Sample single “Bukan Bintang Biasa” dari label Aquarius. Mendengar lagunya, saya ‘agak-agak’ suka karena yaa, melodinya cukup enak lah. Saya serasa balik lagi ke taun 80’a denger lagunya “Voices That Care”. Terlepas agak terhenyak juga mendengar suara para penyanyinya yang bikin senewen, tapi saya terus terang penasaran pengen denger the whole album. I mean, wah wah.. Melly Goeslaw gitu looooh, bikin film musikal. Kaya apa yaa. Tapi ternyata first impression benar-benar bisa menyesatkan.

Pergi ke MStudio Galeria Mal, ngeliat ada CD Soundtrack Bukan Bintang Biasa itu, saya langsung membelinya. Tanpa ada pertimbangan apa2 (mmm, agak tengsin juga sih, jangan2 ada yang mergokin saya beli tu CD. Hehehe). Apalagi waktu itu lagi ada diskon disana, jadi dari harga asli 35 ribu perak, didiskon jadi tinggal 27 ribuan gitu. Bukan, bukan karena kualitas album ini demikian buruknya sehingga dibanting2lah harganya, tapi karena MStudio emang lagi baek aja ngasih diskon semua produknya. Jadi ya ga rugi2 amatlah saya ngeluarin duit segitu buat CD yang (saya harap) isinya sesuai dengan dugaan saya.

Pulanglah saya, dengerin tu CD di kantor dengan sejuta harapan didada. Salah emang saya. Begitu denger satu persatu lagunya, saya cuman bisa meringis. Semakin buruk. Semakin buruk. Dan semakin buruk sekali. Oh my God. Harapan saya seperti dihempaskan ke bumi dengan begitu kejamnya setiap kali track lagu berganti. Owh… Saya seperti ditikam dari belakang!! Seketika itu juga, saya ngaku salah. Harusnya memang saya beli CD bajakannya aja. Tapi mungkin ini adalah takdir CD album itu, hanya menjadi CD sekali dengar saja. Yang lebih memalukan lagi, tiba-tiba keesokan harinya, CD itu menghilang dari meja saya. Mati gue!! Siapa yang nyolong ya?? Kasian sekali nasib maling itu.. Dia pasti akan sangat marah padaku karena tidak memperingatkannya tentang betapa busuknya CD yang dia curi itu. Setelah mencari di beberapa tempat, ternyata CD itu sudah nangkring di WhiteBoard ruang produksi, lengkap dengan tulisan :

“SIAPA YA YANG BELI CD KATRO BEGINII…????”

An***g!!! Tapi bukan saya dong kalo ga ngeles. Dengan muka dibuat se-innocent mungkin, ya saya ngaku lah kalo CD itu hak milik saya. Dengan alasan, “Iseng! Lagi diskon soalnya…”. See, mau pake alesan apalagi coba?? Jadi, saya sebenernya pengen lebih minta maaf sama diri saya sendiri, karena sudah menghambur2kan uang 27 ribu for a trash! Next time, beli bajakanya dulu aja ya, Dek…

Itu masalah albumnya ya. Sekarang kita pindah ke filmnya *menghela nafas panjang sekali*. Tadinya saya berharap, kalau meski album soundtracknya dodol gitu, siapa tau filmnya lumayan. Atau sebaliknya. Karena ini pernah terjadi sama Dealova, yang filmnya bikin senewen, tapi soundtracknya dapet AMI Awards untuk Lagu Terbaik. Tapi untuk BBB ini, kayanya beda kasus deh. Secara film ini kan (katanya) film musikal,tuh. Jadi ya kalo lagu2 di albumnya aja udah audzubillah mindzalik gitu, ya jelas filmnya ga jau beda pastinya, bukan?? Makanya, saya ga mau ngereview tu film secara saya juga belom nonton. Tapi saya masih simpen review temen saya Ndutz yang udah gagah berani nonton dan secara sukarela ngiriminnya ke saya via SMS.

“Sumpah! Kalian harus nonton BBB! Luar biasa.. Kuntilanak merah di fim Terowongan Casablanca aja kalah horror!”

“Bagus banget! Seperti kombinasi sinetron Tersanjung 1-7 ama film Frankenfish dalam bentuk musikal!”

“Jangan cuma pengen.. tonton dong! Tapi maaf, aku gak bisa nemenin.. I’d rather watching G30S/PKI aja! “

See… serem banget kan. Apa yang akan saya lakukan di dalam bioskop kalau saya menontonnya?? Temen saya aja nantangin untuk nonton BBB dengan syarat : ga boleh mengeluarkan suara2 aneh apapun selama film berlangsung. Wow… it’s like joining a Fear Factor competiton. Sudden Death!! Dan saya mending melepaskan tantangan itu, karena.. lebih pada faktor tenggang rasa pada penonton lainnya!

“Eh, tau ga aku dimana? Aku lagi di depan pintu masuk 21, mau mencegah orang-orang masuk nonton BBB!! Hhhhh.. uelek banget!!”

Duh.. really tempting. Nonton/enggak ya??

Advertisements

2 comments so far

  1. Redy on

    Wah, sebegitu buruk kah?

    Saya gak tahu sih yang begituan, maksudnya ya karena saya bukan termasuk orang-orang yang senang dengan seperti itu. Saya emang kuper dengan hiburan yang seperti itu.

  2. peepalicious.blogspot.com on

    OMG!

    😛


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: