The Office part II

Sampai sekarang saya mengakui kalau saya memang doyan sekali jadi komentator dalam segala hal. Bukan mengkritik ya, tapi mengomentari. Emang beda, kah? Kayanya sih beda-beda tipis lah. Kalo mengkritik itu kesannya lebih ‘sedikit bermartabat dan berbobot’ dibandingkan mengomentari. Hehehe. Komentar tu kayanya sebuah perbuatan yang remeh banget. But I kinda like it. Ga tau kenapa. Mungkin jelek ya, dikit2 komenter. Dikit komentar. Kesannya bawel banget. Tapi mari kita lihat the bright side-nya. Blog ini exist hingga saat ini *halah* karena kemampuan ngomentarin saya, kan? 😛

Sampai akhirnya saya agak2 mati kutu ketika saya berhadapan dengan sebuah hal yang namanya Performance Appraisal (PA). Kalo di bahasa Indonesia-kan, kurang lebih artinya : Penilaian Kinerja. Kebetulan itu memang salah satu kewajiban yang harus saya lakukan, untuk teman2 yang satu departemen dengan saya selama masa kontrak kerjanya. Dan kebetulan juga, saya baru sekalinya ini bikin PA. Duh, rasanya maleeeeessssss….banget. Pertama, karena disini saya harus memberikan penilaian saya terhadap kinerja teman-teman saya sendiri. Dan kedua, karena… ooohh, males bangett!!! Hehehehe. Mungkin kedengerannya nggak professional ya. Bukankah itu sudah kerjaannya kepala departemen? Ya iya sih. Tapi mungkin karena dasarnya saya orangnya termasuk yang ‘nggak tega-an’ dan ‘nggak enak-an’ ya, jadinya buat ngelakuin hal2 kaya gini suka ngerasa bete sendiri. Hehehe. Iya, beneran nggak professional sekali saya ini….hehehehe..

Tapi mau nggak mau hal2 begini memang harus dimulai, bukan? Kalau enggak, darimana saya bisa belajar? Akhirnya dengan sangat hati-hati, saya mulai mengisi kolom2 di lembar Performance Appraisal itu. Hati hati sekali, karena memang harus bisa memberikan penilaian yang fair dan objektif. Karena nasib mereka ada ditangan saya. Hihihi. Di tangan Tuhan sih sebenernya. Tapi diwakilin sama saya. Edannnnnn! Berlebihan betul.
Jadi, di lembar PA itu ada beberapa kolom yang harus diisi dengan angka dan juga ada yang berupa kolom kosong yang harus diisi dengan komentar saya sebagai pihak yang menilai. Kalau masalah ngisi angka sih, agak2 lebih mudah yaa, karena masing2 angka sudah menjelaskan kualitas kinerja seseorang. Misalnya :

  • Angka 1 : Nggak bisa kerja. Yakin loe masih mau mempekerjakan ni orang?
  • Angka 2 : Bisa kerja. Cuman kayanya dia-nya yang gak yakin bisa kerja.
  • Angka 3 : Bisa kerja. Tapi lebih banyak bengongnya daripada kerjanya.
  • Angka 4 : Rajin. Semua kerjaanya selesai. Tapi selesai doang. Kualitas hasil? Nggak tau yaaa..
  • Angka 5 : Rajin banget. Sampai2 kerjaan orang lain aja dikerjain juga.

Itu contohnya. Tentu aja yang bener nggak mungkin kaya gitu itu. Hehehe.
Nah, yang jadi masalah adalalah ketika sampai pada kolom memberikan penilaian berupa komentar saya terhadap orang tersebut. Begitu baca kolomnya, saya cuman cengir2 dengan senyum amat kecut. Disitu tertulis : “KOMENTAR/ TANGGAPAN DARI PENILAI/ MANAGER”. JEENG JEENGGGG…..!

Kalau dalam keseharian, seperti yang saya bilang tadi, saya pasti demen banget disuruh berkomentar. Karena biasanya yang dikomentarin ya hal2 yang nggak begitu penting. Lha ini disuruh ngomentarin yang kaya beginian. Lumayan mumet juga. Apalagi menurut saya, saya menganggap kalau semua orang itu pada dasarnya baik. Pada dasarnya semua orang itu unik dengan karakternya masing-masing. Dan hal2 seperti itu bukanlah untuk dinilai. Hehehe. Goblok bener emang. Sungguh sebuah siksaan yang teramat berat untuk orang yang ‘nggak enak-an’ seperti saya..
Tapi memang harus dipaksa. Selalu ada saat pertama kali untuk segala hal. Ayo Deka! Kamu pasti bisa, Mas Ganteng! Hahaha. Begitulah saya mencoba menyemangati diri sendiri. Dan akhirnya dengan agak bersusah payah, setelah saya mencoba untuk menuliskan komentar-komentar yang bernuansakan Asertifitas yang luar biasa, saya berhasil menyelesaikan pekerjaan itu dengan… yaaaah, cukup baik lah. Eh, tapi nggak tau juga, denk… Huaaaaaaaa…..

Intinya sih sebenernya, dari hal ini saya belajar 2 hal.
Pertama, pada proses. Ada waktunya kita menjadi pihak yang ‘di’, ada waktunya juga kita menjadi pihak yang ‘me’. Dulu mungkin kita ‘dinilai’ oleh orang lain, tapi ada waktunya juga kita jadi pihak yang ‘menilai’. Dulu mungkin kita ‘ditraining’ oleh orang lain, ada waktunya juga kita yang ‘mentraining’. Dan ternyata ada banyak hal yang harus dilakukan dan dimengerti ketika kita ternyata sudah berada di pihak yang ‘me’ tadi. Semakin besar tanggungjawabnya, karena ada sebuah kepercayaan disana. Mau nggak mau, harus mau belajar lagi, termasuk belajar mengalahkan ego diri sendiri. Susah ya, Boss… tapi percaya deh, kaya ginian emang proses. Nggak pernah akan berhenti. Karena berikutnya, pasti ada masanya kita akan gantian jadi pihak yang ‘di’ lagi. Gitu seterusnya.

Dan kedua, saya baru nyadar kalau orang ngomong itu harus hati2 (ih, nyadarnya telat bener..). Setiap komentar yang kita keluarkan (atau tuliskan), se-sepele apapun, tetaplah sebuah komentar. Se’ringan’ apapun ucapan dan komentar seseorang, itu tetaplah hasil dari pemikiran mereka. Ada yang dipikir bener2, ada yang dipikir selewat aja. Tapi tetep, itu hasil pemikiran. Harus bisa dipertanggungjawabkan. Karena sebuah komentar, ternyata bisa menggambarkan kualitas pribadi seseorang. Hehehehehe…. anjrit, bahasa gue! Loh, bener kan?? Waduh, kalo gini caranya, kayanya bakal nggak ada lagi yang mau ngasih komentar di blog saya. Hahahaha. Tapi nggak apa2 juga sih, karena seperti juga halnya sebuah siaran radio : pendengar pasif lebih banyak daripada pendengar aktif, bukan?

Hhhh.. tumben tulisanmu agak njelimet, Mas…….

Advertisements

5 comments so far

  1. barb michelen on

    Hello I just entered before I have to leave to the airport, it’s been very nice to meet you, if you want here is the site I told you about where I type some stuff and make good money (I work from home): here it is

  2. Anonymous on

    the best way to assess people for me, is to have them fill in the their own numbers, and after to defend their score…. (“,)
    be responsible of what you think….

  3. Mas Ganteng on

    Mmm..
    That’s an idea! Haha..
    Thanks!

  4. caramellomachiato on

    apraisal? trauma dengan hal itu!
    i mean it… akhrinya gue resign deh.

  5. anit on

    ketika saya juga harus menilai orang lain, trnyata yg paling berat adalah ketika menyadari bahwa ternyata diri kita pun belum terlalu lebih baik (bahasa yang aneh) dengan orang yang kita nilai tersebut… Dan itu sungguh sebuah beban…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: