A Woman’s Worth

Sudah liat film ‘Perempuan Punya Cerita‘? Saya belum. Dan sepertinya saya tidak ada rencana sama sekali untuk melihatnya. Alasannya cukup cemen : nggak berani! Sumpah. Bukan, film ini sama sekali bukan film horor, sampai2 saya nggak berani nonton. Tapi film drama biasa. Pokoknya pada intinya, film ini pengen banget menyadarkan kita bahwa masih banyak masalah yang harus dihadapi oleh perempuan-perempuan di negara kita ini. Mulai dari pembedaan perlakuan, kekerasan, kejahatan seksual termasuk kurangnya kesadaran akan hak reproduksi mereka.

Kenapa saya nggak berani buat melihatnya? Dari reviews atau cerita teman-teman saya yang sudah melihat film ini sebelumnya, hampir semuanya mengatakan bahwa mereka merasa marah dan menangis setelah menonton film ini. Kenyataan pahit yang terjadi di sekitar kita (dan kita tau itu ada!), dipaparkan dengan frontal dan apa adanya di film itu. Sebagian teman saya yang lain malah bilang ada yang pusing dan mual menyaksikannya. Itulah kenapa saya yakin saya nggak akan berani melihatnya. Tidak siap menyaksikan sebuah kenyataan pahit. Hehehe. Cemen? Mungkin. Dasarnya emang nggak tegaan juga sih. Seperti Fahri di film Ayat-Ayat Cinta yang bilang, “Aku paling tidak tahan melihat perempuan menangis….”. *halah*

Hari Kartini kemarin kebetulan saya cukup beruntung bisa mengajak orang-orang hebat dibalik pembuatan film ini, untuk ngobrol bareng di radio saya. Sementara Melissa Karim & Vivian Idris (penulis naskah film ini) ngobrol di on air, di ruang tamu studio saya ngobrol-ngobrol dengan Mbak Bonni dari Kalyana Shira yang memproduksi film ini. Saya baru tau kalau tujuan mereka membuat film ini ternyata memang untuk memberikan sebuah ‘tamparan’. Bukan ‘sentilan’ lagi, tapi tamparan buat semuanya saja, tentang kenyataan pahit yang masih dialami perempuan-perempuan yang ada di sekitar kita. Dan betapa masih banyak dari kita yang -udah tau ada kejadian itu didekatnya- masih saja bersikap diam bahakan nggak mau tau. “Jangan ikut2 urusan orang lain” adalah salah satu pembenaran yang dianut oleh sebagian besar orang. Termasuk saya kalo boleh saya jujur. Sehingga ketika kata-kata himbauan, slogan-slogan hingga iklan layanan masyarakat ternyata tidak membawa pengaruh yang besar juga, dibuatlah film ini. Dengan gambar-gambar ‘sakit’nya. Karena seperti yang Mbak Bonni bilang juga, film ini memang dibuat untuk ‘mengganggu’ para penontonnya. Biar mereka tau. Sukur-sukur mereka mau ngerti.

Yes, reality really bites!

Ada satu waktu ketika Mbak Boni bercerita tentang seorang temannya (berarti ini harusnya kisah nyata, ya). Temannya itu beberapa waktu lalu meminta cerai dari suami keduanya, karena sudah tidak tahan lagi dengan perilaku suaminya itu. No, suaminya tidak pernah melakukan kekerasan fisik. Suami keduanya inipun masih terus memberikan nafkah. Tapi, si suami ini sering main perempuan. Nah lo. Setelah mencoba bersabar dan ‘nrimo’ diperlakukan seperti itu, akhirnya si perempuan ini tidak tahan juga. Ketika di tarik lagi flashback di kehidupan sebelumnya, si perempuan ini ternyata dulu memilih cerai dari suami pertamanya, karena suami pertamanya ini suka melakukan kekerasan fisik dan tidak memberikan nafkah lagi. Sehingga ketika dapet si suami keduanya ini, dia terima2 aja suaminya ini suka main perempuan. At least, suami keduanya itu masih ngasih nafkah dan nggak pernah mengkasarinya.

Sebel nggak dengerin cerita ini? Salah siapa coba kalo gini? Saya sih nggak mau menyalahkan si perempuan itu. Kasian, bebannya udah berat. Hehehe. Tapi gini deh, dari satu cerita ini aja kita udah bisa ngeliat kalau masih banyak tugas yang harus dilakukan untuk menempatkan perempuan di tempat yang selayaknya. Betapa masih banyak perempuan yang takut sekali percaya pada kemampuan dirinya. Belum lagi kalau kita mau nyangkut2in ke point lain seperti tingkat pendidikan dll. Itu tadi baru satu masalah yang lingkupnya domestic, lho. Belum kalau sudah melebar ke masalah trafficking yang sifatnya udah lebih lebar (dan info terakhir bilang kalau Indonesia ada di urutan kedua sebagai negara yang paling parah kasus perdagangan wanitanya!). Wah, makin kompleks lagi.

The point is, saya cuman pengen ngomong : Mbak-Mbak, Ibu-Ibu, Tante-Tante, Adik-Adik… kalian itu mahluk Tuhan yang luar biasa, lho. God must have spent a little more time on you. Jadi mbok iya,be proud of yourself! Jangan mau dilecehin. Jangan pernah biarin orang lain mengganggu kalian. Gangguan perkataan maupun perbuatan, sama intolerable nya. You should defending yourself! Respect yourself. Rise steadily! Karena memang bener, you’re so worth it! Karena Anda (memang) beneranbegitu berharga.

Advertisements

1 comment so far

  1. Anonymous on

    Gimana Arif? He’s been my best friend yg ampir tiap hari jalan brg for the past 15 years… Inspiring khan? And indeed u should see perempuan punya cerita… Reality bites, and sometimes life is a bitch, tapi from there we could thank God of what we’ve got at the moment…
    Please, do see the film…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: