Hati Seluas Samudera

Norak ya judulnya? Emang..
Hehehe. But let me ask you this : hal apa yang paling pas menjadi perumpaan, ketika kita sedang berbicara tentang kesabaran? Ya Laut. Samudera. Karena luasnya, karena seolah tidak terbatasnya. Begitulah paling tidak yang namanya kesabaran should be. Orang hidup itu kalo bisa sih sabarnya luaaaaaaassss… seluas2nya. Karena dengan sabar, buat ngelakuin apapun, buat menerima apapun akan ringan sekali. Bukankah itu yang dibutuhkan semua orang untuk menjalani hidup yang sudah semakin gila ini?


Ada sebuah cerita…


Ada serang Tukang Batu berusia separuh baya. Suatu hari dia mendapatkan tugas untuk membelah sebuah batu yang guedenya amit2. Dalam waktu sehari, dia harus bisa membelah batu itu, dengan hanya bermodal satu pemecah batu. Dari pagi hingga menjelang tengah hari, dia pukul2 itu batu berkali-kali dengan harapan batu itu bisa pecah terbelah. Melakukan hal yang sama berulang-ulang memang membutuhkan kesabaran yang besar ya. Udah gitu, nggak keliatan2 juga hasilnya. Sampai akhirnya ketika matahari udah tepat diatas kepalanya, ketika keringat udah bercucuran, ketika kulitnya yang putih udah jadi hitam (dia lupa memakai sunblock, nampaknya…), akhirnya si tukang batu ini menyerah. “Ga bisa. Ga mungkin. Mustahil aku bisa memecahkan batu ini..”. Dan diapun berhenti memukul batu, dan hanya duduk terdiam sambil menatapi batu yang ada di hadapannya itu dengan pandangan nanar. Mungkin dia berharap matanya punya sinar X seperti Superman, yang bisa membelah batu itu dengan mudahnya…

Ditengah keputus-asaannya itu, tiba-tiba lewatlah seorang laki-laki berusia lanjut dihadapannya. Seperti cerita2 inspiratif lainnya, tentu saja si kakek2 ini menghampiri si Tukang Batu muda dan dengan rumpi’nya bertanya,

“Ada apa, anak muda?”.

Harusnya si kakek itu berkenalan dulu ya. Biar akrab. Jadi dia bisa mengganti ‘anak muda’ itu dengan nama si tukang batu itu. “Ada apa, Deka?” atau “Ada apa, Mas Ganteng?”. Huahahhaa. Kok jadi nggilani malah ya. Hehehe. Singkatnya, si Tukang Batu itu menjawab kalo dia udah nyerah memukul2kan alat pemecah batunya itu. Dia juga memanfaatkan waktu itu untuk curcol (curhat colongan, -red) dengan bilang kalo batu itu terlalu besar, lah.. tugasnya terlalu berat, lah.. bossnya terlalu sadis, lah. Semuanya. Mungkin sampai uang makan yang nggak naik2 juga dia curhatin. Sampai akhirnya mungkin bete denger curhatnya si tukang batu, si Kakek ini bangun dan berkata,

“Bolehkah saya mencoba memecahkan batu itu?”.

Si Tukang batu melihat si Kakek dengan pandangan heran tentu saja. Kalau anak gaul sekarang, si tukang batu sedang bilang “Sumpee loo???”.

Setelah dipersilakan, si Kakek itu kemudian mengangkat alat pemecah batu milik si tukang, dan dengan sekali pukul, pecahlah batu itu! Anda kaget? Pasti kaget. Kecuali Anda sudah pernah mendengar cerita ini sebelumnya, tentu saja. Hehehe. Buat yang belum pernah, pasti Anda menebak2 kalau si Kakek ini adalah semacam Gandalf dari The Lord Of The Ring yang sakti itu, atau sosok Malaikat yang turun ke bumi dan menjelma menjadi seorang kakek2, atau mungkin Anda mengira kalau si Tukang Batu itu sedang bermimpi di siang bolong. Well, sorry to say kalau semua perkiraan Anda itu salah. Si Kakek ini beneran kakek2. Maksudnya, beneran manusia biasa yang sudah kakek-kakek (hehehe… muter2 ga karuan bahasanya). Lantas, apa dia segitu saktinya sampai bisa memecah batu raksasa itu dengan sekali libas?? Simak jawabannya setelah kami kembali.. heheheh…Nggak. Dia tetaplah manusia biasa, sama seperti si Tukang Batu muda itu.

Moral dari cerita ini sih sebenarnya sangat simple. Tapi penting. Orang itu harus sabar. Harus telaten, kata orang Jawa bilang. Karena kita nggak tau apa yang akan terjadi di depan kita. Seringkali kita memang ‘kalah’ sama yang namanya kesabaran. Kita sering menyerah ketika ngerasa badan dan pikiran kita udah ‘panas’ dan berat, dan kesabaran kita sudah habis. Sama seperti si tukang batu itu. Berpuluh2 bahkan mungkin beribu kali dia memukulkan palu itu, tapi batu besar itu nggak pecah2 juga. Dia pun menyerah. Padahal tenaga sebenarnya masih ada. Mungkin dia sudah sampai di pukulan ke 1000, dan dia menyerah. Tapi gimana seandainya batu itu ternyata ditakdirkan ‘pecah’ di pukulan ke 1001? Dan si kakek itulah yang berhasil memukulnya. Cukup sekali pukul. Bukan berarti si Kakek itu hebat atau sakti, bukan? Tapi karena dia ‘mencoba’. Coba, misalnya si tukang batu itu mencoba memukul sekali lagiii…, saja. Pecahlah itu batu. He’ll never know. We’ll never know.

So don’t ever give up.

Ketika hati kita sudah lelah, kesabaran kita sudah mencapai puncaknya dan seolah kita sudah tidak sanggup lagi, Insya Allah itu adalah pertanda : kalau kita akan segera sampai. Akan segera ada hasil disana. Ibaratnya malam, saat2 malam yang paling dingin adalah ketika menjelang fajar. Paling dingin. Yang bisa kita lakukan adalah : Bertahan. Bertahan, karena percayalah, dingin itu akan segera berganti dengan hangatnya pagi.

Advertisements

1 comment so far

  1. funkshit on

    kakek2 yang beruntung.. klo dia gagal.. si tukang batu paling cuman ketawa sambil bilang “dasar kakek2 sok tau” 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: