080808

Bisa jadi banyak banget orang yang menunggu-nunggu datangnya tanggal 8 Agustus tahun ini. Hari ini. Dan itu bisa jadi disebabkan oleh banyak hal. Ada yang memang penasaran pengen banget liat serunya upacara pembukaan Olimpiade Beijing yang katanya bakal digelar tepat pada jam 8 malam lewat 8 menit lebih 8 detik (gosh.. pasti ribet sekali panitianya menyiapakan rundown!). Ada juga yang sengaja menggelar hajatan di tanggal ini, karena memang menurut kepercayaan/kebudayaan Tionghoa, angka 8 diasosiasikan dengan yang namanya kemakmuran. Saya sih nggak percaya sama masalah angka-angka beginian, karena buat saya number is just a number. Dan tanggal ya hanyalah sebuah tanggal. Yang saya peduliin biasanya sih cuman tanggal-tanggal penting seperti tanggal ulangtahun saya dan orang-orang terdekat saya (yang bahkan bolak-balik sering lupa!), dan juga tanggal-tanggal merah di kalendar (nah kalo yang ini jarang banget lupanya! hehehe).

Tapi 8 Agustus 2008 ini ternyata akhirnya berarti khusus juga buat saya. Tidak ada perayaan. Tidak ada pesta-pestaan. Tidak juga ada keriaan. Yang ada justru rasa keprihatinan dan keharuan yang edan-edanan. Jadi, hari ini saya dan reporter Female Radio Jogja Abe berkunjung ke sebuah Panti Asuhan bernama Yayasan Sayap Ibu di daerah Pringwulung Jogja. Bukan karena iseng atau kesasar pastinya, tapi memang ini merupakan bagian dari program Your Morning Coffee Gives Back. Dimana sebagai bentuk rasa syukur kami atas kesuksesan acara pagi yang disiarkan di 4 kota ini, kami memang ingin berbagi sesuatu untuk anak-anak terlantar atau tidak mampu di 4 kota : Bandung, Jakarta, Semarang dan Jogja.

10 tahun tinggal di Jogja, saya sebenarnya sudah sejak lama tahu keberadaan Panti Asuhan Balita ini. Kos saya sewaktu kuliah dulu malah satu wilayah dengan panti ini. Tapi baru hari inilah saya benar-benar masuk ke dalamnya. Masih mendingan lah dibanding Abe yang tanpa malu-malu bilang baru tahu ada Panti Asuhan bernama Sayap Ibu, yang notabene cuman berjarak 300 meter dari rumah kontrakannya. Hehehe. Sesampainya disana kami diterima oleh Ibu Oentarjo, pendiri yayasan yang sudah berusia 76 tahun tapi masih segar-bugar dan ramahnya luar biasa. Dan kami juga ditemani oleh Kepala Yayasan, Pak Jumari dan beberapa anak yang sedang disuapi makan pagi. Sambil bermain-main dengan anak-anak itu, kami juga diceritakan tentang latar belakang mereka, bagaimana mereka bisa ‘sampai’ di panti tersebut.

Keluarlah cerita-cerita yang mungkin sudah sering kita dengar selama ini. Mulai dari kisah orang tua yang menyerahkan karena ketidakmampuan kondisi keuangan, ada yang ditinggal di rumah sakit, bahkan ada yang ‘dibuang’ begitu saja, dimasukkan di dalam kardus dan diletakkan di depan Panti. Dan silakan mengelus dada, karena justru yang terakhir ini yang sering dialami oleh Panti. Cerita sedih yang sering kita dengar, sebenarnya. Tapi amat sangat berbeda rasanya ketika kita mendengarkan cerita itu sambil melihat sendiri anak yang diterlantarkan tersebut…

Yayasan ini juga mempunya Panti lain, yang memberikan perhatian (saya nggak mau memakai kata ‘menampung’) anak-anak dengan Cacat Ganda. Kebanyakan dari anak-anak tersebut mendapatkan cacat tersebut sejak usia masih kecil bahkan ada yang sejak dalam kandungan, karena faktor obat-obatan yang diminum oleh sang ibu ketika mereka berniat menggugurkan kandungannya tersebut. Juga ada yang menderita cacat, karena mereka ‘telat’ diselamatkan oleh orang yang menemukan mereka. Ada yang matanya buta karena ketika diketemukan, mata bayi ini sudah dikerubuti semut. Tuhan, saya bahkan sudah tidak bisa menceritakan lebih banyak lagi tentang kondisi-kondisi tersebut.
Menyesakkan.

Padahal anak-anak dihadapan kami itu begitu lucunya. Cantik-cantik. Ganteng-ganteng. Bersih dan sehat. Sedih banget melihat wajah dan tingkah anak-anak yang tidak bersalah itu. Dan marah banget rasanya memikirkan kelakuan orangtua mereka yang menelantarkan mereka begitu saja itu. Jadi pagi itu, sebuah pemandangan ajaib terjadi di ruang tamu panti tersebut : dua orang bujangan terlihat dalam keadaan muka merah dan mata berkaca-kaca. Abe yang kebagian jatah reportase terdengar beraaat..sekali suaranya. Saya yang menemaninya pun lebih gawat cengengnya. Saya malah udah gemetaran menahan airmata supaya nggak tumpah. Hehehe. Apalagi ketika selesai reportase, kami sempat melihat-lihat beberapa ruangan tempat anak-anak tersebut berkumpul. Dan tiba-tiba ada seorang anak kecil berambut keriting didalam box, mengangkat tangannya kearah saya. Minta digendong! Silakan dibayangkan sendiri bagaimana perasaan saya waktu itu…

Pengen nangis rasanya.

Nggak rela banget menyadari ada orang sampai tega meninggalkan dan tidak mau mengakui mahluk mungil yang ada didekapan saya itu. Sedih banget. Sedih banget menyadari betapa berat beban hidup yang ada dipundak bocah kecil ini, dan dia sama sekali belum tahu apapun tentang itu. Sumpah, seumur-umur saya belum pernah ngerasain perasaan campur aduk seperti ketika menggendong si kecil ini.

Tuhan memang punya caranya sendiri buat mengingatkan umatnya. Mengingatkan untuk selalu berterima kasih atas apa yang dimiliki, mengingatkan untuk selalu bersyukur atas apa yang sudah diberikan. Apapun dan bagaimanapun keadaan kita. Dan hari ini,kayaknya Tuhan udah sampai pada batas kesabarannya melihat saya yang masih saja sering sekali mengeluh, sering sekali merasa kurang, sering sekali merasa iri atas apa yang dimiliki orang lain. Itulah kenapa Dia pagi itu menuntun saya ke Panti itu. Dan Tuhan berhasil membuat saya merasa malu pada diri saya sendiri. Saya merasa begitu sempurnanya dihadapan anak-anak kecil itu. Orangtua yang lengkap, saudara yang lengkap, asal usul yang jelas, pekerjaan yang baik, kesehatan yang baik. Entah kemana semua itu hilang dari ucapan syukur saya. Tapi sepulang dari sana, saya tahu, saya sudah memulai hari saya dengan sesuatu yang baik. Dan bukan hanya mendapatkan pengalaman yang baik, tapi juga mendapatkan awal yang baik untuk kembali menjadi orang yang bersyukur.

  • Bersyukur itu bukan hal yang susah. Bohong kalau kita nggak bisa menemukan satu hal di diri kita, di hidup kita yang tidak membuat kita masih bisa bilang ‘terima kasih’, ‘thank God’, ‘alhamdulillah’, ‘Puji Tuhan’ atau yang lainnya. Dan Tuhan terlalu pintar untuk dibohongin.
  • Berbuat baik dan bersyukur itu bisa kapan saja. Menunggu moment yang dianggap ‘pas’ atau ‘di pas-pasin’, nggak ada salahnya juga. Menyumbang ke Panti Asuhan ketika merayakan ulang tahun, bersedekah ketika Bulan Ramadhan atau Lebaran datang, nggak salah juga. Tapi pertanyaannya, kenapa harus menunggu?
  • Berbuat baik juga tidak harus dengan sesuatu yang besar. Barang yang besar, atau uang dalam Jumlah besar. Panti Asuhan Sayap Ibu ini, setiap bulannya harus mengeluarkan dana sekitar 45 juta rupiah untuk mencukupi kehidupan anak-anaknya. Tapi toh, sumbangan ‘sekecil’ apapun, tetap mereka terima. Karena bagi mereka, tidak ada yang namanya ‘sumbangan besar’ atau ‘sumbangan seadanya’ apalagi ‘sumbangan kecil’. Ada yang menyumbang pisang setandan, roti satu bungkuspyn, tetap mereka data. Bahkan Pak Jumari sendiri sambil berkaca-kaca sempat berkata,

“Mas.. Bahkan kalau ada orang yang datang kesini, meluangkan waktunya sebentar untuk sekedar menggendong anak-anak ini saja, itu sudah sebuah bentuk sumbangan yang luar biasa…”

Terima kasih buat hari ini, Tuhan.

Advertisements

8 comments so far

  1. Ami Kumi on

    Hiks, terharu. Jadi inget dulu waktu jaman kuliah, mampir ke Sayap Ibu bareng temen2 kampus, ada bayi perempuan yang namanya Monik. Gak tau deh Mas, skrg masih di situ ato ngga. Kondisinya memprihatinkan juga Mas. Kepalanya lebih besar dari badannya. Jadi susah banget buat bangun dari tempat tidur. Hiks, sediiiiih… (T.T) Semoga mereka diberikan kebahagiaan dalam bentuk yang lain.

  2. ryudeka on

    Jadi inget juga jamannya siaran sore Ramadhan di Prambors tahun 2003 atau 2002, ya Kum. Isinya mau nangis mulu..
    Ada yang tentang Good Deeds, Minta Maaf, dll.
    Sambil mau nangis karena pasti kalo waktu buka puasa, di studio yang tempatnya di puncak gunung itu cuman ada kita berdua doang…

    Hehhee.. tapi juga hiks!

  3. pimbem on

    Alhamdulillah, terima kasih ya allah, telah engkau lengkapi diriku dgn kesehatan, keluarga, dan rejeki yg cukup.

  4. yessymuchtar on

    Mas Deka…

    Kamu benar..bersyukur itu mudah..dan berbuat baik itu tidak harus menunggu..

    Semoga Allah SWT selalu melindungi malaikat malaikat kecil di manapun mereka berada…

    Damn!….this is the second time you make me cry..hiks…

  5. Ikhsan on

    Memang manusia terlahir dengan sifat pelupa Mas.
    Lupa bersyukur akan nikmat yang telah diberi.

    Begitu banyak orang yang membuang bayi, sementara begitu banyak yang mengharapkan kehadirannya tapi belum diberi.
    *Hiks, dadaKu sesak Mas*

    Alhamdulillah, Aku tetap bersyukur padaMu ya Robb, sampai sekarang masih Kau anugerahkan nikmat kesehatan.

  6. nisa on

    Mas Deka,

    aku nangiiiissss… kesentil nih daku!
    makasih ya pencerahannya!

  7. […] saya akan Yayasan Sayap Ibu Yogyakarta (cerita tentang Yayasan Sayap Ibu ini dapat dibaca di Sanggar Bercerita kepunyaan mas Deka). Sebelum saya dipanggil pulang beberapa minggu yang lalu, saya sempat berniat, jika saya tidak […]

  8. shuszie on

    selama ini saya taw keberadaan panti tersebut dan sering lewat…temen saya sering kesana, saya sering diajak tapi g pernah mw ikut..karena saya rada takut jika melihat bayi. setelah saya baca tulisan dari mas ini saya menjadi sadar, bayi itu bukan hal yang patut untuk ditakuti tapi justru di berikan kasih sayang yang extra. Trimakasih mas uda membuka pikiran saya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: