Reduce, Reuse, Recycle

Eh, apa kabar kampanye ‘Stop Global Warming’, ya?

Tahun 2008 kemarin, yang namanya kampanye ‘Stop Global Warming’ kayanya kenceng banget kedengerannya. Bahkan udah dimulai sejak tahun sebelumnya. Mulai dari Al Gore dengan film ‘An Inconvenient Truth‘nya yang beneran bikin ‘inconevenient’ ngeliatnya itu, disusul kampanye peduli pemanasan global lewat “Live Earth Concert’ yang diadakan serempak di beberapa tempat di dunia, sama-sama mengajak semua warga dunia buat semakin peduli tentang hal ini. Bahkan nggak usah bermain di skala besar, di skala ‘lokal’ aja, tahun kemarin sepertinya banyak orang atau pihak yang berlomba-lomba menjadi ‘Agen Stop Global Warming’, mencoba mengkampanyekan aksi penyelamatan lingkungan dengan caranya masing-masing.

Ada supermarket-supermarket yang menyediakan kantong belanja yang ramah lingkungan, banyak brand-brand komersil yang tiba-tiba rajin bikin kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) yang berbau-bau ‘selamatkan lingkungan/penghijauan’, ada juga orang-orang fashion yang katanya sibuk membuat kampanye tentang penghijauan yang bilang : green is the new Pink! Itu berarti kalau loe pake baju warna Ijo, sama aja loe lagi pake baju warna Pink! Gitu, gak sih? Hehehehe. Intinya adalah, semuanya seragam dan kompak ingin mengatakan bahwa untuk menyelamatkan bumi ini dari pemanasan global itu sangatlah mudah, as easy as 1,2,3! Kita bisa menyelamatkan lingkunga, mulai dari skala yang terkecil dari dunia ini, diri kita sendiri.

Tapi makin kesini, kayanya kok makin lama makin nggak kedengeran lagi ya koar-koar tentang isu penyelamatan dunia. Nggak usah di skala internasional deh. Kejauhan. Di negara kita sendiri aja,coba? Udah nggak seheboh dulu lagi kayanya orang-orang membicarakan tentang Global Warming. Ibaratnya lagu hits, makin lama makin berkurang nilai kepopulerannya. Makin berkurang tingkat kenikmatan mendengarkannya, saking seringnya lagu itu diputar dan didengarkan, dan kalau dipaksakan terus lama-lama malah bikin eneg. Jangan-jangan memang iya. Isu tentang Global Warming jadi isu yang makin basi dan gak penting buat diangkat. Contoh kecil aja lah, bentar lagi kita Pemilu. Tapi dari sekian banyak iklan-iklan partai politik yang bersliweran di TV (dan tidak ada yang menarik itu), nggak ada tuh yang bilang kalau mereka berjanji untuk mendukung penyelamatan lingkungan!

Apakah orang-orang sudah tidak peduli lagi dengan kampanye penyelamatan lingkungan? Mmm.. sepertinya tidak. Paling tidak, masih ada satu orang di dunia ini yang terlihat cukup peduli dengan kelanjutan kegiatan ini. Orang itu bernama Dian Purnomo. Pertama kali berbelanja dengannya di Carrefour beberapa waktu lalu, saya sempat terbengong-bengong melihat dia terlibat pembicaraan panjang dengan mbak-mbak kasir, yang pada intinya dia menolak untuk memasukkan barang-barang belanjaannya ke dalam tas plastik yang disediakan oleh pihak Carrefour, dan memilih untuk membawanya langsung dengan menggunakan kedua tangannya! Walhasil, sepanjang jalan menuju tempat parkir, tangannya terlihat penuh dan sibuk ‘menggendong’ barang-barang belanjaannya. Sementara saya dan teman saya Ndoy, sibuk mendorong-dorong trolley berisi belanjaan kami. Buat saya, itu cukup ajaib!

“Aku kan mendukung program Go Green, Mas! Plastik itu kan ga bisa di recycle. Bisanya di re-used”

Oh, ok. Baiklah. Paling tidak, apa yang dilakkukannya itu cukup memberi inspirasi kami, teman-temannya yang kebetulan berbelanja bersamanya kemudian, untuk ikut-ikutan melakukan hal yang sama. Mungkin ada perasaan risih juga, kesannya kok kalau kita tetap memakai tas plastik yang diberikan oleh mbak-mbak atau mas-mas di bagian kasir itu dan sementara Dian tetap dengan aksi Go Green-nya itu, kita serta-merta jadi orang yang tidak peduli lingkungan. Gengsi dong, ah. Hehehe.

Termasuk kemarin ketika kami berbelanja buku di Gramedia Ambarrukmo Plasa. Kami sama-sama menolak menerima tawaran memasukkan buku-buku yang kami beli, dan membawanya dengan kedua tangan kami. Kebetulah waktu itu kami juga sedang tidak membawa tas. Hingga kemudian timbullah ide iseng untuk ‘memperlihatkan’ aksi Go Green versi kami ini kepada seisi mal! Bahwa kami mendukung kegiatan kampanye 3R : reduce, reuse, recycle. Jadi nggak perlu lah itu yang namanya memakai kantong plastik! Kantong plastik itu buruk, tidak bisa di daur ulang, dan.. pokoknya stop using plastics!

Berjalanlah kami ke penjuru mal yang cukup besar itu dengan percaya diri yang kepenuhan.

10012009047

Sampai kemudian beberapa saat kemudian, barulah kami berpikir,

Saya : Eh, ini kita bukannya malah seperti sedang pamer buku, ya?
Dian : Seperti, Mas…

Iya. Apalagi buku yang kami beli juga termasuk buku yang agak tidak umum, seperti : Seni Membaca Bahasa Isyarat dan Reksa Dana Investasiku. Uuh! Apa-apaan sih? Nggak cuma seperti sedang sok pamer buku. Saya malah merasa saya seperti sedang jadi anak sekolahan yang abis berangkat ikut les/bimbingan tes yang kerepotan membawa-bawa buku panduan alias modul belajar! Beberapa pasang mata pengunjung lain sempat melihat kami dengan tatapan keheranan. Kami yang mendapatkan tatapan seperti itu, cuma bisa bilang,

.. ah, masyarakat Jogja sepertinya belum siap dengan ini…

Hahahaha.. amit-amit mememang pedenya. Itu masih buku, lho ya. Nggak berapa lama kemudian, teman saya ini terlihat membeli sepasang sepatu baru. Saya yang melihatnya sedang membayar di kasir , dari jauh sudah bertaruh dalam hati saya sendiri, apakah dia juga akan menolak memakai kantong plastik yang diberikan padanya, dan keukeuh menenteng-nenteng sepatu barunya itu dengan tangannya. Sejauh mana dia bisa mengalahkan rasa malunya kelilling mal dengan menenteng-nenteng sepasang sepatu di tangan kanannya, dan segepok buku di tangan kirinya, atas nama menyelamatkan lingkungan!

Ternyata tidak! Dia masih cukup normal dan masih punya cukup malu yang tersisa, untuk kemudian tetap menerima kotak sepatu beserta kantong plastiknya, dan kemudian memasukkan buku-buku belanjaannya tadi kedalamnya. Hahaha. Ya ya ya. Pelan-pelan ya, mbak. Seperti Bunda Teresa yang bilang, “..kita tidak bisa merubah dunia ini dengan hal yang besar. Tapi kita bisa merubah dunia ini dengan melakukan hal kecil tapi dengan penuh cinta kasih... Pelan-pelan, Mbak. Menyelamatkan lingkungan itu butuh waktu juga. Edaaaaannnnn……, lah!

Advertisements

9 comments so far

  1. dian on

    owwwwwhhh, aku terharu membaca tulisan ini, sambil senyum-senyum dengan dada kepenuhan juga.
    eh, hari ini terulang lagi lho, dengan gethuk depan mirota batik.
    dan mas… hebatnya lagi, perusahaanku juga ikut2an. mereka menghentikan langganan salah sebuah majalah wanita. katanya hemat kertas, padahal aku tahu pasti, alasan yg lebih pas adalah, anggarannya dipotong, kqkqkq
    blessing in disguised. alon-alon waton-waton kelakon-kelakon…

    eh, tapi foto yg satunya mana?
    sini biar aku bikin tulisan yg related juga..

  2. ryudeka on

    OH!

    Jadi kau belanja Getuk, dan membawanya langsung dengan kedua tanganmu?? Atau jangan-jangan langsung kau habiskan dijalan…

    Go Green bukan berarti bebas berlaku jorok ya..hahahhaa…

    Oh, betul itu. Untuk hemat kertas, sebaiknya berhenti langganan majalah & koran. Kecuali majalah dan koran yang BARTER iklan dengan perusahaan kita.

    Betul???? šŸ˜›

  3. dian on

    hwakakakakak…
    mari kita maksimalkan dunia maia..
    (lebih sering chatting dan facebook-an maksudnya)
    šŸ˜›

  4. kembang goyang on

    […] itu, terciptalah banyak percabangan pembicaraan. Dari mulai isyu Global Warming yang menciptakan tulisan luar biasa ini, sampai betapa kita harus tetap meningjak tanah, jika suatau saat kita sudah menjadi orang besar, […]

  5. yessymuchtar on

    Hai mas!!

    udaa gitu aja dalu..ntar balik komen benerannya…lagi di panggil bossnya nih hehehe

  6. yessymuchtar on

    i am back!!

    go green ya?

    Emm….

    Apa ya??

    entar lagi komennya boleh gak?
    Baru sampe rumah..

    mandi dulu ya!!!

  7. dian on

    aduuuh…
    mbak Yessy ini, mentang2 gak pake kertas jadi nggak boros, jangan terus bikin penasaran donggg…

  8. thewaskitas on

    D, kalo dianporno mah… go green bangeeettt. Makanya jangan kaget kalo suatu saat dia berubah jadi swamp thing… hehe, pisss Din. go green banget kan?

  9. dwi on

    ayooo… go green!!
    tolak meh beli belanjaan klo bawa tas sendiri… klo belinya dikit nggak usah pake kantong plastik…
    siapkan kantong plastik sendiri kemana pun anda pergi-buat belanja maksudnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: