Spooky Part2

Apa persamaan antara orang latah dan orang penakut?

Jawabannya simpel : sama-sama sering menjadi bahan ‘hiburan’ bagi orang-orang disekitarnya. Lebih seru lagu kalau orang itu adalah orang penakut yang juga latah. Sempurna! Hehehe. Jahat ya, sukanya kok menghibur diri dari kesusahan orang lain. Jangan dikira orang yang latah itu nggak capek, lho. Dulu saya punya seorang teman cewek yang latahnya sudah luar biasa parah, yang latahnya tidak hanya dalam tingkat ‘mengulang perkataan orang‘ saja, tapi sudah dalam tahap ‘mempraktekkan apapun yang diperintahkan oleh orang lain‘. Saya nggak tau, dia itu memang latah atau pada dasarnya orang yang penurut. Hehehehe. Pokoknya apapun yang diteriakkan orang dihadapannya, pasti seketika itu juga akan dipraktekkannya. Mulai dari yang sopan seperti : “Jongkok!” atau “Salam Putri Indonesiaa!!” atau “Hormat, grak!”, sampai yang agak kurangajar seperti… ya you know lah, seputar angkat-mengangkat  atau copot mencopot sesuatu. Hehehe.

Hingga suatu malam ketika kami sedang dugem *ohh..istilahnya  masih ‘dugem’ ya*,  si mbak  yang latah ini ikut. Salah dia sendiri, sebenarnya. Itu sama saja bunuh diri, bukan? Benar saja, hanya dalam hitungan menit, dia tau-tau sudah ada diatas meja dan menjadi ‘superstar’ club malam itu. Nggak disuruh melakukan sesuatu yang diluar kesusilaan, sih. Hanya seputar melakukan koreografi tarian saja. Tapi tetap aja latahnya di tempat yang banyak orang (dan banyak properti juga!), walhasil makin banyak pula kreasi-kreasi kegiatan yang diperintahkan oleh orang-orang disekitarnya. Hingga keesokan paginya, dia menelpon saya dan bertanya,

“… eh, tadi malem emang aku ngapain sih.. kok tadi pas bangun, badanku pegel2 semua..  kaya abis marathon gitu..

Saya sih nggak tau apa dia beneran pernah ikutan lari marathon atau emang dia aja yang terlalu lebay membuat perbandingan, tapi saya baru sadar kalau ternyata orang latah itu capek! Melakukan sesuatu tanpa disertai kesadaran itu ternyata melelahkan.

Tapi disini saya nggak akan ngomongin tentang orang latah. Saya mau ngomongin tentang orang penakut. Saya mau ngomongin tentang diri saya sendiri, ceritanya. Hehehe. Karena ternyata baru saya sadari, orang penakut juga bisa punya nasib yang hampir sama dengan orang-orang yang latah, seperti yang saya ceritakan diatas barusan. Sama-sama bisa jadi ‘bahan hiburan’ buat orang lain, walau sebenarnya kita yang memberikan hiburan itu sebenarnya juga capek.

Seperti yang sudah pernah saya ceritakan di post-post sebelumnya, ceritanya, saya bukanlah termasuk pecinta film bertemakan mistik, horror, dan teman-teman sekerabatnya itu.  Karena ya itu tadi, saya tidak punya cukup nyali untuk melihat sosok-sosok seram di film. Dan hal itu diperparah denga kebiasaan saya mengingat-ingat sesuatu yang tiak penting untuk diingat! Akibatnya, dulu seusai nonton film ‘Pocong 2′, saya sampai nggak berani lama-lama memejamkan mata ketika mandi di shower gara-gara kebayang adegan Revalina Temat yang ‘nggak sendirian’ ketika sedang mandi. Dan satu yang pasti juga, saya termasuk orang yang cukup sensitif dalam menangkap suara. Dengan kata lain : kagetan. Hahaha.

Makanya, saya cukup sering menjadi pilihan teman-teman saya, untuk menjadi partner mereka mennonton film horor. Karena bagi mereka, melihat adegan saya sibuk terkaget-kaget, jauh lebih menarik dibandingkan film yang ditonton. APAPUN FILMNYA. Agak kurang ajar memang sebenarnya mereka. Tapi yang aneh juga sayanya, kok mau-maunya diajak nonton. Udah tau penakut. Udah tau bakal kaget. Tapi terus terang, buat saya, ada kenikmatan sendiri ketika menonton film-film horror. Saat adrenalin kita naik, seluruh badan menegang, nafas tertahan dan kemudian melampiaskannya dengan berteriak sekencang-kencangnya. Rasanya menyenangkan sekali. Saya yang senang, nggak tau penonton lainnya yang mungkin malah sebel. Apalagi ketika kita bisa memukul teman sebelah kita saking kagetnya. Rasanya abis itu legaaa…, banget. Wah, ternyata selain penakut, saya juga punya kecenderungan menikmati yang namanya kekerasan. Hehehe.

Hal yang sama terulang lagi hari Kamis kemarin, ketika akhirnya saya bergabung dalam sebuah klub ajaib bernama ‘MAJU TEROR’. Singkatan dari “Malam Jumat Tema Horror. Ya, hari gini yang namanya plesetan masih tetap ‘happening’ di Jogja. Ternyata. Hehehe. Ini adalah sebuah kegiatan mingguan yang diadakan oleh crew Swaragama FM, dimana kegiatannya adalah menonton film horror bareng seluruh crew on air dan off air. Termasuk juga mengajak pendengar yang beruntung untuk ikut bersama kami. Agak absurd juga sebenarnya. Pendengar itu apakah termasuk beruntung, ataukah malah sebaliknya ya? Terpilih, menang, kok untuk ditakut-takuti. Hahaha.

n635230278_1201781_5295

Sejak minggu lalu, sebenarnya saya sudah menolak untuk bergabung. Karena saya tau apa yang akan terjadi kalau saya menjadi satu diantara mereka. Hehehe. Kemungkinannya sudah cukup jelas : akan ada seseorang yang terluka karena saya. Baik itu terluka karena pendengarannya terganggu akibat teriakan-teriakan kaget saya, atau terluka secaraa fisik karena saya pukul-pukulin, atau bahkan terluka secara perasaan karena sebel banget meliat kelakuan saya itu! Tapi karena ‘ancaman’ saya itu tidak dianggap oleh tim panitia, akhirnya saya memberanikan diri untuk ikut di minggu kedua pelaksanaan MAJU TEROR

Akhirnya pilihan film kami minggu ini adalah sebuah film Thailand berjudul “The Coffin“.

coffin

Cerita film ini terinspirasi dari sebuah upacara yang benar-benar terjadi di sebuah propinsi di Thailand. Upacara ini disebut “Lhong Tor Tai” atau “Tidur di dalam peti-mati“. Mengapa mereka ingin tidur di dalam peti mati dan apa yang dilakukan di dalam peti mati tersebut? Pada dasarnya mereka percaya bahwa upacara ini bisa membantu menghilangkan nasib buruk mereka. Mereka akan berbaring di peti mati dengan membawa sebuah harapan, kemudian para pendeta akan memanjatkan doa untuk mereka. Setelah upacara tersebut, semua nasib buruk mereka akan tertinggal di dalam peti mati itu, dan mereka terasa lahir kembali. Tapi yang nggak mereka ketahui, sebenarnya semua nasib buruk yang hilang dari mereka itu, tidak pernah benar-benar hilang. Tapi berpindah.

Itu saja kesimpulan yang bisa saya tangkap. Karena secara keseluruhan jalan cerita, termasuk konflik2 para tokoh utamanya, saya nggak mudeng blas. Hehehe. Bukan, bukan karena jalan cerita film ini demikian njelimet-nya walau memang alurnya gak maju mundur. Tapi memang saya aja yang memilih nggak mau konsen mengikuti jalan ceritanya. Karena saya tahu, kalau saya bener-benar konsentrasi menonton, saya pasti akan jauh lebih parah ‘kagetnya’.

Lha wong sudah bolak-balik mainan HP, nutupin mata pake tangan, bahkan sudah ‘menyumpal’ kedua telings saya dengan Ipod pun (!), tetap saja saya yang paling sering kaget, paling sering teriak, dan paling sering memukul-mukul teman sebelah saya Alya yang (untungnya) punya badan yang enak untuk dipukul. Memalukan sekali. Tapi yang paling parah adalah ketika salah seorang anak off air bernama Donny yang duduk dibelakang saya berniat menakut-nakuti teman sebelah saya dari arah belakang, justru malah saya-nya yang lebih dulu kaget dan (tentu saja) lebih dulu teriak kencang! Duh..

Tapi paling tidak, keputusan saya untuk bergabung malam itu tidak sia-sia. Karena di penampilan perdana saya malam itu *edannn*, saya langsung dinobatkan sebagai ‘The Best Secreamer of The Week’! Hehehehe. Curiganya sih gelar ini akan berulang kembali di minggu-minggu berikutnya. Nggak banggga juga, sih….. Hehehe.

Advertisements

7 comments so far

  1. elroms on

    Hup..hup..hup..
    akhirnya bisa comment pertamax..

    Aduuh …artikelnya tentang apa y? lupa blom baca

  2. yessymuchtar on

    aduhh..pertamax lagiiii…
    *dan semakin jelaslah tanda tanda itu mas*

    jadi ini postingan yang menjelaskan poto poto di facebook itu yaaa

    eddaannnn

    orang nonton kok ya pake headset dengan ipod wekekekeke

  3. varda on

    ‘pendengar yang beruntung’ itu jumlahnya berapa biji ya? kalo crew nya sebanyak itu, ‘pendengar yang beruntung’ cuma 1 biji, saya mending nggak beruntung aja deh. bakalan jadi korban bulan-bulanan tuh >.<!

  4. ryudeka on

    Hahaha.. ini apa2an sih ya.. Kok pada cepet2an jadi yang pertama komen.. Tapi paling tidak, ada penyegaran di posting ini karena comen pertama tidak datang dari foto seorang perempuan cantik berbaju merah.. Hehehehe…
    Selamat untuk Elrom!

    Yessy, iya itu dia.. tadinya mau memasukkan foto2 di Fesbuk itu disini. Tapi kok nanti saya tambah malu 😛

    Varda, yang ‘beruntung’ itu ada 2 orang. Tapi tetep kok, mereka kita cuekin. Hwaahahahhaha…

  5. varda on

    Oalah… teteup yaaaa… pendengar yang beruntung itu seringnya dicuekin. Hyahahaha.. betewe masnya sekarang di Swaragama ya? (kok saya baru sadar ya?)

    Jadi inget, dulu saya udah pernah jadi pendengar Swaragama yang beruntung dan udah masuk TV nasional dilihat sama banyak penduduk bumi bagian Indonesia. *narsis_mode_on* Untung nggak beruntung buat ditakut2in.

  6. nino on

    Hmm jadi inget kegiatan ini yang dulu hampir tiap minggu kita lakukan juga ya mas… bareng sama qdut, tetek, Bony, Adit, dkk pas masi jaman2nya shutter, ju on dll

  7. ryudeka on

    Oh..
    Iya. Jaman nontonnya di ruang produksi yang cuma berukuran 3X3 dan gelap pula. Nonton di depan komputer yang layarnya segede upil, yang nonton ada lebih dari 4 orang! Hehehe. Niat!

    Yang kalo kaget ga cuma teriak, tapi pake ajara kejungkal dari kursi segala..hehehe..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: