Father Figure

Sebagai orang yang setiap pagi sering menyempatkan diri meng-update informasi selebritas di pagi hari, seharusnya saya tidak perlu kaget lagi kala menyaksikan sebuah berita yang berisi tentang perseteruan sepasang suami istri, atau bahkan mantan suami istri, seputar hubungan rumah tangga mereka. Seharusnya, ya?

Tapi minggu lalu, saya sempat kaget yang amat sangat ketika menyaksikan berita tentang aksi pelaporan dari mantan istri seorang vokalis band yang menyatakan dia baru saja mendapat perlakuan tidak menyenangkan dan mengarah pada aksi Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dari manta suaminya. Biasalah, sambil menangis-nangis dia memberikan keterangan kepada para wartawan yang sepertinya kemudian memblow-up berita itu menjadi berita utamanya.

Bukan aksi tuduhan KDRT itu sebenarnya yang membuat saya kaget. Karena –sekali lagi, itu sudah sering terjadi dan selalu ditampilkan dalam infotainment, bukan? Tapi yang jelas-jelas membuat saya kaget adalah pernyataan dari ayah si mantan suaminya yang dengan santai-nya berkomentar singkat tentang perkara yang menyeret nama anaknya itu :

…. KDRT itu kan baaaaa…nyaakk macamnya… kalau cuma sebatas tampar-tampar saja sih, itu mah masih wajarr… Toh tidak sampai menyebabkan berdarah.. atau patah tulang, lah…”

WHATTTT????

Sumpah, walaupun saya biasanya suka mendramatisir sesuatu, tapi pernyataan si bapak itu tadi asli sesuai dengan apa adanya. Tidak lebih, tidak kurang. Saya sendiri sempat tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Karena reaksi dan ekspresi si bapak ketika mengatakan hal itu amatlah sangat datar dan tanpa rasa berdosa sama sekali. Memprihatinkan sekali.

Saya prihatin, karena ternyata konsep ‘kekerasan’, terutama sebuah tindak kekerasan yang dilakukan dalam rumah tangga, bisa berbeda-beda artinya untuk setiap orang. Kok bisa ya? Apa bapak ini tidak tahu, bahkan sebuah ucapan bernada hinaan kepada seorang istri itu juga bisa dikategorikan sebagai KDRT? Apa dia juga tidak pernah diberi tahu, bahwa seorang suami yang melarang istrinya untuk bersosialisasi atau berkumpul dengan keluarga atau saudara-saudaranya, juga bisa dikategorikan sebagai KDRT? Pastinya bapak ini tidak tahu. Lha wong MENAMPAR aja menurut dia adalah sebuah perbuatan yang bisa dimaklumi kok…..

Terlepas dari benar/tidaknya tuduhan si vokalis band ini melakukan kekerasan itu (menampar dan sebagainya), bukan salah saya dong kalau kemudian saya menganggap kalaupun dia kemudian terbukti bersalah, maka si bapaknya ini juga bisa dipersalahkan? Lah cara dia mendidik anaknya aja kaya begitu? Saya sih tidak tahu, jangan-jangan aksi menampar memang sudah menjadi budaya di keluarga mereka. Mungkin itu malah menjadi sebuah ciri khas keluarga mereka, yang menjadikan tampar-menampar adalah sebuah wujud perhatian. You know, kalau biasanya yang dilakukan orang ketika bertemu adalah berjabat tangan atau cium pipi kanan-kiri, makan di keluarga mereka adalah saling menampar!

Saya memang belum pernah merasakan yang namanya hidup berumah tangga. Belum sama sekali. Tapi dari dulu sampai sekarang, saya juga belajar untuk mencari tahu, apa-apa saja yang perlu dipelajari untuk bisa melanggengkan jalan sebuah perahu yang bernama “Rumah Tangga” itu. Dan menurut saya, keinginan untuk SALING MENGHORMATI (respect) adalah salah satu janji yang paling penting, diantara janji-janji untuk membina hubungan lainnya. Itu yang harus dimengerti. Itu yang harus dipelajari.

Itulah mengapa saya bisa sangat benci sekali dengan pernyataan si bapak itu. Clearly, dari pernyataan itu lagi-lagi tersimak jelas, betapa perbuatan kekerasan fisik (terhadap perempuan) adalah hal yang bisa dimaklumi. Dan yang membuat saya semakin tidak suka, karena pada saat yang bersamaan, saya justru sedang dihadapkan pada sebuah moment yang sangat berkebalikan dengan hal itu. Sebuah moment dimana saya justru mendapat contoh yang indah sekali, tentang bagaimana seharusnya seorang pria memperlakukan seorang perempuan!

Ayah saya.

36 tahun sudah usia pernikahan kedua orang tua saya. 36 tahun juga, saya tidak pernah melihat sekalipun Ayah saya melakukan perbuatan hal yang merendahkan harga diri ibu saya. Bertengkar pasti pernah, tapi semua selalu bisa diselesaikan dengan tanpa melibatkan sebuah aksi kekerasan. Ayah begitu menghormati perempuan yang dinikahinya itu. Hingga saat ini, saat dimana saya tidak pernah melihat sebuah cobaan ujian hidup yang begitu menguras airmata kami sekeluarga, selain di satu tahun terakhir ini. Saat dimana Ibu akhirnya harus rela melakukan kemoterapi untuk Kanker Payudara yang dialaminya. Hampir setengah tahun sudah Ibu menjalani proses kemo ini. Dan sudah hampir setengah tahun juga, kondisinya melemah, sosoknya terlihat semakin kecil, rambutnya rontok helai demi helai. Masih ditambah dengan deraan rasa mual yang tidak henti. Semuanya memang harus Ibu alami, sebagai efek dari Kemoterapi yang dilakukan.

Kami semua tahu bahwa kami akan berhadapan dengan itu. Tapi tetap tidak ada perasaan nyaman, ketika melihat orang yang kita cintai terbaring tidak berdaya. Apalagi saat ini, keempat anaknya sudah tinggal jauh dari rumah, sibuk dengan berbagai permasalahannya masing-masing, sehingga tinggallah Ayah yang sendirian menemani Ibu. Ayah yang dengan sabar selalu mengantarkan ibu di tengah malam buta untuk ke UGD setiap kali Ibu merasakan sesak didadanya. Ayah yang selalu membaluri lengan ibu dengan minyak kayu putih untuk meredakan lengannya yang bengkak karena selang Infus yang berganti berulang kali. Ayah yang juga dengan lapang dada pergi ke pasar, berbelanja dan memasak makanan untuk ibu di rumah.

Ayah ketika berbelanja di Pasar Tukangan

Ayah ketika berbelanja di Pasar Tukangan

Semua itu Ayah lakukan dengan tanpa mengeluh. Ayah saya, teman-teman. Seorang purnawirawan Angkatan Darat berpangkat Kolonel, yang selama ini saya kenal sebagai orang yang keras, tidak suka berbasa-basi dan pendiam. Baru sekarang kami seolah tersadarkan, dibalik segala sikapnya yang cenderung dingin, tersimpan sebuah bongkahan rasa cinta yang luar biasa kepada ibu dari keempat anak-anaknya.

Mendampingi anggota keluarga yang sedang mendapat perawatan kemoterapi adalah bukan sebuah perbuatan yang mudah. Bukan sama sekali. Tapi Ayah bisa melakukan itu dengan kesabaran luar biasa. Sehingga kami anak-anaknya menjadi sangat maklum sekali, jika Ibu selalu mencari ayah setiap kali kami bergantian yang menjaganya, dan Ayah pergi sebentar untuk shalat di Masjid rumah sakit.

Tapi bagaimanapun, Ayah tetaplah seorang manusia biasa. Bukan malaikat (walau saya melihat dia adalah sebuah perwujudan wakil dari Tuhan dalam wujud seorang laki-laki berambut putih dan berumur 63 tahun). Seorang manusia biasa, yang bisa marah ketika Ibu tidak mau memakan hasil masakan yang telah dibuatnya dengan susah payah (walaupun akhirnya beliau bisa memaklumi, karena hal itu terjadi akibat dari rasa mual yang amat sangat sebagai akibat dari kemoterapi Ibu. Ayah juga manusia biasa yang bisa menangis ketika mengabari anak-anaknya, bahwa ibu mereka baru saja mengalami kejang dan akhirnya terjatuh pingsan ketika ditengah pengobatan.

Sekali lagi, semua pun pasti akan sakit menyaksikan anggota keluarga lainnya jatuh sakit. Tapi pada akhirnya, tidak ada orang lain yang paling bisa mendampingi dan memberikan penghiburan serta kekuatan kepada si sakit, selain keluarga sendiri sebagai orang terdekat mereka. Dan Ayah saya sudah memberikan bukti itu dengan segala kesederhanaan cara yang sangat indah. Cara yang bisa dilihat dan dijadikan contoh oleh anak-anak, menantu dan cucu-cucunya. Betapa hebatnya pengabdian cinta Ayah saya kepada Ibu. Dan betapa begitulah seharusnya seorang pria memperlakukan seorang perempuan.

Begitu jelas terasanya kasih sayang mereka, hingga beberapa minggu lalu saya sempat berkaca-kaca ketika melihat status adik saya di Facebook. Disitu tertulis :

.. I want to be a woman like my MOM. And find a man just like my DAD

Advertisements

19 comments so far

  1. yessymuchtar on

    Well, masnya.

    terharu banget baca tulisan ini, cerita tentang orang tua memang selalu sukses membangkitkan rasa gamang dan syahdu dalam hati.

    Sama seperti ayahnya mas Deka, papa Yessy juga seorang yang super dingin, tidak terbiasa berakrab-akrab ria dengan istri dan anak-anaknya. Tapi butuh keberanian sejati untuk bisa datang ke sebuah mall dan belanja pakaian dalam wanita untuk istrinya…

    Yess mas, itu yang papaku lakukan..:)

    Love my parents much…and thankyou masnya.

  2. yessymuchtar on

    Oh…aku pertamax…*terharu*

    • ryudeka on

      Akhirnya ya.. setelelah sekian lama hahaha…selamat!

  3. hawe69 on

    .. I always wanted to be like my Mom too.. but DIDNT want a husband like my Dad.. but.. i’m having one, same arrogant as him! Karma! hahaha

    tapi semarah-marahnya alm.bokap gw yang sifatnya mirip preman (julukan dia si-Ali-Sinting hehe), gak pernah sampai mukul nyokap gw..

    tiap keluarga beda, Mas.
    beruntung kalau kita dibesarkan di keluarga yang penuh cinta-kasih.

    good post! 🙂

    • ryudeka on

      Bener..
      Setiap keluarga itu berbeda-beda ya. Kalau kita dikelilingi dengan keluarga yang penuh cinta kasih, bersyukurlah. Kalaupun tidak, bersyukur jugalah.

      Karena bisa kita jadikan pelajaran supaya hal itu tidak dijadikan alasan untuk berbuat yang sama kepada anak-cucu kita berikutnya.. 🙂

  4. simplylee on

    Wah, tidak pernah aku se-terharu ini membaca postinganmu… Salam buat ayah dan ibu ya, Mas…

    • ryudeka on

      Aku juga hampir mewek ketika menuliskan postingan ini ko, Lee.. hehehe…

      Thanks, besok aku sampaikan salammu.

  5. Rosa on

    Ndree…
    Jadi nangis abis baca postingan kamu… Salam untuk papa & mama !! jadi kangen sama my parents, kebalikan dari ceritamu…ibuku justru yang sabar merawat ayahku waktu sakit.

    • ryudeka on

      Send my regards to yr parents too, ya Ci.. 🙂

  6. arman on

    yah itu lah udah ada pergeseran nilai2 emang ya… masa tampar2an dibilang wajar dan gak dianggap sebagai kekerasan…. yang begini ini emang menyeramkan… makanya sekarang orang gampang banget dikit2 bunuh, dikit2 mukul… seraaammm…

    • ryudeka on

      Betulll..
      Mendingan kaya kita ya, Bang..
      Dikit-dikit ngeBlog… hehehe

  7. Rheiii on

    . .nice story, bner2 menyentuh hati. Aku berharap someday aku juga bisa melihat bukti cinta nyata dr ayahku buat ibuku. . .

  8. liyak on

    *mbrebesmili*

  9. hanyanulis on

    Kayaknya cocok deh mas,klo situ jadi presenter acara gosip?.Ulasannya mantep bgt kuwi. hingga lebih tajam dari pada pisau dapur…hehehehe

  10. Ria on

    beruntung sekali bundamu mas 🙂
    really nice story

  11. Adit on

    Ayah si vokalis band itu emang konyol, satu lagi pernyataan dia adalah : “tampar tampar sayang kan gapapa….” Aneh, pikirnya lagu apa 😀


    Btw, nice story mas, I respect ur father did and will do 🙂

    Yang sabar Mas, doa terus jgn putus…

    • ryudeka on

      Emang ada ya, lagu yang liriknya ada kalimat “..tampar-tampar sayang?” atau “Tampar Tapi Sayang”?? HEheehe..

      Thank you, Ceng..

  12. liyak on

    aku gak liat di tv, tapi baca di nova. disitu bpknya juga bilang : pasha memang pemarah, mungkin menurun dari saya. weleh

  13. savrina on

    hwaaaa… mataku berkaca2 baca tulisanmu mas..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: