‘Kakak’

Tidak ada gosip yang lebih seru daripada gosip di tempat kerja.

Betul? Hehehe. Ya, setelah beberapa kali bergonta-ganti dan berpindah-pindah tempat kerja, saya akhirnya semakin tahu, bahwa salah satu hal yang seru dan selalu dinanti (dan menjadi hiburan tersendiri ditengah terjangan deadline pekerjaan setiap harinya) adalah acara membahas gosip-gosip terbaru yang terjadi di lingkungan kerja kita. Bahkan mungkin bukan hanya gosip yang ‘terbaru’. Gosip-gosip lama pun biasanya tetap bisa menarik untuk dibahas, tinggal membumbuinya lagi dengan sedikit variasi saja   🙂

Walau, tentu saja, tidak semua orang suka dengan yang namanya gosip. Mungkin dianggap bisa menganggu konsentrasi bekerja, atau bahkan bisa merubah suasana kantor menjadi tidak kondusif atau apapun alasan lainnya. Tapi biasanya, toh ketika para karyawan sedang berkumpul makan siang, misalnya, walaupun awalnya yang dibicarakan adalah hal-hal seputar update berita terbaru yang terjadi, pasti ada saat dimana topik tentang gosip di kantor pun keluar juga. Dan mereka yang mengaku tidak suka bergosip itupun biasanya tetap ikut bergabung, walau hanya memilih sebagai pendengar saja. Tetap aja berdosanya, to?? Hehehe.

Dan serunya sialnya, biasanya yang sering menjadi korban bahan omongan kita para karyawan adalah seseorang yang memiliki level dan posisi lebih tinggi atau bahkan tertinggi di kantor. Si Bos.

Dimana-mana juga sama, sudah jadi kebiasaan umum. Ketika para pekerja atau karyawan sedang berkumpul, topik yang paling sering diperbincangkan pasti adalah tentang atasannya. Apapun. Semua dikupas setuntas mungkin. Mulai dari A sampai Z. Mulai dari yang ada hubungannya dengan kinerja dan kebijakan-kebijakan yang dibuatnya di kantor, sampai dengan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan sama sekali, misalnya tentang wangi parfumnya yang aneh, hobinya memakai kacamata hitam didalam ruangan ataupuan gosip seputar rumah tangganya. Tanpa ampun, pokoknya. Pokoknya semua hal-hal ‘aneh’ yang dimiliki oleh si Bos sampai yang paling kecil sekalipun, anak buahnya bisa tahu. Tahu betulan atau cuma sok-sok an tahu biar gosipnya makin seru, ya nggak tahu juga.

Entah bagaimana dengan pengalaman di tempat kalian bekerja, tapi beberapa kali saya bekerja di kantor yang berbeda, dari dulu sampai dengan sekarang, ternyata kebudayaan ngomongin si Bos ini memiliki satu kesamaan. Yaitu adanya usaha untuk ‘menyamarkan’ nama oknum/tokoh yang menjadi sentral pembicaraan (dalam hal ini adalah Si Bos) dengan menggantikannya dengan kata ganti : “Kakak” atau “Abang” atau “Mas”. Contoh kecil, misalnya

Si A : Ih bener-bener deh!.. Dari ngeliat cara jalannya aja udah nyebelin banget ..
Si B : Beuhhhhh… itu belom seberapa. Kamu baru ngeliat cara jalan orangnya. Kita yang ada di divisi off air, udah sampai eneg ngeliat mobilnya masuk parkiran kantor!
Si A : Wakakakakakaa… ada toh tahapannya toh??
Si B : Tungguu aja..
Si C : Eh… Ngomongin siapa sih??
Si B : Halah.. Ituuu lhoo.. Mas mu itu lhoooo… !

Dan  si oknum C inipun langsung mahfum,siapa yang menjadi tokoh sentral pembicaraan ini.

Atau begini,

Oknum A : Eh Nyet… *dengan nada beribisik nan nyinyir dan siap untuk begosip*
Oknum B : Apaan..
Oknum A : Bilangin tuh Kakak lo tuh.. Kalo udah masuk kantor, kacamatanya dilepas, kenapa… Kaga takut kesandung, apa??
*sambil wajahnya diarahkan ke arah si Bos yang terlihat percaya diri sekali dengan kacamata hitam andalannya*

Sounds familiar? 🙂

Saya sendiri tidak tahu, sejak kapan penggunaan kata “kakak” ini mulai sering dipakai untuk menggantikan nama asli  atasan yang sedang menjadi bahan perbincangan anak buahnya. Memang ada kata ganti lain yang juga sering digunakan seperti, “.. Oom lu tuh!” atau “…. itu lhoo.. mbakyu ne Deka” atau bahkan “.. siapa lagi kalo bukan ‘adek’nya si Deka”.  Tapi sepertinya tidak sesering digunakannya kata ganti ‘kakak’ ini. Yah, kata apapun yang dipakai untuk menggantikan nama asli si korban perbincangan,  sebenarnya tujuann sama dan jelas: supaya yang bersangkutan tidak tahu kalau anak buahnya sedang memperbincangkannya. Karena siapa tahu, diantara peserta gosip itu, ada satu diantaranya yang dekat, menjadi orang kepercayaan atau menjadi mata-matanya si Bos. Bahaya!

Yah, mungkin itulah resiko menjadi seorang Bos. Bisa serba salah. Kalau dia melakukan sesuatu yang baik, maka bisa jadi itu bukanlah sesuatu yang akan dianggap istimewa oleh bawahannya karena, “… ya itu udah takdir lo harus bisa jadi contoh buat anak buah! “. Tapi ketika dia melakukan sesuatu yang dianggap ‘ajaib’, ‘aneh’ atau ‘miring’, maka siap-siaplah menjadi bahan omongan seisi kantor.

Makanya, saya kok suka sekali dengan ungkapan Nelson Mandela yang tercantum di salah satu pojok harian Seputar Indonesia hari ini:

“…. Memimpinlah dari belakang dan biarkan yang lain didepan ketika Anda merayakan kemenangan. Saat bahaya datang, berdirilah paling depan, maka orang akan mengormati Anda..”

Ah… ending yang tidak nyambung dan terlalu serius untuk topik bahasan yang sama sekali tidak serius, ya?  😀   Have  a nice weekend, everybody!

Advertisements

12 comments so far

  1. didot on

    “…. Memimpinlah dari belakang dan biarkan yang lain didepan ketika Anda merayakan kemenangan. Saat bahaya datang, berdirilah paling depan, maka orang akan mengormati Anda..”

    bener juga ya? mungkin perilaku bos yg digosipkan salah kali,alias berkebalikan dengan kata2 nelson mandela diatas (saat merayakan kemenangan didepan,saat bahaya datang di paling belakang ),makanya digosipin deh:D

    • ryudeka on

      Hahaha… You got the point, Dot!

  2. Irni on

    setuju mas, gak usah berlebihan kalo cuma “gila hormat”, saya justru pernah punya pimpinan yang mimpin sok di depan, tapi saat ada masalah bukannya menghadapi masalah itu, tapi justru mencari “kambing hitam” untuk menutupi masalah itu. hmmmm….. its a big problem, kalo punya leader kayak gitu

    • ryudeka on

      Mmm.. walau pemimpin itu ada di ‘belakang’, belum tentu juga lho dia lantas tidak suka mencari ‘kambing hitam’, Ni.. Hehehe….

  3. Reva Liany Pane on

    Dulu, sebelum ada junior atawa asisten (halah…!!), belum pernah terpikirkan sedikitpun olehku betapa rumitnya jadi atasan. Padahal cuma membawahi dua orang!

    Satu hal, kita tidak akan pernah bisa menentukan apa yg orang omongkan ttg kita. At least, karena berada di lingkungan kerja, yang plg kujaga saat ini adalah performa kerjaku dan management team yg baik. So, walaupun aku sering kali nongol dengan pakaian yg mengundang decak kagum di kantor (Jumat kemarin aku tampil dgn celana Hareem 3/4 coklat, kemeja putih lengan balon, dan scarf coklat), ataupun ttg suara bersinku yg keras bgt sampe satu kantor dengar, so far belum ada laporan kalo ada yg gosipin hasil kerjaku 😉

    And that’s all I need…

    Eniwei, gosip apa sih yg pernah kmu temukan ttg dirimu? 😀

    • ryudeka on

      Setuju..

      Namanya juga kantor, ya. Yang dinilai paling pertama tentu saja seharusnya adalah hasil kerja.
      Sama, biar ‘aman’, kadang aku juga mencoba bermain ‘cantik’ 🙂 dengan cara melakukan semua tugas dan kewajiban sesuai dengan job desk.. Sehingga akan menyulitkan orang-orang yang (mungkin) mencoba mencari-cari celah kesalahan 😀

      Gosip yang pernah kutemukan tentang diriku? Mmm.. mungkin nanti akan kutuliskan di posting yang terpisah saja, mbak.. hehehe…

  4. yessymuchtar on

    aku sering denger gosipan. aku juga sering denger gosip tentang diriku mas.

    Kalo soal si boss, kita-kita gak pernah gosipin apapun selain “kapasitasnya dalam memimpin”(bukan apa-apa, keknya kehidupan pribadinya gak menarik:P*
    tapi kalo soal temen-temen…yang lebih di gosipin sering kali adalah kehidupan pribadinya…hihihihi

    • ryudeka on

      Intinya tetep aja doyan ngegosipin si Bos, kan?? 😀

  5. Dian on

    aku tau siapa yg diomongin…
    aku tauuuu!!!
    tak sebut nama yaaaaa…
    yaaaaa

  6. Lia on

    huhuhuhhuh…mas ganteeng….itu tentang ‘kakakmu’ tersayang itu yah hehehhehe….

    bener2 jago masnya ini, obrolan ga penting bisa jadi tulisan menarik nan penting hehehhe…

  7. Huang on

    kalo quote nelson aku baca berkali2 tetep gak ngeh untuk kalimat yang terakhirnya.

    btw, kalo di tempatku selalu dengan panggilan : budir alas bu direktur 😀

  8. alya pravita on

    aku tahuu oknumnya ….hahaha… seharusnya ditambahin mas… uda pake kacamata hitam plus BB dan iPhone ditenteng hahaha.

    mari kita bergosip hehehe

    btw quote Nelson Mandela itu emg benar kok … sygnya ga ada yg bisa melakukannya dikantor kita hahaha ^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: