Dilarang Melarang

Saya boleh heran, nggak? 🙂

Boleh ya. Sebenarnya rasa heran saya ini sudah cukup lama munculnya. Tapi mungkin baru sekarang bisa saya utarakan dan tuliskan, karena tahap keheranan saya sudah meningkat dari sekedar heran saja menjadi amat sangat heran sekali.

Saya heran, darimana sih asalnya hingga kemudian ada pihak yang bisa dengan percaya dirinya melarang dan memutuskan bahwa film “2012” itu haram ditonton? Kalau informasi yang saya dapatkan sih, pengharaman itu muncul karena ditakutkan nantinya banyak umat beragama akan langsung percaya bahwa tahun 2012 besok adalah tahun terjadinya kiamat. Sedangkan agama mengajarkan bahwa yang berhak mengetahui kapan tepatnya terjadinya kiamat adalah hanya sang Pencipta. Dan dengan percaya bahwa tahun tertentu (dalam hal ini adalah tahun 2012 ini) adalah tahun dimana kiamat akan datang, adalah haram hukumnya. Dosa. Jadi kesimpulannya, jangan menonton film 2012. Supaya kita terhindar dari dosa.

Dan saya yakin, puluhan penonton yang mencoba tidak perduli dengan pengharaman itu dan tetap menonton film itu beberapa hari yang lalu (termasuk saya) pasti merasa lega, karena kami semua terhindar dari yang namanya dosa. Karena kami langsung yakin dan percaya, bahwa 2012 bukanlah tahun dimana dunia akan kiamat. Karena film itu sama sekali tidak menceritakan hal itu. Sama sekali.

Saya heran, apakah mereka yang membuat pengharaman itu, sebelumnya sudah melihat terlebih dulu film ‘2012’ ini? Atau mereka hanya terpancing melihat trailernya, atau melihat liputan tentang ramalam 2012 di infotainment yang secara asal menggabungkan antara film “2012” dengan pengetahuan sepotong-sepotong mengenai ramalan kiamat versi bangsa Maya dan dibumbui dengan menampilkan ramalan paranormal papan atas negeri ini plus tidak ketinggalan tambahan tanggapan para ulama itu? Karena kalau mereka sudah melihat film “2012” dari awal sampai akhir, mereka pasti akan malu sekali karena telah secara sok tahu dan gegabah membuat pengharaman. Lha wong filmnya sama sekali bukan tentang kiamat, kok..

Saya bukannya ingin mendiskreditkan pihak tertentu. Kalaupun ada yang merasa seperti itu, saya minta maaf. Tapi please.. mbok ya kalau mau membuat sebuah keputusan (apalagi itu menyangkut kepentingan orang banyak), dipikirkan benar-benar terlebih dulu.

Ini bukan yang pertama kali munculnya larangan terhadap sesuatu yang sedang menjadi trend atau hot issue di masyarakat. Baru saja beberapa bulan lalu muncul statement yang mengharamkan Facebook. Setengah mati orang-orang kebingungan mencoba mencari tahu, di bagian manakah yang dianggap haramnya. Ternyata katanya Facebook bisa menjadi haram ketika situs ini digunakan sebagai media penyebaran pornografi dan mencari pacar.

Alasan yang ajaib, memang. Setahu saya, kalau kita melarang sesuatu, maka seharusnya terlebih dahulu kita menyiapkan alasan-alasan yang jelas dan kuat. Tidak asal, memaksa, bahkan terkesan mengada-ada dan tidak menguasai hal yang menjadi fokus hal yang dilarang itu. Tidak heran, kalau ‘pengharaman’ Facebook yang dianggap mengada-ada ini kemudian toh hilang seiring dengan waktu. Sekarang? Giliran film 2012 yang mengalami nasib yang sama. Haram untuk dilihat, karena bisa menyesatkan umat karena menganggap dan PERCAYA bahwa hari kiamat akan betul-betul datang di tahun 2012.

Saya sih tidak mau membahas atau membuat review tentang film “2012” yang serba kurang dalam segi penceritaan dan serba lebai dalam segi special efek ini. Walau terus terang saya merasa sebal tertipu sekali karena mengira film ini akan keren sekali ketika melihat trailernya. Tapi saya agak ‘jengah’saja dengan seringnya keluar pengharaman ini dan itu yang dengan gampangnya keluar dari pihak-pihak yang seharusnya bisa arif dalam membuat sebuah kebijakan, karena menyangkut orang banyak.

Coba mari kita lihat ke belakang. Seberapa sering sih muncul statement haram terhadap sesuatu? Lumayan sering, kan? Dan pertanyaan saya berikutnya adalah : seberapa sering sih mereka membuat statement yang berkebalikan? Maksudnya, kalau ada statement ‘haram’, bukankah seharusnya ada juga statement ‘halal’? Maksudnya, kalau ada pelarangan terhadap sesuatu yang dianggap buruk, kenapa jarang sekali keluar peng-anjuran terhadap sesuatu yang dianggap baik?

Kalau misalnya selama ini background yang dipakai adalah dengan alasan demi kebaikan atau kemaslahatan orang banyak, kenapa dulu tidak ada statement atau bahkan fatwa yang menganjurkan orang untuk melihat, misalnya, film “AN INCONVENIENT TRUTH” milik Al Gore?

Padahal (menurut saya), film itu betul-betul menggambarkan sebuah fakta konkrit tentang betapa terancamnya kelangsungan bumi ini jika tidak ada umat manusia yang perduli bahu-membahu menangani pemanasan global. Bahwa film ini dengan jujur dan apa adanya memperlihatkan keadaan bumi yang akan segera berubah menjadi ‘neraka’ dan semua orang akan mengalami yang namanya kiamat kecil (saking buruknya) kalau kita tidak mau menjaganya dengan baik? Film ini jauh lebih penting kalau (mau) dibandingkan dengan 2012 yang murni untuk hiburan itu.

Dan menurut saya, semua orang harus percaya bahwa ‘kiamat kecil’ hasil dari pemanasan global itu benar-benar bisa dan akan terjadi (walaupun sebenarnya bisa kita cegah asal kita mau). Dan mempercayai hal ini, bukanlah sesuatu yang haram hukumnya, toh??

Kenapa tidak ada statement anjuran yang mewajibkan umat di negara ini untuk menonton film itu, misalnya? Alangkah lebih baik kalau ada, kan? Itu kalau mereka-mereka ini betul-betul mengatas-namakan kebaikan umat atau khalayak banyak lho, ya. Atau jangan-jangan mereka malah tidak pernah tahu ada film berjudul “AN INCONVENIENT TRUTH” karena film itu memang tidak terkenal dan diputar disini?

Sekali lagi, mohon maaf kalau ada pihak yang merasa dipojokkan disini. I never meant to. Saya hanya tidak habis pikir saja. Bagimana tidak. Contoh terakhir saja, dengan adanya gerakan sosial “Koin Untuk Keadilan” untuk Ibu Prita Mulyasari yang sudah semakin menjalar kemana-mana ini. Kok pihak yang senang melarang-larang itu juga tidak berbuat apa-apa tuh. Dalam arti kata, kenapa tidak ada statement yang mewajibkan atau menganjurkan masyarakat untuk ikut menyumbangkan uang mereka dan bergabung di program ini. Bukankah membantu orang yang sedang kesusahan dan dilanda ketidak-adilan adalah sebuah perbuatan yang dianjurkan oleh agama?

Bukan salah saya toh, kalau akhirnya berdasarkan segala kebodoahan dan keterbatasan pengetahuan saya, timbul pertanyaan yang berkesan sangat retorik, “maunya apa sih ni orang-orang… bisanya kok cuma ngelarang…….”.

Kalian pada heran, nggak? Atau saya sendiri saja yang sukanya heran sendirian? Wekekekekkek….

Advertisements

19 comments so far

  1. hawe69 on

    T.O.P ! well-said, well-written!

    oot,
    bagusan mana 2012 ama Deep Impact?
    🙂

    • ryudeka on

      Bagusan ‘Deep Impact’ kemana-mana, mbakk… 🙂

  2. Reva Liany Pane on

    Yes, well written indeed.

    Aku sampai skrg belum nonton 2012 tuh, gak tertarik 😐

    • ryudeka on

      Apalagi setelah baca tulisanku ini ya.. hehehe..

  3. aubreyade on

    saya juga heran kenapa dilarang,sich…

    Persepsi org yg menonton yg mesti “dilarang” untuk terlalu jauh sampai akhirnya menimbulkan keresahan.

    Anak2(10&8th) jg sy ajak nonton, utk diskusi ttg kiamat yg dimaksud di film itu. Yg jelas itu kan buatan manusia, tdk ada yg perlu ditakutkan, jauh dr kiamat asli yg dimaksud.

    Salam!

    • ryudeka on

      Terbukti kan mbak..

      Kita yang dilarang ternyata bisa lebih bisa bersikap arif daripada yang melarang.. oops! 😀

      Waalaikumsalam…

  4. Ria on

    blom nonton mas…dan memang gak bisa…di Duri gak ada bioskop 😀

    memang ya orang yg tukang larang dan mengatakan haram ini itu kudu mesti minum obat biat sembuh mas 😛

    • yessymuchtar on

      duri gak ada bioskop Ya? Kasiannnn….wihihihih

      • ryudeka on

        Duri itu nama kota ya? Ada di Peta, nggak? :p

  5. didot on

    sampai saat ini belum nonton juga walaupun udah bikin tulisannya,hehehe

    http://universitas-kehidupan.blogspot.com/2009/11/2012-memang-harus-demikian.html

    yah orang2 itu,cetek pemikirannya. sebuah pisau nanti bisa diharamkan karena dipakai membunuh orang,lama2 mal juga bisa diharamkan karena jadi trend orang bunuh diri.

    kenyataanya : pisau itu netral ,kalo dipakai buat nusuk orang jadi jahat,kalo buat masak di dapur jadi berguna dan baik. yg jahat atau baik itu yg menggunakannya ,bukan pisaunya.

    fesbuk dilarang,kalo saya malah pakai untuk dakwah juga kok,saya masukkan ayat2 quran,karena saya liat orang bisa maen fesbuk jam2an ,tapi baca quran susah banget biar cuma beberapa menit aja. nah si fesbuk ini sendiri sama kayak pisau,sifatnya netral,tergantung digunakan untuk apa ,itu yg membuat label baik buruknya melekat.

    lagipula katanya fesbuk itu dilarang juga karena yg punya orang yahudi,hahaha plis deh. microsoft yg bikin amerika,terus kita gak mau pakai komputer gitu? wah makin tertinggal kita. sedangkan ilmu itu adalah kekuatan,bagaimana mungkin kita memusuhi ilmu?

    film haram? wah susah tuh,kita gak tau tujuan si pembuat film,kalo mau kita juga harusnya buat film yg benar,dan itu tugasnya para seniman kita buat bikin film yg benar dan mendidik dan juga menarik seperti film2 hollywood itu,bukan cuma bisa ngelarang aja…

    tapi melihat tingkah polah orang2 yg sering melarang tadi,jadi keliatan kan seberapa negatif atau positifnya mereka? seberapa dangkalnya pemikiran mereka??

    • sheilajrina on

      waaaw kereeenn. *pandangan terpesona bocah SMA*
      sheila ajrina like this.

      • ryudeka on

        Iya,ih.. Didot keren banget komennya..
        Deka like this.:)

      • didot on

        makasih sheila ajrina:)

      • didot on

        and mr deka tentunya,tulisan2 anda sangat keren:D

        menurut saya tulisan (pemikiran) yg baik sangat inspiratif,seperti tulisan2mu ini:)

  6. yessymuchtar on

    Film ini nyebelin mas…

    Aslinya John Cusack pasti nyetirnya gak sepinter itu…

    • ryudeka on

      Oh…

      Ini malah membahas masalah bakat menyetir.. bukan tentang ‘kiamat’nya. 😀

  7. doi on

    sama mas…kelar nonton film ini. mikir…jangan2 bapak2 itu lom pernah nonton filmnya….lha aku nonton ajah sambil ketawa2 kok…

    • ryudeka on

      Walah..
      Pasti acara nontonmu terasa ‘meriah’ sekali ya, Do..

      Lha nonton sambil membayangkan bapak-bapak itu…hahaha….

  8. savrina on

    ah mas.. semakin dilarang itu bikin semakin laris..
    ya gitulah kalo berilmu tapi kurang pengetahuan. eh, but who are we to judge? barangkali kita ini justru yang kurang pengetahuan.. sapa tau mereka itu melarang karena tau kalo filmnya memancarkan gelombang berbahaya yg bisa bikin beleken, misalnya.. :p ato filmnya jelek sehingga bikin kita misuh2.. (lha misuh ki dosa to?)
    berdoa aja generasi penerus pakdhe2 itu lebih bijak.. pertanyaanya, siapa yg mau jd penerusnya??

    btw, mbok ada yg ngandhani lik cussack kalo dia itu lebih cucok main drama romantis..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: