LeaveLunaAlone

Saya simpati pada Luna Maya.

Simpati dalam arti, saya cukup bisa membayangkan bagaimana perasaan ‘gerah’ dan ‘geram’nya dia karena kemana pun langkahnya pergi, selalu diikuti dan dikejar oleh para wartawan pekerja infotainment. Tapi mau bilang apa? She has a high value. Dia memang masih (atau sedang) punya nilai berita yang tinggi. Jadi apapun yang dia lakukan, kapan dan dimanapun, suka atau tidak, pasti akan (dan sepertinya harus) dijadikan berita.

Hingga suatu pagi, saya sempat heran melihat liputan sebuah infotainment, yang menayangkan berita tentang Luna yang pulang dari menonton premiere film SANG PEMIMPI, sambil menggendong Alea, putri dari Ariel Peterpan yang tertidur dipundaknya. Saya heran karena melihat belasan wartawan pekerja infotainment lengkap dengan para kameramen-nya lempeng-lempeng saja mengerumuni Luna yang terlihat agak kerepotan berjalan sambil menggendong anak kecil itu (belum biasa kali, ya 😀 ), sambil berulangkali berkata,

“… iya nanti aja ya didepan ngobrolnya….”

Mungkin yang dimaksud oleh Luna adalah, ia ingin agar interview dilakukan nanti, ketika ia sudah sendirian, tanpa harus ada anak kecil yang sedang tertidur di pelukannya, dan di tempat yang lebih decent, lebih enak untuk melakukan wawancara.

taken from detikhot...as written on the picture 😀

Tapi ya namanya juga wartawan pekerja Infotainment. Melihat dan mewawancarai Luna yang sedang menggendong anak dari pacarnya itu, tentu saja VALUE- nya lebih luar biasa dibandingkan dengan mengambil gambar dan mewawancarainya sendirian saja. Ya toh? Itu mah sudah biasa. Makanya permintaan Luna itupun sepertinya tidak digubris, dan ia terus dikuntit hingga terjadi peristiwa tersenggolnya kepala Alea pada kamera salah satu wartawan pekerja infotainment itu.

Mungkin dari situlah, kenapa ketika Luna menepati janjinya untuk melakukan wawancara sendirian di tempat yang sudah dijanjikan itu, dia terlihat sangat sangat jutek. Terlihat jelas sekali bahwa dia sangat marah, sebal dan malas menjawab segala macam pertanyaan wartawan infotainment. Sampai akhirnya di siang hariinya, saya membaca update di Twitter tentang aksi tulisan Luna yang memaki-maki para wartawan infotainment itu secara vulgar, kasar dan emosional sekali.

Ya begitulah kalau orang sedang marah, dan kehabisan kesabaran. Segalanya menjadi tidak terkontrol. Saya yakin sekali, ketika dia mengetikkan kata per kata di akun Twitter-nya itu, Luna pasti sedang dalam keadaan yang marah sekali. Dan kata-kata makian itu keluar begitu saja, tanpa sempat tersaring dan tanpa pertimbangan dan kesadaran sama sekali.

Kenapa saya bisa (sok) yakin seperti itu? Pertama, saya yakin Luna cukup berpendidikan untuk tahu bahwa memaki (apalagi dengan memakai kata ‘pelacur’ atau ‘pembunuh’)adalah sebuah perbuatan yang tidak baik. Sehingga, dia pasti sedang dalam keadaan ‘tidak waras’ (dalam hal ini : sedang marah) ketika menuliskan semua itu. Kedua, Luna seharusnya tahu, apa yang dituliskannya itu bisa dengan cepat dan langsung dibaca oleh ribuan follower Twitternya, termasuk para wartawan pekerja infotainment yang menjadi sasaran tembaknya.

Mungkin dia lupa, kalau mengirimkan email berisi ketidakpuasan terhadap pelayanan rumah sakit kepada teman-temannya saja bisa membuat Prita Mulyasari jungkir balik berurusan dengan hukum sampai sekarang. Mungkin dia juga lupa, infotainment pun sekarang sudah sebegitu desperate-nya mencari berita, sehingga memanfaatkan status-status Twitter milik para artis untuk dijadikan bahan berita (kalau tidak, mana mungkin mereka bisa tahu Joko Anwar berbugil ria di Circle K untuk mewujudkan nazar-nya, misalnya).

Ya, mana sempat Luna mikir sampai kesitu. Namanya juga orang sedang di puncak kemarahan, ya sudah..hajar saja! Gue marah sama infotainment, gue maki-maki tu infotainment, selesai.

Saya seorang penonton infotainment. Saya pun punya teman yang bekerja sebagai wartawan pekerja infotainment. Jadi saya cukup bisa mengerti bagaimana mereka berusaha mendapatkan berita apapun, selama itu melibatkan seorang artis, baik yang benar-benar terkenal, yang ‘katanya’ terkenal, yang ‘mudah-mudahan’ dikenal, maupun yang sedang berusaha setengah mampus pengen terkenal. Ya karena sumber mereka hanya dari situ doang. Namanya juga infotainment (penulisannya digabung,ya.. jangan dipisah-pisah..nanti dipermasalahkan wkwkwkwkw)

Tapi coba bayangkan, siapa sih yang senang dan tenang kalau hidupnya selalu diikuti dan diberitakan? Saya yakin deh, artis memang butuh untuk diberitakan. That’s were the popularity and fame come from. Supaya hasil karya mereka diketahui oleh orang banyak. Tapi kalau setiap saat gerak-gerik kita disorot, dijadikan tema perbincangan, apa ada yang tahan?

Teman saya yang wartawan infotainment itu pernah bersungut-sungut,

“Gue heran deh sama si A. Dulu pas baru muncul, dia sama manajemen artisnya kaya cacing kepanasan ngubungin kita supaya diliput kegiatannya… Dari dia ke salon, lah.. cuman keramas doang, padahal! Disuruh ngeliput isi dompetnya, lah.. Sampai kita diminta ngeliput dia bersih-bersih rumah, coba. Sumpah, kita yang ngeliput pengen ngakak ngeliat dia sok-sokan ngepel lantai tapi ngepelnya muter-muter nggak jelas.. Tapi sekarang, setelah rada terkenalan dikit, kita mau minta interview aja jual mahaaa..aallnya, minta ampun…”

Ya gitu itu.

Kadang yang mengaku dirinya artis (dan merasa sudah terkenal dan sudah ‘cukup’ dengan pemberitaan-pemberitaan seputar dirinya) merasa bahwa wartawan infotainment itu sudah masuk dalam kategori invasion of privacy, mengganggu hak privasi dia. Tapi mereka yang mengaku sebagai wartawan infotainment juga selalu merasa benar dengan berpegang pada prinsip,

“Lho.. kalo nggak mau diliput kehidupan pribadinya ya jangan mau jadi artis!”

dan dengan sendirinya lantas memiliki hak absolut untuk membuntuti dan ngubek-ngubek kehidupan si artis.

Terus terang, saya tidak begitu suka dengan narasi beberapa infotainment yang berkata

“..karena bagaimanapun juga, artis dan juga infotainment adalah sebuah hubungan simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan”

Bukan, bukannya saya tidak suka dengan gaya pengucapan mbak-mbak narator yang sering terdengar aneh itu, tapi lebih pada penekanan kata ‘simbiosis mutualisme’ dan ‘saling menguntungkan’ itu. Kok sepertinya tidak pas sekali.

Saling menguntungkan? Apa iya? Kalau memang iya, pastinya semua artis akan sangat kooperatif dong kalau mau diajak wawancara. Tidak ada yang menghindar, tidak ada yang pasang muka jutek, tidak ada yang hanya mengeluarkan statement ‘No Comment’ apalai sampai main lempar asbak! Kalau sudah ada artis yang bersikap seperti begini, tentu mereka sudah atau sedang merasa dirugikan alias tidak di simbiosis-mutualisme-kan, bukan? *duh.. bahasa saya ancur sekali ya*

Saya tertarik dengan komentar salah seorang teman di Twitter yang menulis,

“.. yang salah mungkin bukan wartawan infotainment, tapi tiadanya pelatihan yang tepat sebagai jurnalis dan tuntutan dari rumah produksi yang membuat mereka menjadi agresif. Bagaimanapun semua jurnalis adalah human being. Mereka punya hati. Tapi sekalilagi, tuntutan pekerjaan kadang membuat mereka lupa kode etik…”

Cukup masuk akal. Tapi kalau lantas kalau para artis bisa memahami tekanan profesi wartawan pekerja infotainment itu, apa mereka juga bisa memahami tekanan profesi dari si artis? Bagaimana mereka kelelahan setiap hari syuting, rekaman, promo tour dll. Dari berbagai kasus yang terjadi, sepertinya kok tidak. Kalau mereka mengerti, pastinya mereka tidak akan memaksa untuk melakukan interview ketika si artis sudah meminta kepada mereka (apalagi permintaan itu dilakukan secara baik-baik) untuk melakukan wawancara di lain waktu atau ditempat lain seperti kasus Luna ini? Terlihat sekali betapa hubungan simbiosis mutualisme itu kemudian menjadi berat sebelah. Seperti manajer seorang artis yang sempat heran,

“Menguntungkannya dimana? Kenapa selalu jadi artis yang salah?”

Karena saya berulangkali mengatakan bahwa saya simpati dengan Luna Maya, bukan berarti saya juga setuju dengan apa yang dilakukannya. Sebagai artis yang bukan baru seminggu kemarin ini terkenalnya, seharusnya Luna bisa lebih ‘lihai’ dan ‘cantik’ dalam menjaga emosi dan menghadapi tingkah laku wartawan. Kenapa harus memaki-maki sedemikan rupa?

Cobalah contoh Teh Nicky Astria beberapa tahun lalu ketika dia dikejar-kejar para wartawan infotainment seputar perceraiannya dan gosip orang ketiga di pernikahannya *bukan main prima-nya ingatan saya kalau soal-soal beginian!*. Saking sudah nggak tahu lagi harus bagaimana mengusir para wartawan-wartawan itu, Teh Nicky kemudian berjalan masuk ke dalam mobil, duduk, berteriak kepada wartawan (maklum, lady rocker sih ya..),

“….. APALAGI SIH YANG KALIAN MAU??!”

dan kemudian menangis sesunggukan di dalam mobilnya itu..

Melihat itu, satu persatu wartawan pekerja infotainment itu mundur teratur, dan pulang markas masing-masing dengan perasaan (pastinya) nggak enak, bersalah dan salah tingkah sendiri! 😀

Atau kalau aksi MENANGIS ini tidak bisa dilakukan karena membutuhkan kemampuan akting yang prima, contohlah Mbak Mayangsari! Coba, kurang apalagi mbak kita yang satu ini? Gosip yang diarahkan kepadanya sungguh-sungguh luar biasa, bukan? Bukan hanya sebagai disebut-sebut sebagai perempuan perebut suami orang, tapi juga sebagai perempuan gold digger alias perempuan matre kelas kakap. Mati-matian para wartawan pekerja infotainment berusaha meminta pernyataannya. Tapi setiap kali dikerubuti, dia hanya diam dan tersenyum.

Hingga kemudian, karena sudah putusa asa tidak bisa mendapatkan pernyataan langsung dari si empunya berita, maka para infotainmentpun berinisiatif untuk membeberkan semua kehidupan pribadinya, sampai ke hal-hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kehidupan rumah tangganya, seperti ketika salah satu infotainment pernah dengan bangganya memperlihatkan nilai merah yang ada di buku raport Mayangsari ketika masih SMP! What the…. (selengkapnya, pernah saya tulis disini)

Tapi coba perhatikan, mbak ini selalu menghadapi sergapan wartawan pekerja infotainment dengan tanpa ekspresi terganggu sama sekali. Terlihat sekali dia sudah tidak mau ambil pusing dan masa bodoh dengan segala sorotan kamera dan serangan microphone mengelilinginya.

“Apa lagi…? Selama ini kan saya tidak pernah memberikan statement yang aneh-aneh. Saya diam saja pun, kalian tetap membuat narasi sendiri tentang saya, kan? Jadi buat apa saya ngomong….”

Sambil kemudian tetap berlalu dengan anggunnya.

Sekarang? Wartawan pekerja infotainment sepertinya lama-lama sudah bosan mengejarnya. And she lives happily ever after bersama sang pangeran dari Cendana itu. Wkakakaka.

Mungkin dari contoh itu, Luna bisa sedikit belajar bahwa kedudukan artis dan wartawan itu adalah sama. Dalam artian, kalau mereka bisa menyebalkan, maka para artis pun pun bisa sama berperilaku sama meyebalkannya. Cuman, pilihlah cara yang cantik yang secantik wajahmu, Luna. Atau mungkin sudah waktunya, ketika para infotainment itu dengan arogannya bilang bahwa merekalah yang berjasa membesarkan nama si artis, maka sekarang giliran para artis lah yang dengan lantang berkata,

“Eh, jangan salah ya, Mas.. Mbak…. Karena saya juga, kalian bisa jadi besar! Karena kalian ngeliput saya juga, makanya infotainment kalian jadi banyak yang nonton!”

Pasti nantinya juga si artis lagi yang dibilang arogan.

Tuh. Salah lagi…. Katanya tadi hubungannya simbiosis mutualismeeeeeeeeeee……….

Advertisements

17 comments so far

  1. Reva Liany Pane on

    Ijinkan aku tertawa dulu ya, Om.
    Hwahahahahahah………..!!!!!!!

    Lengkap banget postinganmu ini, Mas! Dari mulai Mayangsari sampai kasus Luna Maya, persis seperti itulah yang juga aku pikirkan! Namanya manusia biasa, pasti pernah ada rasa jengkel luar biasa sampai melupakan logika. Luna pasti saat itu merasakan hal yang sama. Yang aku sesalkan kenapa infotainment harus pake acara laporan hukum segala, atas nama PWI lagi..!!

    Btw, yang benar itu sampe pernah ada tayangan soal rapotnya Mayangsari? What the…!!

    • ryudeka on

      Eh, beneran kok.. Kayanya saya pernah nulis deh…Jadi angka merah itu di close up, terus dilingkarin segala.. 😀

      Hebat ya… Idenya brilian banget lah..

  2. Lia on

    ya ampyuun mas ganteng ini, daya ingatnya soal infotaiment luar biasa…sangat menghayati sekali…ck..ck..ck….*berdecak kagum*

    • ryudeka on

      Loh..saya kan selalu TOTAL! 😛

  3. didot on

    suatu liputan yg tajam… setajam silet,hahaha…

    kasian sih sama lunmay yg sebetulnya udah cukup sering pastinya diginiin wartawan dan keliatannya juga dia sebenernya mau ngasih interview,tapi wartawannya emang keterlaluan kali ini,dan akhirnya si lunmay juga jadi keterlaluan juga (gak maen cantik lagi,hihihi)

    yg salah?? sama2 salah lah,semua pihak kudu introspeksi diri:)

    • ryudeka on

      Mari..

      🙂

  4. tiar on

    gaya mengulas yang cerdas. i like it.

    • ryudeka on

      Hahaha.. kesannya serius bener ya, Bang. “Mengulas”.

  5. nurkeren on

    wah postingannya panjang banget…..mata kuliah jurnalistik infotaiment diajarkan di kampus ga ya?????

    • ryudeka on

      Nur..
      Kalau ada mata kuliah itu di kampus, believe me.. saya lah yang akan jadi orang pertama yang……………………. berusaha menjadi dosennya! :p

  6. Huang on

    tsk tsk tsk..

    kerenn :p~~

    • ryudeka on

      Luna Maya memang keren sekali….. :p

  7. yusman on

    Atau menerapkan triknya Dee Lestari, artis kalo kemana2 bawa kamera juga. Nah… pas pekerja infoTAImen ngejar-ngejar / berperilaku tak wajar, di rekam balik. Mereka pasti salah tingkah…!

    Kalau mereka protes : kenapa mbak ngambil gambar saya ?

    Artis bisa nanya balik: ya sama kaya kamu, ngambil gambar tanpa izin..!

    • ryudeka on

      Ih seru banget pasti ya…
      Malah foto-fotoan… 😀

  8. Adit on

    Hihihihi…

    Gw aja lupa mas ada artis Nicky Astria 😀

  9. rawitcute on

    wih lengkap banget bahasannya..hahha..ketawa ngakak deh..tau deh yang salah siapa..artis or wartawannya??
    ah tau mau ambil pusing ma masalah infotainment..haha

  10. rizazmiy on

    Manstap banget tulisannya *melongo*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: