Archive for the ‘Film’ Category

Ketika Cinta (maunya) Bertasbih

Sebetulnya saya tidak begitu berminat menuliskan topik yang akan saya tulis ini. Tapi karena nama saya tercantum dengan gantengnya di website teman saya yang bernama Dian Purnomo (dan dia salah mengutip ucapan saya!), maka mau nggak mau saya harus membuat sebuah klarifikasi disini. Biar kesannya penting banget.

Jadi, sudah pada nonton film ‘Ketika Cinta Bertasbih’? Dulu, setelah ada kabar yang menyatakan bahwa ada lagi sebuah novel best-seller bernuansa religi yang akan difilmkan menyusul sukses Ayat-Ayat Cinta yang saya puja setengah mati itu *halah*, saya cukup excited menantikan film yang dimaksud itu dirilis. Apalagi katanya novel Ketika Cinta Bertasbih ini  ini jauh lebih best-seller dari Ayat Ayat Cinta. Mega Best Seller! Uedan! Bukan hanya ‘Sangat Best-Seller’, bahkan tidak lagi sekedar “Super Best-Seller”. Tapi maennya udah “mega”, bos!! Siapa yang tidak penasaran?

Masih ditambah lagi, proses pemilihan pemain-pemainnya juga tidak sembarangan. Diadakan audisi di beberapa kota besar. Sengaja di cari pemain-pemain baru yang dinilai pas untuk memerankan tokoh-tokoh di film tersebut. Bahkan kabarnya, salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki si calon pemeran film ini adalah : dia harus lancar membaca Al-Quran! Makanya, saya langsung tau diri dengan tidak mendaftarkan diri ikut audisi. Huahahahha.

Saya sendiri tidak begitu melihat korelasi yang kuat antara akting versus syarat kemampuan membaca Al-Quran ini. Mereka ini mau bikin film, kan? Bukanya mau bikin Festival MTQ? Kalaupun nantinya para pemainnya akan banyak berdialog dalam bahasa Arab, pastinya aksentuasi berdialog dan membaca itu sudah berbeda, kan ya? Ah tapi ya sudahlah…

Hingga beberapa bulan sebelum film ini di premiere-kan, saya sempat mencari-cari bocoran trailernya di YouTube! Saking penasarannya. Setelah melihat tayangan trailer yang berdurasi beberapa menit itu, kondisi badan saya langsung drop! Saking shock-nya. Lah, kok segitu doang? Macam sinetron sekali? Mana gregetnya? Entah apa yang ada di pikiran si pembuat trailernya, tapi semua scene yang ada di tayangan itu sama sekali tidak ada yang mengundang rasa keingintahuan saya untuk menyelesaikan cerita filmnya dengan cara menonton versi lengkapnya di bioskop! Salah besar! Trailer yang sungguh buruk! What a bad promotion.

header_desain

Lebih ‘bad’ lagi setelah saya melihat gambar posternya yang amat sangat standar sekali untuk ukuran poster sebuah film yang kabarnya menghabiskan dana belasan milyar rupiah itu. Sangat sederhana sekali. Masih diperparah lagi dengan adanya kalimat-kalimat promosi yang sooo..cheesy seperti :  Sebuah Mega Film Pembangun Jiwa, Dinanti Jutaan Penonton, Siap Mengguncang 8 Negara! Buat saya, dengan adanya tambahan tulisan sepert ini, justru memperlihatkan si pembuat filmnya seperti tidak percaya diri dengan kualitas film yang mereka buat. Atau mungkin orang-orang yang punya tugas jadi bagian promosinya emang agak ajaib kemampuan menjualnya. Dan dugaan saya semakin kuat, setelah melihat tambahan tulisan berbentuk lingkaran (seperti gambar Cap atau Stempel) di poster, yang berbunyi : DIJAMIN MESIR ASLI! Oh Tuhan… mengerikan sekali. Ini jualan film apa jualan sarung???

Continue reading

Three’s a Crowd

…. nggak ada tawaran yang lebih normal-an dikit, ya??

Ini adalah reaksi yang saya terima ketika saya mengajak teman saya Nchy untuk melakukan movie marathon di Studio 21 Ambarukmo Plasa, hari Minggu kemarin. Saya pikir, menonton 2 atau lebih film secara berturut-turut dalam satu hari, bukanlah sebuah hal yang aneh, bukan? Selesai menonton di satu studio, langsung berlanjut menonton film yang lain di studio yang berbeda. Tak ada yang salah dengan itu. Normal-normal saja. Makanya saya bingung, ketika teman saya ini terlihat begitu shock-nya mendengar tawaran saya itu.

Oh, ternyata saya salah. Bukan masalah ‘movie marathon’nya itu yang dipermasalahkan dan dianggap tidak wajar oleh Nchy. Tapi lebih pada penjelasan saya berikutnya, perihal film-film apa saja yang akan di’marathon-kan. Saya dengan entengnynya menyebutkan 3 judul film Indonesia yang memang sedang main di Studio 21.

... semua film-film bagus di dunia ini emangnya udah lo tonton semua, apa???

Hahaha. I knew it. I kneewwwww ittttt…!! Nggak akan ada orang yang cukup waras yang mau menemani saya melakukan perbuatan ini. Ketika semua orang sibuk menulis status Facebook mereka dengan kalimat-kalimat yang memamerkan bahwa mereka sedang atau akan menonton film-film seperti Abdel & Temon eh, Angel & Demons, atau Watchmen atau The Curse of Benjamin Button, sepertinya saya sendiri yang dengan percaya diri menuliskan bahwa saya akan melakukakn movie marathon menonton film-film buatan negeri sendiri. Sepertinya kok pada anti ya membeli tiket untuk menonton film-film lokal. Ya sudah, dengan penuh keyakinan diri yang agak berlebih, saya pun melenggang memasuki Studio 21 untuk segera memulai petualangan saya menghabiskan hari Minggu seorang diri itu…

Studio 2. Jam 10:45

janda kembang

adalah film pertama yang saya tonton. Terus terang, saya menonton film ini bukan karena tertarik melihat penampilan Luna Maya yang berdangdut-ria. Saya datang untuk Sarah Sechan! Yeah!! Membaca sinopsis film yang mengisahkan bahwa Sarah berperan sebagai seorang penyanyi dangdut bernama Yuli Nada yang tersaingi oleh kedatangan Luna Maya yang menjadi penyanyi di orkes melayu pimpinan suaminya, sudah menjadi harga mati buat saya, untuk menonton film ini, apapun yang terjadi! Lebai, kan? Emang. Continue reading

Spoiler

Note : Spoiler Alert!

Kamis sore, saya menulis status di Facebook dengan kecentilannya:

“Biar telat asat nomat! Knowing-ing @Amplas”

Maksudnya, saat itu saya memang sedang dalam rangka menontn film KNOWING-ya Nicholas Cage di Studio 21 Ambarukmo Plasa. “Biar telat” diawal tulisan status itu, maksudnya ingin menjelaskan kalau saya dan 2 teman saya Dian dan Rani termasuk yang telat menonton film ini. Yaa, setelah 2 mingguan film ini nampang di bioskop, kami baru kemarin ini memutuskan untuk menontonnya.

phmgvnquuhrdrn_t

Baru saja mendaratkan pantat di kursi nomor B-10 Studio 1, tiba-tiba sudah ada yang mengirimkan pesan kepada saya..

… terakhirnya agak mengecewakan… eh, keceplosan….”

Ih. Apaan sih ni orang. Kok bisa-bisanya dia memberitahukan ending film ini ke saya, walau secara tersamar. Sayapun hanya membalas singkat,

Oh.. baiklah. Sebelum sampai endingya, aku akan keluar lebih dulu saja….”

Selesai. Sayapun siap-siap melanjutkan menonton film itu. Belum ada 1 menit setelah pesan pertama itu datang, tiba-tiba datang pesan kedua, dari orang yang berbeda.Kali ini dari seorang teman saya yang berasal dari Padang tapi karena lama tinggal di Bandung, bahasanya jadi meni Sunda pisan..

Iyaa! Ntar Nicolas Cagenya mati, siah.. gak seru kannnn? Hahahahha…

WAKSS!! Tak sopan ‘kali ni orang. Sambil menahan geli tapi campur sebel, sayapun dengan sok cueknya membalas,

Aku optimis.. Kalo aku yang nonton, Nic Cage pasti bisa diselamatkan. Bismillah…

Hahaha.. Lebay. Continue reading

1st Movie Experience

Ternyata setiap tanggal 30 Maret itu diperingati sebagai Hari Film Nasional, ya? Saya baru tahu. Ya wajar sih, lha wong saya bukan orang yang bekerja di dunia film. Walau saya juga ragu, apa teman-teman saya yang kebetulan bekerja di dunia perfilman juga tahu kalau ada satu hari spesial untuk bidang kerja yang digelutinya itu.

Sedikit mengulik sejarah supaya isi blog ini rada-rada seikit bermutut (hahaha), Hari Film Nasional ini ditentukan terhitung sejak tanggal 30 Maret 1950. Yaitu hari pertama syuting film berjudul “Doa dan Darah” yang disutradarai oleh Bapak Perfilman Nasional, Usmar Ismail. Bukan Ismail Marzuki ya. Saya juga sering kebalik-balik membedakan kedua orang ini. Dan ini katanya sih merupakan film perdana yang dibuat sendiri oleh anak bangsa, dibawah nama perusahaan negara bernama PERFINI. Berarti tahun ini, perfilman Indonesia sudah masuk ke usia ke 59 ya. Semakin bertambah tua sebenarnya. But then again, usia itu memang tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas ya.

Kamu sendiri, sejak kapan mengikuti perkembangan film Indonesia? Saya sendiri mulai mengikutinya sejak saya masih berumur 5 tahunan?Sekitar tahun 1985, ketika masih tinggal di Medan, saya diajak ibu saya nonton sebuah film yang dimainkan sama Mbak Meriam Bellina dan Mas Ikang Fawzi!

kulihatcintadimatanya

Tuh, keren banggett kan?? Continue reading

Spooky Part2

Apa persamaan antara orang latah dan orang penakut?

Jawabannya simpel : sama-sama sering menjadi bahan ‘hiburan’ bagi orang-orang disekitarnya. Lebih seru lagu kalau orang itu adalah orang penakut yang juga latah. Sempurna! Hehehe. Jahat ya, sukanya kok menghibur diri dari kesusahan orang lain. Jangan dikira orang yang latah itu nggak capek, lho. Dulu saya punya seorang teman cewek yang latahnya sudah luar biasa parah, yang latahnya tidak hanya dalam tingkat ‘mengulang perkataan orang‘ saja, tapi sudah dalam tahap ‘mempraktekkan apapun yang diperintahkan oleh orang lain‘. Saya nggak tau, dia itu memang latah atau pada dasarnya orang yang penurut. Hehehehe. Pokoknya apapun yang diteriakkan orang dihadapannya, pasti seketika itu juga akan dipraktekkannya. Mulai dari yang sopan seperti : “Jongkok!” atau “Salam Putri Indonesiaa!!” atau “Hormat, grak!”, sampai yang agak kurangajar seperti… ya you know lah, seputar angkat-mengangkat  atau copot mencopot sesuatu. Hehehe.

Hingga suatu malam ketika kami sedang dugem *ohh..istilahnya  masih ‘dugem’ ya*,  si mbak  yang latah ini ikut. Salah dia sendiri, sebenarnya. Itu sama saja bunuh diri, bukan? Benar saja, hanya dalam hitungan menit, dia tau-tau sudah ada diatas meja dan menjadi ‘superstar’ club malam itu. Nggak disuruh melakukan sesuatu yang diluar kesusilaan, sih. Hanya seputar melakukan koreografi tarian saja. Tapi tetap aja latahnya di tempat yang banyak orang (dan banyak properti juga!), walhasil makin banyak pula kreasi-kreasi kegiatan yang diperintahkan oleh orang-orang disekitarnya. Hingga keesokan paginya, dia menelpon saya dan bertanya,

“… eh, tadi malem emang aku ngapain sih.. kok tadi pas bangun, badanku pegel2 semua..  kaya abis marathon gitu..

Saya sih nggak tau apa dia beneran pernah ikutan lari marathon atau emang dia aja yang terlalu lebay membuat perbandingan, tapi saya baru sadar kalau ternyata orang latah itu capek! Melakukan sesuatu tanpa disertai kesadaran itu ternyata melelahkan.

Tapi disini saya nggak akan ngomongin tentang orang latah. Continue reading

Two Much

Katanya nih, sesuatu yang serba ‘terlalu’ itu tidak baik. Terlalu baik. Terlalu cinta. Terlalu kenyang. Terlalu pede. Pokoknya yang pakai kata ‘terlalu’ itu, biasanya nggak baik,lah. Karena porsinya berlebihan, tidak sesuai dengan takaran normal. Sebaiknya? Sebaiknya yang sedang-sedang saja. Cukupan. Percayalah, saya baru saja mengalami trauma, semacam disorientasi, gara-gara mengalami yang ‘terlalu’ ini.

Jadi Jumat Malam, saya dan teman saya Ndut pergi menghabiskan malam libur ini dengan nonton di Studio 21 Ambarukmo Plasa. Ini pun setelah kami harus melewati perjalaan yang cukup panjang dan berliku. Well, bukan kami sih, tapi SAYA! Saya yang merasakan penderitaan kaki pegal-pegal, demi 2 buah tiket bioskop! Sebenarnya rencana nonton sudah dicanangkan pada hari Kamis, tapi kemudian batal karena begitu saya masuk ke Studio itu, antrian sudah padat merayap. Menggila. Maklum, musim liburan. Makanya, keesokan harinya saya memutuskan untuk datang lebih awal supaya tidak perlu ngantri beli tiket. Tapi ternyata saya salah, karena sepertinya seluruh orang pun berpikiran sama. Jam 10.04 pagi, begitu saya sampai disana, ruangan udah penuh sesak oleh antrian! What the… ya sudahlah, masa harus batal lagi? Terpaksalah ikutan ngantri. Untunglah waktu 20 menitan saya mengantri, terbalas dengan berhasilnya saya mendapatkan seat yang enak.

Nonton apa sih? Continue reading

At Least

ryu deka: eh, udah liat film KEKASIH?
Dimas Nov: pelem apa ituh?!
ryu deka: Ntahlah…
ryu deka: Aku juga baru tau kalo itu film..
ryu deka: Karena setelah aku MELIHATNYA, aku yakin itu bukanlah sebuah film..
ryu deka: Tapi sebuah FTV yang diputar di layar bisokop..
Dimas Novri: itu yang maen sapah?
ryu deka: Duh, siapa ya…
ryu deka: Tapi yang pasti ada Iwan Fals sama Pongky nongol disitu..
ryu deka: Syutingnya juga 100% di Jogja kita tercinta ini..
Dimas Novri: wah aku harus liat kalo gitu!
Dimas Novri: mana tau setelah nonton jadi dapet kekasih
ryu deka: oh.. itu seperti agak tidak mungkin ya..
ryu deka: tapi siapa tu sih..
ryu deka: siapa tau karena saking jengkelnya melihat film itu, kamu menemukan gadis di sebelahmu juga sama jengkelnya denganmu…
ryu deka: dan kalian pun berkenalan….
Dimas Novri: kakaka… jadi permulaan pembicaraan yang bagus
ryu deka: Serius ga tau ada film judulnya KEKASIH??
Dimas Novri: gak tau mas
Dimas Novri: SERIUS!
ryu deka: Ih.. kok bisa sih…
ryu deka: Aku aja dikasih tau baru tadi malem pas diajak nonton…hahahhaahaha
ryu deka: Tanya dong, gimana perasaanku…
Dimas Novri: gimana mas?
Dimas Novri: ditulis dong di blog

Continue reading

Lost in Translation part II

Mari saya perlihatkan sebuah cuplikan artikel di harian Kompas hari Minggu 23 Maret yang lalu :

… Mau tahu bahasa Inggrisnya “Sundel Bolong:? Dalam dunia perfilman Indonesia, spesies hantu yang konon punggungnya berlubang itu diterjemahkan menjadi : “Ghost With Hole”. Paling tidak itulah yang terlihat di stan Indonesian Cinema dalam pasar film dan program televisi Hongkong International Film & TV Market (FILMART) yang digelar di Hongkong Convention & Exhibition Center, Hongkong 17-20 Maret. Salah satu poster film untuk menarik pengunjung hajatan yang diikuti 480 peserta dari 30 negara itu adalah poster Sundel Bolong produksi Rapi Films tahun 2007. Mungkin karena dikhawatirkan publik internasional tak tahu arti sundel bolong, poster itu ditempeli stiker tepat bagian judulnya, yang berisi judul film tersebut dalam bahasa Inggris, “Ghost With Hole”. Terjemahan yang tepat sesuai kamus, tetapi terlalu polos dan agak menggelikan untuk sebuah judul film…”

Ho oh, gitu.. Gimana perasaanmu??
Perasaanku tentu saja bercampur2 antara geli dan prihatin. Hahaha. Dan bukan Mas Ganteng namanya kalo berdiam diri saja melihat kenyataan seprti ini *edann*. Sebagai orang yang cukup punya concern di dunia film *halah*, hati ini semakin tersiksa ketika di artikel itu kemudian ditulis juga kalau film kita yang berjudul “Maaf, Saya Menghamili Istri Anda” kemudian di translate menjadi “Sorry, I Made Your Wife Pregnant”. Ck..ck.. ck…. again, benar sih sesuai kamus, tapi tetap terlalu polos dan sangat menggelikan untk sebuah judul film. Membaca judul filmnya dalam bahasa Indonesia aja udah cukup bikin gatel. Apalagi kemudian diubah ke dalam bahasa Inggris. Makin ajaib saja.

Untuk kasus “Sundel Bolong” diatas, mungkin emang si produser bingung juga, mesti di translate jadi apa ya?? Secara ya, spesies hantu yang satu ini bener-bener lokal banget. Cuman orang sini yang tau, atau paling engga ya negara-negara tetangga kita lah yang juga tahu. Entahlah, mungkin si Sundel Bolong ini agak2 bosan menakut2i orang2 Indonesia, makanya dia plesiran sampe negara sebelah. Makanya ketika filmnya di jual di pasar Internasional, dicarilah sebuah juduul yang bisa ‘menarik’ minat sekaligus bisa menjelaskan isi dari filmnya secara keseluruhan. At least, menjelaskan siapakah hantu yang jadi banci tampil di film itu. Makanya, dengan cerdasnya si produser (atau siapalah) memutuskan,

“Oh, aku tau! Aku tau! Kita ganti saja dengan : Ghost With Hole!! Cerdas kan saya???”.

Plakk!! Continue reading

Menyayat-nyayat Cinta

“Kapan kita Ngayat-ngayat Cinta??”

Pertanyaan singkat di SMS yang saya kirimkan ke teman saya Nduts inilah yang akhirnya membawa kami masuk ke Studio I Ambarrukmo Plasa tadi malam. Ya, akhirnya kesampaian juga nonton film ini. Bukannya gimana2, tapi memang kami agak ‘menahan diri’ tidak segera menonton film ini karena menunggu ‘kehebohan’ Ayat-Ayat Cinta agak mereda dulu. Apalagi mendengar kabar dimana-mana yang bilang kalau tiket film ini selalu sold-out, harus memakai antri yang panjangya amit2, hingga pengaruh orang lain yang bilang,

“Halah, film Indonesia loh! Rugi bener nonton di Bioskop. Tunggu aja VCDnya keluar!”.

Masih ditambah lagi beberapa waktu lalu anak2 di kantor juga nonton versi bajakan internetnya. Lengkap toh hambatannya?

Continue reading

More Than Words

Ada ungkapan yang bilang : Action speaks louder than words. Bahwa tindakan itu lebih ‘kena’ dibandingkan kata-kata. Kata-kata aja nggak cukup, perlu tindakan. Well, sometimes it’ s true. Sometimes it isn’t. It depends. Karena buat saya, kadang justru kata-kata bisa sangat kuat sekali memberikan pengaruh/influence buat seseorang. Baik itu kata-kata yang dikeluarkan secara langsung melalui ucapan, maupun kata-kata yang dinyatakan secara tidak langsung, melalui tulisan. Walaupun kemudian kelanjutannya, menurut saya kata-kata yang dikeluarkan secara langsung punya ‘kekuatan’ yang lebih dari sekedar tulisan. Nggak percaya? Mari kita uji praktek *halah*.

Misalnya saja dalam sebuah kelas. Disana tentu saja ada Dosen, dan ada beberapa mahasiswa. Kemudian si Dosen menuliskan “SILAKAN BERDIRI” di papan tulis. Kemudian si Dosen diam, melihat ke arah mahasiswanya. Yang mungkin terjadi kemudian adalah, para mahasiswa itu mungkin akan saling memandang dengan kening berkerut. Bingung. Setelah itu, ya udah. They ended up with bingung aja. Hehehe. Lain halnya kalau si Dosen itu masuk ke kelas, dan kemudian di hadapan para mahasiswanya ini langsung berkata, “Silakan berdiri”, instead of writing those words on the white board. Tentu yang terjadi kemdian, adalah sangat mungkin para mahasiswanya (tetep) akan saling memandang heran, tapi pasti tetap akan berdiri walau mungkin dengan ekspresi bingung. Tapi at least, mereka tetap berdiri. Itulah kekuatan kata-kata. Dan itulah kenapa saya suka sekali bekerja di dunia radio. Bisa mempengaruhi banyak orang soalnya. Hahahaha.

Tapi bukan berarti lantas kata-kata yang berupa tulisan menjadi tidak penting. Enggak. Tetep penting juga. Kalo engga, tentu aja nggak bakal ada yang namanya koran, majalah, novel, atau blog, bukan?? Dari situ semualah yang namanya informasi dan hiburan didapetin. Termasuk pembelajaran2 yang bisa kita ambil. Saya punya kebiasaan yang mungkin agak2 nyeleneh dan jarang dilakukan orang berkaitan dengan ‘kekuatan kata’ ini. Saya suka sekali memperhatikan Tagline dari film-film, terutama film luar (baca : Hollywood). Karena kalau diperhatikan bener-bener, ternyata Tagline-nya bagus-bagus! Dan kalau mau jujur, adalah sungguh sangat-sangat tidak mudah untuk membuat sebuah tagline yang singkat, tapi bisa mewakili keseluruhan isi cerita film. Ini belum seberapa. Tagline juga mesti dan haruslah enak dibaca dan didengar juga. Continue reading