Archive for the ‘Nostalgia’ Category

DK loves KD

Saya tidak begitu mengerti, apa yang membuat saya bisa jatuh hati setengah mati dan memuja seorang perempuan bernama Kris Dayanti. Mungkin demikian juga yang ada di pikiran teman-teman sekantor saya dulu di FeMale Radio Jogja, yang tidak habis pikir bisa-bisanya poster bergambar Kris Dayanti dalam 4 pose yang berbeda, bisa terpampang di ruang kerja saya. Ah, seandainya saja mereka tahu ,betapa dibutuhkan sebuah perjuangan yang cukup panjang untuk sampai akhirnya bisa mendapatkan poster itu. Bayangkan, setelah bersusah payah merengek-rengek kepada orang label rekaman tempat KD bernaung (dan akhirnya poster yang dijanjikan tidak juga kunjung datang!), akhirnya saya harus mengeluarkan uang sendiri untuk (memaksa) beli poster itu di toko kaset langganan saya, dan kemudian membingkainya sendiri pula. Oh sungguh niat!

Iya, apa yang saya lakukan itu memang terdengar lebai sungguh, bahkan keterlaluan. Tapi cobalah melihatnya dari kacamata ‘kekaguman seorang fans kepada artis pujaannya’. Maka semua tingkah ajaib seorang ‘penggemar’ akan terasa termaklumi saja. Tinggal tergantung seberapa besar rasa kekaguman itu saja. Ada yang hanya sekedar mengagumi dalam diam, ada yang bahkan sampai berusaha menunjukkannya kepada si bintang pujaan, dengan cara camping di halaman sekitar tempat tinggal artis itu, misalnya. Jujur, saya belum bukan termasuk yang segitunya. Karena, ya saya juga masih cukup punya harga diri lah, walau tidak seberapa. Karena saya juga selalu menganggap saya ini artis juga, jadi apa kata fans-fans saya kalau melihat kelakuan saya seperti itu?? *oke, tolong anggap saja kalimat terakhir ini tidak pernah ada ya*

“Se-gila” apa sih saya terhadap mbak KD ini?

Saya sih menganggap kekaguman saya ini masih dalam tahap cukup wajar. Sama seperti orang-orang lain, mungkin juga banyak yang mengikuti perjalan karirnya. Tapi mungkin hanya saya yang tahu secara detail.

  • Nggak banyaj yang tahu kan, kalau dulu KD ini menjadi cover majalah pertama kali adalah untuk majalah cerita remaja bernama ANITA CEMERLANG? Waktu itu rambutnya masih keriting papan, menggunakan baju polkadot hitam putih. Mengejutkan, bukan? Iya saya tahu, yang mengejutkan mungkin lebih pada kekagetan kalian, kok bisa-bisanya anak SD seperti saya bacaannya kok Anita Cemerlang.. hahahaha…
  • Semua orang mungkin tahu kalau Kris Dayanti pernah menjadi juara Grand Champion Asia Bagus. Tapi tidak semuar orang tahu, kalau dia pernah membuat 2 buah lagu yang direkam sebagai hadiah lomba nyanyi itu, berjudul “Show Me The Way To Your Heart” dan “Lost in The Storm”. Saya tahu! Dan bahkan masih hafal dengan reffrain lagu itu! Sama juga dengan masih hafalnya saya dengan lagu “Learning From Love” yang dinyanyikannya ketika grand final dan pernah direkam ulang oleh Regine Velasquez itu…
  • Jauh sebelum KD menjadi juara di Asia Bagus dan Cipta Pesona Bintang RCTI dulu, KD dulu juga pernah membuat single untuk film “Catatan Si Emon” *owhhh*, berduet dengan James F.Sundah berjudul “Jangan Lagi”. Disini namanya masih Dayanthie, bukan Kris Dayanti.
  • Begitu juga dengan pemunculan pertama KD di dunia sinetron, yaitu lewat salah satu episode “Jendela Rumah Kita” di TVRI. Nggak banyak yang ingat barangkali, kalau judul episode itu adalah “Gadis Manis Dalam Gerimis”…. 😀

Itu mungkin hanya beberapa hal dari banyak hal lagi yang saya selami *uedannn* tentang Kris Dayanti. Masih cukup wajar kan, ya? Tapi bagaimana dengan kisah yang satu ini… Continue reading

Advertisements

1st Movie Experience

Ternyata setiap tanggal 30 Maret itu diperingati sebagai Hari Film Nasional, ya? Saya baru tahu. Ya wajar sih, lha wong saya bukan orang yang bekerja di dunia film. Walau saya juga ragu, apa teman-teman saya yang kebetulan bekerja di dunia perfilman juga tahu kalau ada satu hari spesial untuk bidang kerja yang digelutinya itu.

Sedikit mengulik sejarah supaya isi blog ini rada-rada seikit bermutut (hahaha), Hari Film Nasional ini ditentukan terhitung sejak tanggal 30 Maret 1950. Yaitu hari pertama syuting film berjudul “Doa dan Darah” yang disutradarai oleh Bapak Perfilman Nasional, Usmar Ismail. Bukan Ismail Marzuki ya. Saya juga sering kebalik-balik membedakan kedua orang ini. Dan ini katanya sih merupakan film perdana yang dibuat sendiri oleh anak bangsa, dibawah nama perusahaan negara bernama PERFINI. Berarti tahun ini, perfilman Indonesia sudah masuk ke usia ke 59 ya. Semakin bertambah tua sebenarnya. But then again, usia itu memang tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas ya.

Kamu sendiri, sejak kapan mengikuti perkembangan film Indonesia? Saya sendiri mulai mengikutinya sejak saya masih berumur 5 tahunan?Sekitar tahun 1985, ketika masih tinggal di Medan, saya diajak ibu saya nonton sebuah film yang dimainkan sama Mbak Meriam Bellina dan Mas Ikang Fawzi!

kulihatcintadimatanya

Tuh, keren banggett kan?? Continue reading

Where Do I Begin?

“Halo Mas Deka.. Ini Maida Swaragama. Gini mas, kita lagi ngomongin tentang blog. Mas Deka bisa nggak kita ajak ngobrol tentang blog. Yaa.. tentang asal mulanya dulu tau bisa nulis gimana, terus dulu giman pertama kalinya mulai ngeblog, yaa pokoknya gitu lah mas.. Nanti abis Maghrib kita telpon ya Mas..”

Kurang lebih begitulah salah seorang produser acara sore di Radio Swaragama Jogja meminta ijin (duh, bahasanya) untuk mengajak saya mengobrol tentang ‘blog’ melalui telepon dan di on-airkan di acara sore mereka. Kaget? Pasti. Seumur-umur, kayanya belom pernah deh diinterview sama radio. Karena biasanya, ya saya yang menginterview, bukan diinterview. Lebih kaget lagi, topiknya adalah tentang blog. Bukan sesuatu yang aneh sebenarnya, karena saya udah nyemplung di dunia blog ini udah hampir 2 tahunan. But when it comes to giving an advice how to write a good post (or even how to start one), duh bener-bener bingung deh.

Saya sih cuman ‘iya-iya’ aja ketika diajak ngobrol, tanpa tau bisa-bisanya mereka tau saya hobi ngeblog. Tapi kayanya sih ada yang ngebilangin kalau selain ganteng, saya juga hobi ngeblog. Hahahaha. Maap, suka keterlaluan emang narsisnya. Agak2 ga tau malu. Well eniewei, akhirnya saya ditelpon oleh mereka sekitar jam 5.45 sore. Tepat setelah terputarnya lagu Recto Verso-nya Dewi Lestari, dan dengan pengantar dari si penyiar yang kalau tidak salah bernama Taufik :

…. bla bla blaaaa, ini Recto Verso dari Dewi Lestari, yang juga seorang blogger ya. Nah, kalo ngomongin soal blog, ada temen saya nih yang juga sering nulis blog, selamat sore Pak Deka……”

Tuh, gimana gak grogi coba! Disandingin sama Dewi Lestari.. Hehehe, salah ya? Ya, harusnya sih mereka langsung menelpon Dewi Lestari ya. Kan lebih cocok. Kok malah sama saya ngobrolnya. Tapi ya sudahlah, anggap saja saya sekelas dengan mbak Dee ini. Amin. Lha wong sama-sama bloggernya kok. Hehehe. Blogger tidak mengenal kelas! *halah*

Akhirnya selama kurang lebih 7 menitan, saya diajak ngobrol tentang blog. Mulai dari kapan memulainya, tentang isi tulisan, tentang masa depan blog dll. Agak lupa2 ingat apa aja pertanyaannya, saking terlalu bersemangatnya nyerocos. Kayanya malahan cerewetan saya dibanding penyiarnya. Hihihi. Tapi setelah itu, saya seperti diajak buat flashback lagi, hanya dimulai dengan satu pertanyaan standar saja : Kapan mulai sadar kalau saya bisa dan suka nulis? Dan jawabannya simpel : NGGAK TAU. Continue reading

Reunited

Sebuah percakapan aneh di telpon yang terjadi sekitar jam 3 pagi

Saya : Ya?
Ndut : Heyy…aku tau ini bukan perbincangan yang wajar di saat Sahur ya..
Saya : Apaan?
Ndut : Udah terima undangan reuni?
Saya : Belom. Emang udah disebar?
Ndut : Oh, belum ya?
Saya : Lah? Piye toh?
Ndut : Aku liat di milis. Berarti kamu belum liat daftar acaranya ya…
Saya : Oke.. ada yang ajaib pasti… *mulai tertarik*
Ndut : Oh iyaaa…
Saya : Oke. Sebutkan… *makin tertarik*
Ndut : Jadi, acara akan dibuka dengan pertunjukkan Capoeira…
Saya : Oke.
Ndut : Abis itu sih standar lah. Ada sambutan-sambutan. Nah aku kaget pas ngeliat acara nomer 7
Saya : Apa? Apaan?? *amat sangat luar biasa tertarik*
Ndut : Hihihi. Siap ya…
Saya : APAAN?!!
Ndut : Berfoto Bersama Febri

Febri ini adalah salah satu nama teman saya yang dulu memang cukup dikenal dikalangan siswi perempuan karena, yaaah.. cukup ganteng lah. Salah satu saingan saya dulu dalam hal ini. Huahahaha. But that’s not the point! Mau seganteng apapun dia sekarang, kok yaberani-beraninya dia bikin acara foto bersama! Siapa elu? *merasa tersaingi*. Makanya, saya nyolot dong! Continue reading

Partners in Crime

Nggak kerasa tahun ini genap 10 tahun saya meninggalkan seragam sekolah putih abu-abu saya. Ya, waktu ternyata bener-bener cepat berlalunya. Siapa yang nyangka, tau2 kemarin ada ajakan reuni SMA, untuk memperingati 1 dasawarsa lulus SMA. Wah! 10 tahun kok kayanya baru kemaren. Kayanya belom ngapa2in, belom jadi apa-apa dan belom punya siapa2 pula! Tau2 udah 10 taun lewat! Hmm.. SMA.

Too many memories!

Kayanya saking berkesannya masa 3 tahun itu, jadi bingung kalau ditanya pengalaman yang paling berkesan. Tapi diantara yang banyak itu, there is one thing that I miss the most : kekompakannya. Bukan hanya kompak ketika diadakan pertandingan classmeeting atau ketika ada acara Pentas Seni aja, tapi juga kekompakan dalam hal melakukan kejahatan! Bukan dalam hal memberantas kejahatan ya, tapi melakukan kejahatan! We’re partners in crime. Bukan perbuatan yang kriminal2 sih, tapi yang dilakukan adalah sebuah kenakalan2 kecil standar yaitu mencontek.

Saking kompaknya, perbuatan mencontek yang dulu dilakukan secara perseorangan (hehehe), waktu itu kami lakukan secara massal! Kami sadar, pepatah ini benar sekali : Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh! Saya ingat sekali, waktu uduk di kelas II SMA, ada 2 mata pelajaran dimana mencontek massal itu kami lakukan. Yang pertama adalah pelajaran Sejarah. Jadi setiap diadkan ulangan, kami harus menjawab sekitar 20 pertanyaan pilihan ganda (Multiple Choice). Jadi ya kami harus memilih antara a-b-c-d atau e. Nah ketika ulangan selesai, maka yang selalu dilakukan kemudian adalah pengkoreksian langsung oleh murid-murid sendiri. Nggak tau apa tu guru emang termasuk yang males kalo ngoreksi sendiri atau gimana, tapi setiap ulangan memang ini selalu dilkakukan. Jadi, kertas ulangan dikumpulkan sesuai dengan baris tempat duduk, dan kemudian ditukarkan. Hasil ulangan baris pertama ditukar dengan baris ketiga, hasil ulangan baris kedua ditukar kan dengan baris keempat. Setelah itu, Ibu guru Sejarah kita itu kemudian membacakan jawaban yang benar, dan DIHARAPKAN anak2 membantunya untuk mengoreksi hasil kerjaan teman2 mereka. Dan disinilah kejahatan massal itu terjadi. Hehehe.

Continue reading

History part I

6 tahun di Sekolah Dasar, 3 tahun di SMP dan 3 tahun di SMA, membuat saya sadar bahwa menjadi seorang Guru itu ternyata bukanlah sesuatu yang gampang. Paling enggak, dari 12 tahun menjadi orang yang ‘diajar’, saya bisa mengerti lah gimana beratnya menjadi orang yang ‘mengajar’. Maksudnya, 45 menit berdiri didepan murid2, dilihatin berpuluh2 mata, berusaha menerangkan sebuah pelajaran dengan gaya penyampaian yang menarik sehingga anak2 berseragam yang ada dihadapannya itu tidak memasang muka bete dan ngantuk, bukanlah hal yang mudah, bukan? Apalagi kalau mata pelajaran yang diterangkan bukanlah mata pelajaran yang ‘menarik’ untuk disimak. Misalnya, mata pelajaran Sejarah.

Kok Sejarah?
Please deh, emangnya ada ya yang suka sama pelajaran ini? Hehehehe. Ya ya ya, saya tahu. Hanya karena saya nggak suka, bukan berarti semua orang juga nggak suka. I know that. Tapi menghafalkan nama2 ‘ajaib’ dari era Majapahit, bukan sesuatu yang asyik buat dilakukan bukan? Belum lagi ketika harus menghafalkan nama2 yang lebih ‘jadul’ dan lebih ajaib lagi di era Megalitikum dan teman2nya. Waduh! Makanya jangan heran ketika waktu itu kami diwajibkan untuk menghafalkan jaman2 itu, salah seorang teman saya pernah nyeletuk,

Duh Pak.. Kan udah nggak jaman…”.

He’s got the point, sebenarnya. Tapi tetap kemudian dia disuruh menutup pintu dari luar oleh guru Sejarah saya yang galak itu. Hehehe. Continue reading

I Was Born to Sing

Suatu siang, ditengah2 acara makan siang di sebuah Rumah Makan di Jalan Kaliurang.

My Dad : Besok di rumah mau ada pertemuan angkatan Papah. Kayanya mau ngundang kelompok Keroncong dari Salatiga.
Me : Oya? Berapa orang?
My Dad : 3. Ukulele 2, satunya Banjo.
Me : Kok bisa nemu kelompok Keroncong itu?
My Dad : Waktu nganter Mamah berobat di Salatiga, ada yang maen itu. Bagus, Ka’. Lagu2 lama sampe lagu-lagu baru dimainin jadi keroncong gitu..
Me : Oo…
My Mom : Eh, iya. Itu keponakan2mu sekarang juga lagi seneng lagu keroncong..
Me : HAH???
My Mom : Itu, di mobil ada lagu keroncong yang dibikin modern. Jadi ada band yang bikin lagu rap campur sama keroncong. Anak dua itu pada apal…
Me : Oooo… Itu yang nyanyi namanya Bondan Prakoso.
My Mom : Bagus lho, Ka’. Mamah pengen beli kasetnya.
Me : *memandang penuh keheranan…. *
My Mom : Anak2 jaman sekarang kasian ya, nggak ada lagu anak-anak yang bisa dinyanyiin. Jadi lagu2 orang gede dihapalin semua.
My Dad : Iya. Beda sama jaman dulu.
Me : Masa sih? Enggak ah. Jaman dulu banyak penyanyi anak-anak, banyak lagu anak2, aku juga sukanya lagunya orang gede.
My Mom : Apa iya?
Me : Lah… lha wong dulu pas ulang taun ke berapa ya.. Ke 3 tahun apa, ya? Papah ngasih kado aku kasetnya Meriam Bellina sama Happy Pretty!
My Dad : Oh.. hahahaha…
Me : Coba, mana pernah aku beli kaset penyanyi anak-anak.
My Mom : Oh iya, Kaka’ pernah nangis minta dibeliin kasetnya Chintami Atmanegara dulu..
Me : Hahaha..
My Dad : Salah siapa kalo gitu…
Me : Nggak salah siapa-siapa. Emang dari kecil udah ditakdirin bakal jadi artis kali.. huahahaha..

Continue reading

Love Songs

Terinspirasi oleh salah satu postingan adik saya di blognya, saya kok jadi gatel pengen nulis yang serupa tapi tak sama (ogah bener dibilang ngejiplak.. padahal ho oh.. hehehe). Berhubung masih suasana Valentine-yang padahal ga ngefek2 amat juga buat saya, sayapun tergerak untuk mencari 20 lagu ter-romantis menurut saya. Kalau Dimas sok ke bule2an dengan memilih lagu-lagu Barat (hehehe), saya lebih memilih lagu2 dari negeri sendiri saja. Dan ternyata melakukan ‘penyeleksian’ seperti ini sungguh bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah! Pertama, memori di otak saya tidak sedahsyat yang saya kira. Terbatas sekali. Kedua, ya karena sebagai orang yang kerjaannya ngurusin musik, salah satu kerjaan utama saya setiap harinya adalah mendengarkan lagu.. lagu.. dan laguuu…. terus. Masa dari puluhan ribu lagu cinta yang saya kenal (edan.. berlebihan sungguh), harus di’eliminir’ menjadi tinggal 20 aja??

Tapi ya sudah. I’ll take the challange. Padahal juga ngga ada yang nantangin, sebenernya. Hehehe. Berikut ini adalah lagu2 yang menurut saya teramat romantis untuk dilupakan begitu saja. Dan kriteria penilaiannya *halah* ada beberapa faktor. Dari sisi kekuatan melodi, lirik, dan tentu saja…. kedalaman efek yang ditimbulkan bagi saya secara pribadi. Hehehe.
OK, here we go. Mas Ganteng present you The Deka’s 20 Most Romantic Indonesian Songs Of All Time!


Continue reading

28

“Met ulang taun ya, Dek… blablablablabla…., kapan kawin?
“Happy Birthday, Kaka! blablablablabla… cepet dapet jodoh ya!
“Met ultah, Men! Buruan kawin!
“Happy 28th Birthday! Wish you.. blablablablabla.. semoga cepet nemu soulmate ya”
“Selamat Ulang Taun, Mas Deka… Kapan nyusul aku kawin? Hihihi..”

Mengapa mereka semua begitu kejaaaaammmm?????

Hahahaha. Ya ya ya, setelah melalui counting down yang cukup lama (21 hari, Men!), akhirnya resmi sudah saya berusia 28. Biasa aja sih harusnya ya, bukan angka yang cantik untuk disambut secara gegap gempita seperti misalnya angka 17 atau 40 tahun, misalnya. Tapi personally, justru ada perasaan deg2an luar biasa di diri ini ketika sadar bahwa saya akan memasuki angka 28 ini. Really dunno why. Tapi ada semacam keyakinan kalau di umur ini akan ada sesuatu yang ‘besar’ yang menanti saya. I’m not a psychic, for sure, tapi saya yakin intuisi saya cukup bagus untuk hal2 beginian. Hehehe. Mudah2an sesuatu yang ‘besar’ itu adalah sesuatu yang bagus. Bukan yang buruk. Dan kalaupun buruk, mudah2an saya diberi kekuatan untuk menghadapi dan menerimanya.

Kembali lagi ke kutipan2 greeting diatas, itu cuman 5 kutipan dari banyak ucapan selamat yang saya terima di ulang tahun kemarin. And I really thanked you all for that. Really appreciated it. Makasih ya buat semua ucapan dan doanya. Dan entah apa kalian semua bersekongkol atau gimana (heheheh), semua.. I mean, SEMUANYA selalu menyertakan doa tentang ‘cepat menemukan jodoh’ atau ‘cepat kawin’ untuk saya. Walaupun didepan2nya ada do’a2 lain, tetep rasanya seperti tidak afdol kalo nggak menyertakan bagian yang ‘itu’. Disatu sisi, saya sih sangat senang sekali banyak yang masih dan mulai dan selalu perhatian sama saya. Tapi disisi lain.. ada perasaan… aaaarrghhhhhhhhhh!!!! Iya, gitu dia…. Hehehe.

28 years old. Still single.
28 tahun. Ya, udah 28 tahun saya hidup di dunia ini. Belom juga ada yang ‘nyantol’ *halah* di hati buat jadi temen hidup. Yang ‘nyolek’ banyak. Berulang kali tentu. Tapi ya udah, just ‘nyolek’ aja. Buktinya sampe sekarang masih keukeuh aja sendirian. Ayo dong, colek gue!!!! Hehehe. And then one night, setelah di bombardir oleh pengharapan2 orang2 agar saya segera menyudahi kesendirian saya ini, saya mencoba mengingat2 kembali masa2 hidup saya selama ini. Buka-buka lagi album foto. Sejak saya kecil, remaja dan dewasa sekarang ini (edan euy! Mas Deka udah dewasa..). Siapa2 saja orang-orang yang pernah ‘mencolek’ saya itu. Mulai dari cinta2 monyet saya jamannya SD-SMP, cinta2 agak penting jamannya SMA, cinta2 ga jelas jamannya kuliah, dan cinta2 makin tidak jelas ketika jamannya kerja sekarang ini.Hahaha.

Dan ternyata… yooo bbuuuuaaaannyyakkkkkkkk…. ya jumlahnya! I mean, ya iyalah… udah 28 tahun! Ternyata orang yang pernah ‘masuk’ dalam hidup saya ini jumlahnya tidak cukup dalam hitungan jari tangan. Sableng emang. Ngapain coba, bikin data orang2 yang pernah dekat di hati kita?? Tapi cobalah, pernahkah sekali aja (just for fun), kita inget2 lagi orang2 itu?? Lucu lho.. bikin senyum2 sendiri. Bahkan untuk kisah2 cinta yang berakhir tragis pun, amazingly sekarang ini bisa kita ingat dengan ekspresi tersenyum atau tertawa, dan bilang ke diri kita, “Goblok banget ya.. Dulu kok bisa2nya gue nangis meraung2 gara2 ni orang..”

Dan, tanpa bermaksud mengobral cerita pribadi apalagi mempermalukan yang bersangkutan (saya sih yakin, mereka2 ini nggak malu pernah ‘dekat’ dengan seoarng Ryu Deka.. Hwahahha), ini beberapa nama yang sempat singgah di hati saya selama 28 tahun ini. Dan kalau nama kamu ada disini…, heyy.. apa kabar?? Masih inget jaman dulu kita itu?? Hehehe.. Continue reading

80’s

Norak. Tapi menghibur. Mungkin itulah yang tepat menggambarkan lagu-lagu jaman 80an yang pernah sukses (atau paling tidak, kita kira seperti itu) dulu. Jaman dimana para wanita sering diperlakukan semena-mena sampai tampak tanda merah dipipi bekas gambar tangan suaminya, sehingga mereka minta dikembalikan pada ayah-ibunya. Jaman dimana kata-kata cinta diucapkan dengan kalimat yang gombal luar biasa (halo…. ‘ cintaku sedalam lautan Atlantik?’ atau ‘kau tercipta dari tulang rusukku?? Uuggh..), jaman dimana wanita masih susah memilih antara Hitam dan Putih, juga antara Benci dan Rindu! Bahkan 80an adalah jaman dimana buah Semangka pun bisa berdaun Sirih! What an era….

Nggak cuma itu ternyata. Mendekati ke tahun 90an, dimana lagu2 cengeng dilarang oleh Pemerintah (dalam hal ini oleh Menteri Penerangan) karena dianggap tidak mendidik (hihi.. kaya ga ada kegiatan lain aja ya, sampe ngurusin lagu2 segala si bapak Menteri), maka kemudian pencipta2 lagu cengeng seperti Pance F.Pondaag, Rinto Harahap atau Obbie Messakh menjadi patah arang dan memutuskan berhenti mencipta lagu dan memutuskan untuk menjadi petani saja (mungkin!). Karena yang terjadi kemudian adalah tren lagu cengeng berubah menjadi tren lagu cinta2an remaja. Dengan nada yang ceria, dan dinyanyikan dengan gaya yang tidak kalah ceria pula. Norak? Tetep. Tapi tetap menghibur kok. At least kalo kita mendengarkannya lagi sekarang2 ini. Pasti dengan sendirinya kita akan berkomentar, “Ya ampun! Tega banget sih bikin lagu kaya gini…” atau “Edan. Kok bisa sih bikin lirik kaya gini… ” sambil geleng-geleng kepala. Geleng2 bukan karena mengikuti dan menikmati hentakan iramanya ya (edan). Tapi geleng2 karena… yaaa.. gak habis pikir aja! Eh, tapi untuk beberapa kasus, saya geleng2 kepala karena ga habis pikir dengan liriknya, tapi juga menikmati iramanya juga. Hahaha.
Coba….. Continue reading