Archive for the ‘Pemikiran’ Category

Akhirnya…

….. meninggalkan 2009 juga.

Ketika kita sudah berada di akhir, pasti kita selalu berusaha mengenang dan mengingat lagi segala sesuatu yang ada di awal. Bagaimana kita dulu memulainya. Dan bagaimana kita menjalaninya, hingga akhirnya sampailah kita di ‘akhir’ ini. Sama dengan saya. Saya menulis post ini tepat di malam menjelang pergantian tahun 2009 ke 2010. Tidak ada perayaan apapun, karena memang tidak ingin. Tidak ada keramaian, karena sehari-haripun hidup saya sudah ramai dengan berbagai keramaian dan masalah :D. Ya begini inilah. Akhir tahun hanya ingin membuat sebuah penutup untuk segala up and down dan riuh rendahnya kehidupan.

Ketika benar-benar sudah sampai di penghujung tahun, barulah saya berpikir lagi,

“Gue udah ngapain aja ya tahun ini? Kok kayaknya nggak ada yang keinget lagi..”.

Ya tentu saja, siapa sih yang bisa mengingat dengan detail apa yang sudah kita alami selama 12 bulan? 365 hari, lho! Jangankan hari sebanyak itu, apa yang terjadi 3 minggu yang lalu saja mungkin kita sudah tidak ingat lagi. Kalau sudah begini, saya kemudian malah mempertanyakan segala tetek-bengek resolusi tahun 2009 yang saya buat diawal tahun lalu, yang -seperti tahun-tahun sebelumnya, menguap entah kenapa before I know it!

Satu yang saya masih ingat adalah ketika malam pergantian tahun 2008 ke 2009 yang lalu, saya pun tidak melakukan apapun untuk merayakannya. Selepas makan malam, saya malah langsung tidur. Karena keesokan harinya, jam 4 Subuh, saya sudah harus langsung kabur ke arah Magelang, menuju Candi Borobudur. Ya, saya memang harus berangkat sepagi itu supaya tidak ketinggalan menyaksikan munculnya sinar matahari pagi. Waktu itu ceritanya saya ingin sok-sok an berfilosofi ingin menyaksikan the first sunrise of 2009. Ingin menyakiskan sinar matahari pertama di tahun 2009. Biar gimanaaa, gitu kesannya. Sambil memandangi sinar matahari pagi, sambil merenung, berkontemplasi merencanakan resolusi tahun baru. Dan tempat yang paling pas untuk mewujudkan niat saya itu, dimana lagi kalau bukan di puncak Candi Borobudur.

Akhirnya, jam 4.30 saya sampai di Hotel Manohara *sumpah, ini hotel beneran sudah ada sejak dahulu kala dan bukan terinspirasi dari mbak Manohara Odelia Pinot itu*. Dengan berbekal Senter, saya dan beberapa turis asal Jepang mulai menaiki setapak demi setapak bangunan Candi itu. Sekilas, memang seperti orang yang kurang kerjaan sekali. Mirip orang ronda, tapi dengan busana yang modis. Hehehe. Tapi disitulah serunya. Disaat orang-orang lain mungkin jam segitu baru mulai tidur setelah lebai berdugem dan berpesta pora, saya malah sudah memulai aktivitas padi dengan menaiki Candi Borobudur.

Sesampainya di puncak, saya mencoba memandang sekeliling Candi sambil mengambil nafas panjang. Seperti adegan di sinetron-sinetron itu, lah. Berjalan mengelilingi puncak candi, dan akhirnya terduduk bersila dan mulai mencoba menunggu datangnya sang sinar mentari di awal tahun yang saya tunggu-tunggu. Kalau dilukiskan dalam sebuah gambar, beginilah kurang lebih adegannya :

Lebai, memang. Continue reading

Advertisements

Tak Selamanya Blackberry Itu Indah #2

Suatu pagi di gym, bertempat di ruang locker. Saya duduk di sebuah bangku kayu, sambil membuka sepatu fitness yang saya pakai, sambil menyeka keringat yang membasahi sekujur tubuh saya- yang nggak six pack-six pack juga walau sudah bertahun-tahun fitness itu, saya sibuk mengutak-atik Blackberry saya. Tidak ada yang penting, hanya sekedar melihat update status Facebook teman-teman di pagi hari yang isinya paling-paling hanya seputar masalah ‘malas bangun’, ‘sibuk menyemangati diri sendiri’ dan ‘stress menghadapi banyaknya kegiatan hari itu’.

Tiba-tiba saya dikejutkan oleh sebuah suara aneh didekat saya.

“…shayya herran dengan owrang Indenezya.. khemaryin shayya lunch diy rezteran, dan shayya lihat semwa owrang tertunduk kepaanya.. you know, zibuk dengan Blackberry mereka sendiri…”

Ya, kurang lebih begitulah bunyi suara itu. Aneh, kan? Hehehe. Setelah saya menengadahkan kepala dan berusaha mencari  dari mana asal muasal suara itu, terkejutlah saya ketika mengetahui bahwa sesosok laki-laki tua berambut putih sudah stand by di depan saya. Ternyata ada seorang bapak-bapak bule yang baru saja masuk ke dalam locker room, dan langsung mencoba beramah-tamah dengan membuka sebuah perbincangan tentang Blackberry karena melihat saya kelihatan asyik sendiri memainkan benda mungil itu.

Saya lupa siapa nama bapak-bapak bule itu. Tapi yang saya ingat, ketika kami kemudian berkenalan, dia mengaku seorang kepala sekolah di sebuah sekolah internasional di Jogja. Ya, tapi sudahlah.. itu tidak penting. Yang penting kemudian adalah kami berbincang cukup seru mengenai kelakuan orang-orang Indonesia (dalam hal ini : Jogja) yang sedang dilanda menjamurnya alat komunikasi bernama Blackberry dan juga handphone-handphone lain yang bentuknya 11-12 dengan Blackberry.

Jadi si mister ini kemudian melanjutkan keheranannya itu. Dimana pada suatu hari ketika dia makan di sebuah restoran, dia melihat semua orang sibuk mengutak-atik Blackberry yang dimilikinya, padahal mereka sedang berhada-hadapan dan duduk dengan teman-teman lainnya di satu meja yang sama. Dan teman-temannya itupun sama saja, sibuk cengar-cengir sendiri sambil memainkan ponsel dan Blackberry mereka. Bahkan ketika kemudian makanan yang mereka pesan datang, mereka pun sama sekali tidak menghentikan kegiatan mereka itu, tapi tetap men-double tasking diri mereka : tangan kanan bergantidan digunakan untuk makan sambil bermain Blackberry. Luar biasa. Continue reading

Dilarang Melarang

Saya boleh heran, nggak? 🙂

Boleh ya. Sebenarnya rasa heran saya ini sudah cukup lama munculnya. Tapi mungkin baru sekarang bisa saya utarakan dan tuliskan, karena tahap keheranan saya sudah meningkat dari sekedar heran saja menjadi amat sangat heran sekali.

Saya heran, darimana sih asalnya hingga kemudian ada pihak yang bisa dengan percaya dirinya melarang dan memutuskan bahwa film “2012” itu haram ditonton? Kalau informasi yang saya dapatkan sih, pengharaman itu muncul karena ditakutkan nantinya banyak umat beragama akan langsung percaya bahwa tahun 2012 besok adalah tahun terjadinya kiamat. Sedangkan agama mengajarkan bahwa yang berhak mengetahui kapan tepatnya terjadinya kiamat adalah hanya sang Pencipta. Dan dengan percaya bahwa tahun tertentu (dalam hal ini adalah tahun 2012 ini) adalah tahun dimana kiamat akan datang, adalah haram hukumnya. Dosa. Jadi kesimpulannya, jangan menonton film 2012. Supaya kita terhindar dari dosa.

Dan saya yakin, puluhan penonton yang mencoba tidak perduli dengan pengharaman itu dan tetap menonton film itu beberapa hari yang lalu (termasuk saya) pasti merasa lega, karena kami semua terhindar dari yang namanya dosa. Karena kami langsung yakin dan percaya, bahwa 2012 bukanlah tahun dimana dunia akan kiamat. Karena film itu sama sekali tidak menceritakan hal itu. Sama sekali.

Saya heran, apakah mereka yang membuat pengharaman itu, sebelumnya sudah melihat terlebih dulu film ‘2012’ ini? Atau mereka hanya terpancing melihat trailernya, atau melihat liputan tentang ramalam 2012 di infotainment yang secara asal menggabungkan antara film “2012” dengan pengetahuan sepotong-sepotong mengenai ramalan kiamat versi bangsa Maya dan dibumbui dengan menampilkan ramalan paranormal papan atas negeri ini plus tidak ketinggalan tambahan tanggapan para ulama itu? Karena kalau mereka sudah melihat film “2012” dari awal sampai akhir, mereka pasti akan malu sekali karena telah secara sok tahu dan gegabah membuat pengharaman. Lha wong filmnya sama sekali bukan tentang kiamat, kok..

Saya bukannya ingin mendiskreditkan pihak tertentu. Kalaupun ada yang merasa seperti itu, saya minta maaf. Tapi please.. mbok ya kalau mau membuat sebuah keputusan (apalagi itu menyangkut kepentingan orang banyak), dipikirkan benar-benar terlebih dulu.

Ini bukan yang pertama kali munculnya larangan terhadap sesuatu yang sedang menjadi trend atau hot issue di masyarakat. Continue reading

Body Image

Gara-gara menyebut nama aktris panas legendari Eva Arnaz di tulisan sebelumnya, saya jadi teringat dengan teman saya Ndut. Bukan karena dia mirip dengan Eva Arnaz, bukan juga karena dia mengoleksi film-filmnya tante Eva itu (nggak tau kalau ternyata iya, ya), tapi karena pada suatu hari dia pernah menganjurkan saya untuk mengetikkan nama ‘Eva Arnaz’ di search engine Google, maka dia menjamin saya akan terkesima melihat hasil penelusuran Google untuk nama itu.

Jadilah, saya mencoba mempraktekkannya. Dan memang benar. Saya terkesima!

EVA ARNAZ

Begitu banyak artikel di internet yang mengasosiasikan Eva Arnaz dengan film atau movie (tentu saja, karena beliau adalah seorang bintang film), mengasosiasikannya dengan Warkop (sudah pasti, karena dia dan Lydia Kandau sepertinya memang ikut populer bersama film-film Dono Kasino Indro yang booming dahulu kala itu). Tapi yang membuat terkesima justru adalah di bagian atas sendiri (silakan lihat gambar), dimana Eva Arnaz diasosiasikan dengan KETIAK. Dan tidak main-main, ada 2.930 tulisan yang memuat tentang ini. Dan bisa jadi, mungkin akan segera bertambah menjadi 2.931 berkat tulisan saya ini. Hahahaha.

Saya bukannya ingin membicarakan soal ketiaknya Eva Arnaz yang memang melegenda itu. Tapi saya mencoba melihat dari sisi lain, betapa mbak ini bisa dengan suksesnya menciptakan sebuah brand image atau body image yang sangat kuat menancap di sanubari banyak orang *owhh*. Kalau ngomongin Eva Arnaz, ya berarti harus ngomongin ketiaknya. Begitu juga sebaliknya. Ngomongin ketiak rasanya belum lengkap tanpa memasukkan nama Eva Arnaz didalamnya. Wuahahahhaha. Dan itu harus diberikan sebuah acungan jempol, bukan? Berulang kali saya pernah bilang, untuk bisa dikenal orang, you should be standing in the crowd. Harus bisa terlihat beda. Harus ada yang membuat kita diingat dengan cepat. Otherwise, ya susah. Itu menjadi pekerjaan rumah setiap orang, karena diri kita sendiri (nama dan kemampuan diri) merupakan produk yang bisa kita ‘jual’.

So, Bagaiman dengan kamu? Kalau Eva Arnaz di asosiasikan dengan ‘ketiak’, kamu ingin diasosiasikan dengan apa? 😀

Porn Star

Suatu hari, di ruang program kantor saya, terjadilah sebuah perbincangan berikut ini…

Oknum A : Miyabi.. siapa itu Miyabi?? Gue ga doyan.. Gue doyannya Eva Arnaz!
Oknum B : Pasti karena Keteknya…!!
Oknum A : BEEUHHHHHHH…..!
Oknum C : Apalagi model-modelnya Henidar Amroe.. Ida Iasha…. elu banget kannn….
Oknum A : Apalagi ituuu…..

Sudah. Selesai. Begitu saja perbincangannya. Nggak penting banget, kan? 😀

Tapi walaupun singkat, sebenarnya sudah bisa diketahui bahwa topik utama pembicaraan diatas adalah seorang perempuan yang rencana kedatanganya ke Indonesia berhasil dijadikan berita dimana-mana. Ya mbak Miyabi itu. Bintang film porno yang akan dijadikan semacam cameo untuk film terbarunya Rako Prijanto yang katanya berjudul “Menculik Miyabi”. Itu topik utamanya. Kalau kemudian muncul tokoh-tokoh tambahan lainnya seperti Henidar Amroe dan Ida Iasha bahkan Eva Arnaz di perbincangan itu, saya juga tidak begitu paham. Kok bisa-bisanya tante-tante yang sekarang sudah entah dimana itu disandingkan dengan Miyabi yang umurnya masih twenty something itu.

Banyak orang-orang –yang sepertinya sih penting untuk dimintai komentarnya, mengaku keberatan dengan kedatangan Miyabi ke Indonesi. Mereka khawatir nantinya Miyabi akan merusak moral generasi muda. Menurut saya ini agak- agak tidak adil, karena saya kok yakin ya kalau para generasi tua juga pasti ada yang menyimpan film-film Miyabi. Kenapa generasi mudanya saja yang dijadikan kambing hitam? Tapi juga banyak orang-orang –yang sepertinya juga penting untuk dimintai komentarnya, mengaku tidak keberatan dengan diundangnya Miyabi kesini. Menurut mereka, kedatangan Miyabi ini bisa semakin mempopulerkan nama Indonesia, karena negara lain belum pernah (dan mungkin malah nggak kepikiran sama sekali!) mendatangkan bintang porno kelas dunia bernama asli Maria Ozawa ini ke negara mereka. Continue reading

Quality Control

Selama 2 tahun eksis menulis di blog Sanggar Cerita ini (eksis dalam arti setiap bulan paling tidak ada yang di update, ya hehehe), jujur saya tidak pernah menyangka kalau blog saya ini akan dibaca oleh sekian ratus orang setiap harinya. Itu kalau dilihat dari grafik stats di dashboard blog. Belum mencapai ribuan seperti para selebriti blog lainnya, memang. Tapi terus terang, melihat angka ratusan itu saja sudah membuat saya amazed dan langsung membayangkan kira-kira siapa saja ratusan orang yang membaca blog saya setiap harinya itu. Hehehe.

Saya termasuk yang jarang blogwalking. Hampir tidak pernah, malah. Dan ini mungkin salah satu kelemahan saya sebagai seseorang yang mengaku dirinya sebagai blogger. Dan saya juga hampir tidak pernah mempromosikan blog saya ini kemana-mana (kecuali beberapa kali saya promosikan di status Yahoo Messenger! Itupun bisa dihitung dengan jari). Saya cukup beruntung memiliki teman-teman blogger yang baik sekali, yang dengan sukarela mencantumkan nama blog saya di beberapa tulisan mereka (makasih yaa.. you know who you are 🙂 ). Saya agak enggan jumpalitan promosi sana-sini karena sampai sekarang pun saya masih sering merasa,

..ya elah, apaan sih pake di pamer-pamerin segala? Lha wong blog isinya cuman curhat dan ngomentarin orang tidak jelas beginian doang….

That’s the truth.

Karena ketika pertama kali memulai menulis blog, saya sama sekali tidak pernah membayangkan efek apa yang akan saya hadapi di kemudian hari ketika blog saya ini bisa dibaca oleh orang banyak. Sounds stupid, karena sekali kita publish sesuatu di dunia maya, maka kita berarti sudah dengan sadar memajangnya ke seluruh dunia. But I never realized that, sampai beberapa bulan belakangan ini. Ketika keberanian saya menulis (dan mengomentari sesuatu) semakin besar, ternyata tidak belum dibarengi dengan keberanian dan kebesaran hati saya dalam menerima berbagai macam kritikan dan komentar yang masuk mengenai apa yang saya tulis.

Komentar.

238447-12-shout

Lucu, ya? Saya suka berkomentar, tapi saya tidak suka dikomentari. Dikomentari yang tidak enak, tentu saja.

Beberapa hari yang lalu, ada sebuah komentar dari -entah siapa saya bahkan sudah tidak ingat lagi. Dia mengomentari saya tentang tulisan saya di post “Hidup Malaysia!”. Salah satu tulisan saya yang saya sadar pasti akan banyak yang tidak menyukainya. Komentar itu demikian kasarnya, sehingga saya sendiri bahkan tidak menyangka ada orang yang bisa mengeluarkan kata-kata hinaan sekasar itu. Tidak hanya mempertanyakan rasa nasionalisme saya, tapi si pengirim komentar itu bahkan membawa-bawa dan menjelek-jelekkan ibu saya. Entah apa hubungannya. Tidak perlu lah saya tuliskan disini detail komentarnya. Karena isinya memang sangat tidak sopan dan kalau saya approve dan tampilkan disini, nantinya saya malah merasa kasihan kepada yang bersangkutan. Kasihan, karena saya yakin, kalian yang setia membaca blog ini pasti akan membela saya dan balik mencemooh dia . Saya yakin itu 🙂 Continue reading

The Legend

Semua orang pernah berbuat salah. Dan betapapun menyebalkan dan susah untuk dilakukan, tapi meminta maaf adalah sebuah hal yang mulia untuk dilakukan. Apalagi katanya di bulan puasa seperti sekarang ini, katanya pintu maaf itu sedang dibuka lebar-lebar sama yang Diatas.

Mengucapkan kata “Maaf” sebenarnya sih bukan hal yang paling susah dilakukan di dunia ini. Gampang kok. Tinggal buka mulut, bilang “.. Maaf….”, terus mulutnya ditutup lagi, selesai. Gampang toh? Yang justru paling susah sebenarnya adalam bagaimana menunjukkan rasa penyesalan yang tulus atas kesalahan yang kita lakukan. Menyesal dan berjanji tidak mengulanginya lagi.

Saya mau membagikan sebuah pengalaman yang membuat saya agak-agak merinding setiap kali mengingatnya.

Beberapa minggu yang lalu saya pergi sebuah tempat di Magelang. Bukan, bukannya pergi untuk pulang kampung. Tapi saya pergi dalam rangka mengunjungi sebuah rumah di daerah Terminal Soekarno-Hatta Magelang, menemui salah satu legenda musik Indonesia yang masih hidup, Nomo Koeswoyo. Salah satu personel grup legendaris Koes Plus yang tersisa, yang ternyata tinggalnya satu kota dengan saya, dan saya baru tahu kemarin itu!

Saya pergi kesana dalam rangka sowan atau dalam bahasa Indonesianya ya (kurang lebihnya) berkunjung untuk beramah-tamah, sekalian untuk memperkenalkan diri kepada beliau tentang radio tempat saya bekerja sekarang. Karena salah satu program baru yang saya create di radio ini adalah program pemutaran lagu-lagu dari keluarga Koeswowoyo, mulai dari Koes Bersaudara, No Koes, Koes Plus hingga Chicha Koeswoyo dan Helen Koeswoyo. Jadi ya intinya adalah semacam minta ijin, mohon doa restu, kulonuwun atau apapun lah itu namanya. Sebenarnya tidak ada yang mengharuskan saya melakukan hal itu. Tapi tidak ada salahnya, bukan?

Segitu mendalamnya kah saya memahami dan mencintai lagu-lagu maha jadul milik mereka ini? Sama sekali enggak! Sumpah, saya sama sekali buta dengan lagu-lagu mereka, sama halnya saya teramat asing dengan lagu-lagu jadul lainnya yang jumlahnya ribuan itu. Umur segini, harusnya saya masih sibuk update lagu-lagu dari Jason Mraz, Jordin Sparks atau bahkan Lady Ga Ga (kaya nama Sarden ya!). Tapi karena tuntutan pekerjaan yang  membuat saya harus mengupdate lagi pengetahuan saya tentang lagu-lagu lama (maklumlah, segmen radio saya sekarang ini adalah keluarga) makanya saya pun harus sesegera mungkin mencoba mengenal lagu-lagu dari Ade Manuhutu, Alfian, Anna Mathovani, Tetty Kadi, Lilis Suryani, The Mercy’s, Grace Simon, Ida Royani , Eddy Silitonga hingga ya Koes Plus itu tadi.

Serasa tua sebelum waktunya, memang….. 🙂 Continue reading

Hidup Malaysia!

Ya. Hidup Malaysia!

Saya memang selalu ingin terlihat beda sendiri. Disaat yang lain sibuk mengeluarkan komentar-komentar yang beraroma permusuhan dengan Malaysia karena pemakaian Tari Pendet di iklan promosi pariwisata mereka di Discovery Channel, saya malah ingin mengomentari yang berbeda sama sekali. Ya, itu tadi : Hidup Malaysia!

Bukannya saya tidak punya rasa nasionalis. Karena saya yakin, jiwa nasionalisme itu tidak diukur dari pernyataan caci-maki berlebihan di Twitter atau di status Facebook. Karena toh saya juga yakin sekali, yang mengeluarkan hinaan kepada Malaysia itu juga pasti cuma bisa melongo doang kalau disodori pertanyaan tentang seberapa dalam mereka mengetahui tentang Tari Pendet! Tidak hanya daerah asal tari itu saja, tapi lebih dari itu. Sejarahnya, arti gerakan-gerakannya. Kalau saya kok malu ya sampai harus berkoar-koar merasa memiliki sesuatu, tapi saya sendiri tidak tahu dengan detail apa yang sedang saya perjuangkan itu.

Dengan kelakuannya yang kesekian kalinya ini, terus terang saya juga sebal dengan Malaysia. Benci sih tidak, hanya sebatas sebal saja. Karena saya yakin, mereka tidak punya niat jahat ingin meng-claim sebuah budaya negara lain secara sengaja. Maksudnya, bisa jadi toh ini semua terjadi karena ketidak-sengajaan. Karena mereka (mungkin) mengira Reog Ponorogo, Batik atau lagu Rasa Sayange itu sepertinya tidak terlalu di’anggap di Indonesia, maka ya mereka kemudian berbaik hati ingin ‘mengurus’ atau melestarikannya dan memperkenalkannnya ke seluruh dunia. Ehh, ternyata setelah di promosikan, yang punya barang itu baru ‘ngeh’ dan mulailah mencak-mencak! Salah siapa kalau begini?

Mumpung bulan puasa, ada baiknya kita mencoba menahan diri. Nggak ada salahnya toh kita mencoba mencari segi positif dari permasalahan ini? Buat saya, justru dengan adanya aksi claim budaya dari Malaysia ini, justru ada hikmah buat Bangsa Indonesia. Ngapain kita terlalu emosional menghina Malaysia sebagai pencuri kebudayaan orang, sementara kita sendiri masih ada di urutan atas negara yang hobinya mencuri hasil karya cipta orang lain alias pembajak? Duh, malu lah… Continue reading

Sensitivity

Bukan Afganistan. Bukan pula Sudan. Apalagi Irak. Setahu saya, ini adalah Indonesia. Negara yang sejak tahun 1945 sudah merdeka dan tidak lagi berperang dengan negara manapun. Sehingga adalah hal yang aneh kalau saja sampai hari ini masih saja ada peristiwa ledakan bom di mana-mana. Siapa yang sedang berperang, sih? Dan untuk apa? Siapa yang diperebutkan? Apa yang sebenarnya coba dibela? Saya benar-benar tidak pernah bisa menangkap dengan nalar, alasan apa yang dijadikan pegangan orang-orang pelaku peledakan itu. Sama halnya dengan ketidak-mengertian saya dengan teman-teman saya di Facebook yang sibuk membuat status beberapa saat setelah peristiwa ledakan bom di kawasan Mega Kuningan terjadi hari Jumat 17 Juli ini.

taken from Kompas.com

taken from Kompas.com

Duh berita ledakan dah sampe di luar negeri. Bakal jadi ga Manchester United dateng ke Indonesia tercinta??

Udah. Sini-sini.. MU tetap main aja di stadionnya Sleman. Trus nginepnya dirumahku ajaa. Entar digelarin karpet..

Oh my God. 2 bombs @2 hotels in Jakarta when MU will come in 2 days again! Why it happened??

Aduh.. MU jadi kesini gak yaa? My hubby udah beli tiketnya padahal…

dan masih puluhan status lagi yang semuanya memiliki 2 tema yang sama : Ledakan bom VS Manchester United. Entah kenapa, ketika membaca status-status itu di BB, kedua tangan saya langsung gemetar. Dan langsung memutuskan menyudahi saja kegiatan membuka Facebook, dan memasukkan BB saya itu kembali ke saku baju seragam saya.

Nggak suka banget!

Continue reading

Kapan Lagi Bilang I Love You?

… kapan lagi kau puji diriku, seperti saat engkau mengejarku/kapan lagi kau bilang I Love You/”I Love You” yang seperti dulu… Yang dari hatimu..

Lagi sering nyanyiin  reffrain lagunya Dewi Sandra ini nih. Reffrain lagu yang sebenarnya hanya  terdiri dari 4  baris, tapi diulang-ulang sampai 4 kali total dari keseluruhan durasi lagu aslinya. Diulang-ulang, karena sepertinya esensi *edann, ‘esensiii…’* lagu dan cerita yang ingin disampaikan si penulis lagunya memang disitu. Menceritakan penderitaan seorang perempuan yang sudah lama kehilangan kasih sayang pasangannya, yang kini berubah dan tidak pernah lagi memberikan pujian padanya. Gila pujian banget kayaknya si mbaknya  ini…

Tapi siapa yang enggak, sih?

Siapa sih yang tidak menikmati yang namanya dipuji? Semua orang kalau boleh memilih, pastinya lebih memilih untuk dipuji daripada dimaki, toh? Lebih memilih untuk disanjung daripada di kritisi, kan? Ibaratnya kalau suatu hari kita menerima sebuah surat di kantor, kita tentu lebih memilih menerima surat berisi ucapan terima kasih atau ucapan selamat daripada menerima surat teguran atau tagihan, kan? Nggak begitu nyambung ya analoginya? Hehehe. Tapi intinya sih, kita pasti akan lebih menyukai dan menerima apa yang bisa membuat hati kita senang, daripada menerima sesuatu yang membuat hati kita tidak nyaman.  Nenek-nenek juga tau kalo ini, mah…

Sebegitu pentingnya kah arti sebuah pujian?

I think it is. Saya sih bukannya jago menganalisis tentang sisi psikologis seseorang, tapi saya yakin semua orang juga pernah merasakan,betapa bahagianya perasaan kita ketika dipuji oleh orang lain. Seperti ada suntikan energi yang luar biasa besar,yang mungkin bahkan tidak kita prediksi sebelumnya akan kita dapatkan. Makanya saya kok agak kurang setuju adanya anggapan, kita tidak boleh melakukan sesuatu karena ingin mendapatkan pujian dari orang lain. Duh, hari gini… Kita juga butuh yang namanya pengakuan, toh? Yang salah adalah kalau kita melakukan sesuatu HANYA karena ingin mendapatkan pujian orang lain. Itu baru namanya orang gila pujian. Hehehe.

Pujian yang tulus itu membawa energi positif yang bagus. Karena dari pujian itulah yang membuat seseorang merasa dirinya (memang) pintar, cantik, ganteng, berharga. Intinya, merasa dimanusiakan oleh yang lain. Dan sebuah pujian tulus yang diterima seseorang, disadari atau tidak, pasti akan memberikan efek yang baik di diri mereka dalam jangka waktu yang panjang. Mungkin seumur hidup mereka. Continue reading