Archive for the ‘Penting & Tidak …’ Category

LeaveLunaAlone

Saya simpati pada Luna Maya.

Simpati dalam arti, saya cukup bisa membayangkan bagaimana perasaan ‘gerah’ dan ‘geram’nya dia karena kemana pun langkahnya pergi, selalu diikuti dan dikejar oleh para wartawan pekerja infotainment. Tapi mau bilang apa? She has a high value. Dia memang masih (atau sedang) punya nilai berita yang tinggi. Jadi apapun yang dia lakukan, kapan dan dimanapun, suka atau tidak, pasti akan (dan sepertinya harus) dijadikan berita.

Hingga suatu pagi, saya sempat heran melihat liputan sebuah infotainment, yang menayangkan berita tentang Luna yang pulang dari menonton premiere film SANG PEMIMPI, sambil menggendong Alea, putri dari Ariel Peterpan yang tertidur dipundaknya. Saya heran karena melihat belasan wartawan pekerja infotainment lengkap dengan para kameramen-nya lempeng-lempeng saja mengerumuni Luna yang terlihat agak kerepotan berjalan sambil menggendong anak kecil itu (belum biasa kali, ya 😀 ), sambil berulangkali berkata,

“… iya nanti aja ya didepan ngobrolnya….”

Mungkin yang dimaksud oleh Luna adalah, ia ingin agar interview dilakukan nanti, ketika ia sudah sendirian, tanpa harus ada anak kecil yang sedang tertidur di pelukannya, dan di tempat yang lebih decent, lebih enak untuk melakukan wawancara.

taken from detikhot...as written on the picture 😀

Tapi ya namanya juga wartawan pekerja Infotainment. Melihat dan mewawancarai Luna yang sedang menggendong anak dari pacarnya itu, tentu saja VALUE- nya lebih luar biasa dibandingkan dengan mengambil gambar dan mewawancarainya sendirian saja. Ya toh? Itu mah sudah biasa. Makanya permintaan Luna itupun sepertinya tidak digubris, dan ia terus dikuntit hingga terjadi peristiwa tersenggolnya kepala Alea pada kamera salah satu wartawan pekerja infotainment itu.

Mungkin dari situlah, kenapa ketika Luna menepati janjinya untuk melakukan wawancara sendirian di tempat yang sudah dijanjikan itu, dia terlihat sangat sangat jutek. Terlihat jelas sekali bahwa dia sangat marah, sebal dan malas menjawab segala macam pertanyaan wartawan infotainment. Sampai akhirnya di siang hariinya, saya membaca update di Twitter tentang aksi tulisan Luna yang memaki-maki para wartawan infotainment itu secara vulgar, kasar dan emosional sekali.

Ya begitulah kalau orang sedang marah, dan kehabisan kesabaran. Segalanya menjadi tidak terkontrol. Saya yakin sekali, ketika dia mengetikkan kata per kata di akun Twitter-nya itu, Luna pasti sedang dalam keadaan yang marah sekali. Dan kata-kata makian itu keluar begitu saja, tanpa sempat tersaring dan tanpa pertimbangan dan kesadaran sama sekali.

Kenapa saya bisa (sok) yakin seperti itu? Continue reading

Nice Try!

Siang kemarin, sekitar jam 12.30.

Saya : Halo….
081382508916 : Halo.. selamat siang..
Saya : Selamat siang..
081382508916 : Hei.. apa kabar?
Saya : Mmm.. baik.
081382508916 : Lupa ya?
Saya : Mmm… sorry, ini siapa ya?
081382508916 : Gitu ya… Temen lama dilupain. Masa nggak inget sih?
Saya : Waduh.. sori-sori. Memangnya ini siapa?
081382508916 : Yudi.
Saya : Yudi? Yudi yang mana ya?
081382508916 : Yudi- Yudi…
Saya : Iya, Yudi yang mana ya..
081382508916 : Alahhh.. Yudi .. Masa temen satu SMA dilupain sih… Yang dari Akpol…

Terdiam sesaat mencoba mengingat-ingat teman-teman SMA yang bernama depan atau bernama panggilan Yudi.. Saya memang punya teman SMA bernama Yudi. Ada dua, malah. Yudi Kartika dan Yudi Handoyo. Dan mencoba mengingat-ingat apakah diantara kedua nama itu ada yang berasal dari Akpol.  Tapi suara si penelepon ini benar-benar terdengar asing di telinga saya. Dan seumur-umur kami berteman, sepertinya saya tidak pernah sama sekali ditelepon atau menelepon Yudi-Yudi teman saya itu. . Maklum, kami terakhir bertemu adalah ketika kami kelas 3 SMA, dan waktu itu yang namanya Handphone belum happening, ya 😀

Saya : Mmm.. Yudi… Yudi Kartika, bukan?
081382508916 : Iyaaaa…
Saya : Masa sih?
081382508916 : Yaah.. memang kenapa? Beneran lupa ya?
Saya : Yudi Kartika yang di IPS 1? Bukannya kamu di bank, ya kerjanya?
081382508916 : Iya.. Sebelumnya kan 2 kali aku daftar ke Akpol dan gagal terus… Makanya terus nyerah, dan pindah nyoba ke bank… Inget, nggak?

Makin bingung. Kok makin nggak nyambung gini sih obrolannya.

Saya : Ooooo… Sorry, Yud… aku kok agak-agak lupa ya.. pangling suaranya…
081382508916 : Iya gapapa, lah. Disimpen ya Bos… Ini nomor baru ku. Aku ganti pakai nomer yang ini, sekarang.
Saya : Oh.. Ok. Baiklah… *padahal saya sama sekali belum pernah punya nomor lamanya*. Gimana kabarnya, Yud? *mencoba ramah walau tetap dalam kebingungan yang amat sangat*
081382508916 : Baik. Kamu apa kabar?
Saya : Baik juga.
081382508916 : Lagi dimana, Boss
Saya : Mmm.. di kantor.
081382508916 : Lagi sibuk, nggak?
Saya : Mmmm.. Lumayan. Gimana?
081382508916 : Boleh dong diganggu sebentar. Kapan yuk kita bisa ketemuan langsung. Biar bisa akrab dan silaturahmi..

Hhhhh… mulai nih. Kebingungan sekarang mulai menjurus kearah kecurigaan… Continue reading

Lost In Translation part III

Dari hari ke hari, saya kok semakin ‘kagum’ ya dengan kemampuan berbahasa anak-anak jaman sekarang. Karena  semakin hari, mereka semakin kreatif sekali dalam berkomunikasi satu sama lain. Semakin ekspresif, semakin tidak terduga dan semakin membingungkan! Sehingga untuk kita yang tidak terbiasa mendengar atau berbicara dengan mereka, pasti dijamin akan terbengong-bengong sendiri sambil mencoba menelaah apa yang sebenarnya mereka bicarakan.

Contoh kecil, saya masih ingat betul bagaimana saya sempat kebingungan karena- entah darimana asalnya, kata ‘karena’ bisa digantikan dengan kata ‘secara’ dalam percakapan sehari-hari. Misalnya saja untuk kalimat,

Ya jelas saja Krisdayanti memilih bercerai dari Anang, karena sejak dulu kan Anang-nya memang tipe suami yang mengekang istri..

Ya ya.. mari tidak usah mempertanyakan kenapa saya memilih kedua tokoh itu sebagai contoh :D. Fokuskan pada kalimatnya saja. Ketika kalimat itu diterapkan dalam percakapan sehari hari di jaman sekarang ini, maka kalimat itu pasti akan ‘disesuaikan sedemikian rupa sehingga’ menjadi

Ya jelas saja Krisdayanti memilih bercerah dari Anang, SECARA sejak  dulu kan Anangnya memang tipe suami yang mengekang istri…

Terdengar beda, kan? Lebih terdengar gauul. Makin pengucapan ‘secara’ nya dibuat lebai, semakin terdengar gaul. Hehehe. Itulah kenapa, dulu saya juga sempat kebingungan setengah mati ketika seorang teman saya yang usianya belasan tahun diatas saya meminta untuk diajarkan, bagaimana cara penggunaan kata ‘secara’ ini dengan benar, supaya dia bisa terdengar up to date (?).

Itu baru satu contoh. Masih banyak contoh lainnya. Bagaimana semakin hari, tata bahasa Indonesia kita semakin acakadut, terutama karena dipakainya istilah-istilah tertentu yang agak-agak tidak ‘lazim’ dipakai untuk menjelaskan suatu hal atau keadaan.

Misalnya, ketika saya sedang satu mobil dengan teman saya Gat, kami melewati sebuah lubang di jalan raya yang ‘menganga’ cukup panjang. Sepertinya lubang itu memang sengaja dibuat oleh dinas pekerjaan umum karena akan dilakukan pemasangan instalasi tertentu yang kami tidak tahu apa itu (karena kebetulan tidak ada keterangan tertulis apapun di sekitar lubang itu). Tiba-tiba saja si Gat ini berkomentar,

Tuh liat deh.. Dibiarin bolong gitu aja coba itu lobangnya… Sakit jiwa, kan?

Heh? Sakit jiwa?

Saya yakin, maksud teman saya itu adalah, dia ingin mengatakan bahwa para pelaku ‘pembolongan’ jalan itu sangat keterlaluan dengan membiarkan lubang itu terbuka begitu saja. Tidak ditimbun dengan tanah, pasir atau apa, lah. Instead of menggunakan kalimat panjang seperti,“Keterlaluan sekali sih yang melakukan pekerjaan seperti ini“, maka dipilihlah bentuk istilah yang lebih singkat. Ya ‘sakit jiwa’ itu tadi.

Pernah juga saya terpingkal-pingkal sendiri ketika mendengar sebuah percakapan dua orang teman saya. Satu pria dan satu lagi seorang wanita. Saya tidak terlalu ingat detail isi pembicaraan mereka, tapi ada suatu saat dimana si pria itu menyebutkan istilah-istilah perawatan kecantikan seperti manicure, pedicure dan lain-lainnya itu. Dan si  wanita lawan bicaranya itu dengan cepat berkomentar,

… gila yaaa Bo… fasih banget sih kalo ngomongin masalah kecantikan…..

Edannnn. “Fasih”! Saya kira kata ini hanya ‘boleh’ dipakai untuk hal-hal yang berbau kemampuan bahasa saja, seperti “Fasih membaca Al-Quran” atau “Fasih berbahasa Perancis”, misalnya.

Contoh paling baru, adalah ketika siang ini saya melihat status seorang teman di Facebook. Dia mencoba menggambarkan gerahnya hawa Jogja dengan tulisan singkat :

Gila.. Jogja panasnya berjamaah!

Waduhhhhh..

Mungkin memang sudah saatnya saya memperbarui lagi koleksi perbendaharaan saya.

VVIP

Ada ungkapan bijak yang bilang : “Menjadi orang penting itu memang baik. Tetapi menjadi orang baik itu jauh lebih penting”. Sebuah nasihat yang gampang untuk diucapkan, tapi susah untuk diwujudkan. Apalagi kalau menjadi orang penting yang baik. Wedeeewwwww… tambah makin susah. Percaya deh. Menurut saya, menjadi orang penting itu bukannya sesuatu yang baik, tapi : sesuatu yang enak. Lha bagaimana tidak enak? Kemana-mana bisa dapat fasilitas yang nomor satu. Bisa dapat perlakuan dan servis yang berbeda dibandingkan dengan orang-orang ‘biasa’ or ‘less important‘. Sehingga kadang-kadang, gara-gara “peng-istimewaan” perlakuan itu jugalah, mereka juga bisa mendapat kebebasan untuk berlaku seenak udel-nya sendiri.

Beberapa waktu lalu saya dan teman saya Gat pergi menonton konser megah berjudul “World Peace Orchestra with Dwiki Dharmawan” di Graha Sabha Pramana UGM Jogjakarta. Konser ini memang berbeda dengan konser-konser musik lain yang sering di adakan oleh atau di UGM, karena konser kali ini diadakan untuk memperingati ulang tahun UGM yang ke 60, sekaligus juga dalam rangka mempromosikan Pulau Komodo kepada masyarakat luas, supaya mereka ikut memilih Pulau ini menjadi the next 7 wonders alias 7 keajaiban dunia berikutnya. Sehingga dipilihlah konser musik lintas generasi-budaya dan negara ini.

Tapi sayang, kemegahan dan kesyahduan konser yang juga menampilkan Kris Dayanti itu (ketahuan kan, saya datang untuk siapa?) sangat-sangat terganggu oleh sikap orang-orang atau tamu undangan yang datang dengan label VVIP alias Very Very Important Person. Orang-orang yang masuk dalam kategori ini adalah para tamu undangan dari pihak pejabat pemerintahan, wakil-wakil dari para sponsor dan entah siapa lagi yang menurut pihak panitia adalah orang yang sangat penting bagi mereka. Jadi ya wajar kalau posisi dan letak tempat duduk mereka berada tepat di depan panggung, sehingga mereka bisa face to face dengan para artis yang tampil didepan mereka.

k0633497

Setelah barisan VVIP itulah, baru kemudian ruangan dibagi-bagi menjadi beberapa kelas, yaitu VIP, Festival dan Tribun. Yang cukup menggelikan adalah, meskipun namanya kelas VIP, tapi para penonton di kelas ini tetap harus mengantri dan berbaur dengan penonton dari kelas lain, karena tempat duduk kelas VIP itu ternyata tidak bernomor alias calon penonton harus saling berlomba siapa yang paling cepat mendapatkan tempat duduk yang diinginkannya. Entah dimana privilege ke ‘important person’annya. Walhasil,ratusan penonton (termasuk sayapun) harus berlomba-lomba datang lebih awal supaya bisa lebih cepat masuk ke dalam ruangan konser.

Dan disinilah letak ‘ke-seenak-udel-an’ orang-orang penting itu dimulai. Disaat ribuan massa harus rela bersusah-payah menahan pegalnya kaki dan menahan hawa gerah karena mengantri menunggu giliran masuk melewati pintu utama yang hanya dibuka se-upil doang, kami harus berulangkali melebarkan rasa sabar ketika antrian itu dengan semena-menanya dipotong atau dihentikan sejenak, hanya karena ada bapak-bapak berbaju Batik yang datang sambil ditemani oleh sorang panitia yang berteriak-teriak kepada penjaga pintunya,

…VIP! VIP!

Dan si VIP inipun melenggang dengan anggunnya memasuki ruang konser dengan tanpa hambatan satu apapun, dalam kondisi yang sehat wal afiat dan dengan dandanan yang tetap prima. Tanpa baju yang kusut karena berdesak-desakan dengan pengantri lainnya. Dengan wangi parfum yang tetap sama tanpa harus bercampur baur dengan wangi parfum (dan bau keringat) pengantri lainnya. Dan itu bukan sekali-dua kali terjadi. Berulangkali! Tentu saja tidak ada yang bisa kami lakukan, bukan? Karena itulah takdir *edann*. Mereka adalah orang-orang yang penting, dan yang lainnya adalah rakyat biasa yang harus rela berjuang demi bisa mendapatkan sebuah hiburan. Continue reading

Batik

ryudeka.wordpress.com……

IMG_1014edit

Mendukung Penetapan Batik menjadi World Heritage oleh UNESCO 🙂

“… dan keluarga..”

Dalam sebuah perjalanan pulang  mudik di hari Sabtu tanggal 19 yang lalu, saya dan teman saya sekampung dan seperjuangan (ck..ck..ck..) Ndut sempat terlibat sebuah percakapan yang, seperti biasa, tidak pernah penting tapi seringnya membuat kami terlibat dalam gelak tawa yang amat serius. Sore itu, topik yang mbleber kemana-mana itu tiba-tiba saja mampir ke sebuah tema ringan seputar masalah kirim-mengirim ucapan Selamat Idul Fitri.

Bukan tentang agak malasnya kita membaca deretan kalimat-kalimat puitis nan panjang yang pada intinya tetap saja bermuara di 2 kalimat terakhir : SELAMAT IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR BATIN. Bukan pula tentang kebiasaan banyak orang yang saking malasnya membuat ucapan sendiri, sehingga lebih memilih untuk langsung mem-forward SMS yang dia terima begitu saja, tanpa meng-editnya terlebih dahulu. Sehingga yang terjadi adalah, nama si pengirim asli tidak sempat terhapus. Jadinya, yang mengirimkan SMS ke saya adalah si Dimas Firdaus, tapi di SMS nya tertera nama “Yayuk Suseno & keluarga”, misalnya 😀

“…dan Keluarga”… Ya, ini juga yang malah menjadi bahan pembicaraan kami. Bahan pembicaraan Ndut, tepatnya. Saya hanya menimpali sekenanya. Jadi,

Kenapa sih orang-orang selalu mengirimkan SMS ucapan itu dengan membawa-bawa nama  keluarga. Gue kan gak kenal dengan keluarganya. Dan kalau mau minta maaf, ya dia miinta maaf sendiri aja dong, gak usah bawa-bawa nama keluarga. Yang kalau ada salah, ya dia yang salah toh? Bukan keluarganya kan yang salah? Masa keluarganya ikut-ikutan disuruh minta maaf…

Saya hanya tertawa dan kemudian mingkem terdiam. Dan kemudian berpikir keras*edan ya, kesannya sibuk banget*.

Saya tahu, topik ini tidak terlalu penting untuk dibahas. Karena ya memang itu sudah menjadi hak asasi-nya yang mengirimkan SMS tho? Terserah dia mau meminta maaf sambil membawa nama keluarganya, nama hewan peliharannya, nama perusahaannya atau mungkin nama kompleks perumahannya. Bebas. Nggak ada yang melarang. Walau agak aneh ya ketika kita menerima SMS greeting lebaran, isinya kok :

“Dian Purnomo & Seluruh Warga Perumahan Griya Asri Menari

mengucapkan ‘Selamat Idul Fitri 1430 Hijriah. Mohon Maaf Lahir dan Batin”

Hahahaha.  Continue reading

Sok Digosok…

Selama ini saya mengira “JAGALAH KEBERSIHAN” adalah kalimat perintah atau himbauan yang paling sahih dipakai di tempat-tempat umum yang butuh perawatan ekstra seperti toilet umum, misalnya. Ternyata saya salah, teman-teman. Ini buktinya.

Foto007

Kalau agak kurang jelas tulisannya, mari saya tuliskan lagi disini. Jadi, tulisan peringatan yang tertera di sebuah kertas yang terpasang di dinding sebuah toilet di Terminal Jombor Jogjakarta itu adalah sebagai berikut :

JAGALAH KEBERSIHAN DEMI KENYAMANAN ANDA.

Standar, ya? Tidak demikian dengan tulisan yang dibawahnya :

MANDI DIMOHON GOSOK LANTAI DAN DINDING.

MANDI AJA PENGEN BERSIH, MASAK DINDING DAN LANTAI KOTOR DIEM SAJA

Dhooeenggggg…….

Luar biasa, ya?

Tega sekali si empunya toilet ini. Sudah ‘pengunjungnya’ disuruh membayar, masih disuruh menggosok lantai dan membersihkan dinding tempat ia mandi pula! Repot sekali rasanya. Saya nggak tahu, apakah dengan adanya peringatan itu, toilet itu menjadi berkurang peminatnya atau tidak…. 🙂

DK loves KD Part II

…………………….. dan berita itupun datang.

anang_nop_01

Berita tentang perceraian Anang dan Kris Dayanti. Dimulai dengan pesan singkat di Facebook dari salah satu teman saya yang bernama Listiya, dilanjutkan dengan teman-teman kantor yang satu persatu mengkonfirmasi kebenaran kabar itu ke saya. UEDANN!! Saya nggak tauuuuuuuuu…!!!! Kenapa semua bertanya kepada saya??? Heran deh!! Apa muka saya muka infotainment?? *semua berseru : “IYAAAAAA….!”*

Seketika itu juga saya langsung membuka situs-situs gosip terkemuka di internet *edann* mencari informasi yang tepat, karena update terakhir yang saya baca, semua isu perceraian itu hanya isapan jempol belaka. Entah jempol siapa yang dihisap, dan siapa yang segitu kurang kerjaannya menghisap-hisap jempol itu. Sehingga ketika menonton pengakuan langsung dari Anang di Kabar-Kabari (sempet ya searching sampai ke TV segala), langsung badan ini lemas rasanya. Lemas dan speechless. Lebay ya? Iya, saya juga heran. Amat sangat heran. Mungkin begini rasanya ketika seorang fans mendengar kabar buruk tentang idola mereka. Pantas saja seorang fans Michael Jackson terlihat guling-gulingan di jalanan sambil menangis ketika mendengar kabar Jacko meninggal dunia. Untung saja saya masih punya (sedikit) harga diri dengan tidak melakukan hal yang sama.

Padahal tadi ketika siaran jam 10 pagi, saya sempat-sempatnya memutar lagu mereka yang diciptakan oleh Pongky, ‘Tak Pernah Menyesal’.

… tak pernah menyesal, mengenal dirimu
jalan yang kutempuh tak tertuju padamu
ku takkan sesali pengalaman cinta ini
Wanita terindah pernah jadi milikku….

Jadi lagu itu adala pertanda buat saya? *uh, makin lebay*. Tapi ini terlalu aneh untuk dijadikan sebuah kebetulan, kan? Hhhh…

So, this is it? Beneran nih 13 tahun selesai begitu aja?

*sigh*

Ya sudah. Mau diapain lagi.

*bingung mau nulis apa lagi*

HUUUUUUUUUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA……..!!!

(In The Name of) THE KING OF POP

Ohh.. kamu harus lewat daerah Monjali, Om! Wuihh.. kamu liat tho, trus harus kamu masukin ke blog mu!

kata Ndut teman saya pada suatu tengah malam, ketika kami sedang menunggu taksi setelah menemani teman kami dari Jakarta yang ingin  menikmati Gudeg Pawon yang tempatnya diujung pelosok kota Jogja itu.

Tanpa perlu penjelasan darinya  lebih lanjut, dengan cepat saya memotong pembicaraan itu,

OOOOO Aku tauuuu! Pasti tokonya Michael Jackson itu!

Dia pun mengiyakan, dan kami pun serempak tertawa terbahak-bahak, meninggalkan tamu kami yang terlihat kebingungan dengan apa yang sedang kami bicarakan itu. Saya yakin Anda yang sedang membaca tulisan inipun agak-agak tidak begitu paham. Tokonya Michael Jackson? Michael Jakcson punya toko? Toko apaan? Kok di Indonesia? Kok bisa di Jogja buka tokonya? Jualan apa?

Sebelum semuanya semakin sibuk mengajukan pertanyaan, lebih baik saya jelaskan saja ya. Jadi pada suatu hari, saya sempat terperengah dan hampir tidak percaya ketika melewati sebuah toko yang memakai nama “Michael Jackson “ di seputaran jalan Palagan Jogja. Bukan hanya namanya saja yang ‘nendang‘, tapi juga di papan baliho-nya pun terpampang sketsa wajah Michael Jackson yang bertopi Fedora. Kalau namanya saja sudah cukup ‘nendang’, maka kalimat dibawah tulisan itu malah tidak hanya ‘nendang’, tapi ‘nonjok’ banget! Coba dibaca saja : Continue reading

Jual Apa? Apa Dijual?

Apa sih tujuan orang membuat sebuah iklan bagi produk dagangannya? Pastinya untuk menarik minat atau perhatian para calon konsumennya untuk membelinya, bukan? Ya kalaupun tidak membeli, paling tidak bisa sedikit menarik perhatian atau membuat calon konsumen ‘aware’ terhadap produk mereka pun sudah dianggap cukup. Makanya, sebuah iklan- apapun bentuknya, pasti dibuat sedemikian rupa sehingga bisa mewujudkan rasa ketertarikan itu.

Beberapa waktu lalu saya amat sangat ‘tertarik’ dengan 2 buah iklan. Tertarik bukan karena ingin membeli produknya, tapi lebih karena iklannya yang memang ‘sangat-sangat menarik’ perhatian saya. Saya yakin, kalian juga akan sama tertariknya dengan saya. Wanna bet?

Image004

Saya agak kurang paham dengan tulisan di kalendar yang terpampang di dinding sebelah kamar saya ini. Apa sih yang dijual di toko ini?? Kalau dari namanya sih, biasanya yang memakai nama-nama seperti itu adalah toko yang menjual aneka perhiasan mulai dari cincin, kalung atau giwang alias Toko Emas. Atau yaa.. mungkin dia jualan guci seperti namanya itu. Tapi kalau dibaca secara sepintas secara keseluruhan, kok saya malah berpikiran yang sangat lain, ya? Hehehe.

Lain lagi dengan gambar spanduk yang satu ini.

Image005

Saya pertama kali melihat spanduk ini beberapa bulan yang lalu. Dan, sumpah, sampai minggu lalu saya lewat daerah tempat spanduk ini dipasang, ternyata rumah itu belum laku-laku juga! Sebenarnya sih saya nggak heran. Salah spanduk ini juga, sih! Coba dibaca baik-baik dengan lebih seksama. “Rumah Ini Mau Dijual”. “Mau”, lho! Berarti : belum dijual, kan? Baru “mau”! Huahahahaha….. Orang yang berniat akan membeli rumah ini pastinya akan berpikir ulang, bukan?

“Ohhh.. baru mau. Belum beneran dijual. Ya udah besok aja deh kalo udah beneran dijual…”.

Hihihi. Saya kira, yang punya ruman ini hanya sekedar pamer ke orang-orang yang lewat di sekitar rumahnya ini, kalau rumahnya itu mau dijual…..

Inti dari tulisan bodor ini adalah : berhati-hatilah dalam mengiklankan barang jualan Anda! Perhatikan setiap detail tulisan. Jangankan 1 kata, 1 huruf hilang saja sudah bisa membuat dagangan Anda dalam bahaya! Bahaya tidak laku, dan tentu saja bahaya resiko dicela!