Lost In Translation part III

Dari hari ke hari, saya kok semakin ‘kagum’ ya dengan kemampuan berbahasa anak-anak jaman sekarang. Karena  semakin hari, mereka semakin kreatif sekali dalam berkomunikasi satu sama lain. Semakin ekspresif, semakin tidak terduga dan semakin membingungkan! Sehingga untuk kita yang tidak terbiasa mendengar atau berbicara dengan mereka, pasti dijamin akan terbengong-bengong sendiri sambil mencoba menelaah apa yang sebenarnya mereka bicarakan.

Contoh kecil, saya masih ingat betul bagaimana saya sempat kebingungan karena- entah darimana asalnya, kata ‘karena’ bisa digantikan dengan kata ‘secara’ dalam percakapan sehari-hari. Misalnya saja untuk kalimat,

Ya jelas saja Krisdayanti memilih bercerai dari Anang, karena sejak dulu kan Anang-nya memang tipe suami yang mengekang istri..

Ya ya.. mari tidak usah mempertanyakan kenapa saya memilih kedua tokoh itu sebagai contoh :D. Fokuskan pada kalimatnya saja. Ketika kalimat itu diterapkan dalam percakapan sehari hari di jaman sekarang ini, maka kalimat itu pasti akan ‘disesuaikan sedemikian rupa sehingga’ menjadi

Ya jelas saja Krisdayanti memilih bercerah dari Anang, SECARA sejak  dulu kan Anangnya memang tipe suami yang mengekang istri…

Terdengar beda, kan? Lebih terdengar gauul. Makin pengucapan ‘secara’ nya dibuat lebai, semakin terdengar gaul. Hehehe. Itulah kenapa, dulu saya juga sempat kebingungan setengah mati ketika seorang teman saya yang usianya belasan tahun diatas saya meminta untuk diajarkan, bagaimana cara penggunaan kata ‘secara’ ini dengan benar, supaya dia bisa terdengar up to date (?).

Itu baru satu contoh. Masih banyak contoh lainnya. Bagaimana semakin hari, tata bahasa Indonesia kita semakin acakadut, terutama karena dipakainya istilah-istilah tertentu yang agak-agak tidak ‘lazim’ dipakai untuk menjelaskan suatu hal atau keadaan.

Misalnya, ketika saya sedang satu mobil dengan teman saya Gat, kami melewati sebuah lubang di jalan raya yang ‘menganga’ cukup panjang. Sepertinya lubang itu memang sengaja dibuat oleh dinas pekerjaan umum karena akan dilakukan pemasangan instalasi tertentu yang kami tidak tahu apa itu (karena kebetulan tidak ada keterangan tertulis apapun di sekitar lubang itu). Tiba-tiba saja si Gat ini berkomentar,

Tuh liat deh.. Dibiarin bolong gitu aja coba itu lobangnya… Sakit jiwa, kan?

Heh? Sakit jiwa?

Saya yakin, maksud teman saya itu adalah, dia ingin mengatakan bahwa para pelaku ‘pembolongan’ jalan itu sangat keterlaluan dengan membiarkan lubang itu terbuka begitu saja. Tidak ditimbun dengan tanah, pasir atau apa, lah. Instead of menggunakan kalimat panjang seperti,“Keterlaluan sekali sih yang melakukan pekerjaan seperti ini“, maka dipilihlah bentuk istilah yang lebih singkat. Ya ‘sakit jiwa’ itu tadi.

Pernah juga saya terpingkal-pingkal sendiri ketika mendengar sebuah percakapan dua orang teman saya. Satu pria dan satu lagi seorang wanita. Saya tidak terlalu ingat detail isi pembicaraan mereka, tapi ada suatu saat dimana si pria itu menyebutkan istilah-istilah perawatan kecantikan seperti manicure, pedicure dan lain-lainnya itu. Dan si  wanita lawan bicaranya itu dengan cepat berkomentar,

… gila yaaa Bo… fasih banget sih kalo ngomongin masalah kecantikan…..

Edannnn. “Fasih”! Saya kira kata ini hanya ‘boleh’ dipakai untuk hal-hal yang berbau kemampuan bahasa saja, seperti “Fasih membaca Al-Quran” atau “Fasih berbahasa Perancis”, misalnya.

Contoh paling baru, adalah ketika siang ini saya melihat status seorang teman di Facebook. Dia mencoba menggambarkan gerahnya hawa Jogja dengan tulisan singkat :

Gila.. Jogja panasnya berjamaah!

Waduhhhhh..

Mungkin memang sudah saatnya saya memperbarui lagi koleksi perbendaharaan saya.

VVIP

Ada ungkapan bijak yang bilang : “Menjadi orang penting itu memang baik. Tetapi menjadi orang baik itu jauh lebih penting”. Sebuah nasihat yang gampang untuk diucapkan, tapi susah untuk diwujudkan. Apalagi kalau menjadi orang penting yang baik. Wedeeewwwww… tambah makin susah. Percaya deh. Menurut saya, menjadi orang penting itu bukannya sesuatu yang baik, tapi : sesuatu yang enak. Lha bagaimana tidak enak? Kemana-mana bisa dapat fasilitas yang nomor satu. Bisa dapat perlakuan dan servis yang berbeda dibandingkan dengan orang-orang ‘biasa’ or ‘less important‘. Sehingga kadang-kadang, gara-gara “peng-istimewaan” perlakuan itu jugalah, mereka juga bisa mendapat kebebasan untuk berlaku seenak udel-nya sendiri.

Beberapa waktu lalu saya dan teman saya Gat pergi menonton konser megah berjudul “World Peace Orchestra with Dwiki Dharmawan” di Graha Sabha Pramana UGM Jogjakarta. Konser ini memang berbeda dengan konser-konser musik lain yang sering di adakan oleh atau di UGM, karena konser kali ini diadakan untuk memperingati ulang tahun UGM yang ke 60, sekaligus juga dalam rangka mempromosikan Pulau Komodo kepada masyarakat luas, supaya mereka ikut memilih Pulau ini menjadi the next 7 wonders alias 7 keajaiban dunia berikutnya. Sehingga dipilihlah konser musik lintas generasi-budaya dan negara ini.

Tapi sayang, kemegahan dan kesyahduan konser yang juga menampilkan Kris Dayanti itu (ketahuan kan, saya datang untuk siapa?) sangat-sangat terganggu oleh sikap orang-orang atau tamu undangan yang datang dengan label VVIP alias Very Very Important Person. Orang-orang yang masuk dalam kategori ini adalah para tamu undangan dari pihak pejabat pemerintahan, wakil-wakil dari para sponsor dan entah siapa lagi yang menurut pihak panitia adalah orang yang sangat penting bagi mereka. Jadi ya wajar kalau posisi dan letak tempat duduk mereka berada tepat di depan panggung, sehingga mereka bisa face to face dengan para artis yang tampil didepan mereka.

k0633497

Setelah barisan VVIP itulah, baru kemudian ruangan dibagi-bagi menjadi beberapa kelas, yaitu VIP, Festival dan Tribun. Yang cukup menggelikan adalah, meskipun namanya kelas VIP, tapi para penonton di kelas ini tetap harus mengantri dan berbaur dengan penonton dari kelas lain, karena tempat duduk kelas VIP itu ternyata tidak bernomor alias calon penonton harus saling berlomba siapa yang paling cepat mendapatkan tempat duduk yang diinginkannya. Entah dimana privilege ke ‘important person’annya. Walhasil,ratusan penonton (termasuk sayapun) harus berlomba-lomba datang lebih awal supaya bisa lebih cepat masuk ke dalam ruangan konser.

Dan disinilah letak ‘ke-seenak-udel-an’ orang-orang penting itu dimulai. Disaat ribuan massa harus rela bersusah-payah menahan pegalnya kaki dan menahan hawa gerah karena mengantri menunggu giliran masuk melewati pintu utama yang hanya dibuka se-upil doang, kami harus berulangkali melebarkan rasa sabar ketika antrian itu dengan semena-menanya dipotong atau dihentikan sejenak, hanya karena ada bapak-bapak berbaju Batik yang datang sambil ditemani oleh sorang panitia yang berteriak-teriak kepada penjaga pintunya,

…VIP! VIP!

Dan si VIP inipun melenggang dengan anggunnya memasuki ruang konser dengan tanpa hambatan satu apapun, dalam kondisi yang sehat wal afiat dan dengan dandanan yang tetap prima. Tanpa baju yang kusut karena berdesak-desakan dengan pengantri lainnya. Dengan wangi parfum yang tetap sama tanpa harus bercampur baur dengan wangi parfum (dan bau keringat) pengantri lainnya. Dan itu bukan sekali-dua kali terjadi. Berulangkali! Tentu saja tidak ada yang bisa kami lakukan, bukan? Karena itulah takdir *edann*. Mereka adalah orang-orang yang penting, dan yang lainnya adalah rakyat biasa yang harus rela berjuang demi bisa mendapatkan sebuah hiburan. Read more »

LOVE.CAN.WIN

Setiap orangtua, pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dan setiap orang tua, pasti rela untuk melakukan apapun untuk membahagiakan anaknya, untuk memenuhi keinginan buah hati mereka ini. Bagaimanapun keadaannya.

Dick Hoyt. Mungkin teman-teman belum pernah mendengar nama ini. Tapi mungkin juga ada yang sudah pernah mendengar. Tidak masalah, karena begitu menuliskan namanya di search engine, pasti teman-teman akan langsung menemukan ratusan ribu tulisan di internet yang mencantumkan nama beliau.

Dick adalah seorang marinir dari kesatuan Air National Guard. Semua kisah hidupnya yang luar biasa berawal ketika pada suatu hari di tahun 1962, dokter memberitahukan kepadanya bahwa bayi yang sedang dikandung oleh istrinya mengidap cerebral palsy. Ini adalah sebuah kondisi dimana otak tidak bisa mendapatkan asupan oksigen selama proses persalinan. Ini berarti, otak si jabang bayi tidak bisa mengirimkan pesan kepada otot-otot di tubuhnya, sehingga mengakibatkan putranya ini kelak akan mengalami kelumpuhan. Saya tidak bisa menjelaskan secara tepat karena saya sendiri agak kerepotan menterjemahkan artikel medis tentang cerebral palsy ini dari artikel aslinya di Wikipedia 🙂 .

Melihat begitu kompleksnya penyakit yang diderita si bayi, dokter sempat menyarankan suami istri ini untuk ‘merelakan’ saja calon bayi dalam kandungan ini tidak dilahirkan, karena nantinyapun jika bayi itu bisa dilahirkan ke dunia dengan selamat, dia pasti tetap tidak akan tumbuh dengan sempurna. Mendengar ‘saran’ dari dokter itu, sang istri, Judy, dengan tegas menolaknya.

“Tidak akan mungkin kita akan menggugurkan bayi dalam kandungan ini. Kami mencintainya. Dia milik kami berdua. Kami akan membesarkannya dan membawanya kemanapun dia bisa mewujudkan kemampuan terbaiknya kelak. Kami tidak akan, TIDAK AKAN PERNAH menyia-nyiakannya hanya karena dia BERBEDA”

Sebuah janji yang mungkin mudah diucapkan. Tapi kita tahu, janji diatas pasti tidak akan mudah keluar dari mulut yang tidak disertai dengan keyakinan hati yang kuat. Dan kedua orangtua bayi yang diberi nama Rick ini memang membuktikan janjinya, untuk tidak memperlakukan anaknya yang lumpuh itu secara berbeda. Kedua orang tuanya setiap minggunya membawa bayinya ini ke Children’s Hospital di Boston dimana mereka bertemu dengan Dokter Fitzgerld, yang selalu menyemangati pasangan suami istri itu untuk berani mengambil ‘resiko’ untuk mengajak Rick kecil untuk bermain dan bergulingan di halaman atau bahkan diajak untuk berenang. Dengan kata lain, mereka memperlakukan Rick seperti anak-anak lainnya yang tumbuh tanpa keterbatasan fisik.

DICK HOYT

Hingga suatu hari di tahun 1977, Rick yang saat itu duduk di bangku sekolah menengah pertama Westfield School berkata kepaa ayahnya, bahwa dia ingin sekali merasakan bagaimana rasanya mengikuti perlombaan lari. Sebuah keinginan yang ‘sangat berani’ dan mungkin teramat ‘tidak tahu diri’ untuk seorang anak yang kesehariannya harus duduk di kursi roda. Tapi mendengar keinginan putranya itu, Dick yang saat itu sudah berusia 40 tahun merasa tergerak, untuk ikut membantu mewujudkan keinginan anaknya itu.

Silakan dibayangkan bagaimana usaha yang harus dilakukan oleh Dick. Read more »

Pesta Blogger 2009

Akhirnya…..

pesta-blogger-2009-jogja-03

kesampaian juga ikutan yang namanya Pesta Blogger! 🙂

Maklum, kalau dengar sesuatu yang ada kata-kata “PESTA” nya, biasanya saya sudah langsung malas duluan. Karena dalam benak saya, segala yang berbentuk pesta itu selalu identik dengan yang namanya keramaian dan ke-hingar-bingaran, dua hal yang sedikit-banyak cukup membuat saya alergi untuk terlibat didalamnya. Hehehe. Maklumlah, semua orang yang mengenal saya dengan dekat, pasti sudah cukup mengerti betapa saya ini aslinya adalah seorang yang amat pendiam sekali (ehm…). Saya hanya berisik kalau berhadapan dengan microphone, didepan kamera TV dan juga … dimana lagi, kalau tidak di blog in!

Itulah makanya saya sangat-sangat selektif sekali jika diajak menghadiri undangan-undangan yang berbau-bau ‘Pesta’. Pesta yang paling sering saya datangi paling-paling cuma “Pesta Buku Murah”. Hehehhe.

But (thank God) this one’s different.

Sebenarnya saya sudah sangat familiar dengan istilah ‘Pesta Blogger’. Tapi belum pernah ada sedikitpun ada keinginan di hati untuk datang menghadiri. Boro-boro deh ikutan acara yang berskala besar seperti itu. Lha wong kumpul-kumpul alias kopi darat antar sesama blogger satu kota saja saya nggak pernah. Boro-boro kopi darat dengan blogger satu kota, lha wong blogwalking saja juga nggak pernah! Kuper banget. Makanya saya malah bingung ketika teman blogger saya yang diluar kota menanyakan,

Lho.. memangnya kamu bukan komunitas Cah Andong apa, Mas?

Cah Andong? Opo kuwi? Bukan.. bukan, mbak. Saya bukan Cah Andong. Saya Cah Ganteng! Hehehe. Memang parah sekali saya ini. Bahkan komunitas untuk para blogger di Jogja saja saya tidak tahu! Read more »

Body Image

Gara-gara menyebut nama aktris panas legendari Eva Arnaz di tulisan sebelumnya, saya jadi teringat dengan teman saya Ndut. Bukan karena dia mirip dengan Eva Arnaz, bukan juga karena dia mengoleksi film-filmnya tante Eva itu (nggak tau kalau ternyata iya, ya), tapi karena pada suatu hari dia pernah menganjurkan saya untuk mengetikkan nama ‘Eva Arnaz’ di search engine Google, maka dia menjamin saya akan terkesima melihat hasil penelusuran Google untuk nama itu.

Jadilah, saya mencoba mempraktekkannya. Dan memang benar. Saya terkesima!

EVA ARNAZ

Begitu banyak artikel di internet yang mengasosiasikan Eva Arnaz dengan film atau movie (tentu saja, karena beliau adalah seorang bintang film), mengasosiasikannya dengan Warkop (sudah pasti, karena dia dan Lydia Kandau sepertinya memang ikut populer bersama film-film Dono Kasino Indro yang booming dahulu kala itu). Tapi yang membuat terkesima justru adalah di bagian atas sendiri (silakan lihat gambar), dimana Eva Arnaz diasosiasikan dengan KETIAK. Dan tidak main-main, ada 2.930 tulisan yang memuat tentang ini. Dan bisa jadi, mungkin akan segera bertambah menjadi 2.931 berkat tulisan saya ini. Hahahaha.

Saya bukannya ingin membicarakan soal ketiaknya Eva Arnaz yang memang melegenda itu. Tapi saya mencoba melihat dari sisi lain, betapa mbak ini bisa dengan suksesnya menciptakan sebuah brand image atau body image yang sangat kuat menancap di sanubari banyak orang *owhh*. Kalau ngomongin Eva Arnaz, ya berarti harus ngomongin ketiaknya. Begitu juga sebaliknya. Ngomongin ketiak rasanya belum lengkap tanpa memasukkan nama Eva Arnaz didalamnya. Wuahahahhaha. Dan itu harus diberikan sebuah acungan jempol, bukan? Berulang kali saya pernah bilang, untuk bisa dikenal orang, you should be standing in the crowd. Harus bisa terlihat beda. Harus ada yang membuat kita diingat dengan cepat. Otherwise, ya susah. Itu menjadi pekerjaan rumah setiap orang, karena diri kita sendiri (nama dan kemampuan diri) merupakan produk yang bisa kita ‘jual’.

So, Bagaiman dengan kamu? Kalau Eva Arnaz di asosiasikan dengan ‘ketiak’, kamu ingin diasosiasikan dengan apa? 😀

Porn Star

Suatu hari, di ruang program kantor saya, terjadilah sebuah perbincangan berikut ini…

Oknum A : Miyabi.. siapa itu Miyabi?? Gue ga doyan.. Gue doyannya Eva Arnaz!
Oknum B : Pasti karena Keteknya…!!
Oknum A : BEEUHHHHHHH…..!
Oknum C : Apalagi model-modelnya Henidar Amroe.. Ida Iasha…. elu banget kannn….
Oknum A : Apalagi ituuu…..

Sudah. Selesai. Begitu saja perbincangannya. Nggak penting banget, kan? 😀

Tapi walaupun singkat, sebenarnya sudah bisa diketahui bahwa topik utama pembicaraan diatas adalah seorang perempuan yang rencana kedatanganya ke Indonesia berhasil dijadikan berita dimana-mana. Ya mbak Miyabi itu. Bintang film porno yang akan dijadikan semacam cameo untuk film terbarunya Rako Prijanto yang katanya berjudul “Menculik Miyabi”. Itu topik utamanya. Kalau kemudian muncul tokoh-tokoh tambahan lainnya seperti Henidar Amroe dan Ida Iasha bahkan Eva Arnaz di perbincangan itu, saya juga tidak begitu paham. Kok bisa-bisanya tante-tante yang sekarang sudah entah dimana itu disandingkan dengan Miyabi yang umurnya masih twenty something itu.

Banyak orang-orang –yang sepertinya sih penting untuk dimintai komentarnya, mengaku keberatan dengan kedatangan Miyabi ke Indonesi. Mereka khawatir nantinya Miyabi akan merusak moral generasi muda. Menurut saya ini agak- agak tidak adil, karena saya kok yakin ya kalau para generasi tua juga pasti ada yang menyimpan film-film Miyabi. Kenapa generasi mudanya saja yang dijadikan kambing hitam? Tapi juga banyak orang-orang –yang sepertinya juga penting untuk dimintai komentarnya, mengaku tidak keberatan dengan diundangnya Miyabi kesini. Menurut mereka, kedatangan Miyabi ini bisa semakin mempopulerkan nama Indonesia, karena negara lain belum pernah (dan mungkin malah nggak kepikiran sama sekali!) mendatangkan bintang porno kelas dunia bernama asli Maria Ozawa ini ke negara mereka. Read more »

Batik Part II

Batik memang agak-agak overrated hari Jumat kemarin. But in a good way. Hehehe. Karena kemarin memang semua orang seperti tidak mau kalah dalam hal menunjukkan kebanggan mereka terhadap Batik. Maka jangan heran, kalau suasana diman-mana terlihat full warna dan full corak. Batik is everywhere.

Demikian juga di kantor saya. Semua warganya kompak memakai Batik. Dengan gayanya masing-masing. Dan dengan daya serta upayanya masing-masing. Maksudnya, ada yang sampai bela-belain beli baju pada hari H, hanya supaya biar tidak dikatakan ‘nggak asik’ (padahal tidak ada hubungannya sama sekali 🙂 ).

Jadilah, seharian kemarin kantor jadi cukup memusingkan untuk dilihat. Saking terlalu berwarnanya baju-baju yang dipakai, dan saking bermacam-macamnya corak Batik yang dipakai. Tapi bagaimanapun juga, perlu lah diberikan credit tersendiri untuk usaha-usaha kami ini. Paling tidak, kantor hari ini jauh lebih meriah dibandingkan hari-hari biasanya karena diramaikan dengan kegiatan-kegiatan lain seperti saling bertegur-sapa untuk mengomentari kostum masing-masing, dan kantor juga semakin semarak dengan seringnya terlihat blitz kamera atau HP yang menyala, pertanda sesi foto dadakan bisa terjadi kapan saja!

Karena ini adalah hari spesial, makanya saya juga tidak mau tinggal diam untuk mengabadikannya. Insting blogger (dan komentator) saya meningkat tajam melihat suasana ajaib itu. Dan hasilnya, berikut ini adalah beberapa oknum di kantor yang berhasil saya jepret, karena Batik yang mereka kenakan termasuk kategori outstanding (menurut saya) diantara para pemakai batik lainnya, dan mereka berhak mendapat gelar sebagai ‘yang ter-‘ dan berhak mendapatkan penghargaan untuk tampil di blog ini *edannnn*.

Yang pasti, para korban dibawah ini difoto dalam keadaan sadar alias bukan korban candid (pastinya..lihat aja pose-posenya) dan foto-foto ini pun saya ambil dengan seijin yang bersangkutan (walau tidak saya umumkan kalau foto itu akan saya pajang di blog hehehe).

Image000 Batik Ter-Maksa

Sepertinya mas Inud, pemakainya ini agak-agak terlalu memaksakan diri ikut ber-Batik ria. Karena memadu-padankan Batik dengan celana 3/4 jelas-jelas terlihat sangat maksa, walaupun sebenarnya bisa dimaklumi. Karena beliaunya ini adalah orang divisi off air yang selalu sibuk dengan kegiatan outdoor, sehingga membutuhkan busana yang memungkinkannya bergerak bebas. Saran saya sih : sebaiknya kemeja Batiknya itu dibuat sekalian tanpa lengan saja, Mas 😀

Image004 Batik Ter-Besar

Tentu saja. Dengan ukuran tubuh yang sangat mungil, baju Batik yang dipakainya itu semakin membuat adik kita Tiara ini semakin terlihat tenggelam di dalam gelombang-gelombang lipatan bajunya sendiri yang memang bermodel gelombang itu *komentar mode macam apa ini??* Read more »

Batik

ryudeka.wordpress.com……

IMG_1014edit

Mendukung Penetapan Batik menjadi World Heritage oleh UNESCO 🙂

1 Oktober

Jadi hari ini, saya bangun pagi dengan perasaan yang amat-sangat gembira. Smile was on my face. Karena hari ini adalah tanggal 1 Oktober 2009. Kenapa sih saya sebegitu excited-nya menyambut hari ini? Apakah karena habis menerima gaji bulanan? Oh, itu sudah kemarin tanggal 30. Hehehe. Apakah karena saya merayakan ulang tahun? Oh itu masih bulan depan. Terus??

Hari ini tepat 1 tahun saya bekerja di tempat saya sekarang ini.

LOGO JOGJAFAMILY

Baru satu tahun, memang. Tapi bukan berarti tidak boleh dirayakan, kan? Karena kalau saya pikir, ini tidak jauh bedanya dengan ketika saya merayakan hari kelahiran, merayakan hari jadian pacaran, hari jadi pernikahan atau perayaan/peringatan hari-hari istimewa lainnya. Hanya mungkin memang agak jarang yang melakukan perayaan untuk memperingati ‘hari jadi pekerjaan’ seperti yang saya lakukan ini.

Tidak berbeda, karena seperti misalnya kita merayakan hari Ulang Tahun, sudah menjadi hal yang wajib kalau kita melakukan sebuah perenungan, pengevaluasian dan juga perencanaan untuk usia kita yang baru ini. Because it’s the time. Begitu juga dengan hari ini. Saya mencoba untuk kembali flashback ketika setahun lalu menerima dan menandatangani surat kontrak di perusahaan ini. Mengingat-ingat lagi, apa saja yang sudah saya hasilkan dalam satu tahun ini. Apa saja kesalahan-kesalahan yang sudah saya lakukan. Karena dibalik semua prestasi, pasti juga ada kegagalan. Dan dibalik sebuah kegagalan, pasti ada pembelajaran dibaliknya. Dan ketika bisa melihat pembelajaran itu, bukankah itu sebuah prestasi?

Mungkin ada yang bertanya, kurang kerjaan amat sih sampai sempat-sempatnya merayakan kaya begini?

Because it’s fun! Beneran deh, silakan dicoba. Dengan melakukan ini, kita jadi bisa sejenak ‘merasakan’ tentang pekerjaan kita yang selama ini sudah kita lakukan setiap harinya. Yang setiap hari membuat kita harus bangun pagi, yang setiap hari membuat kita uring-uringan karena terjebak deadline, yang setiap hari membuat kita senewen karena selalu membuat kita terlambat sampai di rumah karena harus lembur, yang setiap hari membuat kita merasa bersalah karena merasa kurang memiliki waktu untuk dihabiskan dengan orang-orang yang kita cintai.

Seperti juga perayaan-perayaann lainnya, dengan melakukan hal ini, kita akan bisa mengucap syukur juga karena kita masih beruntung bisa memiliki sebuah pekerjaan untuk menopang hidup. No matter how suck it is.

Dan alasan lain kenapa saya merayakan hari ini, it’s just because simply : I LOVE MY JOB! :

Quality Control

Selama 2 tahun eksis menulis di blog Sanggar Cerita ini (eksis dalam arti setiap bulan paling tidak ada yang di update, ya hehehe), jujur saya tidak pernah menyangka kalau blog saya ini akan dibaca oleh sekian ratus orang setiap harinya. Itu kalau dilihat dari grafik stats di dashboard blog. Belum mencapai ribuan seperti para selebriti blog lainnya, memang. Tapi terus terang, melihat angka ratusan itu saja sudah membuat saya amazed dan langsung membayangkan kira-kira siapa saja ratusan orang yang membaca blog saya setiap harinya itu. Hehehe.

Saya termasuk yang jarang blogwalking. Hampir tidak pernah, malah. Dan ini mungkin salah satu kelemahan saya sebagai seseorang yang mengaku dirinya sebagai blogger. Dan saya juga hampir tidak pernah mempromosikan blog saya ini kemana-mana (kecuali beberapa kali saya promosikan di status Yahoo Messenger! Itupun bisa dihitung dengan jari). Saya cukup beruntung memiliki teman-teman blogger yang baik sekali, yang dengan sukarela mencantumkan nama blog saya di beberapa tulisan mereka (makasih yaa.. you know who you are 🙂 ). Saya agak enggan jumpalitan promosi sana-sini karena sampai sekarang pun saya masih sering merasa,

..ya elah, apaan sih pake di pamer-pamerin segala? Lha wong blog isinya cuman curhat dan ngomentarin orang tidak jelas beginian doang….

That’s the truth.

Karena ketika pertama kali memulai menulis blog, saya sama sekali tidak pernah membayangkan efek apa yang akan saya hadapi di kemudian hari ketika blog saya ini bisa dibaca oleh orang banyak. Sounds stupid, karena sekali kita publish sesuatu di dunia maya, maka kita berarti sudah dengan sadar memajangnya ke seluruh dunia. But I never realized that, sampai beberapa bulan belakangan ini. Ketika keberanian saya menulis (dan mengomentari sesuatu) semakin besar, ternyata tidak belum dibarengi dengan keberanian dan kebesaran hati saya dalam menerima berbagai macam kritikan dan komentar yang masuk mengenai apa yang saya tulis.

Komentar.

238447-12-shout

Lucu, ya? Saya suka berkomentar, tapi saya tidak suka dikomentari. Dikomentari yang tidak enak, tentu saja.

Beberapa hari yang lalu, ada sebuah komentar dari -entah siapa saya bahkan sudah tidak ingat lagi. Dia mengomentari saya tentang tulisan saya di post “Hidup Malaysia!”. Salah satu tulisan saya yang saya sadar pasti akan banyak yang tidak menyukainya. Komentar itu demikian kasarnya, sehingga saya sendiri bahkan tidak menyangka ada orang yang bisa mengeluarkan kata-kata hinaan sekasar itu. Tidak hanya mempertanyakan rasa nasionalisme saya, tapi si pengirim komentar itu bahkan membawa-bawa dan menjelek-jelekkan ibu saya. Entah apa hubungannya. Tidak perlu lah saya tuliskan disini detail komentarnya. Karena isinya memang sangat tidak sopan dan kalau saya approve dan tampilkan disini, nantinya saya malah merasa kasihan kepada yang bersangkutan. Kasihan, karena saya yakin, kalian yang setia membaca blog ini pasti akan membela saya dan balik mencemooh dia . Saya yakin itu 🙂 Read more »