Sebetulnya saya tidak begitu berminat menuliskan topik yang akan saya tulis ini. Tapi karena nama saya tercantum dengan gantengnya di website teman saya yang bernama Dian Purnomo (dan dia salah mengutip ucapan saya!), maka mau nggak mau saya harus membuat sebuah klarifikasi disini. Biar kesannya penting banget.

Jadi, sudah pada nonton film ‘Ketika Cinta Bertasbih’? Dulu, setelah ada kabar yang menyatakan bahwa ada lagi sebuah novel best-seller bernuansa religi yang akan difilmkan menyusul sukses Ayat-Ayat Cinta yang saya puja setengah mati itu *halah*, saya cukup excited menantikan film yang dimaksud itu dirilis. Apalagi katanya novel Ketika Cinta Bertasbih ini  ini jauh lebih best-seller dari Ayat Ayat Cinta. Mega Best Seller! Uedan! Bukan hanya ‘Sangat Best-Seller’, bahkan tidak lagi sekedar “Super Best-Seller”. Tapi maennya udah “mega”, bos!! Siapa yang tidak penasaran?

Masih ditambah lagi, proses pemilihan pemain-pemainnya juga tidak sembarangan. Diadakan audisi di beberapa kota besar. Sengaja di cari pemain-pemain baru yang dinilai pas untuk memerankan tokoh-tokoh di film tersebut. Bahkan kabarnya, salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki si calon pemeran film ini adalah : dia harus lancar membaca Al-Quran! Makanya, saya langsung tau diri dengan tidak mendaftarkan diri ikut audisi. Huahahahha.

Saya sendiri tidak begitu melihat korelasi yang kuat antara akting versus syarat kemampuan membaca Al-Quran ini. Mereka ini mau bikin film, kan? Bukanya mau bikin Festival MTQ? Kalaupun nantinya para pemainnya akan banyak berdialog dalam bahasa Arab, pastinya aksentuasi berdialog dan membaca itu sudah berbeda, kan ya? Ah tapi ya sudahlah…

Hingga beberapa bulan sebelum film ini di premiere-kan, saya sempat mencari-cari bocoran trailernya di YouTube! Saking penasarannya. Setelah melihat tayangan trailer yang berdurasi beberapa menit itu, kondisi badan saya langsung drop! Saking shock-nya. Lah, kok segitu doang? Macam sinetron sekali? Mana gregetnya? Entah apa yang ada di pikiran si pembuat trailernya, tapi semua scene yang ada di tayangan itu sama sekali tidak ada yang mengundang rasa keingintahuan saya untuk menyelesaikan cerita filmnya dengan cara menonton versi lengkapnya di bioskop! Salah besar! Trailer yang sungguh buruk! What a bad promotion.

header_desain

Lebih ‘bad’ lagi setelah saya melihat gambar posternya yang amat sangat standar sekali untuk ukuran poster sebuah film yang kabarnya menghabiskan dana belasan milyar rupiah itu. Sangat sederhana sekali. Masih diperparah lagi dengan adanya kalimat-kalimat promosi yang sooo..cheesy seperti :  Sebuah Mega Film Pembangun Jiwa, Dinanti Jutaan Penonton, Siap Mengguncang 8 Negara! Buat saya, dengan adanya tambahan tulisan sepert ini, justru memperlihatkan si pembuat filmnya seperti tidak percaya diri dengan kualitas film yang mereka buat. Atau mungkin orang-orang yang punya tugas jadi bagian promosinya emang agak ajaib kemampuan menjualnya. Dan dugaan saya semakin kuat, setelah melihat tambahan tulisan berbentuk lingkaran (seperti gambar Cap atau Stempel) di poster, yang berbunyi : DIJAMIN MESIR ASLI! Oh Tuhan… mengerikan sekali. Ini jualan film apa jualan sarung???

(more…)

Bagaimana perasaanmu ketika membaca judul sebuah artikel berbunyi seperti ini :

Ramadhan, “CINTA FITRI” Bebas Tamparan

Bohong besar kalau kalian pada nggak punya keinginan untuk membaca lebih jauh lagi isi dari artikel yang saya baca di www.kapanlagi.com ini! Hehehe. Biar nggak usah repot-repot nge-klik alamat situs ini, sini deh, biar saya tuliskan cuplikan beritanya.

Dalam CINTA FITRI SEASON 3, tokoh antagonis Faiz dan Miska digambarkan hampir setiap hari mendapat tamparan dari Oma. Namun, untuk season Ramadhan, adegan kekerasan fisik ditiadakan. Lalu, masihkah sinetron yang dibintangi Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar ini menarik?

Siapa Faiz? Siapa pula itu Miska? Who the hell is Oma? Saya nggak tau. Dan nggak mau cari tahu juga. Saya bukan seorang penikmat sinetron, tapi saya cukup tahu kalau diantara puluhan sinetron yang pernah tayang selama setahun-dua tahun belakangan ini, sinetron Cinta Fitri ini katanya termasuk yang paling sukses. Kabarnya mantan presiden BJ Habibie termasuk yang ngefans sekali dengan sinetron ini. Ya bisa dimaklumi, mungkin si bapak sudah terlalu ribet ya hidupnya mengurusi masalah tehnik, riset dan teknologi sehingga menonton Cinta Fitri adalah sebuah hiburan yang menyenangkan. Karena menontonnya tidak membutuhkan pemikiran.

cinta fitri

Sebegitu baguskah sinetron ini sehingga seorang mantan presiden pun mau mengundang para pemainnya ke kediamannya? Sebegitu suksesnyakah sinetron ini sehingga bisa dibikin sekuelnya hingga (hampir) ke 3 kalinya ini? Ih, dibilangin saya nggak pernah nonton. Ya jadinya saya ya nggak tau! Hehehe. Pernah sih beberapa kali teman provokator saya yang bernama Ndut memprovokasi saya untuk mencoba menonton sebentar sinetron ini (’menonton’ ya.. bukan ‘mengikuti’). Dengan niatan, ya apalagi kalau tidak untuk mencelanya habis-habisan. Ketika saya menolak dengan alasan tidak mengetahui jalan ceritanya dari pertama, teman saya ini mencoba memberikan penghiburan,

Wis tho.. ga usah diikutin ceritanya. Standar dan nggak penting, kok. Kamu nggak nonton beberapa episode pun masih bakal bisa ngerti sampai mana ceritanya..

(more…)

Jadi, ternyata cerita kekurang-simpatikan Mbak QQ terhadap Manohara itu masih berlanjut, teman-teman. Hebat ya. Entah siapa yang sebenarnya hebat disini. Tapi yang jelas, semakin sering Manohara tampil di TV dengan berbagai macam atribut, aksesoris hingga koleksi baju-baju mahalnya, makin tidak simpatik-lah teman saya itu melihatnya. Tidak simpatik itu sama artinya dengan iri kan, ya? Hihihi…

Suatu sore, setelah selesai menggelar acara ulangtahun anaknya yang berusia 2 tahun di sebuah restoran Jepang, saya dan 2 teman saya lainnya Gat dan Nona Iyan yang diundang untuk ikut menghabiskan makanan disana, terlibat perbincangan yang amat intens tentang mbak Manohara ini. Yang intens sebenarnya hanya dua ibu-ibu muda ini. Saya dan Gat hanya sesekali menimpali, dan sesekali tertawa terpingkal-pingkal saja menyaksikan keduanya terlihat atraktif dan menggebu-gebu sekali tatkala bercerita.

Mbak QQ : Tau nggak sihh.. Ternyata nggak cuman tasnya aja yang Hermes loh! Ikat pinggangnya juga!
Gat : Emang kalo ikat pinggang itu lebih mahal dari tasnya ya?
Mbak QQ : Iya! Tau nggak sih, yang bikin lebih heboh lagi kan bukan karena cuman Tas Hermesnya yang 6 biji itu. Tapi karena dia punya Tas Hermes yang warnanya Orange!
Saya : Heh? Lah kok norak banget.. tas kok warnanya oranye…

Nona Iyan : Emangnya Hermes Oranye itu yang limited edition ya?
Mbak QQ : HUUUHHHH… itu kan yang paling mahaaaaaaaaallllll….. Kamu perhatiin deh… tiap tampil di TV, semua baju-baju dia itu semuanya koleksi keluaran terbaru semua?? Itu yang stelan celana pendek itu aja, 70 jutaan, nyaah…

Nona Iyan : Bo.. Gile ya. Lo kok bisa sampe tau sih harganya?? Gila ya. Gue cuman tau kalo baju2 yang dipake itu emang bukan kaya baju yang sehari-hari gue pake sih..hahaha.. (more…)

Suatu pagi, seorang Kakek berjalan-jalan melintasi halaman depan rumahnya. Tanpa sengaja, dilihatnya sosok mungil cucu-nya duduk di sebuah bangku kecil. Matanya terpejam, wajahnya menengadah keatas dan kedua tangannya tergenggam seperti tengah berdoa. Terdengarlah sayup-sayup suara sang cucu, mengucapkan berbagai huruf alfabet mulai dari huruf A hingga Z. Berulang-ulang. Dengan perlahan dan dengan rasa ingin tahun, bertanyalah si Kakek kepada cucunya, tentang apa yang sedang dilakukannya itu.

42-16242379

.. aku sedang berdoa, Kek. Tapi aku nggak bisa menemukan kalimat yang pas buat diucapkan. Jadi, aku ucapkan saja semua huruf-huruf yang aku tahu. Biar Tuhan saja yang merangkaikan huruf-huruf itu buat jadi doaku, karena Dia pasti tahu apa yang ada di pikiranku…

God gave you a gift of 86.400 seconds today. Have you used one to say “thank you”?

… kapan lagi kau puji diriku, seperti saat engkau mengejarku/kapan lagi kau bilang I Love You/”I Love You” yang seperti dulu… Yang dari hatimu..

Lagi sering nyanyiin  reffrain lagunya Dewi Sandra ini nih. Reffrain lagu yang sebenarnya hanya  terdiri dari 4  baris, tapi diulang-ulang sampai 4 kali total dari keseluruhan durasi lagu aslinya. Diulang-ulang, karena sepertinya esensi *edann, ‘esensiii…’* lagu dan cerita yang ingin disampaikan si penulis lagunya memang disitu. Menceritakan penderitaan seorang perempuan yang sudah lama kehilangan kasih sayang pasangannya, yang kini berubah dan tidak pernah lagi memberikan pujian padanya. Gila pujian banget kayaknya si mbaknya  ini…

Tapi siapa yang enggak, sih?

Siapa sih yang tidak menikmati yang namanya dipuji? Semua orang kalau boleh memilih, pastinya lebih memilih untuk dipuji daripada dimaki, toh? Lebih memilih untuk disanjung daripada di kritisi, kan? Ibaratnya kalau suatu hari kita menerima sebuah surat di kantor, kita tentu lebih memilih menerima surat berisi ucapan terima kasih atau ucapan selamat daripada menerima surat teguran atau tagihan, kan? Nggak begitu nyambung ya analoginya? Hehehe. Tapi intinya sih, kita pasti akan lebih menyukai dan menerima apa yang bisa membuat hati kita senang, daripada menerima sesuatu yang membuat hati kita tidak nyaman.  Nenek-nenek juga tau kalo ini, mah…

Sebegitu pentingnya kah arti sebuah pujian?

I think it is. Saya sih bukannya jago menganalisis tentang sisi psikologis seseorang, tapi saya yakin semua orang juga pernah merasakan,betapa bahagianya perasaan kita ketika dipuji oleh orang lain. Seperti ada suntikan energi yang luar biasa besar,yang mungkin bahkan tidak kita prediksi sebelumnya akan kita dapatkan. Makanya saya kok agak kurang setuju adanya anggapan, kita tidak boleh melakukan sesuatu karena ingin mendapatkan pujian dari orang lain. Duh, hari gini… Kita juga butuh yang namanya pengakuan, toh? Yang salah adalah kalau kita melakukan sesuatu HANYA karena ingin mendapatkan pujian orang lain. Itu baru namanya orang gila pujian. Hehehe.

Pujian yang tulus itu membawa energi positif yang bagus. Karena dari pujian itulah yang membuat seseorang merasa dirinya (memang) pintar, cantik, ganteng, berharga. Intinya, merasa dimanusiakan oleh yang lain. Dan sebuah pujian tulus yang diterima seseorang, disadari atau tidak, pasti akan memberikan efek yang baik di diri mereka dalam jangka waktu yang panjang. Mungkin seumur hidup mereka. (more…)

Jadi… Manohara sudah kembali ke haribaan ibu pertiwi ya?

Ya selamat deh. Mudah-mudahan semua konflik dan berbagai statement yang serba babaliyut itu segera selesai, supaya infotainment bisa kembali lagi menyajikan tokoh2 lainnya untuk diberitakan. Kasihan artis-artis lain yang kalah pamor oleh Manohara. Hehehe. Well, semua orang mungkin ikut terpancing mengikuti berita kembalinya Manohara ini. Ada yang makin ikut bersimpati mendengar cerita-cerita pengakuannya  selama mengalami penderitaan di kerajaan, tapi pasti ada juga yang malah  merasa jengah karena si mbak  dan keluarganya ini seperti terlalu mengumbar euphoria kebebasannya, sampai-sampai sibuk tampil disana-sini.

Teman saya Ndut, mungkin termasuk kategori yang ikut merasa iba pada Manohara.

Ndut : Kasian banget sih….
Saya : Kasiannya?
Ndut : Ya kasian.. Punya Blackberry tapi nggak ada SIM Cardnya…
Saya : HEH???
Ndut : Lho kamu gak tau, apa?  Katanya disana dia dikasih Blackberry kan, tapi SIM Cardnya diambil sama orang kerajaan. Jadi ga bisa buat ngapa2in. Buat apa , coba? Cuma bisa foto2 doang, paling….
Saya : Oh…

Itu komentar Ndut yang mencoba berempati, merasakan sedihnya Manohara yang nggak bisa mainan Blackberry selama di kerajaan Kelantan. Lain lagi dengan teman saya, Mbak QQ. Perempuan cantik yang memproklamirkan diri sebagai salah satu sosialita Jogja ini ternyata termasuk yang kurang begitu bersimpati dengan kasus Manohara ini. (more…)

Posting kali ini hanya singkat saja.. Karena cerita yang saya alami ini memang sangat singkat durasi waktunya, tapi buat saya, efek malunya malah tidak singkat sama sekali… Tapi sungguh, walaupun nantinya tulisan ini sangat pendek, hikmah yang bisa Anda ambil amat sangatlah besar!

Pagi ini, seperti biasa saya datang sekitar jam 8.45 WIB, 15 menit lebih awal dari jam masuk kantor. Biasanya keadaan kantor masih sepi, hanya 1-2 orang saja yang cukup rajin datang sepagi itu. Selain office boy, ada Alya dari bagian news yang biasanya sudah duluan datang. Ada sih beberapa orang yang juga sudah stay di kantor, tapi biasanya mereka itu bukannya karena rajin datang awal, tapi memang nginep di kantor. Bisa ditebak, ini adalah anak-anak divisi off air. Hehehe.

Makanya, wajar dong saya heran ketika saya datang pagi itu, mobil big boss sudah duluan mangkal di parkiran. Tumben. Bukannya si boss nggak pernah datang pagi, tapi emang biasanya jam kantor si big boss ini emang lebih fleksibel. Jadi bisa datang agak siang. Tanpa ba bi bu, begitu masuk ke dalam kantor dan melewati meja receptionist, saya dengan cueknya bilang,

.. tumben tuh.. jam segini udah dateng…

Sang receptionist dengan muka heran bertanya balik,

… siapa, Mas?

saya menjawab singkat dengan nada menyinyir yang luar biasa,

itu, mobilnya si Mas Boss…

sambil menunjuk mobil diluar.

Sang receptionist tiba-tiba menempelkan jari telunjuk ke mulutnya, sambil kemudian dengan muka agak-agak kahawatir, menunjuk kearah sofa di sebelahnya yang dibatasi sebuah papan tripleks tipis…

Oooooooooowwwhhhhh… si Boss lagi asyik membaca koran disana! Selamat ya, Dek! Mulutmuuuu…. Duh, dia tadi tau gak ya kalo dia yang aku maksud? Hihihi. Du Du Du Du… selidik punya selidik, si boss ternyata emang belum sempat pulang karena semalam tidur di kantor setelah nonton final Liga Champions! Njreetttt… langsung dengan muka tanpa dosa walau malu luar biasa, saya melarikan diri ke lantai 1 untuk segera cuci muka.. karena muka ini panass banget rasanya! (more…)

…. nggak ada tawaran yang lebih normal-an dikit, ya??

Ini adalah reaksi yang saya terima ketika saya mengajak teman saya Nchy untuk melakukan movie marathon di Studio 21 Ambarukmo Plasa, hari Minggu kemarin. Saya pikir, menonton 2 atau lebih film secara berturut-turut dalam satu hari, bukanlah sebuah hal yang aneh, bukan? Selesai menonton di satu studio, langsung berlanjut menonton film yang lain di studio yang berbeda. Tak ada yang salah dengan itu. Normal-normal saja. Makanya saya bingung, ketika teman saya ini terlihat begitu shock-nya mendengar tawaran saya itu.

Oh, ternyata saya salah. Bukan masalah ‘movie marathon’nya itu yang dipermasalahkan dan dianggap tidak wajar oleh Nchy. Tapi lebih pada penjelasan saya berikutnya, perihal film-film apa saja yang akan di’marathon-kan. Saya dengan entengnynya menyebutkan 3 judul film Indonesia yang memang sedang main di Studio 21.

... semua film-film bagus di dunia ini emangnya udah lo tonton semua, apa???

Hahaha. I knew it. I kneewwwww ittttt…!! Nggak akan ada orang yang cukup waras yang mau menemani saya melakukan perbuatan ini. Ketika semua orang sibuk menulis status Facebook mereka dengan kalimat-kalimat yang memamerkan bahwa mereka sedang atau akan menonton film-film seperti Abdel & Temon eh, Angel & Demons, atau Watchmen atau The Curse of Benjamin Button, sepertinya saya sendiri yang dengan percaya diri menuliskan bahwa saya akan melakukakn movie marathon menonton film-film buatan negeri sendiri. Sepertinya kok pada anti ya membeli tiket untuk menonton film-film lokal. Ya sudah, dengan penuh keyakinan diri yang agak berlebih, saya pun melenggang memasuki Studio 21 untuk segera memulai petualangan saya menghabiskan hari Minggu seorang diri itu…

Studio 2. Jam 10:45

janda kembang

adalah film pertama yang saya tonton. Terus terang, saya menonton film ini bukan karena tertarik melihat penampilan Luna Maya yang berdangdut-ria. Saya datang untuk Sarah Sechan! Yeah!! Membaca sinopsis film yang mengisahkan bahwa Sarah berperan sebagai seorang penyanyi dangdut bernama Yuli Nada yang tersaingi oleh kedatangan Luna Maya yang menjadi penyanyi di orkes melayu pimpinan suaminya, sudah menjadi harga mati buat saya, untuk menonton film ini, apapun yang terjadi! Lebai, kan? Emang. (more…)

Sudah beberapa minggu ini saya mengikuti serial ‘The Biggest Loser’ di TV. Sebuah reality show yang berbeda dengan reality show di TV lokal kita yang isinya cuman orang berantem, teriak-teriak, nangis-nangis dan ngaget-ngagetin orang gak jelas. Hehehe. “The Biggegst Loser” sesuai dengan judulnya, menantang orang-orang yang dikaruniai berat badan diatas normal, untuk  bisa menurunkan berat badan mereka itu  menjadi dalam angka yang normal atau ideal. Terus terang, ada perasaan takjub juga menyaksikan pengorbanan orang-orang ini. Dengan bantuan 2 orang personal trainer yang mendampingi mereka, saya jadi tahu bahwa menurunkan berat badan itu bukanlah sebuah pekerjaan yang gampang apalagi menyenangkan. Perlu perjuangan dan pengorbanan luar biasa.

Berat badan ideal memang keinginan semua orang. Dari faktor kesehatan, sudah bukan rahasia lagi kalau orang yang terlalu berlebih berat badannya, rawan dengan berbagai gangguan kesehatan. Demikian pula dari faktor estetika. Terlepas dari yang namanya cantik/ganteng tidaknya seseorang itu ukurannya katanya adalah relatif, tapi semua orang tentu sangat ingin melihat ukuran badan mereka proporsional. Itulah kenapa produk dan program diet makin bertambah saja jenisnya (dan banyak peminatnya) , bukan?

COMP_02_blclogo

Tapi melihat program The Biggest Losers ini saya kok jadi makin percaya, segala sesuatu itu ada proses dan perjuangannya. Tidak bisa instant. Tidak bisa langsung kita dapatkan hasilnya dalam waktu sekejap seperti menjentikkan jempol dengan jari tengah. Makanya di tayangn itu diperlihatkan, para peserta harus mau menjaga asupan makanan yang mereka makan, menjaga pola makan dan – ini yang pasti, harus mau sampai jungkir balik berolahraga keras untuk membakar kalori, mengubah lemak menjadi otot, dengan didampingi oleh para trainer yang galaknya minta ampun itu. Tidak heran kalau hampir semua perserta menangis, bahkan ada yang menyerah ditengah jalan. Kalau begini kan pertanyaannya tinggal satu : Seberapa kuat tekad kita kita dalam melakukannya?

Kebanyakan sih sama : tidak terlalu sabar. Hehehe. Saya contohnya. Dulu saya pernah merasa bahwa saya sudah cukup berlebih berat badannya. Bisa dilihat dan dirasakan ketika celana mulai sesak di bagian pinggangnya, seragam kantor juga terlihat jadi semakin ketat, ngalah-ngalahin baju-bajunya Safiul Jamil, hingga yang paling jelas : pipi yang samakin tembem! Ditambah dengan tinggi badan yang sudah tidak mungkin bertambah lagi *hehehe* , akhirnya saya memutuskan untuk segera melakukan hal yang tidak pernah terpikir sama sekali sebelumnya : DIET!

Setelah berkonsultasi dengan trainer di gym tempat saya biasa berlatih, akhirnya saya diberikan sebuah program Fat Loss yang terdiri dari 2 bagian. Yang pertama adalah latihan untuk membakar lemak seperti treadmill dan step race plus latihan beban untuk mengencangkan otot, dan yang kedua adalah deretan menu diet yang harus saya makan. Setengah tak percaya, saya membaca daftar menu diet yang tertulis rapi di kertas itu… (more…)

Jam 8 malam.

Sesampainya di kamar sepulangnya dari  kantor, saya langsung meletakkan tas kerja, dan langsung terkapar tak berdaya di karpet bulu yang sudah tidak jelas bentuknya itu. Meletakkan beberapa bantal untuk sandaran kepala, sambil kemudian menyalakan TV, dan langsung memencet tuts bertuliskan angka 8 dan 9. Yak, 89. Channel MNC News.

Dan kemudian, muncullah tayangan itu….. Silet! Hahaha.

silet

Terserah deh mau dibilang saya cowok yang terlalu emak-emak karena doyan ngikutin gossip. Tapi dalam keadaan capek begitu, bukankah sebaiknya kita mencari hiburan yang bisa menghilangkan kepenatan? Dan saya yakin, dengan melihat tayangan infotainment yang luar biasa ringan dan menghibur seperti itu, pasti cukup bisa membantu menghilangkan segala letih yang saya rasakan sejak dari pagi.

Dan benar saya, begitu mengikuti tayangan Silet yang saat itu sedang membahas kasus dugaan penculikan model Manohara oleh Pangeran dari negeri seberang itu *ohhh*, saya bisa melupakan segala penat dengan berulang kali tertawa terbahak-bahak ketika menyaksikannya. Bukannya saya nggak bersimpati dengan kasus ini. Bukannya saya tidak merasa kasihan melihat si Ibunya Manohara yang jumpalitan meminta bantuan supaya bisa dipertemukan dengan anaknya itu. Bukan. Tapi siapa coba, yang nggak akan kegelian ketika ditengah-tengah liputan yang dibuat dramatis dan memilukan itu, ditambah dengan suara si mbak-mbak narator yang sama juga dibikin super duper dramatis itu, tiba-tiba muncul lagu…

… Diiiiiiiiiiiaaaaaaaaaaaaaaaa… Isabellllaaaa…. lambang cintaaaa yang laraaaaa…. Terpiiiiiii….sah keerranaaa… aadat yaaannngg beeeerrrrbeeezzzaaaaaaaaaaaaaa….

Ugh! LEBAY!

Apa-apaan sih ini editornya? Mentang-mentang kasusnya tentang kisah pilu dua negara, mentang-mentang tayangan yang dibahas adalah tentang sosok seorang perempuan yang menderita karena perbedaan kultur bangsa, maka kemudian dipilihlah lagu legendaris Isabella dari kelompok Search yang ngetop di awal tahun 90-an ini. Jelas saya ngakak dong. Kok nggak begitu nyambung yah?? Sukanya gitu deh, ni infotainment. Sukanya menambah-nambah kesan dramatis sebuah liputan dengan memasangkannya dengan sebuah lagu yang (dianggap mereka) cocok. Kalau cocok sih nggak apa-apa. Makin dapat, lah nilai kedramatisannya. Lah, kalo maksa?

Belum selesai kegelian saya dengan lagu Isabella itu, tiba-tiba saya sudah dibuat terperanjat lagi dengan lagu berikutnya. (more…)

Next Page »