Siang kemarin, sekitar jam 12.30.

Saya : Halo….
081382508916 : Halo.. selamat siang..
Saya : Selamat siang..
081382508916 : Hei.. apa kabar?
Saya : Mmm.. baik.
081382508916 : Lupa ya?
Saya : Mmm… sorry, ini siapa ya?
081382508916 : Gitu ya… Temen lama dilupain. Masa nggak inget sih?
Saya : Waduh.. sori-sori. Memangnya ini siapa?
081382508916 : Yudi.
Saya : Yudi? Yudi yang mana ya?
081382508916 : Yudi- Yudi…
Saya : Iya, Yudi yang mana ya..
081382508916 : Alahhh.. Yudi .. Masa temen satu SMA dilupain sih… Yang dari Akpol…

Terdiam sesaat mencoba mengingat-ingat teman-teman SMA yang bernama depan atau bernama panggilan Yudi.. Saya memang punya teman SMA bernama Yudi. Ada dua, malah. Yudi Kartika dan Yudi Handoyo. Dan mencoba mengingat-ingat apakah diantara kedua nama itu ada yang berasal dari Akpol.  Tapi suara si penelepon ini benar-benar terdengar asing di telinga saya. Dan seumur-umur kami berteman, sepertinya saya tidak pernah sama sekali ditelepon atau menelepon Yudi-Yudi teman saya itu. . Maklum, kami terakhir bertemu adalah ketika kami kelas 3 SMA, dan waktu itu yang namanya Handphone belum happening, ya :D

Saya : Mmm.. Yudi… Yudi Kartika, bukan?
081382508916 : Iyaaaa…
Saya : Masa sih?
081382508916 : Yaah.. memang kenapa? Beneran lupa ya?
Saya : Yudi Kartika yang di IPS 1? Bukannya kamu di bank, ya kerjanya?
081382508916 : Iya.. Sebelumnya kan 2 kali aku daftar ke Akpol dan gagal terus… Makanya terus nyerah, dan pindah nyoba ke bank… Inget, nggak?

Makin bingung. Kok makin nggak nyambung gini sih obrolannya.

Saya : Ooooo… Sorry, Yud… aku kok agak-agak lupa ya.. pangling suaranya…
081382508916 : Iya gapapa, lah. Disimpen ya Bos… Ini nomor baru ku. Aku ganti pakai nomer yang ini, sekarang.
Saya : Oh.. Ok. Baiklah… *padahal saya sama sekali belum pernah punya nomor lamanya*. Gimana kabarnya, Yud? *mencoba ramah walau tetap dalam kebingungan yang amat sangat*
081382508916 : Baik. Kamu apa kabar?
Saya : Baik juga.
081382508916 : Lagi dimana, Boss
Saya : Mmm.. di kantor.
081382508916 : Lagi sibuk, nggak?
Saya : Mmmm.. Lumayan. Gimana?
081382508916 : Boleh dong diganggu sebentar. Kapan yuk kita bisa ketemuan langsung. Biar bisa akrab dan silaturahmi..

Hhhhh… mulai nih. Kebingungan sekarang mulai menjurus kearah kecurigaan… (more…)

Saya boleh heran, nggak? :)

Boleh ya. Sebenarnya rasa heran saya ini sudah cukup lama munculnya. Tapi mungkin baru sekarang bisa saya utarakan dan tuliskan, karena tahap keheranan saya sudah meningkat dari sekedar heran saja menjadi amat sangat heran sekali.

Saya heran, darimana sih asalnya hingga kemudian ada pihak yang bisa dengan percaya dirinya melarang dan memutuskan bahwa film “2012″ itu haram ditonton? Kalau informasi yang saya dapatkan sih, pengharaman itu muncul karena ditakutkan nantinya banyak umat beragama akan langsung percaya bahwa tahun 2012 besok adalah tahun terjadinya kiamat. Sedangkan agama mengajarkan bahwa yang berhak mengetahui kapan tepatnya terjadinya kiamat adalah hanya sang Pencipta. Dan dengan percaya bahwa tahun tertentu (dalam hal ini adalah tahun 2012 ini) adalah tahun dimana kiamat akan datang, adalah haram hukumnya. Dosa. Jadi kesimpulannya, jangan menonton film 2012. Supaya kita terhindar dari dosa.

Dan saya yakin, puluhan penonton yang mencoba tidak perduli dengan pengharaman itu dan tetap menonton film itu beberapa hari yang lalu (termasuk saya) pasti merasa lega, karena kami semua terhindar dari yang namanya dosa. Karena kami langsung yakin dan percaya, bahwa 2012 bukanlah tahun dimana dunia akan kiamat. Karena film itu sama sekali tidak menceritakan hal itu. Sama sekali.

Saya heran, apakah mereka yang membuat pengharaman itu, sebelumnya sudah melihat terlebih dulu film ‘2012′ ini? Atau mereka hanya terpancing melihat trailernya, atau melihat liputan tentang ramalam 2012 di infotainment yang secara asal menggabungkan antara film “2012” dengan pengetahuan sepotong-sepotong mengenai ramalan kiamat versi bangsa Maya dan dibumbui dengan menampilkan ramalan paranormal papan atas negeri ini plus tidak ketinggalan tambahan tanggapan para ulama itu? Karena kalau mereka sudah melihat film “2012” dari awal sampai akhir, mereka pasti akan malu sekali karena telah secara sok tahu dan gegabah membuat pengharaman. Lha wong filmnya sama sekali bukan tentang kiamat, kok..

Saya bukannya ingin mendiskreditkan pihak tertentu. Kalaupun ada yang merasa seperti itu, saya minta maaf. Tapi please.. mbok ya kalau mau membuat sebuah keputusan (apalagi itu menyangkut kepentingan orang banyak), dipikirkan benar-benar terlebih dulu.

Ini bukan yang pertama kali munculnya larangan terhadap sesuatu yang sedang menjadi trend atau hot issue di masyarakat. (more…)

Tidak ada gosip yang lebih seru daripada gosip di tempat kerja.

Betul? Hehehe. Ya, setelah beberapa kali bergonta-ganti dan berpindah-pindah tempat kerja, saya akhirnya semakin tahu, bahwa salah satu hal yang seru dan selalu dinanti (dan menjadi hiburan tersendiri ditengah terjangan deadline pekerjaan setiap harinya) adalah acara membahas gosip-gosip terbaru yang terjadi di lingkungan kerja kita. Bahkan mungkin bukan hanya gosip yang ‘terbaru’. Gosip-gosip lama pun biasanya tetap bisa menarik untuk dibahas, tinggal membumbuinya lagi dengan sedikit variasi saja   :)

Walau, tentu saja, tidak semua orang suka dengan yang namanya gosip. Mungkin dianggap bisa menganggu konsentrasi bekerja, atau bahkan bisa merubah suasana kantor menjadi tidak kondusif atau apapun alasan lainnya. Tapi biasanya, toh ketika para karyawan sedang berkumpul makan siang, misalnya, walaupun awalnya yang dibicarakan adalah hal-hal seputar update berita terbaru yang terjadi, pasti ada saat dimana topik tentang gosip di kantor pun keluar juga. Dan mereka yang mengaku tidak suka bergosip itupun biasanya tetap ikut bergabung, walau hanya memilih sebagai pendengar saja. Tetap aja berdosanya, to?? Hehehe.

Dan serunya sialnya, biasanya yang sering menjadi korban bahan omongan kita para karyawan adalah seseorang yang memiliki level dan posisi lebih tinggi atau bahkan tertinggi di kantor. Si Bos.

Dimana-mana juga sama, sudah jadi kebiasaan umum. Ketika para pekerja atau karyawan sedang berkumpul, topik yang paling sering diperbincangkan pasti adalah tentang atasannya. Apapun. Semua dikupas setuntas mungkin. Mulai dari A sampai Z. Mulai dari yang ada hubungannya dengan kinerja dan kebijakan-kebijakan yang dibuatnya di kantor, sampai dengan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan sama sekali, misalnya tentang wangi parfumnya yang aneh, hobinya memakai kacamata hitam didalam ruangan ataupuan gosip seputar rumah tangganya. Tanpa ampun, pokoknya. Pokoknya semua hal-hal ‘aneh’ yang dimiliki oleh si Bos sampai yang paling kecil sekalipun, anak buahnya bisa tahu. Tahu betulan atau cuma sok-sok an tahu biar gosipnya makin seru, ya nggak tahu juga.

(more…)

What’s so special about me being 30?

Very.

Saya sendiri setengah tidak percaya, kalau akhirnya pada 21 November lalu, sampai juga di usia kepala 3 ini. Alhamdulillahi rabbil alamin. Tuhan masih mempercayai saya untuk bisa sampai di usia yang kata banyak orang adalah usia kemapanan. Dengan segala arti atau pemahamannya. Karena beberapa minggu sebelum ulang tahun, sempat terpikir juga dalam pikiran saya : akan seperti apakah saya (dan kehidupan saya) ketika umur sudah memasuki angka 30 dan (jika Tuhan mengijinkan) melanjutkan ke bilangan 31, 32, 33 dan seterusnya itu nanti.

Yang pasti, saya bukan lagi anak usia duapuluhan yang katanya identik dengan pencarian jati diri, yang masih mencoba memastikan sepenuh hati jalan manakah yang akan dipilih untuk masa seumur hidupnya nanti. Sekarang saya sudah harus masuk ke usia dimana pencarian itu harus sudah menemukan ujungnya, dan saya harus mencoba untuk mensyukurinya dengan melakukan dan memberikan apapun yang terbaik dari diri saya. 30 adalah masa memulai proses kematangan.

Dan ternyata Tuhan sepertinya tidak sabar memberikan hadiah ‘proses kematangan’ itu untuk saya. Sang pencipta saya itu sepertinya ingin menyegerakan saya untuk memulai proses kedewasaan itu, bahkan sebelum saya benar-benar genap berusia 30. Proses itu dimulai tepat 2 hari sebelum ulangtahun saya, dengan cara  memanggil kembali Ibu saya ke pangkuannya. Dua hari sebelum ulangtahun saya yang ke 30.

Tepat di usia ke-30, saya harus kehilangan salah satu sumber kekuatan dan doa terbesar saya. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya bahkan tidak meminta hadiah apapun untuk ulangtahun saya, selain kesembuhan beliau.  Tidak pernah sekalipun saya membayangkan ini akan terjadi, walau saya juga sudah bersiap dengan segala yang terburuk pun.  Saya tahu, memasuki usia 30 adalah suatu pemberian Tuhan yang ‘besar’ buat saya. Tapi kenapa Tuhan juga mengambil sesuatu yang ‘besar’ juga artinya buat saya. It’s kind of weird. It’s kind of unfair also. But it happened. And it was real. Dan tidak ada pilihan lain bagi saya, selain belajar menerimanya.

Ada perasaan yang tidak nyaman sekali merasakan ulangtahun dalam keadaan duka yang mendalam. Ada perasaan gamang juga melihat 143 pesan Facebook di home screen Blackberry saya, menanti saya buka satu persatu. Tapi tidak saya lakukan. Saya biarkan saja. Bukan karena malas membacanya satu persatu. Tapi lebih pada perasaan belum siap membaca ucapan penuh kegembiraan dan  syukur atas bertambahnya usia, sementara  pesan dibawahnya menuliskan  ucapan-ucapan turut berbela sungkawa.  Allahu Akbar… Should I be happy or should I be sad? Akhirnya saya hanya mendiamkan saja pesan-pesan itu terus bertambah. Jujur dalam hati yang paling dalam, saya juga bisa merasakan bagaimana teman-teman saya itu juga setengah mati kebingungan memilih kalimat yang ‘aman’ untuk menjaga perasaan saya. (more…)

Tuhan, untuk ulangtahun ku ke 30 minggu depan, aku tidak meminta apapun sebagai hadiah… hanya kesehatan dan kesadaran Ibu tercinta.. supaya dia bisa mengucapkan selamat ulangtahun dan mengirimkan doanya untukku. Amin.

Adalah doa yang saya tuliskan dan panjatkan pada hari Sabtu 14 November 2009 di ruang tunggu UGD Rumah Sakit Kariadi Semarang, tepat satu minggu sebelum saya merayakan ulangtahun saya yang ke-30.a

Dalam suasana hati yang kalut dan perih, setelah melihat kondisi ibu yang tidak sadarkan diri seolah menyerah dengan beratnya kanker yang sudah menyerang livernya. Sungguh, disaat-saat seperti itu tidak ada yang bisa kita lakukan. Dalam segala kelemahan itu, hanya doa yang bisa dipanjatkan, sambil berharap dan memaksa Sang Khalik mau bermurah hati memperlihatkan dan mempercepat mukjizat miliknya untuk menyadarkan Ibu.

Kamis 19 November 2009 jam 20.45, Ibu menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Saya hanya terdiam mendengarkan Ayah dan kedua kakak saya menangis.

Saya hanya diam. Tanpa mampu lagi menangis. Hanya terasa kerongkongan yang tercekat, tertahan dalam luapan kepedihan genangan airmata yang bahkan tidak sempat terjatuh. Mencoba memahami sekuat tenaga, inilah realita yang ada di depan mata saya. Terbujur diam dan kaku.

Saya seharusnya marah. Tuhan tidak mengabulkan permintaan saya. Dia bahkan tidak sedikitpun memberikan kuasanya untuk sejenak membuat Ibu tersadar dihadapan saya, berbicara sepatah dua patah kata, apapun untuk menenangkan hati saya.

Saya tahu,saya punya hak untuk marah kepada Tuhan. Kemana perginya Sang Maha Mendengar setiap doa umatnya? Kemana hilangnya Sang Maha Pemberi itu??

Tapi saya tidak marah. Sama sekali.

Dalam diam, dalam pijakan kaki yang melemah, saya seolah mendapatkan kekuatan. Saya sadar, saya hanyalah seorang mahluk. Saya tidak punya hak untuk memerintah dan memaksakan kehendak kepada Sang Khalik, Penguasa saya. Saya hanya mampu meminta. Dan saya tahu, bukankah kalau ada yang meminta sesuatu kepada kita, kita akan memberinya sesuai kehendak kita atau bahkan tidak memberinya sama sekali? Mengapa kalau kita memohon kepadaNya, Dia kita haruskan memberi sesuai kehendak kita? Saya hanya memohon kepadaNya. Dia pasti akan memberikan sesua dengan kehendakNya.

Tuhan memang tidak memberikan apa yang saya mohonkan minggu lalu itu. Tapi ternyata Tuhan memberikan dan mengabulkan doa saya yang lain.

Setelah Shalat Isya, dengan segala hati dan pikiran yang berserah, saya memohon supaya Ibu diringankan penderitaannya.

Dan tepat setelah saya memanjatkan doa itu, Tuhan benar-benar mengabulkan doa saya…….

……. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.…..

Dari hari ke hari, saya kok semakin ‘kagum’ ya dengan kemampuan berbahasa anak-anak jaman sekarang. Karena  semakin hari, mereka semakin kreatif sekali dalam berkomunikasi satu sama lain. Semakin ekspresif, semakin tidak terduga dan semakin membingungkan! Sehingga untuk kita yang tidak terbiasa mendengar atau berbicara dengan mereka, pasti dijamin akan terbengong-bengong sendiri sambil mencoba menelaah apa yang sebenarnya mereka bicarakan.

Contoh kecil, saya masih ingat betul bagaimana saya sempat kebingungan karena- entah darimana asalnya, kata ‘karena’ bisa digantikan dengan kata ’secara’ dalam percakapan sehari-hari. Misalnya saja untuk kalimat,

Ya jelas saja Krisdayanti memilih bercerai dari Anang, karena sejak dulu kan Anang-nya memang tipe suami yang mengekang istri..

Ya ya.. mari tidak usah mempertanyakan kenapa saya memilih kedua tokoh itu sebagai contoh :D . Fokuskan pada kalimatnya saja. Ketika kalimat itu diterapkan dalam percakapan sehari hari di jaman sekarang ini, maka kalimat itu pasti akan ‘disesuaikan sedemikian rupa sehingga’ menjadi

Ya jelas saja Krisdayanti memilih bercerah dari Anang, SECARA sejak  dulu kan Anangnya memang tipe suami yang mengekang istri…

Terdengar beda, kan? Lebih terdengar gauul. Makin pengucapan ’secara’ nya dibuat lebai, semakin terdengar gaul. Hehehe. Itulah kenapa, dulu saya juga sempat kebingungan setengah mati ketika seorang teman saya yang usianya belasan tahun diatas saya meminta untuk diajarkan, bagaimana cara penggunaan kata ’secara’ ini dengan benar, supaya dia bisa terdengar up to date (?).

Itu baru satu contoh. Masih banyak contoh lainnya. Bagaimana semakin hari, tata bahasa Indonesia kita semakin acakadut, terutama karena dipakainya istilah-istilah tertentu yang agak-agak tidak ‘lazim’ dipakai untuk menjelaskan suatu hal atau keadaan.

Misalnya, ketika saya sedang satu mobil dengan teman saya Gat, kami melewati sebuah lubang di jalan raya yang ‘menganga’ cukup panjang. Sepertinya lubang itu memang sengaja dibuat oleh dinas pekerjaan umum karena akan dilakukan pemasangan instalasi tertentu yang kami tidak tahu apa itu (karena kebetulan tidak ada keterangan tertulis apapun di sekitar lubang itu). Tiba-tiba saja si Gat ini berkomentar,

Tuh liat deh.. Dibiarin bolong gitu aja coba itu lobangnya… Sakit jiwa, kan?

Heh? Sakit jiwa?

Saya yakin, maksud teman saya itu adalah, dia ingin mengatakan bahwa para pelaku ‘pembolongan’ jalan itu sangat keterlaluan dengan membiarkan lubang itu terbuka begitu saja. Tidak ditimbun dengan tanah, pasir atau apa, lah. Instead of menggunakan kalimat panjang seperti,“Keterlaluan sekali sih yang melakukan pekerjaan seperti ini“, maka dipilihlah bentuk istilah yang lebih singkat. Ya ’sakit jiwa’ itu tadi.

Pernah juga saya terpingkal-pingkal sendiri ketika mendengar sebuah percakapan dua orang teman saya. Satu pria dan satu lagi seorang wanita. Saya tidak terlalu ingat detail isi pembicaraan mereka, tapi ada suatu saat dimana si pria itu menyebutkan istilah-istilah perawatan kecantikan seperti manicure, pedicure dan lain-lainnya itu. Dan si  wanita lawan bicaranya itu dengan cepat berkomentar,

… gila yaaa Bo… fasih banget sih kalo ngomongin masalah kecantikan…..

Edannnn. “Fasih”! Saya kira kata ini hanya ‘boleh’ dipakai untuk hal-hal yang berbau kemampuan bahasa saja, seperti “Fasih membaca Al-Quran” atau “Fasih berbahasa Perancis”, misalnya.

Contoh paling baru, adalah ketika siang ini saya melihat status seorang teman di Facebook. Dia mencoba menggambarkan gerahnya hawa Jogja dengan tulisan singkat :

Gila.. Jogja panasnya berjamaah!

Waduhhhhh..

Mungkin memang sudah saatnya saya memperbarui lagi koleksi perbendaharaan saya.

Ada ungkapan bijak yang bilang : “Menjadi orang penting itu memang baik. Tetapi menjadi orang baik itu jauh lebih penting”. Sebuah nasihat yang gampang untuk diucapkan, tapi susah untuk diwujudkan. Apalagi kalau menjadi orang penting yang baik. Wedeeewwwww… tambah makin susah. Percaya deh. Menurut saya, menjadi orang penting itu bukannya sesuatu yang baik, tapi : sesuatu yang enak. Lha bagaimana tidak enak? Kemana-mana bisa dapat fasilitas yang nomor satu. Bisa dapat perlakuan dan servis yang berbeda dibandingkan dengan orang-orang ‘biasa’ or ‘less important‘. Sehingga kadang-kadang, gara-gara “peng-istimewaan” perlakuan itu jugalah, mereka juga bisa mendapat kebebasan untuk berlaku seenak udel-nya sendiri.

Beberapa waktu lalu saya dan teman saya Gat pergi menonton konser megah berjudul “World Peace Orchestra with Dwiki Dharmawan” di Graha Sabha Pramana UGM Jogjakarta. Konser ini memang berbeda dengan konser-konser musik lain yang sering di adakan oleh atau di UGM, karena konser kali ini diadakan untuk memperingati ulang tahun UGM yang ke 60, sekaligus juga dalam rangka mempromosikan Pulau Komodo kepada masyarakat luas, supaya mereka ikut memilih Pulau ini menjadi the next 7 wonders alias 7 keajaiban dunia berikutnya. Sehingga dipilihlah konser musik lintas generasi-budaya dan negara ini.

Tapi sayang, kemegahan dan kesyahduan konser yang juga menampilkan Kris Dayanti itu (ketahuan kan, saya datang untuk siapa?) sangat-sangat terganggu oleh sikap orang-orang atau tamu undangan yang datang dengan label VVIP alias Very Very Important Person. Orang-orang yang masuk dalam kategori ini adalah para tamu undangan dari pihak pejabat pemerintahan, wakil-wakil dari para sponsor dan entah siapa lagi yang menurut pihak panitia adalah orang yang sangat penting bagi mereka. Jadi ya wajar kalau posisi dan letak tempat duduk mereka berada tepat di depan panggung, sehingga mereka bisa face to face dengan para artis yang tampil didepan mereka.

k0633497

Setelah barisan VVIP itulah, baru kemudian ruangan dibagi-bagi menjadi beberapa kelas, yaitu VIP, Festival dan Tribun. Yang cukup menggelikan adalah, meskipun namanya kelas VIP, tapi para penonton di kelas ini tetap harus mengantri dan berbaur dengan penonton dari kelas lain, karena tempat duduk kelas VIP itu ternyata tidak bernomor alias calon penonton harus saling berlomba siapa yang paling cepat mendapatkan tempat duduk yang diinginkannya. Entah dimana privilege ke ‘important person’annya. Walhasil,ratusan penonton (termasuk sayapun) harus berlomba-lomba datang lebih awal supaya bisa lebih cepat masuk ke dalam ruangan konser.

Dan disinilah letak ‘ke-seenak-udel-an’ orang-orang penting itu dimulai. Disaat ribuan massa harus rela bersusah-payah menahan pegalnya kaki dan menahan hawa gerah karena mengantri menunggu giliran masuk melewati pintu utama yang hanya dibuka se-upil doang, kami harus berulangkali melebarkan rasa sabar ketika antrian itu dengan semena-menanya dipotong atau dihentikan sejenak, hanya karena ada bapak-bapak berbaju Batik yang datang sambil ditemani oleh sorang panitia yang berteriak-teriak kepada penjaga pintunya,

…VIP! VIP!

Dan si VIP inipun melenggang dengan anggunnya memasuki ruang konser dengan tanpa hambatan satu apapun, dalam kondisi yang sehat wal afiat dan dengan dandanan yang tetap prima. Tanpa baju yang kusut karena berdesak-desakan dengan pengantri lainnya. Dengan wangi parfum yang tetap sama tanpa harus bercampur baur dengan wangi parfum (dan bau keringat) pengantri lainnya. Dan itu bukan sekali-dua kali terjadi. Berulangkali! Tentu saja tidak ada yang bisa kami lakukan, bukan? Karena itulah takdir *edann*. Mereka adalah orang-orang yang penting, dan yang lainnya adalah rakyat biasa yang harus rela berjuang demi bisa mendapatkan sebuah hiburan. (more…)

Setiap orangtua, pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dan setiap orang tua, pasti rela untuk melakukan apapun untuk membahagiakan anaknya, untuk memenuhi keinginan buah hati mereka ini. Bagaimanapun keadaannya.

Dick Hoyt. Mungkin teman-teman belum pernah mendengar nama ini. Tapi mungkin juga ada yang sudah pernah mendengar. Tidak masalah, karena begitu menuliskan namanya di search engine, pasti teman-teman akan langsung menemukan ratusan ribu tulisan di internet yang mencantumkan nama beliau.

Dick adalah seorang marinir dari kesatuan Air National Guard. Semua kisah hidupnya yang luar biasa berawal ketika pada suatu hari di tahun 1962, dokter memberitahukan kepadanya bahwa bayi yang sedang dikandung oleh istrinya mengidap cerebral palsy. Ini adalah sebuah kondisi dimana otak tidak bisa mendapatkan asupan oksigen selama proses persalinan. Ini berarti, otak si jabang bayi tidak bisa mengirimkan pesan kepada otot-otot di tubuhnya, sehingga mengakibatkan putranya ini kelak akan mengalami kelumpuhan. Saya tidak bisa menjelaskan secara tepat karena saya sendiri agak kerepotan menterjemahkan artikel medis tentang cerebral palsy ini dari artikel aslinya di Wikipedia :) .

Melihat begitu kompleksnya penyakit yang diderita si bayi, dokter sempat menyarankan suami istri ini untuk ‘merelakan’ saja calon bayi dalam kandungan ini tidak dilahirkan, karena nantinyapun jika bayi itu bisa dilahirkan ke dunia dengan selamat, dia pasti tetap tidak akan tumbuh dengan sempurna. Mendengar ‘saran’ dari dokter itu, sang istri, Judy, dengan tegas menolaknya.

“Tidak akan mungkin kita akan menggugurkan bayi dalam kandungan ini. Kami mencintainya. Dia milik kami berdua. Kami akan membesarkannya dan membawanya kemanapun dia bisa mewujudkan kemampuan terbaiknya kelak. Kami tidak akan, TIDAK AKAN PERNAH menyia-nyiakannya hanya karena dia BERBEDA”

Sebuah janji yang mungkin mudah diucapkan. Tapi kita tahu, janji diatas pasti tidak akan mudah keluar dari mulut yang tidak disertai dengan keyakinan hati yang kuat. Dan kedua orangtua bayi yang diberi nama Rick ini memang membuktikan janjinya, untuk tidak memperlakukan anaknya yang lumpuh itu secara berbeda. Kedua orang tuanya setiap minggunya membawa bayinya ini ke Children’s Hospital di Boston dimana mereka bertemu dengan Dokter Fitzgerld, yang selalu menyemangati pasangan suami istri itu untuk berani mengambil ‘resiko’ untuk mengajak Rick kecil untuk bermain dan bergulingan di halaman atau bahkan diajak untuk berenang. Dengan kata lain, mereka memperlakukan Rick seperti anak-anak lainnya yang tumbuh tanpa keterbatasan fisik.

DICK HOYT

Hingga suatu hari di tahun 1977, Rick yang saat itu duduk di bangku sekolah menengah pertama Westfield School berkata kepaa ayahnya, bahwa dia ingin sekali merasakan bagaimana rasanya mengikuti perlombaan lari. Sebuah keinginan yang ’sangat berani’ dan mungkin teramat ‘tidak tahu diri’ untuk seorang anak yang kesehariannya harus duduk di kursi roda. Tapi mendengar keinginan putranya itu, Dick yang saat itu sudah berusia 40 tahun merasa tergerak, untuk ikut membantu mewujudkan keinginan anaknya itu.

Silakan dibayangkan bagaimana usaha yang harus dilakukan oleh Dick. (more…)

Akhirnya…..

pesta-blogger-2009-jogja-03

kesampaian juga ikutan yang namanya Pesta Blogger! :)

Maklum, kalau dengar sesuatu yang ada kata-kata “PESTA” nya, biasanya saya sudah langsung malas duluan. Karena dalam benak saya, segala yang berbentuk pesta itu selalu identik dengan yang namanya keramaian dan ke-hingar-bingaran, dua hal yang sedikit-banyak cukup membuat saya alergi untuk terlibat didalamnya. Hehehe. Maklumlah, semua orang yang mengenal saya dengan dekat, pasti sudah cukup mengerti betapa saya ini aslinya adalah seorang yang amat pendiam sekali (ehm…). Saya hanya berisik kalau berhadapan dengan microphone, didepan kamera TV dan juga … dimana lagi, kalau tidak di blog in!

Itulah makanya saya sangat-sangat selektif sekali jika diajak menghadiri undangan-undangan yang berbau-bau ‘Pesta’. Pesta yang paling sering saya datangi paling-paling cuma “Pesta Buku Murah”. Hehehhe.

But (thank God) this one’s different.

Sebenarnya saya sudah sangat familiar dengan istilah ‘Pesta Blogger’. Tapi belum pernah ada sedikitpun ada keinginan di hati untuk datang menghadiri. Boro-boro deh ikutan acara yang berskala besar seperti itu. Lha wong kumpul-kumpul alias kopi darat antar sesama blogger satu kota saja saya nggak pernah. Boro-boro kopi darat dengan blogger satu kota, lha wong blogwalking saja juga nggak pernah! Kuper banget. Makanya saya malah bingung ketika teman blogger saya yang diluar kota menanyakan,

Lho.. memangnya kamu bukan komunitas Cah Andong apa, Mas?

Cah Andong? Opo kuwi? Bukan.. bukan, mbak. Saya bukan Cah Andong. Saya Cah Ganteng! Hehehe. Memang parah sekali saya ini. Bahkan komunitas untuk para blogger di Jogja saja saya tidak tahu! (more…)

Gara-gara menyebut nama aktris panas legendari Eva Arnaz di tulisan sebelumnya, saya jadi teringat dengan teman saya Ndut. Bukan karena dia mirip dengan Eva Arnaz, bukan juga karena dia mengoleksi film-filmnya tante Eva itu (nggak tau kalau ternyata iya, ya), tapi karena pada suatu hari dia pernah menganjurkan saya untuk mengetikkan nama ‘Eva Arnaz’ di search engine Google, maka dia menjamin saya akan terkesima melihat hasil penelusuran Google untuk nama itu.

Jadilah, saya mencoba mempraktekkannya. Dan memang benar. Saya terkesima!

EVA ARNAZ

Begitu banyak artikel di internet yang mengasosiasikan Eva Arnaz dengan film atau movie (tentu saja, karena beliau adalah seorang bintang film), mengasosiasikannya dengan Warkop (sudah pasti, karena dia dan Lydia Kandau sepertinya memang ikut populer bersama film-film Dono Kasino Indro yang booming dahulu kala itu). Tapi yang membuat terkesima justru adalah di bagian atas sendiri (silakan lihat gambar), dimana Eva Arnaz diasosiasikan dengan KETIAK. Dan tidak main-main, ada 2.930 tulisan yang memuat tentang ini. Dan bisa jadi, mungkin akan segera bertambah menjadi 2.931 berkat tulisan saya ini. Hahahaha.

Saya bukannya ingin membicarakan soal ketiaknya Eva Arnaz yang memang melegenda itu. Tapi saya mencoba melihat dari sisi lain, betapa mbak ini bisa dengan suksesnya menciptakan sebuah brand image atau body image yang sangat kuat menancap di sanubari banyak orang *owhh*. Kalau ngomongin Eva Arnaz, ya berarti harus ngomongin ketiaknya. Begitu juga sebaliknya. Ngomongin ketiak rasanya belum lengkap tanpa memasukkan nama Eva Arnaz didalamnya. Wuahahahhaha. Dan itu harus diberikan sebuah acungan jempol, bukan? Berulang kali saya pernah bilang, untuk bisa dikenal orang, you should be standing in the crowd. Harus bisa terlihat beda. Harus ada yang membuat kita diingat dengan cepat. Otherwise, ya susah. Itu menjadi pekerjaan rumah setiap orang, karena diri kita sendiri (nama dan kemampuan diri) merupakan produk yang bisa kita ‘jual’.

So, Bagaiman dengan kamu? Kalau Eva Arnaz di asosiasikan dengan ‘ketiak’, kamu ingin diasosiasikan dengan apa? :D

Next Page »